Aman Menjelajah Hutan Bersama Bayi

Sejak belum menikah, saya, Amelia Yustiana (28) dan suami, MA Darwin RL (28), memang hobi traveling. Masa pacaran pun lebih sering kami habiskan dengan backpacking ke alam bebas dibanding ke mal. Mayoritas teman menduga, setelah kami menikah dan punya bayi, hobi tersebut akan berkurang, bahkan berhenti sama sekali.

“Pasti repot, deh, traveling bawa bayi,” ujar mereka.

Tapi, sepertinya mereka salah. Justru dengan kehadiran buah cinta kami, Rakata Darrell (lahir 26 Juli 2009), kami makin semangat traveling!

Akhir Maret 2010 lalu, misalnya, kami ke Lombok. Tidak seperti pasangan lain yang membawa bayinya ke tempat wisata moderat, saya dan suami malah mengajak Rakata, yang saat itu berusia 8 bulan, untuk keluar-masuk hutan di kaki Gunung Rinjani!

Tujuan Pertama: Air Terjun Sindang Gile

Jam menunjukkan pukul 11.30 WITA saat kami tiba di Desa Senaru, 30 Maret 2010 lalu. Dari hotel tempat kami menginap di kawasan Pantai Senggigi, butuh waktu sekitar dua jam naik mobil ke sini. Meski matahari hampir tepat di ubun-ubun, hawa terasa sejuk. Maklum, desa ini terletak di kaki Gunung Rinjani, 600 meter dari permukaan laut.

Turun dari mobil, kami disambut beberapa pemandu yang merangkap sebagai porter. Di sini, atas alasan keamanan, ada peraturan tidak tertulis yang mengharuskan pengunjung menggunakan jasa mereka jika mau trekking ke air terjun Sindang Gile dan air terjun Tiu Kelep. Ada sekitar 25-an pemandu/porter resmi yang bertugas bergiliran. Jan, pemuda berusia awal 20-an, bertugas menemani kami.

Setelah mengecek isi carrier yang akan dibawa, kami menuju gerbang masuk, siap trekking. Karena keseimbangan saya agak kurang—sering terpeleset dan gampang jatuh—maka saya serahkan tugas membawa Rakata pada suami, yang menggunakan baby carrier.

Tujuan pertama adalah air terjun Sindang Gile. Rute menuju lokasi tidak terlalu sulit, karena sudah ada tangga permanen dan dalam kondisi bagus—cukup moderat untuk membawa bayi. Di kiri-kanan tangga, sejauh mata memandang hanya warna hijau dedaunan yang terlihat. Ah… bagi kami yang terbiasa dengan sesaknya ibukota, pemandangan seperti itu terasa menyejukkan.

Dengan hati-hati, satu per satu anak tangga kami turuni. Baru sekitar 5 menit berjalan kaki, derasnya suara air terjun sudah terdengar. Wah, saya lega ternyata letaknya tidak terlalu jauh. Saya pun mempercepat langkah. Dari antara rimbunnya pepohonan, air terjun setinggi 25 meter ‘muncul’ di depan mata.

Saya dan suami hanya tertawa melihat Rakata menatap air terjun tanpa kedip. Mungkin dia bingung, ya, melihat ada pancuran air setinggi itu. Percikan air menerpa wajah mungilnya saat kami mendekat. Memang dasarnya suka main air, Rakata malah kegirangan saat wajahnya basah, ha ha ha.

Hadapi Jurang, Seberangi Sungai

Tidak lama dari sampainya kami di air terjun Sindang Gile, Rakata tiba-tiba saja menangis dengan kencangnya. Jujur, sempat terlintas di pikiran saya, jangan-jangan Rakata diganggu ‘makhluk halus’, ha ha ha. Tapi, pikiran lebay tersebut ternyata salah. Rakata hanya ‘menagih’ ASI, kok. Setelah disusui, buktinya langsung kembali ceria, tuh.

