Mengajarkan Abang Membaca Jam

Sejak masih di Indonesia, saya sudah mengeluarkan buku yang dulu saya pakai untuk belajar membaca jam waktu kecil dari tempat penyimpanan. Bukunya ya jadul abis. Harganya (di bagian belakang buku masih ada stiker harga) 750 rupiah saja :D. Tapi waktu abang kecil masih berumur tiga tahun, belum mau dan belum ngeh ketika diperkenalkan pada buku itu. Diingat-ingat, dulu juga rasanya saya baru bisa baca jam sekitar kelas 2 SD deh, jadi ya sudahlah  ditunda dulu.

Setelah pindah ke Korea, si abang punya teman dekat yang setiap hari main di taman, namanya Muis, orang Pakistan. Karena Muis dan abang hanya beda kelas, saya sering bertemu ibunya saat kami menjemput mereka. Suatu hari saya bertanya pada ibunya Muis, pukul berapa anak-anak akan main di taman. Dia bilang sekitar pukul enam-tujuh sore. Saya tanya lagi, apakah Raffi–kakak Muis yang selalu menemaninya main di taman, sudah bisa membaca jam untuk tahu pukul berapa mereka harus pulang. Ternyata, tak hanya Raffi, Muis pun bisa membaca jam. Nah karena Muis dan abang berusia sama…jadi saya pikir tak ada salahnya mencoba mengenalkan cara membaca jam padanya.

Ketika pergi ke supermarket, saya menemukan ‘jam’ dengan karakter Pororo yang cocok untuk mengajarkan anak membaca jam. Langsung deh saya beli.

Benda ini nggak langsung digunakan karena saya masih mencari ide cara untuk mengajarkannya (kenapa gak googling ya, arrh, I always chose the hard path). Suatu hari  saya mendapatkan ide dan langsung dipraktekkan.

Pertama saya bilang ke abang kecil, “Bang, lihat deh pada jam ada dua jarum; panjang dan pendek. Kalau jarum panjang di angka dua belas dan jarum pendek di angka empat, itu artinya sekarang pukul empat. Kalau jarum pendeknya di angka lima, artinya pukul lima. Jadi kalau begini (jarum pendek saya pindahkan ke angka enam), artinya pukul berapa?”

*ini diulangi beberapa kali sampai dia klik dengan konsepnya*

Kedua saya minta dia yang memindahkan jarumnya sendiri sesuai permintaan saya.

Ketiga karena si abang kecil suka menonton TV, yang saya batasi jamnya, sekalian juga saya praktekkan,“Bang, nanti kalau sudah jam 4 TVnya dimatiin ya. Abang tahu nggak jam empat itu bagimana?“. Dan abang menjelaskannya dengan bilang kalau pukul empat itu jarum panjang di angka dua belas dan jarum pendek di angka empat, sambil merubah jarum di jam-jamannya itu ke arah pukul empat.

Kalau batas menonton TV nya sudah terlewat saya tinggal bilang “Bang, coba cek sekarang sudah jam berapa? Tadi janji mau matiin TVnya jam berapa?”.

Alhamdulillah, si abang kecil sudah bisa baca jam yang ‘pas’ (jam 12 teng, jam 5 teng). Kalau yang lewat sekian menit, sampai sekarang masih saya usahakan (dengan metode yang sama). Mungkin ada yang punya ide lain ?

*Dikirim oleh Fenida R Sukarya tinggal di Korea, ibu dari Muhammad Abyan Adhi Yuwono (5 tahun) dan Rehan Dwi Yuwono (2 tahun)


14 Comments - Write a Comment

  1. @affi : ibunya si Muis kalau ketemu bentar2 doang, maklum anaknya 3 pan…jadi sibuk ye…
    @mrs. adi : kebetulan di jam pororo itu udah ada angkanya kan, 5, 10, 15 menit etc. jadi dicoba dengan itu aja, tapi masih belum klik. apa nanti dibikin part 2 ya ?
    @ilalank : abang kecil itu ya si kakak bu…apa si adek keliatannya udah berumur > 3 tahun ? :D

Post Comment