Pendidikan Seks untuk Anak

Behavior & Development

Hanzky・10 Feb 2011

detail-thumb

Beberapa waktu lalu, Sekolah Cikal kembali mengadakan acara Cikal Bincang-Bincang. Acara yang berbentuk talkshow santai namun sarat dengan informasi penting ini tidak hanya dikhususkan oleh orang tua murid Sekolah Cikal saja lho, jadi siapapun boleh datang. Yang terakhir ini topiknya adalah Sex Education for Children. Whewww penting banget kan? Topik yang bikin orang tua deg-degan karena walaupun pada dasarnya kita tau kalo harus memperkenalkan dari awal tapiii bingung bagaimana memulainya. Makanya beruntung banget kita datang ke acara kemarin ini karena dijelaskan tip dan triknya oleh Ibu Yati Utoyo selaku psikolog handal dan Ibu Tari Sandjojo selaku praktisi pendidikan dari Sekolah Cikal. Berikut poin-poin yang kita catat, mudah-mudahan berguna buat Mommies di sini ya.

  • Kebanyakan orang tua segan bicara soal seks dengan anak karena menganggap seks adalah sesuatu yang tabu. Padahal, dari sudut pandang psikologi, seks adalah sesuatu yang normal dan alami. Setiap individu mempunyai kebutuhan akan seks. Setelah kita menghilangkan pemikiran bahwa seks itu tabu, 'jalan' untuk dapat bicara terbuka soal seks ke anak akan lebih mudah.
  • Adalah sangat normal bila batita, balita dapat merasakan stimulasi seksual dengan meraba, menarik penisnya, mengusap kelamin luar atau menggesek kelamin ke kursi. Kalau ini terjadi, jangan dimarahi, jangan diolok-olok atau membuat mereka merasa bersalah.  Pelan-pelan dialihkan ke aktivitas lain supaya anak tidak terjebak dengan kegiatan tersebut.
  • Pendidikan seks dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Lebih awal lebih baik dan tentunya harus sesuai dengan porsinya masing-masing. Pendidikan seks untuk anak umur dua tahun akan berbeda dengan anak umur tujuh tahun. Kalau mereka sudah agak besar dan sepertinya siap menerima informasi yang lebih detil, lebih baik mereka tau dari orang tuanya. Jangan khawatir soal too much too soon karena yang bahaya justry too little too late. Apalagi biasanya anak umur 6 tahun sudah mengembangkan 'radar' mana topik atau perilaku yang diterima atau tidak diterima orang tua. Jadi mereka mulai segan untuk bertanya soal seks.
  • Supaya menghindari rasa canggung, gunakan kesempatan sehari-hari untuk membahas tentang topik ini. Kita harus pintar melihat momen yang tepat untuk menyelipkan informasi yang kita mau mereka ketahui. Misalnya di TV lagi ada pasangan laki dan perempuan yang berpelukan, kita bisa kasih tau kenapa mereka berpelukan, siapa saja yang boleh memeluk si anak dan lain sebagainya. Bisa juga kita lempar pertanyaan enteng seperti 'Kamu tau nggak apa bedanya anak perempuan dan anak laki-laki?'
  • Sebisa mungkin, gunakan nama-nama yang sebenarnya untuk alat kelamin. Penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. I know this one is harder than it seemed!. Ketika kita mengajari anak tentang 'Ini namanya hidung, yang ini kaki', selipkan juga bagian-bagian lain yang lebih private sambil ajarkan siapa saja yang boleh melihat/menyentuh bagian tersebut.
  • Contoh pertanyaan yang biasanya keluar dari mulut balita:

    'Adik bayi datang dari mana?'

    Cukup dijawab dari perut dan nanti keluar dari ... (tunjuk vagina atau perut).

    'Bagaimana bayi ada di perut?'

    'Tuhan yang taruh adik diperut Ibu'. Menurut ibu Yati, jawaban ini cukup memuaskan balita, karena kalau mau dijelaskan panjang lebar juga mereka belum mengerti.

    'Bagaimana aku lahir?'

    'Kamu lahir ditolong dokter dan suster di rumah sakit. Kamu keluar dari.. (tunjuk vagina atau perut) lalu dokter dan suster membungkus kamu dengan selimut dan kamu minum susu. Jangan lupa tambahkan bahwa ayah dan ibu senang sekali waktu dia lahir.

  • Kalo anak sudah masuk sekolah dasar pertanyaannya akan lebih berkembang seperti seputar, Apakah ereksi itu? Masturbasi? Mengapa perempuan datang bulan? Bagaimana orang berhubungan intim?. Menurut riset yang ada, sekarang ini anak-anak berkembang lebih cepat dari jaman dulu. Sekarang anak-anak mendapat menstruasi lebih awal dan juga lebih gampang mendapat informasi tentang seks.
  • Kita tidak terpikir sejauh ini, tapi sebenarnya diskusi tentang seks memungkinkan orang tua berbagi tentang nilai-nilai keluarga dan agama yang penting, membantu anak membentuk sikap positif. Penting sekali untuk menanamkan kepada anak bahwa dia sangat spesial dan merupakan ciptaan Tuhan yang sangat berharga dan karenanya ia perlu menjaga dirinya.
  • Setelah Ibu Yati Utoyo, giliran Ibu Tari Sandjojo yang menjelaskan tentang pendidikan seks di Sekolah Cikal. Seru sekali ya kalau pembekalan ini dimasukkan ke kurikulum, jadi dapat meringankan 'beban' orang tua :D. Walaupun tetap yaa, sumber utama itu harus dari rumah karena bagaimanapun kitalah sebagai orang tua yang paling mengerti tentang anak kita. Selain disisipkan di enam unit of inquiry yang diajarkan Sekolah Cikal setiap tahunnya, juga ada sesi 'boys talk' dan 'girls talk' dengan konselor sekolah.

