Bijak Memilih Tempat Bersalin

Seiring dengan lahirnya Undang-Undang kesehatan nomor 36 Tahun 2009, di mana pada pasal 128 Ayat 1 melindungi hak bayi mendapatkan ASI eksklusif, semakin banyak rumah sakit yang memproklamirkan diri sebagai RS pro asi. Sayangnya, label yang mereka pasang tidak selalu sejalan dengan kenyataannya. Hal tersebut saya saksikan saat ipar saya melahirkan di sebuah rumah sakit di kawasan Tangerang. Sebelum memilih RS tersebut, adik saya mensurvey RS dengan mempertanyakan komitmen mereka pada pemberian ASI eksklusif. Dengan yakin, pihak RS menyebut dirinya RS pro ASI, bahkan memiliki ASIP donor katanya.

Keanehan pertama seputar ASI terjadi saat ipar saya mengikuti senam hamil terakhir sebelum bersalin (ipar saya dinyatakan harus cesar oleh DSOGnya karena matanya minus tujuh, tapi dia masih berharap bisa melahirkan spontan, makanya masih senam hamil). Seorang petugas medis sempat bertanya pada ipar saya, nanti kan habis operasi tidak bisa menyusui, apa mau pakai susu formula (sufor) dulu? Sungguh pertanyaan yang aneh dari sebuah rumah sakit pro asi. Kenapa setelah operasi tidak bisa menyusui? Kecuali ibunya mengalami sakit berat, pasca cesar tidak ada halangan untuk menyusui. Susah sudah pasti, butuh ‘tangan lain’ untuk memposisikan bayi sementara sang ibu geraknya masih terbatas. Dan jangan lupa, dalam 72 jam pertama, bayi mampu bertahan tanpa mengkonsumsi apapun. Jadi, untuk apa sufor?

Namun sebagai ibu baru, tidak urung ipar saya pun gelisah. Di hari kelahiran keponakan saya, sekitar jam satu siang, saya bawakan empat kantong Air Susu Ibu Perahan (ASIP) saya sebagai back-up (saya masih menyusui putri saya yang berusia lima bulan). Saat menerimanya seorang perawat menanyakan “Cuma segini bu? Kalau tidak cukup bagaimana?”. Saya jawab “masak tidak cukup suster, kan bayi baru lahir, seburuk-buruknya dia cuma butuh asip untuk 24 jam pertama, masak habis itu ibunya masih tidak bisa menyusui”. Suster diam saja. Tidak lama, setelah saya meninggalkan RS, adik saya telepon, susternya bilang satu kantong ASIP tidak layak pakai. Sisa tiga kantong dihitung hanya 30 ml, yang kemudian dinyatakan hanya akan cukup hingga jam sembilan malam. Dan kembali, adik saya ditawarkan opsi susu formula. Lagi-lagi sebuah keanehan. Pertama, seharusnya petugas medis tahu, bayi kecil yang belum berusia sehari tersebut memiliki lambung hanya sebesar kelereng. Dan sekali lagi, ia mampu bertahan tanpa asupan apapun selama 72 jam. Terakhir, tidakkah setelah jam 9 malam nanti ipar saya akan lebih siap untuk menyusui bayinya?

Saat itu adik saya mengajukan permintaan ASIP donor yang tersedia di RS. Sangat mengejutkan, pihak RS menjawab mereka tidak punya ASIP donor, pasien harus menyediakan donornya sendiri. Kalau begitu, rasanya mereka tidak perlu melabeli dirinya pro ASI. RS yang tidak pro ASI pun dapat memberikan ASIP kalau pasien sendiri yang harus menyiapkannya.

Ketika akhirnya bayi diserahkan pada ipar dan adik saya, sekitar tujuh jam pasca dilahirkan, bayi tersebut hanya diserahterimakan begitu saja. Adik saya sebagai pasangan orangtua baru jelas bingung bagaimana cara menyusui anaknya sementara gerak badannya masih sangat terbatas. Suster bahkan menyatakan, jika bayi rooming-in dengan ibunya, maka sang ibu yang bertanggungjawab untuk menggantikan popok jika bayi buang air. Dapat dengan mudah diduga, pasangan orangtua baru tersebut panik dan mengembalikan bayinya kembali ke ruang bayi.