Setelah menyusui dan istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan menuju air terjun Tiu Kelep. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini rute yang kami lalui lebih menantang. Kami harus melewati jalan setapak yang hanya muat satu orang (sementara di sebelah kirinya jurang!) lalu menaiki tangga dengan kecuraman sekitar 60 derajat.

Setelahnya, ada jembatan yang harus kami lewati. Seramnya, jembatannya bolong-bolong dan banyak pegangannya yang sudah lepas! Jika jatuh, di bawah sana sungai dengan batu-batu besarnya siap menanti. Wah, lutut rasanya lemas. Berkali-kali saya mengingatkan suami agar hati-hati membawa Rakata.

Sukses melewati jembatan, jantung saya lumayan tenang karena rute berikutnya agak santai, yaitu menyusuri jalan setapak di pinggir sungai kecil yang airnya bening sekali.

Setelah bertemu waduk, jalan setapak mengarahkan kami masuk lebih dalam ke rerimbunan hutan, meninggalkan sungai kecil tadi. Beberapa kali kami harus ‘melompati’ batang pohon yang melintang.  Saat mengecek Rakata dan suami yang berjalan di belakang, saya kaget melihat Rakata lagi mengunyah sesuatu, padahal saya merasa tidak memberinya makanan. Ternyata, Rakata mengunyah daun! Sepertinya, jarak pohon yang cukup dekat dimanfaatkannya untuk memetik daun, ha ha ha.

Tantangan masih berlanjut. Setelah trekking sekitar 35 menit dan bertemu sungai lagi, pemandu kami, Jan, berhenti dan menggulung celana panjangnya sebatas lutut. Dia mengatakan ‘tugas’ kami selanjutnya adalah menyeberangi sungai tersebut! Meski airnya dangkal, arusnya yang deras dan batu pijakan yang licin terasa menyulitkan. Berkali-kali saya terpeleset. Untunglah, suami sudah cukup berpengalaman menempuh medan seperti ini, sehingga bisa melewatinya dengan mudah meski sambil menggendong Rakata.

Sukses menyeberangi sungai, Jan bilang air terjun sudah dekat. Benar saja, tidak sampai semenit berjalan kaki, kami sampai! Melihat air terjunnya, saya terpaku. Luar biasa indah! Tingginya mungkin sekitar 40 meter, dengan debit air lumayan deras, sampai-sampai kami yang berdiri sekitar 20 meter dari jatuhnya air pun tetap terkena percikannya. Kelelahan di perjalanan rasanya langsung terbayar.

Tidak tahan melihat beningnya air, suami mengajak berenang. Saya sempat ragu karena airnya dingin sekali, takut Rakata menggigil. Namun, ketakutan saya tidak terbukti. Rakata malah asyik bermain air! Berada di tempat ini, tidak ada hal lain yang mampu saya ucapkan selain rasa syukur. Terima kasih Tuhan, kehadiran bayi tidak menghalangi saya dan suami untuk tetap mengagumi karya-karya-Mu!

Tips tentang membawa bayi trekking akan saya tulis untuk postingan berikutnya yaa.

*Diceritakan oleh Amelia Yustiana untuk Momiesdaily


34 Comments - Write a Comment

  1. Hanzky

    Merinding gue liat foto jembatan itu..hiii…kalo gue pasti udah puter balik trus pulang deh..:D. Salut banget sama Amelia yang tetep semangat bawa Raka ke alam bebas walaupun medannya kurang baby-friendly..I’m sure he will grow into someone who loves and appreciates what nature has given him.

