Panduan Membuat Resolusi 2011 Bagi Para Ayah

  • Langkah pertama: nongkrong di WC.

Saya serius. Pria cenderung kesulitan membuat resolusi karena jarang meluangkan waktu untuk perenungan. Bisa jadi karena sibuk mengurus pekerjaan, rumah tangga, atau hal lain menyangkut hidup dan mati… seperti menonton pertandingan sepak bola.

Padahal perenungan adalah bagian penting dari membuat resolusi—hal-hal yang kita ingin capai. Agar tahu apa yang mau kita tuju, kita perlu sadar dulu: sudah sampai mana?

Untuk itu, kita perlu tempat yang menjamin ketenangan kita untuk merenung. Kalau memang bukan WC, ya carilah yang sesuai bagi diri Anda: bisa cafe yang sepi, dalam mobil di tempat parkir, atau kamar kerja yang terkunci dengan papan bertuliskan “AWAS AYAH GALAK!”

Lihat juga resolusi tahun lalu (kalau ada). Berapa yang tercapai? Berapa yang terpikirkan aja tidak? Berapa yang membuat kita bingung, “Saya waktu bikin ini lagi mabok, ya?”

Coret yang gagal. Lalu mantapkan diri untuk langkah kedua…

  • Buatlah resolusi yang benar-benar kita ingin capai. Bukan sekadar ngimpi. Atau ngawang-ngawang.

“Bagus juga kalau aku lebih kurus, ya?” pikir kita sambil mengemil sepuluh bungkus keripik kentang Lay’s di sofa, nonton DVD serial The Walking Dead secara maraton. Terus nulis, “Menurunkan berat badan”. Lantas melupakannya begitu saja. Tahun depan salin lagi tulisan ini untuk Resolusi 2012. Lantas rewind dan playback untuk tahun-tahun berikutnya.

Kalau memang begitu, mendingan untuk poin pertama tulis saja: “Gagal mencapai resolusi apa pun yang akan saya tulis setelah poin ini”. Dengan itu, kita akan selalu berhasil mencapai minimal satu resolusi.

“Lho, Man, bukannya lebih baik gantungkan cita-cita kita setinggi langit?” Ya. Tapi sadar dikit dong: manusia mencapai bulan pun tidak dalam setahun. Misalkan tujuan hidup kita sedikit tinggi, seperti menguasai dunia. Tujuan jangka panjang itu perlu kita pecah dulu menjadi sasaran per tahun. Misalnya, tahun pertama menggalang dukungan Rukun Tetangga dulu. Tahun kedua baru menggalang dukungan kelurahan. Bertahap.

Saat Quentin Tarantino bukan siapa-siapa, bayangkan saja ia tiba-tiba ngomong ke calon produser, “Gua mau bikin film tentang Uma Thurman pake jumpsuit kuning yang nyabet-nyabet orang pake katana.”

Produsernya paling ngomong, “Gua ngerti. Gua juga dulu suka ngegele.” Ini berhubungan dengan langkah berikutnya…

  • Pastikan kita punya kriteria spesifik untuk mengetahui apakah kita sudah benar-benar mencapainya.

Jujur saja. Kalau kita menuliskan, “Menjadi orangtua yang lebih baik”, lebih baik langsung coret sekarang karena tidak realistis. Bagaimana cara kita menentukan kita sudah berhasil atau tidak?

“Oh, tahun lalu waktu anak saya minta dibeliin XBox 360, aku tolak. Tahun ini, aku kasih. Berarti aku lebih baik, ya?”

Lebih naif sih, mungkin.

Tambahkan sasaran jelas untuk resolusi, jadi kita tahu apakah kita berhasil atau gagal mencapainya. Daripada “Menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak saya”, misalnya, lebih baik tetapkan apa yang ingin kita capai.

Sebagai contoh, saya pernah membuat salah satu poin resolusi tahun 2008 sebagai berikut: “Mengantar anak saya, Aza, pada hari pertama ke sekolah (kalau diterima). Dan kalau tidak bisa, menggantikannya dengan menemani pada lima hari sekolah kapan pun pada tahun itu. Kalau Aza belum sekolah juga, ganti dengan menghabiskan lima hari bebas untuk melakukan aktivitas bersama nonelektronis. Dihitung satu hari saat lebih dari tiga jam intensif, pada tanggal yang sama.”