Malamnya adik saya kembali diinformasikan bahwa ASIP habis dan opsi sufor ditawarkan kembali. Adik saya tetap menolak. Subuh kami membawakan ASIP kembali dalam jumlah yang banyak untuk seorang bayi kecil, kira-kira ada 10 kantong. Bersamaan dengan itu, adik saya dipanggil dan bayinya dinyatakan lemas, kadar gulanya rendah, kembali ditawarkan sufor dan dinyatakan perlu diinfus. Yang sangat sulit kami pahami adalah vonis ‘lemas’. Karena saat dibilang lemas, keponakan saya sedang ngulet-ngulet khas bayi, tidak lama kemudian adik saya juga melihat dia menangis. Sayang suaranya tidak terdengar, karena entah dengan alasan apa, keponakan saya tidak juga keluar dari inkubator sejak pertama ia lahir. Selain lemas, salah satu indikator kurang gula yang disebutkan pihak RS adalah kakinya biru. Padahal, kaki biru sama sekali bukan gejala klinis Hipoglikemi, dan tentu saja bukan indikasi untuk menyerah pada sufor.

Setelah akhirnya keponakan saya diinfus dan diberi minum ASIP kadar gula bayi naik kembali, tapi kemudian dinyatakan infeksi. Saya desak adik saya menanyakan diagnosa dalam bahasa medis, infeksi apa? Jawabannya hanya infeksi bayi baru lahir. Dan diharuskan terapi antibiotik selama lima hari.

Selama itu, adik saya sama sekali tidak pernah diperlihatkan hasil lab yang menjadi dasar vonis infeksi. Ketika akhirnya mendesak seorang perawat untuk menyerahkan hasil lab dengan alasan diminta HRD kantor adik saya (karena kalau tidak ada indikasi masuk NICU tidak akan diganti biayanya) seorang perawat hanya menyalinkan hasil lab yang point-pointnya dianggap di atas normal. Segera saya komunikasikan point-point tersebut pada dokter keluarga kami, yang kemudian malah bingung “point-point ini tidak menunjukkan adanya infeksi”.  (Kelak, setelah keluar RS, saat konsultasi pertama ke dokter spesialis anak (di RS yang berbeda), dokternya juga tidak melihat indikasi infeksi sama sekali dari hasil lab nya. Dua dokter tersebut juga sama-sama menanyakan keadaan klinis keponakan saya saat itu. Yang tentunya dilihat dengan mata kepala ipar dan adik saya sendiri bagaimana keponakan saya bisa menangis keras, bergerak aktif ketika bangun, bangun setiap 3 jam untuk minum susu, dan mampu minum melalui mulut).

Sementara itu ASIP yang kami kembali bawakan dikomplain, katanya cepat berbau. Kami tidak pasti bau apa yang dimaksud, karna setahu saya, ASIP memang memiliki bau khas. Ketika akhirnya adik saya menyerah pada sufor, sebuah merk pun disebutkan pihak RS dan adik saya dipersilahkan membelinya di apotik RS. Sebuah merk yang sama dengan merk yang tertera pada banner klub gizi yang terletak di depan lift-lift RS tersebut. Sungguh mudah diduga.

Sementara keponakan saya dirawat di ruang NICU ipar saya mulai memerah ASInya demi segera menghentikan pemberian susu formula. ASI perah yang tadinya diberikan dengan jalan disuapkan, lama-lama diubah dengan memakai botol, dengan alasan susah karena bayinya di inkubator. Padahal, tidak perlu kecerdasan tinggi untuk menemukan informasi bahwa penggunaan botol pada bayi baru lahir dapat meningkatkan kegagalan proses menyusui karena berpotensi bayi bingung puting.

Setelah lima hari terapi antibiotik, adik saya meminta anaknya dipulangkan, karena perawat pun menginformasikan pemberian antibiotik sudah dihentikan. Tapi anehnya, keponakan kami tetap ditahan dengan alasan harus menunggu hasil kultur darah keluar. Hasil tersebut belum keluar karena butuh waktu lima hari, sementara kemarin terpotong hari libur dua hari. Jadi, keponakan saya disuruh menunggu di dalam ruang NICU bersama bayi-bayi sakit lainnya, karena sebuah kantor libur. Sangat tidak masuk akal. Kalau memang masih perlu di RS tentu antibiotik masih diberikan, kalau sudah dihentikan berarti untuk apa bayi kecil itu mempertaruhkan kesehatannya berada di RS yang penuh dengan kuman? Bahkan perawat menawarkan “saya lepas infusnya deh bu” sungguh sebuah dealing yang sangat aneh. Kalau memang infus sudah tidak perlu kenapa dipasang? Toh bayi mampu minum dari mulutnya dan antibiotik katanya sudah tidak diberikan. Kalau begitu untuk apa bayi tersebut menunggu di RS?

