Sheque: The Real Family Man

Mommies yang aktif di dunia Twitter, pasti kenal @sheque. Pria bernama asli Adi S. Noegroho ini adalah pekerja di dunia periklanan yang konon tidak kenal waktu itu. Bersama Imameta Kusmudiastri, ia dikaruniai 3 malaikat cilik: Kemala Zidanaia Adiasputri, a.k.a Naia (6,5 tahun), Lelintang Gerrardhya Adiasputro, a.k.a Lintang (meninggal saat lahir), dan Arundaya Elzidane Adiasputro, a.k.a El (4,5 bulan).

Salut untuknya, tak hanya  sukses di karir, ia juga sukses membina keluarga. Simak, yuk, obrolan kami dengan pria yang ceria ini!

Living in an advertising world konon 24 jam sehari, 8 hari seminggu malah, gimana bagi waktu sama keluarga?

Soal 24 jam sehari, 8 hari seminggu, itu … bisa ya, bisa juga tidak.

Tergantung  perusahaan, brand yang dipegang, SDM, dan bagaimana kita mengatur waktunya. Waktu buat keluarga, biasanya saya coba disiplin tidak mengganggu akhir minggu. Dulu saya sempat mengajar tiap Sabtu, sekarang udahan dulu, deh.

Tapi ya, namanya periklanan, kalaupun ternyata Sabtu harus kerja, ya, sebisa mungkin saya memberikan kompensasi waktu di hari kerja.

Ada waktu tertentu yang memang dikhususkan untuk keluarga atau go with the flow aja?

Selain akhir minggu, sebenarnya tidak ada yang dikhususkan.

Go with the flow saja. Pulang ke rumah kalau anak pertama saya, Naia (6,5 tahun) masih bangun … ya, sebisa mungkin menemani dia. Apa pun kegiatannya. Belakangan saya coba mengurangi waktu Twitter-an kalau sudah di rumah. Kalau mau lancar Twitter-an … ya, harus menunggu yang lain tidur …  hahaha ….

Berapa lama, sih, sebenarnya waktu bekerja dalam sehari?

Agak susah diprediksi tapi mungkin rata-rata 10-11 jam, ya.
Belom dihitung waktu perjalanan Jakarta yang #TerFoke itu, yaaaaa :))

Ada ritual khusus dengan anak nggak?

Ritual khusus tidak ada. Porsi saja bagi-bagi dengan istri.
Papa bagian nemenin main, Bunda ngajarin pelajaran sekolah.
Papa sesekali saja ngajarinnya. Soalnya Bunda jauh lebih pintar soal pelajaran sekolah hahahaha ….

Seberapa jauh keterlibatan Sheque dengan pengasuhan anak?

Mungkin seperti banyak bapak lain yang waktunya terbatas, ya.

Keterlibatannya sejauh nemenin main dan support Bunda yang jadi ujung tombak. Khusus untuk Naia yang sudah cukup besar, kami sering pergi berdua, terutama setelah El lahir. Karena Bunda dan El lebih pilih di rumah, maklum, El masih kecil gak bisa terlalu sering pergi. “Kencan” kami bisa ke mal, ke tempat wisata seperti Mekarsari, ke rumah kakek-nenek, dll.

Ada permainan atau hal khusus favorit berdua nggak?

Naia itu banci perform :))
Jadi biasanya kami suka main seolah-olah lagi ada sebuah performance show.
Entah saya yang  jadi penonton atau kadang kami sok perform di panggung …
diiringi lagu Katy Perry. Hahaha ….

Sekarang baru nambah anggota keluarga, gimana cara memperkenalkan adik kepada si kakak?

Ya, dulu kami sempat takut kehadiran El (4,5 bulan) bisa menciptakan masalah kecemburuan dan lain-lain. Tapi Alhamdulillah, sih, ternyata Naia justru terlihat dewasa ketika ada adiknya. Mungkin karena saya dan istri sudah mencoba mengakrabkan Naia dengan adiknya dari sejak adiknya masih di perut. Kadang-kadang Naia terlihat juga, sih, cemburu-cemburu kecil tapi jarang sekali.

Saya pernah dengar cerita teman-teman yang tingkat cemburu anak pertamanya sangat parah. Saya bersyukur Naia tidak seperti itu.

Beberapa waktu lalu, keluarga Anda kehilangan calon anggota keluarga, bagaimana sebagai kepala keluarga menghadapinya?

Kehilangan (calon) anggota keluarga, siapapun yang mengalami pasti akan dilanda kesedihan yang amat sangat. Kita semua pasti pernah atau akan mengalaminya. Meski begitu tidak akan ada orang yang pernah bisa SIAP untuk langsung menerima kehilangan itu. Saya yakin sekali.

Jadi memang yang paling penting adalah bagaimana menghadapinya.

Waktu Lintang, anak ke-2 saya (laki-laki) meninggal di kandungan seminggu sebelum perkiraan dia lahir (38-39 minggu), Alhamdulillah banget saya dikasih oleh Allah untuk cepat ikhlas.
Tangisan terakhir saya itu waktu di kamar bersalin setelah Lintang “dilahirkan” –ya, Lintang lahir secara normal meski sudah meninggal di perut.

Setelahnya … saya ikhlas. Bahkan saat proses pemakaman, tidak ada setetes air mata yang jatuh.

Waktu itu saya berpikir, mungkin saya cepat dikasih keikhlasan supaya bisa bantu Astri, mengikhlaskan Lintang juga. Jadi, saya benar-benar menjaga agar kami sekeluarga bisa cepat ikhlas dan move on.

Dalam kondisi kayak gitu kan rawan banget “saling menyalahkan” satu sama lain. Bukan hanya dari pihak keluarga inti, tapi juga keluarga besar. Mulai dari omongan si Ibu tidak bisa jaga janinlah dan lain-lain.

Saat itu, prioritas utama saya adalah menjaga agar  jangan sampai ada omongan seputar saling menyalahkan tersebut. Satu-satunya alasan Lintang pergi adalah karena dia dipanggil Tuhan. Tak ada alasan lain. Titik.

Alhamdulillah itu berhasil, kami sekeluarga move on, dan oleh Allah, kami dikasih Lintang lain yaitu El.

Menurut Sheque, diri Anda termasuk ayah (dan suami) yang seperti apa, sih?

Saya ingin sekali jadi ayah yang moderat dan egaliter. Dari yang saya lihat, pada Naia, saya sudah bisa menempatkan diri seperti yang saya mau. Datang dari keluarga Jawa, saya tetap menjaga soal sopan santun dan tradisi Jawa tetapi saya tidak feodal terhadapnya. Saya ingin anak-anak nyaman sekaligus hormat pada saya. Alhamdulillah, Naia sudah lumayan bisa begitu. Insya Allah El juga bisa gitu.

Apa sih arti keluarga untuk Anda?

Home is where your heart is. Itu yang saya percaya. Anak itu titipan Allah.
Istri itu partner saya dalam membesarkan titipan-Nya. Modalnya?
Ya, hati itu tadi.

Ada doa khusus yang selalu dipanjatkan untuk keluarga dan anak-anak?

Tiap hari sebelum beraktivitas saya selalu berdoa:
Saya dan istri sukses menghadapi hari ini.
Selamat kembali sampai rumah berkumpul dengan anak-anak yang juga selamat dari kegiatan mereka.
Sukses membawa mereka jadi anak-anak yang sehat, cerdas, berbakti pada orangtua, dan berguna untuk umat manusia kelak.

Amin :) Thanks for sharing with us!


49 Comments - Write a Comment

  1. Pingback: Ranny Apriliani

Post Comment