Terlalu detail? Ya sederhanakan saja. Sekali lagi: yang penting kita tahu bagaimana mencapainya dan kapan bisa dianggap sudah tercapai.

Dalam kasus saya, detail tersebut membantu saya tahu bahwa poin resolusi saya di atas tercapai pada tanggal 14 Juli 2008, hari pertama Aza masuk TK. Saya pun bisa menuliskan catatan berkaitan resolusi tersebut: “Seragam TK Aza tampak seperti seragam pelaut mini. Untunglah modelnya tidak mengacu Donal Bebek, sehingga paling tidak Aza masih memakai celana.”

Tentunya, tidak seluruh resolusi bisa detail. Ada yang memang sedikit kabur karena bentuk pelaksanaannya beragam. Pada situasi seperti ini, pastikan dulu dalam langkah keempat bahwa kita bisa…

  • Membedakan antara resolusi dan keinginan

“Saya ingin tahun ini anak saya masuk SD negeri.” Ini bukan resolusi. Yang lebih penting untuk kita pahami: ini bukan hak kita sebagai orangtua. Hak (sekaligus kewajiban) kita adalah untuk mendukungnya.

“Saya akan mendukung keputusan anak saya berkaitan mau sekolah atau tidak—dan kalau mau ke sekolah yang ia inginkan.” Ini contoh yang lebih sesuai.

  • Siapkan alternatif

Jika resolusi kita berfokus pada suatu peristiwa penting—bisa saja ada kondisi lain yang membuat kita tidak bisa memenuhinya. Selalu siapkan alternatif.

Saya contohkan kembali, pada resolusi tahun 2008 lalu, saya menyediakan alternatif:

“…Dan kalau tidak bisa, menggantikannya dengan menemani pada lima hari sekolah kapan pun pada tahun itu. Kalau Aza belum sekolah juga, ganti dengan menghabiskan lima hari bebas untuk melakukan aktivitas bersama nonelektronis. Dihitung satu hari saat lebih dari tiga jam intensif, pada tanggal yang sama.”

Penting: alternatif bukan cara curang untuk kabur. Contoh: “Saya akan menemani anak ke sekolah. Kalau tidak bisa, saya akan makan es krim butterscotch sendirian.”

Resolusi Saya Sebagai Seorang Ayah untuk Tahun 2011

a. Kalau Chika, anak kedua saya, memutuskan untuk sekolah: saya akan menemani pada hari pertamanya masuk TK

Kalau tidak bisa, karena ada kebutuhan lain, saya akan menggantikannya dengan lima hari lain pada tahun yang sama.

b. Berolahraga secara rutin sehingga suatu saat Aza, anak pertama saya, tertarik—dan saat dia bertanya, “Boleh ikutan?” saya akan menjawab, “Hayuk!”

Kalau dia tidak tertarik juga, ajak dia main yang berorientasi fisik (seperti bola, bulutangkis, atau sekadar kucing-kucingan lari) minimal sepuluh kali dalam tahun ini.

c. Menulis naskah buku berisi pengalaman saya sebagai ayah bagi Aza dan Chika

Kalaupun tidak bisa diterbitkan, minimal bisa jadi kenangan yang menarik bagi saya sekeluarga.

d. Menata batu titian di kebun agar bisa jadi tempat pijakan yang jelas

Saat ini, kebun depan rumah jarang digunakan Aza maupun Chika untuk bermain karena begitu berantakan sampai batu pijakan pun tertimbun tanah. Walau belum tentu setelah rapi pun akan mereka gunakan, ini akan jadi permulaan yang baik.

e. Kalau ada poin resolusi di atas yang gagal tercapai, saya akan makan es krim butterscotch sendirian

*Ditulis oleh Isman HS (@ismanhs), penulis Bertanya Atau Mati, Jangan Berkedip!, Oksimoron, dan banyak lagi. Ayah dari Aza dan Chika.


37 Comments - Write a Comment

Post Comment