Menjelang sore seorang dokter jaga (oh ya, dokter spesialis anak yang selama ini memberikan berbagai vonis pada keponakan saya sedang cuti) bersiap memberikan antibiotik lagi kepada keponakan saya dengan cara disuntik. Ipar saya memohon untuk dihentikan saja antibiotiknya, karena hasil lab terbaru sudah menunjukkan perbaikan. Dokter tersebut heran, kemudian melihat hasil lab, dan suddenly, tidak lagi berkeras memberikan antibiotik dan meluluskan permintaan ipar saya. Aneh, apakah dia tidak tahu bahwa rencana treatment antibiotiknya hanya 5hari, dan apakah dia tidak merasa perlu mengecek hasil lab sebelum menambahkan antibiotik?

Sayangnya, ipar dan adik saya tidak punya mental untuk memaksa memulangkan anaknya. Saya juga tidak dapat menyalahkan mengingat mereka orangtua baru dan pihak rumah sakit memberikan banyak alasan sehingga mereka ketakutan akan keselamatan anaknya jika dibawa pulang.

Keesokan harinya, ketika hasil kultur telah keluar dan hasilnya adalah steril, keponakan saya dinyatakan harus fototerapi mengingat bilirubinnya mencapai 13. Padahal dalam guideline jaundice, bayi di atas 72jam hanya perlu foto jika bilinya mencapai 18. Taruhlah dia benar-benar sakit, sehingga point bilirubin untuk indikasi foto terapi harus turun, itu pun hanya mencapai 16 bukan 13. Lagi-lagi keponakan saya menginap, foto terapi direncanakan berlangsung hingga besok sore. Keesokan harinya bili keponakan turun jadi 7,4 dan pihak RS tetap tidak berani memulangkan. Untunglah, pada titik tersebut ipar dan adik saya sudah tak mampu lagi bersabar. Akhirnya setelah sedikit ngotot-ngototan dengan pihak RS, keponakan saya berhasil pulang jam 9 malam, setelah melunasi billing yang mencapai delapan juta rupiah untuk lima hari empat malam.

Tidak, tentu saya tidak akan menyebutkan nama RS nya. Karena saya ibu dua anak, dan seperti juga saya yakin Prita Mulyasari sebenarnya, saya tidak punya waktu luang untuk diperkarakan di muka hukum apalagi menginap di hotel prodeo. Tapi dari sini saya berharap ada banyak orangtua yang bisa belajar. Bahwa keharusan menjadi konsumen medis yang pintar adalah ‘rezeki’ orang Indonesia. Bahwa apapun label yang dibubuhkan sebuah RS tidak dapat dijadikan jaminan apa-apa. Dan bahwa kita memegang kuasa dalam pengambilan keputusan apakah sebuah tindakan medis boleh atau tidak dilakukan pada diri kita sendiri atau bayi kita.

Sama dengan RS internasional, RS pro ASI pun menjadi tidak jelas kriterianya. Padahal, harusnya RS tersebut mampu menyediakan informasi yang benar seputar ASI, memberi dukungan fisik maupun psikologis dalam upaya ibu memberikan ASI, serta didukung oleh petugas medis yang ‘melek-ASI’. Sebenarnya, sangat memalukan jika petugas medis kurang memiliki ilmu ASI, mengingat ibu rumah tangga pun dapat mengakses informasi seputar ASI, setidaknya melalui situs-situs resmi kesehatan.

Selanjutnya, mungkin kita bisa lebih berdaya lagi, bersama-sama mengawasi sistem promosi dan pemasaran susu formula yang luar biasa gencar. Seharusnya mereka dilarang keras melakukan kerjasama dengan pihak Rumah sakit. Tidak dalam bentuk pemberian souvenir berlogo merk sufor, tidak dalam bentuk pemberian sufor gratis, tidak dalam bentuk klub gizi atau klub apapun, tidak juga dalam bentuk pemberian informasi pribadi pasien kepada sales sufor (pasti bukan saya saja ibu yang ditelepon sales sufor sesaat setelah pulang ke rumah pasca melahirkan), apalagi dalam bentuk pemberian komisi atas penjualan sufor di RSnya. Saya tidak hendak menggugat Ibu yang memilih memberikan sufor pada anaknya. Tetapi ada banyak ibu yang ingin memberikan ASI nya namun tidak paham tata caranya, atau ibu yang belum memilih karena kurangnya informasi. Apa jadinya jika ibu-ibu tersebut terus menerus digiring ke arah susu formula? Berapa banyak lagi bayi-bayi yang harus berjuang keras demi merasakan nikmat air susu ibunya? Bahkan mamalia yang lebih rendah pun mampu dengan mudah melakukan IMD dan menyelesaikan masa menyusuinya dengan baik.

Mengapa kita tidak?

*dikirim oleh Dini Wiradinata, ibu dua putri Zeeva Athena Cakranegara (Isya) 4 tahun & Cairo Aramintha Cakranegara (Kei) 5 bulan, pada saat kelahiran keponakan pertamanya. Semoga dengan share ini para mommies, terutama new moms, jadi lebih teliti dan kritis dalam memilih RS tempat bersalin ya Din.


