Mengenal Bakteri Sakazakii

Beberapa waktu lalu, masyarakat terutama kaum ibu resah akibat pemberitaan mengenai bakteri Enterobacter sakazakii yang diduga terdapat di dalam produk susu bayi. Keresahan yang terjadi akibat pemahaman umum bahwa keberadaan bakteri di dalam susu bubuk, adalah hal yang seharusnya tidak terjadi. Singkatnya, masyarakat menganggap bahwa produk susu bayi pokoknya harus steril dari segala bentuk mikroorganisme apapun.

Tanpa bermaksud menyalahkan pendapat umum tersebut, ada baiknya kita sama-sama mempelajari apa sebenarnya bakteri, termasuk Enterobacter Sakazakii itu?

Bakteri mempunyai tugas vital dalam ekosistem sebagai dekomposer yang memecah berbagai zat organik menjadi bermacam zat anorganik. Berpuluh jenis bakteri dalam jumlah yang seimbang berada dalam tubuh manusia. Bakteri, ada yang bersahabat untuk tubuh manusia, tapi ada juga yang menyebabkan penyakit. Bakteri yang menyebabkan penyakit, disebut juga sebagai bakteri pathogen.

Tidak semua bakteri dalam keadaan normal dapat menimbulkan penyakit pada manusia, bahkan banyak yang justru bermanfaat. Untuk itulah di dunia kedokteran dikenal adanya bakteri yang secara alami ganas (virulen), diartikan sebagai bakteri yang kalau masuk ke tubuh manusia, umumnya mengakibatkan penyakit, tidak peduli apakah manusia tersebut keadaan tubuhnya memiliki daya tahan tubuh normal/kuat atau lemah. Bakteri yang masuk kategori ini misalnya Vibrio Cholera penyebab penyakit kolera atau salmonella penyebab demam enterik dan gastroentritis.

Sementara ada juga bakteri yang dalam keadaan normal merupakan ‘sahabat’ manusia seperti kelompok Enterobacteriaceae (contoh Escherichia Coli, Eneterobacter Aerogenes, Eneterobacter sakazakii, dst). Jenis bakteri ini dalam keadaan normal bisa hidup didalam saluran usus besar atau lingkungan hidup manusia. Tapi, jika daya tahan tubuh menurun maka mereka bisa jadi bakteri yang mengakibatkan penyakit. Hal ini yang sering disebut infeksi oportunis.

Bagaimana keberadaan bakteri dalam makanan?

Perlu diingat, kita juga tidak hidup dalam dunia yang steril kan, moms. Tangan, jari dan bagian tubuh kita yang lain juga nggak bebas dari mikroorganisme. Jadi mustahil menghindari paparan bakteri atau mikroorganisme lainnya. Lalu apakah kita pasti jatuh sakit setelah terpapar atau mengkonsumsi makanan yang mengandung bakteri tertentu? Tentu saja tidak! Ada beberapa hal yang mempengaruhi apakah kita akan langsung jatuh sakit jika terpapar atau mengkonsumsi makanan yang mengandung bakteri tertentu, antara lain:

  • Berapa banyak jumlah bakteri yang masuk bersama makanan
  • Virulensi atau keganasan dari bakteri tersebut
  • Lama kontak antara bakteri dan manusia
  • Daya tahan tubuh. Misalnya seseorang yang telah divaksinasi salmonella akan lebih tahan terhadap serangan bakteri tersebut
  • Kerentanan individu terhadap infeksi. Ini bisa bersifat genetik atau berkaitan dengan kondisi fisik misalnya bayi baru lahir, bayi prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, ibu hamil serta manula

Lalu bagaimana kabar keberadaan Sakazakii di produk makanan bayi?

Bakteri ini sudah lama dikenal dan diketahui, bisa ditemukan pada usus manusia dan hewan serta dilingkungan dan peralatan sekitar kita. Kasus infeksi, secara fakta sangat jarang ditemukan di masyarakat dan hanya ditemukan justru di rumah sakit yaitu pada saat anak atau bayi dirawat dan mengalami gangguan pertahanan tubuh.

Hal ini juga diperkirakan akibat penggunaan antibiotika yang tidak rasional, sehingga menimbullkan resistensi terhadap antibiotika sekaligus meningkatkan derajat keganasan bakteri ini. Bakteri sakazakii seperti bakteri kelompok enterobacteriaceae lainnya, akan mati dalam suhu diatas 80 derajat selama 30-60 menit.

Untuk produk makanan bayi, yang ramai dibicarakan kemarin susu bubuk/ formula memang tidak dinyatakan sebagai produk yang steril atau terbebas dari mikroba. Cemarannya bisa dari mana  saja, mungkin sudah ada dalam puting susu sapi, peralatan pemerahan susu tersebut, saat fabrikasi atau mungkin saat pengenceran sebelum diberikan kepada bayi.

Menurut Prof. Dr. Sam Soeharto Sp. MK (K), perlu kehati-hatian dan perlakuan khusus pada bayi-bayi prematur, berat badan rendah atau kelainan lain yang menyebabkan daya tahan tubuh lemah. Karena mereka rentan terhadap infeksi, khususnya melalui susu. Selain itu, kendati kalangan produsen sudah melakukan upaya meminimalisir kontaminasi, konsumen tetap perlu memperhatikan petunjuk penyiapan, penyajian dan penyimpanan susu seperti yang selalu tertera di kemasan produk.

Jadi moms, ASI pasti yang terbaik, tapi jika harus memberikan penggantinya maka kita sebagai orangtua harus bersikap bijak dan hati-hati apalagi menyangkut keselamatan buah hati kita. Kuncinya, jangan takut dan kenali bakterinya.

*gambar dari sini


14 Comments - Write a Comment

Post Comment