    Sekolah Cikal lebih memberatkan pada pondasi awal karena kalau informasi basicnya sudah diberikan dengan benar dari awal, anak-anak akan lebih gampang untuk menerima pengetahuan yang lebih kompleks lagi ke depannya. Penerimaan anak-anak tentang seks juga ternyata sangat terkait dengan kemampuan mereka menerima informasi, tingkat kepercayaan dirinya, kecakapannya dalam memberi penilaian yang baik dan juga kemampuannya dalam memilih. Contoh simpel dalam memilih adalah memilih teman baik, apa saja ciri-ciri teman yang baik, bagaimana mengatakan tidak dan juga menghadapi konflik. Issue yang diangkat pada setiap umurnya juga berbeda. Untuk level TK B sudah dibiasakan membersihkan private partsnya sendiri, jadi tidak akan dibantu oleh gurunya karena sudah diajarkan bahwa orang lain tidak boleh menyentuh bagian pribadinya. Untuk level SD akhir juga membahas tentang masalah pubertas dan perubahan fisik serta emosi yang terkait.

    Jadi intinya untuk memuluskan penerapan pendidikan seks ke anak (serta semua hal dalam pengasuhan anak) memang harus ditanamkan komunikasi yang baik dengan anak. Kita harus bisa membuat anak tidak sungkan untuk berdiskusi dengan kita. Pendidikan seks bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam satu sesi saja, tapi terus menerus sesuai dengan kapasitas anak.

    Di akhir acara ada sesi tanya jawab. Pertanyaan dari peserta sangat beragam, ini membuktikan bahwa pendidikan tentang sex bukan hanya seputar organ intim dan reproduksi tapi juga bagaimana mereka menerima dirinya, bentuk tubuhnya dan melihat perbedaan yang ada di lingkungan mereka.

    Sogi ( @sisogi ) yang seorang entertainer dan satu-satunya perwakilan dari para bapak :D menanyakan bagaimana menerangkan ke anak tentang preferency sexual?. Tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang semakin banyak yang berhubungan dengan sesama jenis. Nah, menurut Ibu Yati, memang ini tricky, tapi kembali lagi dengan nilai hidup dan agama yang dianut oleh keluarga. Kita bisa terangkan bahwa dalam agama jelas hal tersebut dilarang. Tapi dari sisi psikologi memang ada yang namanya homosexuality dan transgender. Mungkin kita bisa jelaskan bahwa Tuhan menciptkan laki-laki dan perempuan tapi ada laki-laki yang merasa bahwa dia perempuan dan begitu juga sebaliknya. Proses antisipasinya ini yang harus kuat, dari kecil harus ditanamkan nilai-nilai tersebut dan diberi ruang untuk belajar memilih. Tentunya pilihan yang diputuskan tidak akan mengecewakan orang-orang yang mencintainya dan sesuai dengan ajaran yang dianut.

    Ada juga yang bertanya kalau anaknya yang umur tiga tahun sangat clingy. Selalu mengikuti kemanapun ibunya pergi, sampai-sampai ke kamar mandi pun di kintilin. Menurut Ibu Yati, hal tersebut masih dalam tahap wajar. Yang bisa kita lakukan adalah memberi batasan. Seperti misalnya memperbolehkan anak untuk masuk ke kamar mandi ketika kita mau buang air kecil, tapi dia harus balik badan. Begitu juga kalau kita ganti baju, bisa sambil kita tutup badan kita dengan handuk atau kita membalikan badan.

    Satu pertanyaan yang menarik datang dari seorang ibu yang anak perempuannya sudah kelas enam SD dan berbadan agak bongsor dengan payudara yang cukup besar untuk anak seumurnya. Hal ini membuat dia jadi tidak percaya diri, hanya mau memakai baju yang gombrong, postur tubuhnya pun jadi bongkok karena dia berusaha menyembunyikan payudaranya. Padahal, kalau anak terlihat tidak pede justru akan semakin diperhatikan orang kan? Lagipula ketidak pedean ini takutnya jadi menjalar kemana-mana. Yang tadinya hanya tidak pede dengan baju yang pas badan, sekarang juga jadi tidak pede untuk tampil di depan kelas, atau tidak mau ikut olahraga. Jadi sudah kewajiban kita mengajarkan ke anak untuk menghargai dan bangga dengan bentuk tubuhnya. Dengan begitu, anak tidak akan goyah dengan suara-suara sumbang dari orang di sekelilingnya.

    -----

    Pheww panjang sekali ya Mommies...kalau datang langsung, lebih banyak lagi informasi yang didapat. Oh ya tanggal 19 Februari nanti akan ada Father & Kids talkshow bersama Najelaa Shihab di FX Giggle. Jangan sampai ketinggalan ya. Informasi lengkapnya ada di Facebook: http://on.fb.me/hP8xaH

    See you there ya :)