106 Comments - Write a Comment

  1. ameeel

    wah, jadi inget ‘drama’ yang terjadi pas kponakan gw lahir sekitar 1,5 bulan lalu di RS yang sangat ternama di Jakarta…

    singkat cerita, adek ipar gw melahirkan normal… beberapa hari kemudian, bayinya kuning dan harus disinar…
    bukannya di-support untuk tetap ngasih ASI, seorang suster dengan semena-mena malah menekan-nekan payudara adek ipar gw (yang saat itu lagi berusaha pumping dan baru dapat 15 ml) sambil bilang: “Ah, ini mah kempes! Nggak ada isinya! Udah pake sufor aja ya… bayinya bisa kelaparan nih! Tuh liat aja, cuma dapet 15 ml kan? Mana cukup buat semaleman… seenggaknya butuh 400 ml biar bayinya nggak kelaparan malem ini!”

    whaattt??!! 400 ml?? eh busetttttt… itungan dari mana tuh suster?

    karena gondok, akhirnya gw suruh aja adek gw bawa ASIP gw 4 botol (@ 120 ml), kebetulan stok ASIP anak gw yang saat itu umur 15 bulan masih ada banyak..
    Jadinya begitu si Sufor Nazi itu kembali (maksudnya si suster), si suster cuma diem aja ngeliat di kulkas ada hampir setengah liter ASIP, wkwkwkwkkk

    daaaaaannnn.. peristiwa itu terus berulang selama kponakan gw dirawat 4-5 hari karena kuning…

    AMPUUUNNNN… adek ipar gw sampe bersumpah nggak akan mau balik ke RS itu lagi :D

  2. omg…gemes banget bacanyaaaa…uugh…TFS ya..
    tapi gw bisa sedikit banyak ngerasain apa yang dialami adiknya mbak dini yang kebingungan sebagai ortu baru..sebagai orang awam, tentu kita menaruh harapan ke praktisi kesehatan di rumah sakit utk ngarahin kita…tapi ya sebel banget kan kalo jadi misleading gitu :(
    pengalaman gw di sebuah rs di bandung, terang2an memajang poster pro asi di ruang bayi, tapi ternyata anak gw dikasi sufor pake botol&dot (yang bertuliskan “ASI terbaik utk bayi”) tanpa bilang2 sama gw!! padahal anak gw itu baru disusuin di kamar gw bbrp menit sebelumnya, kebetulan aja gw balik ke kamar bayi karna ada yg mo ditanyain…alesannya,”Bayi ibu minumnya banyak, bu….”
    pulang pun dibekali sufor….(yang ternyata pas baca di bill-nya, itu bayarrr, termasuk botolnya!!!)
    again, yg gw sesali hanya bahwa gw kurang membekali diri sebagai orang tua baru, banyak unexpected things yg harus gw alami yang bikin gw gak siap dan akhirnya menerima saja apa yg disaranin.
    anak kedua, berbekal pengalaman anak pertama, alhamdulillah lancar semuanya, IMD dan dapet RS yg bener2 PRO ASI beneran…
    jadi, emang bener2 harus hati2 milih rs utk bersalin….

    1. TFS juga mbak…
      Memang orangtua baru tuh sering jadi bulan-bulanan RS semacam ini. Dan enggak ada yang ngalahin pengalaman deh. Untungnya, gak mesti pengalaman sendiri, pengalaman orang lain juga bisa dijadiin pelajaran. Semoga pengalaman ipar gue n pengalaman mbak vtree bisa dijadiin pelajaran buat calon orangtua baru.

  3. duuuhh…, gw ikutan mo marah deh bacanya…. sebagai konsumen kita bener2 harus jeli dan cari informasi se-banyak2nya, jangan mau dibodohin sama tenaga2 kesehatan yang nggak bertanggung jawab kyk gitu… apalagi pas baca soal aneka infus dan antibiotik yang dikasih ke si baby… hikkkss…

  4. Hmm…kenapa ya masih ada RS yang melakukan cara tidak santun dalam tujuan “melanggengkan kerjasama” dg produsen susu?. Bahkan pasien yang memiliki hak untuk menentukan pilihannya pun, disodori skenario konyol demi mencapai tujuan RS scr sepihak. Saya tidak anti sufor meski tidak memilihnya, tapi mbok yao dengan cara yang santun dan tidak merugikan orang lain. Thanks sharingnya mam Dini. Tanpa menyebut RS pun, setidaknya RS tsb sudah jelas kehilangan peluang, krn keluarga adik ipar dan keluarga mama, bisa dipastikan gak akan pernah ke sana lagi dan menjadikannya RS tujuan untuk melahirkan bahkan untuk konsultasi/berobat sekalipun.

