Lihat Sekitar Kita Dengan Tango Peduli Gizi

News

nenglita・04 Aug 2011

detail-thumb

Siapa, sih, yang tega melihat balita usia 2 atau 3 tahun tapi berat badannya hanya 3 kg? Jangankan bisa beraktivitas dengan lincah seperti anak-anak kita,Moms, untuk duduk atau berdiri saja mereka sulit.

Salah satu bayi yang ditampilkan dalam slide saat peluncuran Tango Peduli Gizi 2011, Jumat 22 Juli lalu adalah Adrianus Lahagu. Bayi laki-laki berusia 5 bulan itu, berat badannya hanya 2, 23 kg! Anak bungsu dari 6 bersaudara ini adalah anak petani karet di Nias yang tinggal berdesakan dalam sebuah gubuk berukuran 3 x 4 m. Keluarga ini menggantungkan hidup hanya dengan mengandalkan penghasilan ibunya sebagai petani karet di Nias, sementara ayahnya tidak bekerja.

Seperti tak percaya, ya? Tapi itulah yang terjadi, tidak usah jauh-jauh ke Ethiophia atau Somalia, balita-balita mungil itu ada di negeri kita sendiri. Melihat kondisi ini, tahun 2010 yang lalu, Wafer Tango meluncurkan program sosial yaitu Tango Peduli Gizi Anak Indonesia yang terdiri dari dua aktivitas besar; pemberian makanan tambahan dengan gizi seimbang untuk 526 anak di Nias dan Ruteng, serta Balai Pemulihan Gizi (BPG) yang memberikan perawatan intensif pada 72 anak dengan gizi buruk di Nias. Adrianus adalah salah satu bayi yang berhasil pulih kesehatannya, saat ini berat Adrianus jadi 5,7 kg setelah 5 bulan dirawat di BPG.

 

 

Melalui program ini sekitar 95% anak-anak yang mengikuti program, meningkat status gizinya. Namun sayang, sekitar 50% dari mereka terindikasi kesulitan untuk mempertahankan kondisinya ketika kembali ke rumah, karena faktor ekonomi yang lemah, keadaan rumah dengan sanitasi buruk dan tidak biasa hidup sehat serta minim pengetahuan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Berdasarkan evaluasi inilah, tahun ini Tango Peduli Gizi lebih menitikberatkan pada program pemberdayaan ekonomi berupa pemberian bibit ternak untuk dibudidayakan, renovasi rumah dan perbaikan sanitasi, serta yang terpenting pendampingan terhadap keluarga agar anak yang telah pulih kondisi gizinya tetap terjaga.

Kenapa keluarga? Menurut dr. Monica Sahertian, pekerja sosial yang juga pelaksana lapangan program Tango, gizi buruk yang diderita anak-anak di Nias, salah satunya disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk. Oleh karena itu Ir. Asih Setiarini, MSc, ahli Gizi Kesehatan Masyarakat dari FKM UI, menekankan bahwa keluarga di Nias harus didampingi agar bisa berkomitmen untuk mau berusaha dan memperbaiki pola asuh mereka.

Sebagai langkah awal, atas dukungan dan kehadiran rekan-rekan media saat peluncuran kemarin pihak Tango berhasil mengumpulkan 18 ribu benih lele yang akan diberikan sebagai pendukung gizi keluarga modal dan modal beternak bagi keluarga di Nias dari hasil penjualan Wafer Tango. Mudah-mudahan semangat berbagi dari teman-teman Tango menular ke diri kita semua, ya! Salut!