9 Hal dari 9 Tahun Perkawinan (2)

Nah, saya lanjutkan lagi, ya … sampai di mana tadi … ah, no. 4. Poin 1 sampai 4 nya ada di halaman ini ya.

5. We know each other’s friends
Yaa mungkin memang nggak sampai my friends are your friends and your friends are my friends, sih. Tapi dulu kami memang main dengan kelompok orang yang sama, jadi memang lingkaran pertemanannya sama. Sekarang pun, suami saya sering datang ke kantor and can feel at home walaupun saya lagi meeting di luar, karena dia sering ngobrol dengan penghuni Wisma 31. Walaupun saya belum pernah main ke kantornya, paling tidak dari awal dia bekerja, saya selalu diajak dan selalu ikut tiap ada office outing, halal bihalal, christmas dinner, pernikahan orang kantor, house warming, dan acara lainnya. Terkadang memang suka malas, sih, tapi menurut saya penting sekali untuk kenal dengan orang-orang yang menghabiskan waktu seharian, setiap hari bersama suami saya. Kalau dia cerita kan juga jadi lebih enak mendengarkannya karena kita sudah tahu orangnya yang mana.Dan juga dengan kenalnya mereka dengan kita, pasti kan mereka jadi lebih nggak enak untuk mengajak atau membiarkan pasangan kita macam-macam. Coba kalau sama sekali nggak kenal dan nggak pernah dengar, bisa-bisa dianggapnya pasangan kita masih single, lagi.

6. We have a role model
Maksudnya panutan dalam pernikahan, ya. Bisa dari orangtua kita sendiri, om dan tante, atau orangtua teman, bos di kantor. Intinya orang-orang yang sudah menikah lama, pernikahannya terlihat (dan memang benar harmonis) dan keluarganya bahagia. Pasti banyak yang bisa dipelajari dari mereka, baik yang dipetik dari percakapan atau yang kita perhatikan ketika bertemu dengan mereka. Paling tidak, kita bisa memerhatikan bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain, bagaimana mereka bersikap ke anak-anaknya, apa saja yang dibicarakan, how do they keep the love? Apa saja rahasianya? Panutan ini bisa juga lho yang kita lihat sekilas di mal, kakek- nenek yang terlihat stylish dan sedang menikmati es krim berdua. It’s always nice to have something to look forward to. “Kalau sudah tua nanti mau kaya mereka, ya, masih jalan-jalan gandengan tangan berdua.” Sering-sering berkumpul dengan sesama suami-istri juga lumayan membantu, lho.

7. We’re pretty traditional
Maksudnya, cukup ketimuran seperti; kebutuhan suami sebaiknya didahulukan, istri sudah sepantasnya lebih mengalah, suami sudah kewajibannya untuk menjadi bread winner dalam keluarga, istri memang sudah kodratnya untuk lebih hands on dengan perihal rumah tangga dan lain sebagainya. Tapi bukan lantas posisi istri jadi di bawah suami, karena kita kan partner, jadi punya hak dan kewajiban yang sama. Hanya saja, mungkin akan lebih sering saatnya suami mendapat prioritas lebih, terutama yang berhubungan pekerjaan. Misalnya memaklumi kalau memang kerjanya banyak, nggak menuntut untuk pulang sebelum matahari tenggelam (masih mungkin yah, hari gini?), atau cemberut ketika suami menyelesaikan pekerjaan kantor di akhir minggu. Percayalah … siapa, sih, yang mau kerja saat weekend kalau tidak terpaksa? Jadi saya berusaha saja jangan sampai suami merasa harus memilih antara pekerjaan dan keluarga juga jangan sampai reputasinya di kantor berantakan karena tidak pernah go the extra mile karena nggak enak sama keluarga. Kalau karirnya mandek, semuanya kan yang rugi?

O, ya, trus, kita juga sama-sama nggak punya teman dekat lawan jenis. Ini bukan gara-gara nikah lalu mendadak jadi nggak punya teman dekat lawan jenis, ya, tapi memang dari dulunya begitu. Setelah dipikir sekarang memang aneh aja, sih, kayanya kalau lantas saya atau suami pergi makan siang bersama sahabat yang lawan jenis untuk ngobrol atau curhat-curhatan secara intens lewat BBM. It just doesn’t sound right to me. Kalo curhat kan mestinya sama pasangan masing-masing. Mungkin saya orang yang percaya bahwa laki-laki dan perempuan itu sulit untuk benar-benar hanya menjadi sahabat?Lagipula kalau sahabatnya itu juga udah punya pasangan, kan nggak enak juga sama pasangannya. Dan ini penting untuk menghindari prasangka buruk dari orang yang melihat.