    1. Ah ya, kami pikir, setidak-tidaknya orang terdekat kami tahu. Dan semoga pengalaman kami dapat jadi pelajaran bagi banyak orang, supaya kalau pun jatuh ke ‘pendekar berwatak jahat’ :p tapi tetap mampu melawan dengan mempersiapkan jurus andalan kikikikik

  5. Ya Tuhan…nyebelin bgt ya RS nya…:( gw jg tmasuk yg ketipu nih..ngakunya pro asi, ada kursusnya segala loh..tp in reality gw gagal imd,gagal asix dan..yg plg parah..gw ga dikasitau cara latch on yg bener,yg mnrt gw basic ya buat rs yg ngakunya pro asi…

    Pdhl dari sejak hamil 5bln ud communicate mau gw kyk gimana loh..tapi yah..gitu deh hasilnya, kecewa..:(
    Semoga bayi iparnya sehat selalu ya..kasian sdh dikasi infus dan antibiotik tanpa diagnosa yg jelas..hiks..

  6. Alhamdulillah, sebelum melahirkan udah banyak baca tentang IMD dan menyusui ekslusif,… jadi bisa ngotot membantah perawat yang maunya ngasih formula. Begitu dikasih formula,… bayi akan susah menyusu.

    saya ngotot untuk ngasih ASI,… beda sama teman sekamar yang juga caesar. dia gak ngerti, gak dikasih tahu juga bahwa harus gimana,… padahal ASI dia banyak… tapi kasian bayinya gak mau nyusu…. karena udah terlamjur dikasih formula. AKhirnya….. waktu ketemu lagi (1 bulanan) tuh bayinya bener2 full formula. sedang bayiku full ASI.
    tiap kali dikasih formula memang akan membuat bayi kenyang, dan gak mau menyusu padahal penting untuk merangsang produksi asi. ASI yang supply and demand. supply sesuai kebutuhan. Gak ada kebutuhan otomatis produksi menipis dan habis…..kalo makin diisap bayi,.. wuiihhh makin banyak…. Subhanallah.. ini pabrik hidup loh.
    keuntugannya banyak banget…. hemat, higenis,… gak repot,…. anak jauh dari alergi,…

    jadi jauh2 hari harus banyak baca,… dan minta pihak RS maunya kita itu apa…. gak usah takut,…. toh yang ounya anak kita. jangan mau kalah sama formula.

  7. gemes seada2nya baca kisah ini. wajar sih emang orangtua baru kebingungan atau panik karena kondisi seperti ini kan belum pernah dialami sebelumnya. tapi petugas medis harusnya yang menjadi narasumber mereka menolong yah, eh ini malah ‘menjerumuskan’ :(

  8. bikin sebel ama rumah sakit itu baca cerita ini. khawatir juga karena baru anak pertama dan takut sibohongin segala rupa ama dokter atau susternya. kepikiran buat bikin kliping deh mulai dari IMD,ASI dan lain2. yang bakal dibawa pas lahiran ntar..:(

  9. Miris rasanya mengingat hak untuk memberikan ASI saja sudah dilanggar, oleh pigak medis pula.
    Saat ini saya sedang mengandung 19 minggu, dan telah banyak mendapat masukan cerita serupa dari teman-teman.
    Saya berencana mengikuti anjuran salah seorang konselor AIMI untuk membuat surat pernyataan bermaterai tentang kesanggupan memberi bantuan proses IMD dan melindungi HAK saya memberikan ASI yg harus ditandatangangi pihak RS saat saya melahirkan nanti, “walaupun terkesan mengancam”.
    Semoga negara kita segera membenahi sistem yang ada dan menerapkan hukuman yang setimpal bagi pihak yang melanggar.

    1. Sayangnya, ‘ancaman’ justru senjata paling ampuh untuk menghadapi RS semacam tempat ipar saya bersalin. Apalagi kalau kita terkesan melek hukum, umumnya akan mendapatkan pelayanan yang lebih memadai. Amin…semoga cerita-cerita seperti ini tidak terjadi lagi.

  10. Mengapa dalam kisah ini berat lahir bayi/neonatus tidak disebutkan ? juga keadaan waktu lahir, segera menangis atau tidak ? kalo perlu dicantumkan apgar scorenya. Hal tersebut sangat penting menentukan apakah neonatus/bayi harus dirawat di NICU atau bisa dirawat gabung dengan ibunya.

    1. bl: 2,7kg pl: 48 cm, menangis saat lahir, ibunya tidak pernah tau apa itu apgar score dan tidak pernah diinformasikan pihak rs. Mengenai rawat gabung, seperti cerita saya di atas, 7jam setelah kelahiran bayi diberikan kok ke ibunya, hanya saja diserahterimakan dan dianggap tanggung jawab full ibunya termasuk urusan pipis, sementara ibunya adalah ibu baru yang masih belum bisa bergerak banyak pasca operasi. Cerita selanjutnya sepertinya sudah cukup detail di atas.

