Don’t Make Promises You Can’t Keep

Kemarin sore, Nadira nangis heboh sekali. Alasannya, Engkung (kakeknya, alias Papa saya) membatalkan rencana berkunjung ke rumah karena ada rapat mendadak di kantornya. Padahal, Engkung sudah berjanji pada Nadira untuk datang ke rumah kami, sepulang kerja.

Nggak gampang, lho, membujuk Nadira untuk mau mengerti kondisi yang menyebabkan Engkungnya terpaksa membatalkan janji. Karena untuk anak-anak seumur dia, janji adalah janji. Sekali dibuat, pantang dilanggar.
Kejadian ini bukanlah yang pertama. Sering kali Nadira marah atau menangis jika sesuatu yang dijanjikan kepadanya, tiba-tiba dibatalkan. Apalagi dia selalu ingat di luar kepala tentang janji apapun yang pernah diucapkan kepadanya.

Melihat ini, saya jadi ingat sebuah peristiwa yang terjadi saat saya kecil. Waktu masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak, saya bersekolah di dekat rumah nenek saya. Jadilah saya dititipkan di sana, sementara orang tua dan adik saya tinggal di Bekasi.

Setiap Papa saya menjenguk, saya selalu minta diajak pulang ke Bekasi. Tapi saya selalu berhasil dibujuk untuk tetap tinggal di rumah nenek. Nah, suatu hari, kalau tidak salah, saya rewel luar biasa. Akhirnya Nenek dan Papa membujuk dengan bilang bahwa Papa akan kembali nanti malam untuk menjemput saya. Tentunya mereka berharap, by night, saya akan lupa dengan janji itu.

Oh tentu tidak. Saya ingat sekali janji itu. Saya masih ingat betapa saya duduk termenung di tangga menanti Papa saya hingga tengah malam. Saya masih ingat betapa tubuh kecil saya melonjak girang setiap kali mendengar suara motor berhenti di depan rumah, dan kemudian terkulai lemah setelah tahu itu bukan motor Papa saya. Saya masih ingat betapa setelah sekian jam menanti, akhirnya saya lelah dan mengantuk, kemudian memutuskan untuk tidur, sambil berharap besok Papa saya menjemput saya untuk pulang ke rumah.

Terus terang, saya menulis ini sambil merasa sedih sendiri. Sedih sekali rasanya membayangkan diri saya saat berusia 5 tahun dan mengalami patah hatinya yang pertama kali. Lebih sedih lagi, patah hati itu disebabkan oleh janji yang tak ditepati oleh orangtua saya sendiri. Kini sebagai orangtua, saya membayangkan betapa beratnya bagi Papa saya untuk berjanji kemudian mengingkarinya yang kemudian membuat anaknya sedih. Lebay mungkin ya kedengarannya. But it’s true.


Karena itu, saya berusaha sekali untuk tidak mudah mengumbar janji kepada Nadira. Saya tidak mau mematahkan hatinya, dan juga hati saya sendiri, jika saya harus mengingkari janji tersebut. Apalagi membuat janji palsu yang tujuannya hanya untuk menenangkan anak dan berharap dia akan melupakannya sebentar lagi.

Banyak orangtua yang menganggap “Ah anak kecil ini. Mereka mudah dibohongi dan akan lupa keesokan harinya.” Benar sih, anak-anak itu lebih mudah lupa dan move on dari satu masalah ke masalah lainnya. Tapi dari pengalaman pribadi saya, ternyata tidak semudah itu lho untuk lupa. Children remember everything. Kalaupun lupa, mungkin aja hanya terselip di tumpukan memori alam bawah sadar. Seperti yang saya alami juga.

Intinya, sih, don’t make promises you can’t keep. Selain memberi kesan kita sebagai orangtua yang tidak bertanggung jawab (bikin janji melulu tapi nggak pernah ditepati), kita tentunya nggak mau kan melihat mata kecilnya yang berbinar penuh harap tiba-tiba meredup setelah kita mengingkari janji?

Kemudian, dari sebuah seminar parenting yang pernah saya ikuti, untuk membesarkan anak, kita butuh rasa percaya dari anak kita. Nah, jika kita memberinya harapan palsu terus menerus, bagaimana anak bisa percaya pada kita?


38 Comments - Write a Comment

  1. Memang susah untuk tidak membuat janji pada si kecil, kalau sang ibu bekerja. Rasa bersalah seorang ibu, pasti dikompensasikan untuk menjanjikan sesuatu pada si kecil yang ditinggal di rumah. Kadang, kita tidak bisa menepati janji do hari itu, walau mungkin kita mencoba menepatinya di hari lain.

Post Comment