  2. ameeel

    @ Mrs. Adi
    lebih deg-degan lagi pas ngeliat Darwin-Rakata di tengah jembatan… mulut langsung komat-kamit baca doa :D

    @ Mom Khairin
    Khairinnya aja yang nanti diajak ya.. kalo emaknya ngikut juga nanti malah ngerepotin :p

    @ Melia
    mudah-mudahan penerbangan murah makin banyak, jadi tetep bisa jalan-jalan, hehehe

    @ Lita
    siaaaappppp Lit… gedean dikit kita ke Semeru bareng yaks… tunggu Rakata lulus toilet training dulu :D

    @ Leona_as
    nggak papa bertualangnya di alam, asal nggak bertualang di antara wanita ajah, nanti emaknya yang dag-dig-dug, hehehe

    @ Loe
    yapp… dan pas pulang harus lewatin jembatan itu lagi :D

    @ Nandha_Shasha
    ayo Shasha sini Rakata culik yahhhh..

    @ Hanzky
    kalo puter balik, emaknya yang nggak mau rugi, soalnya ke sininya kan udah jauh, berat diongkos, hahahaha

  3. wow!! aku juga deg-degan bacanya.. aku tu kalo bawa anakku pulang ke Indonesia udah takut duluan sama “gigitan nyamuk”, kena DB dsb.. ini malah ke hutan.. hahaha.. bagus banget liat pemandangannya.. tapi kami tidak seperkasa kalian..:))

  4. Emang nih anak satu gilingan dah…mungkin kalo ada rekor MURI lo dah dikasih penghargaan kali sebagai ortu kota yg ngebawa anak bayinya keluar masuk utan wkwkwkw..udah gitu si rakatanya emang dasar jiwa ‘tarzan’ diajak keluar masuk utan diem aja…aduh rakata sabar ya punya ibu bapak nyentrik..hihihihi
    paling gedean dikit dah diajak keluar masuk goa xixixixi

  5. Amel saluuuut…!!! WOOW!
    jadi ingat tyt prnah jg punya pengalaman trekking sama bayi, tp cuma ke ciwidey dan sktrnya! hehe..
    lokasinya mengingatkan kami yg 2 tahun lalu jg ke Ds. Senaru, tapi ga sampai ke air terjunnya! next time kudu kesini ni ;)

  6. ameeel

    @ niens
    yang punya jiwa petualan tuh suamiku.. kalo ako mah ngintil doang, kan nggak bisa jauh-jauh dari suami, xixixiii *manja*

    @ vidy
    iya, rakata nggak rewel… emaknya ini yang malah rewel karena nggak nyampe-nyampe ke aer terjunnya :D

    @ cindut
    eittsss.. ke goa udah pernah dongg… noh ya ke vietnam, hehee… bukan goa malah, tapi gorong-gorong :D

    @ ms.eggy
    setujuuhhhh :)

    @ ketupatkartini
    wah, sayang amat udah nyampe senaru tapi nggak ke air terjunnya… next time yaahh :)

  7. WOW!!!! bravo utk kmu dan suami…..i dont think i can do that, justru waktu saya hamil Kika (7th) saya emang ngga ada ngidam apa2 cuma pengeeeeeennn bgt naik gunung en ngerendem kaki di anak sungai yg airnya bening en dingin, alhasil wktu hamil 3bln diajak trekking k daerah sukabumi, yg rada tegang justru tmennya suami yg bawa kita naik bukit pake jeep krn jln berbatu, takut perut ge knapa2. pas hamil 5 bulan nagih en trekking lg (ngikut suami acara baksos kampus)…alhamdulilah…kandungan ga knp2 tuh…sehat2 aja, en salut sm dr. Budi Imam S. obgyn sy saat itu yg ngebolehin pergi :D

    1. ameeel

      iya aya.. setuju… kalo positive thinking, rasanya semua bakal baek-baek aja… dulu pas hamil gw juga nggak bisa diem, kayak belatung nangka… pas hamil 1 bulan naek ATV, hamil 2 bulan maen banana boat.. hamil 7 bulan malah backpackeran ke ujungkulon, hehehe… tapi alhamdulillah juga nggak ada masalah sama kandungan… entah ada hubungannya apa enggak, tapi anak gw pas lahir jadi ikutan tahan banting, jarang sakit :)

Post Comment