  11. mbak Ela yg posting diatas gw..nanya dong mbak :D

    AIMI itu apa mbak? cara bikin surat pernyataannya gimana?

    gw jg sering banget denger cerita macem begini.. and skrg lagi hamdun 10 minggu jadi was-was sama RS tempat gw kontrol:(

  12. geregetan deh mbak bacanya…. Kesian banget bayinya yang jadi korban… Duuhh…rasanya hati ini marah banget bacanya…. Alhamdulilah aku gak ngalamin hal itu ya, malah dari awal brojol anakku yang ketiga kemarin langsung cari puting susu ibunya. Paginya (aku melahirkan malam jam 23.13), sekitar jam 6 pagi si baby dah ditaro di kamar aku, dan bisa aku susui ASI. Baru aku kembalikan sekitar jam 2 siang, saat dia tidur, dan jam setengah 4 sore sudah dibawa lagi ke kamarku setelah dimandikan. Balik lagi ke kamar bayi jam 11 malam. Alhamdulillah..

    Sempet kuning juga karena kurang sinar matahari (karena waktu di RB pagi2 mendung trus…), tapi begitu pulang kerumah dan sering dijemur jadi normal lagi…. Dan sekarang Arsya dah mau 4 bulan, alhamdulillah masih minum ASI, walaupun diselingi SUFOR waktu aku kerja, tapi aku yakin sama SUFOR yang aku pilih… Alhamdulillah Arsya cocok dan tetep mau ASI juga… ASIku juga alhamdulillah masih banyaaakkk…

    Mudah2an gak terulang lagi ya mbak peristiwa seperti itu sama ibu dibelahan dunia manapun… ngenes mbak, karena si bayi yang jadi korban…. Kiss2 untuk anak2nya mba dan ponakannya yaa… mudah2an sehat trus…

  13. Mrs. Adi

    baca ceritanya bikin saya terheran2, pihak rumah sakit segitu ngototnya untuk kasi formula??? setuju seharusnya kita harus pintar memilih rumah sakit dan dokter yang mendukung pemberian asi…

  14. saya setuju ama mbak Ela..harus bikin surat pernyataan yang ditandatangani pihak rumah sakit..supaya hak kita dan bayi kite terlindungi.
    thanks mbak Ela buat inspirasinya (thanks juga buat konselor AIMI-nya)

  15. alhamdulillah waktu melahirkan baby K kuping gue ditebel2in setiap ditanya ASI-nya udah banyak apa belon?
    meski panik dengan jaundice, panik dengan pipis yang sedikit (padahal emang masih sedikit) tapi alhamdulillah gue masih dikasih pikiran jernih

    tapi alhmadulillahnya RS gue itu cukup pro ASI gak ada sediaan sufor, serta iklan iklan sufor

    bahkan IMD pun gue dipaksa sampe 2 kali

    cuma yah nobody’s perfect lah… huhuuu bermasalah di ABO incompatible yang bikin gw baby bulus…

  16. Hi Moms,

    Jadi gemes bgt baca ceritanya Mbak Dini :(

    Cuma mau share aja pengalaman melahirkan di New Zealand, dan berharap semua RS di Indonesia punya standard yg sama dengan standard RS umum disini.

    Semua maternity unit di semua RS di NZ punya standard yg sama, bayi yg lahir normal maupun cesar harus mendapatkan “skin to skin” treatment sejak sesaat dia keluar dari rahim ibu sampai 30 menit berikutnya, sekaligus bayi diarahkan mencari puting susu ibunya, baru kemudian bayi dibersihkan dan test AFGAR. Setelah itu bayi dibawa keruangan yg sama dengan ibunya, full day tinggal bersama ibu sampai waktu kepulangan ke rumah, jadi disini tidak ada “kamar bayi”, kecuali bayi bermasalah baru dikirim ke NICU (Neonatal Intensive Care Unit).
    Tidak ada istilah kamar VIP atau kamar kelas bangsal, semua sama, kamar perawatan untuk maternity unit cuma berisi 1 atau 2 orang. Tidak ada keluarga yg boleh stay di RS diatas jam 9 pm, pasangan atau keluarga boleh menemani pasien dari jam 7am sampai jam 9pm, selebihnya ibu dilatih untuk mengurus sendiri bayinya, jika ada kesulitan apapun, suster akan datang waktu kita memencet bel untuk dibantu. Sangat berat awalnya, tapi semua itu berguna karena kita “dipaksa” latihan mengurus bayi sendiri mengingat disini tidak ada “baby sitter” atau “pembantu” yg siap membantu kita dirumah.