8. We try not to  sweat the small stuff
Terdengar klise, ya? Tapi bener, deh, ini berlaku sekali dalam sebuah pernikahan, juga sangat membantu dalam hal pengasuhan anak. Jadi, setiap ada kaus kaki yang teronggok di pojokan ruangan, yang harusnya diletakkan di hamper, saya ambil saja dan move on. Atau mungkin untuk suami saya kalau malam-malam saya bawa cupcake ke tempat tidur karena kelaparan dan takut makan sendirian di bawah ya disyukuri saja bahwa hanya hal-hal kecil seperti ini yang bikin kami kesal.  Berarti, kami tidak mempunyai masalah besar, kan? Setiap mau komplain, saya tanyakan dulu pada diri sendiri, “Will this make me love him less in 5 years?” Kalau jawabannya tidak, ya, tidak usah diperpanjang lagi urusannya.

Jangan sampai hal-hal nggak penting seperti itu membuat kita mempertaruhkan kebahagiaan pernikahan. Terima saja kenyataan bahwa kita nggak bisa membuat semuanya under control. Ini juga erat kaitannya dengan managing expectation, sih. Pengharapan sebuah keluarga muda itu banyak sekali, lho, dari yang besar dan berhubungan dengan finansial seperti ingin punya rumah, mobil, jalan-jalan sampai ke hal-hal seperti “Kok suami saya nggak seromantis waktu pacaran, ya?”, “Kenapa badannya tidak seatletis dulu?”, atau ‘Kenapa, sih, nggak mau diajak ke arisan keluarga?” dan lain sebagainya. Jadi semua ekspektasi itu harus dibahas dari awal, dua-duanya harus tahu apa yang diharapkan dari satu sama lain dan tentunya, harus realistis.

9. We maintain our own identity
Setelah menikah dan punya anak, ada yang jadi kehilangan identitasnya. Mendadak nama kita berubah jadi nyonya A, mommy-nya XYZ dan nama lain selain nama kita sendiri. Hobi yang tadinya kita tekuni juga jadi terbengkalai karena lebih sibuk mengurus anak. Kita juga jadi tidak nyambung lagi kalo ngobrol dengan teman lama atau kenalan baru karena yang ada di otak hanya sebatas ASI, MPASI, clodi, dan dana pendidikan. Alasan kenapa kita mau menikah dengan pasangan kan because of who they were. Jadi menyedihkan sekali kalau suatu hari kita tersadar bahwa kita tidak saling kenal lagi, tidak pernah meluangkan waktu untuk pergi ke restoran favorit berdua, atau tidak pernah membahas tentang klub bola kesayangan.

Semangat yang biasanya tampak ketika salah satu dari kita membahas tentang pekerjaan sudah tampak luntur seiring dengan luruhnya passion kita terhadap pekerjaan itu. Makanya menurut saya, penting sekali untuk punya kehidupan lain di luar kehidupan kita sebagai istri dan ibu. Wajib hukumnya untuk keluar bersama teman entah lunch date atau ngopi-ngopi cantik. Proses menggali potensi diri juga tidak boleh berhenti setelah mempunyai anak. Beda sekali, lho, gregetnya orang yang semangat hidup, terus belajar dan berkarya serta terinspirasi dengan yang content, pasrah dan menerima apa adanya.

Kurang lebih, begitulah 9 hal yang ada di pikiran saat ini, kalau mau digali, sih, harusnya masih banyak lagi, ya. Dan sebenarnya yang paling saya syukuri sekarang ini adalah kami berdua sama-sama sadar bahwa masih banyak lagi yang harus diperbaiki. Marriage takes work and commitment, memang harus selalu disiram, dipupuk, dan diberi paparan matahari :).

Mudah-mudahan tidak berkesan menggurui, murni hanya ingin berbagi soal perjalanan yang kami tempuh selama ini. Mungkin bisa sama atau bertolak belakang dengan yang Mommies jalani, ya. Setiap keluarga, memang ada keunikannya sendiri-sendiri.  Let’s share what yours, now

 


34 Comments - Write a Comment

Post Comment