    Sehari setelah bayi lahir, setiap pagi akan datang tiap konsultan atau perawat yg akan “men-training” kita untuk menyusui dengan benar,memandikan bayi,latihan senam pelvic floor untuk ibu baru setelah melahirkan,dll, sampai hari kita siap untuk pulang ke rumah.

    Malam pertama di RS saya panik karena bayi terus menangis, saya pikir ASI saya belum keluar dan bayi masih merasa lapar, tapi setiap suster perawat saya panggil, mereka selalu tanya, saya berencana ASI atau menyerahkan bayi pada susu formula setelah pulang kerumah? Kalau saya berencana pada ASI, saya harus komit untuk tetap menyusui bayi walaupun mungkin sepenglihatan saya ASI belum keluar, karena mereka bilang ASI memang belum keluar mungkin tapi kolostrum saya sudah bisa mencukupi perut bayi yg masih sebesar kelereng, dan itu terus berulang sampai malam kedua di RS, mereka insist saya terus menyusui bayi walaupun ASI belum nampak keluar. Kemudian mereka coba memperlihatkan ke saya bahwa puting susu saya memang belum bisa memproduksi ASI tapi puting itu sudah mengeluarkan cairan bening yg mereka sebut sebagai kolostrum.

    Ya begitulah sepenggal cerita dari desa disebrang lautan, semoga segera semua RS di Indonesia menerapkan sistem yg sama dengan standard RS umum di NZ.

    Salam

    1. mamanya sandy, seandainya RS di sini juga kayak di NZ ya… jujur aja, gw juga suka bingung kalo nengok temen yang baru ngelahirin trus denger anaknya ujug-ujug dikasih sufor oleh pihak RS dengan alasan ASI ibunya nggak keluar…
      lah biar ASI keluar kan memang harus ‘dipaksa’ dengan cara dihisap terus toh? kalo keburu dikasih sufor ya makin nggak keluarlah itu ASI…
      kadang bingung kenapa RS kok bukan menginfokan ini ke si newmom yang biasanya nggak tau apa-apa…
      abis kalo kita yang ngebilangin, ntar malah kesannya sotoy, padahal mulut rasanya gatel pengen kasih tau :(

      1. dulu waktu lahiran anakku, aku harus tandatangan dulu apakah anaknya mau dikasi ASI atau dikasi susu formula. Kalopun boleh dikasih, suster harus minta ijin ke ortu dulu.
        sempet ada suster yang bilang : ini mah lama bu keluarnya, kan ibu sesar. Sayanya sebodo amat, “pokoknya abis oprasi saya mau anak saya ada di kamar bareng saya. Mau disusuin”
        Ya emang ya.. karena pengetahuan latching-on sedikit, si anak ngawur nempelnya, lukaaaa semua puting. Berdarah. Sakit. Dan tiap jam nyusuin (2 sekali bok) saya selalu setres, ketakutan sakit. Dan emang ASI saya nggak langsung mancur. 2 hari baru berasa LDR-nya.
        Tapi gimana ya… lah ya resiko gw lah udah punya anak begini. Bodohnya, dulu breastpump ditinggal aja di rumah. Begitu sampe rumah, langsung perah-perah, biarin aja saya kasih pake dot huki sambil ngeberesin puting. Toh anaknya ga bingung puting ini (untungnyaaa) mau aja dari ibunya langsung atau dari dot. Setelah seminggu, anaknya udah jagoan ‘memerah’ ibunya deh.. nggak bikin luka :-D

        btw, emang RS di Indonesia masih butuh duit kok dari sufor.. hkhkhk… Eh tapi sufor tuh bukan nggak boleh ada di rumah sakit lho. In some rare cases mau ga mau ibunya emang dilarang menyusui. Jadi satu2nya harapan ya sufor (atau ASIP kalo ibunya mau, anaknya sih pasti mau)
        Yang kita nggak tau, ternyata di RSB itu selalu sedia breastpump yg bisa disewa (ini kata temen yg kerja di RSB) kok ya kita ga ditawarin breastpump ya? hihihi…

  17. Ya ampuun..ikutan gemes..kadang suster suka sok tahu deh..
    Ini msh mending ditanyain walaupun ttp ada kesan maksa
    Pengalaman aku melahirkan bahkan dikasi sufor tanpa ijin. 60 cc pula skali minum. Untung lambungnya gak jebol yah.

    Kl bikin surat perjanjian gitu, yg tanda tangan pihak rumah sakit yg mana yah?suster, dokter anak, obsgyn apa siapa?

  18. wah serem banget bacanya… anak bayi diterapi antibiotik tanpa penjelasan infeksi apa, ASIP “dibuang” percuma oleh pihak RS, gw gemes pengen marah jadinya…

    Moms, untungnya ya dulu di RSB tempat gw lahiran, susternya berulang-ulang bilang ke gw waktu gw panik krn “dilarang” menyusui 24 jam dulu krn dikira gw kena Hepatitis B (anak gw divaksin dulu katanya prosedur, maklum ibu baru), gw takut anak gw kelaparan, suster2x disana meyakinkan gw: bayi baru lahir bisa bertahan 72 jam tanpa asupan sampai ASI ibu keluar. dan jika memang terpaksa dan sungguh terpaksa ASI tidak keluar (dan memang tidak keluar) dan harus ganti asupan, itu semua memakai sendok, tapi dengan pertimbangan panjang.

    gw marah baca artikel ini karena benar2x RS memanfaatkan ketidaktahuan orang tua baru yang mungkin panik. Sepupu gw mengalami demikian, klo dilihat-lihat gw tahu PDnya penuh tp mmg namanya baru 2 hari kan susah keluar ya gak, tapi langsung disodorin Sufor di hari pertama.

    sayang ya masih banyak RS yang tidak peduli hak pasien :(

  19. nenglita

    baca komen depe hampir mirip deh. gw dulu juga abis melahirkan suruh ttd dulu bahwa gw memperbolehkan anak gw dikasih sufor. menurut gw hal ini cukup menunjukkan itikad baik lah ya..
    terus bener banget, harusnya semua RS yang membantu ibu melahirkan, menyediakan breastpump dengan jumlah yang layak. atau kalau ga ada breastpump, ya diajarin dengan cara yang bener gimana caranya memerah asi.
    baca komentar mamanya sandy, duh kapan ya RS di indonesia kaya di NZ..

  20. Ada baiknya seorang ibu yang sednag hamil memang mencari sebanyak-banyaknya informasi seputar ibu menyusui supaya ga salah mengerti. Mungin bisa dari diri kita sekarang, kalo ad atemn yg sedang hamil diinfokan hal penting ini supaya ga jadi korban dari pihak RS yang nakal :)

  21. mbak resna,

    yang tandatangan adalah kita sebagai orangtua, bahwa kita memberi mandat ke RS utk tidak memberikan cairan apapun selain asi kpd bayi kita.

    hadeuh…..ngilu banget deh baca si baby merah dikasih antibiotik. alhamdulillah sama spt mbak depezahrial yang ada hitam di atas putih sebagai perjanjian bahwa kita ASIX.

    hana lahir normal di salah satu RS Internasional yg sekarang udah ganti nama, alhamdulillah juga suster disana mau tuh ngajarin cara mijit asi sampai keluar pertama dan bisa rooming in walau fasilitas rooming in hanya sampai kelas 2. suster2 disana juga kayak hansip yg ngeronda keliling kamar buat ngecek2 baby yg rooming in apakah ibunya lancar/ tidak nyusuinnya.

    semoga kita-kita yang sudah melek ASIX dan tau pasti hak2 ibu baru di tempat melahirkan untuk sounding dan sharing kpd ibu2 lainnya.

  22. greget deh bacanya!!!
    sama kayak yg pernah aku alamin dulu waktu kehamilan pertama.
    kayaknya dokter2 banyak bgt yg vonis ibu2 utk melahirkan caesar ya??
    makanya bayi2 baru lahir dicekokin formula akhirnya ga bisa IMD karena kondisi ibunya pasca operasi.

    nice info,,ijin share ya mba..thanks

  23. Sedih sekali membacanya, suster2 itu kan seorang wanita yg akan menjadi ibu atau mungkin seorang ibu, mrk pasti tdk mau anaknya di perlakukan seperti keponakan anda..

    Bersyukur sekali saya melahirkan dgn dokter yg pro normal, suami harus menemani di ruang persalinan dan IMD 1 jam.. RS ini jg pro ASI, suster menanyakan kpd saya saat msh di ruang bersalin “anak ibu mau di kasih ASI kan ?” Dan anak saya pun langsung ikut saya ke kamar sampai pulang (di ambil suster hanya tuk mengganti popok atau di mandikan).. Suster2nya pun sangat ramah, tapi sayang saya tidak di ajarkan cara menyusui, memandikan bayi atau bahkan hanya sekedar menggantikan popok.. Beruntung saya sudah banyak membaca dan melihat keluarga2 saya bagaimana cara mengurus bayi..

    Alhamdulillah saya berada di lingkungan keluarga yg sangat PRO ASI, jadi saya sudah memijat payudara saya sejak hamil 5 bulan dan saat usia kehamilan 37 minggu sudah kluar rembesan cairan kuning dari payudara saya..

Post Comment