Investasi: Reksadana Untuk Pemula

by: - Monday, June 28th, 2010 at 7:00 am

In: Money Talks 87 responses

0 share

Nah, waktu itu kan sudah dijelaskan oleh Ligwina Hananto kalau dia mempercayakan investasi dana pendidikan anak anaknya pada reksadana. Mungkin di sini ada yang sudah khatam soal reksadana (jangan lupa berbagi yah di comment box di bawah), tapi pasti masih ada juga yang awam soal ini dan malu-malu untuk tanya :p . Saya pun bukan expert tentang reksadana, makanya biar lebih yakin, kita tanya saja yuk sama expertnya.

Untuk kali ini, expertnya adalah kawan saya Yoga Prakasa, yang sempat menekuni bidang investasi di Danareksa Sekuritas dan juga menekuni Islamic Finance sewaktu kuliah di Indiana University.

Q: Jadi, reksadana itu apa sih?

A: Pada dasarnya, reksadana adalah bentuk investasi secara kolektif. Berhubung persyaratan investasi awal di instrumen-instrumen investasi seringkali berjumlah besar dan pemilihan instrumen investasinya pun tergolong rumit, maka masyarakat diberikan kesempatan oleh Bapepam-LK untuk mengumpulkan dana mereka ke dalam wadah investasi untuk kemudian dikelola secara profesional. Jadi, investasi ini dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional seperti Manulife, Fortis, Schroder, Trimegah, Danareksa, Bahana, dll.

Nah MI ini nantinya akan mengelola dana yang sudah terkumpul tersebut dengan meng investasikannya ke berbagai macam produk investasi (Saham, deposito, surat utang, dll). Biasanya setiap MI mempunyai beberapa produk, contohnya untuk Fortis diantaranya Fortis Pesona, Fortis Equitra, Fortis Solaris dan Fortis Ekuitas. Nanti ada penjelasannya lagi tuh untuk setiap produk. Misalnya Fortis Ekuitas itu biasa mengelola dana yang ada untuk membeli saham apa aja, misalnya; Astra International, Telkom, Bank Mandiri, Perusahaan Gas Negara dan lain sebagainya.

Jadi kita tidak terjun langsung memilih saham yang mau kita beli karena semua itu akan dikelola oleh MI. Oh iya dalam bahasa Inggris, reksadana dikenal dengan nama mutual fund.

Tapi seperti yang Wina selalu bilang, sebelum memutuskan untuk membeli produk investasi, kita harus tahu dan jelas dulu tujuan investasi kita itu untuk apa? Dari situ barulah bisa ditentukan reksadana apa yang cocok, berapa lama investasinya, dan berapa besar jumlah investasinya.

Q: Apa untungnya reksadana dari menabung secara tradisional atau langsung membeli saham sendiri?

A: Reksadana menawarkan return yang lebih tinggi daripada menabung traditional/deposito. Seperti kata pepatah investasi, “high risk high return, low risk low return”, jadi berinvestasi lewat reksadana membuka peluang risiko yang lebih tinggi dari deposito namun dengan peluang hasil yang lebih tinggi pula. Selama risiko tersebut bisa kita ambil (misal: kebutuhan dana baru direalisasikan 10 tahun lagi), maka investasi pada reksadana saham contohnya, menjadi masuk akal. Bandingkan potensi imbal hasil deposito (yang cuma sekitar 6% per tahun) dengan reksadana saham (bisa mencapai 20% lebih per tahun)! Tapi ingat ya, “high risk high return, low risk low return”.

Kalau dibandingkan dengan membeli saham langsung, membeli reksadana saham jelas lebih simple untuk kita dan juga memberikan peace of mind karena investasi kita tidak disalurkan kepada 1 jenis saham saja, melainkan bermacam-macam instrumen (diversifikasi). Jadi ketika misalnya saham Telkom turun, kita tidak serta merta panik karena dana kita hanya sebagian saja disitu dan yang lainnya masuk ke saham Bank Mandiri atau Astra International yang mungkin justru naik misalnya. Dari segi biaya juga lebih ringan karena sifatnya yang kolektif ini dimana biaya transaksi saham tersebut ditanggung bersama-sama dengan investor lainnya.

Q: Trus, belinya dimana?

A: Reksadana dapat dibeli di Bank seperti Bank Mandiri, HSBC, Commonwealth dan bisa juga dibeli ke MI nya langsung. Tidak semua MI menawarkan pembelian langsung sih dan jumlah minimum pembelian pun bisa lebih besar atau lebih kecil dari bank. Tapi biasanya, biaya pembelian langsung lewat MI lebih murah (ya iya lah kan ga lewat makelar, beli rumah juga gitu kan?)

(Kalau saya lewat Commonwealth Bank karena ada fasilitias Internet Bankingnya, jadi bisa beli reksadana lewat online, feenya juga jadi lebih murah. – Hanzky)

Q: Lalu, bagaimana saya tahu reksadana jenis apa yang harus saya beli?

A: Pertama-tama, kita harus tau dulu untuk apa kita berinvestasi. Untuk kuliah anak? Untuk beli rumah? Untuk dana liburan? Kapan rencananya uangnya akan dipakai? 3 tahun lagi? 10 tahun lagi? Setelah kita tahu kebutuhan kita, barulah kita memilih jenis yang sesuai dengan kebutuhan dan toleransi risiko kita, berapa lama kita perlu berinvestasi dan berapa besarannya. Baru setelah itu kita teliti jenis reksadana yang ada, yang sesuai dengan tujuan kita

Q: Apa aja sih macamnya reksadana?

A: Basically, ada 4 jenis reksadana

  1. Reksadana Pasar Uang (RDPU) dengan potensi imbal hasil 7% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi < 5 tahun yang mana termasuk kategori short-term).
    Ini adalah reksadana jangka pendek dengan risiko yang relatif paling kecil. Dana dalam reksadana ini akan ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti tabungan, deposito atau surat utang di bawah 1 tahun. Jadi hampir tidak ada gejolak perubahan harga, tapi imbal hasilnya pun juga relatif paling kecil dibanding reksadana lainnya.
    Contoh Produk: PNM PUAS, Danareksa Seruni, Bahana Dana Likuid, Manulife Dana Kas, dll.
  2. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT) dengan potensi imbal hasil 10% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi 5-10 tahun atau medium term)
    RDPT adalah reksadana dengan risiko yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan RDPU namun potensi imbal hasilnya pun lebih tinggi. Dana pada RDPT ditempatkan pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) maupun surat utang (obligasi) yang dikeluarkan oleh korporasi (misal obligasi Kalbe Farma atau obligasi Indofood). Kalau mau beli RDPT harus liat juga apa usia reksadananya sudah mau 5 tahun/belum. Ini kaitannya dengan pajak sih, RDPT dengan usia lebih dari 5 tahun kehilangan keringanan pajak dari pemerintah, tapi biasanya MI akan mengakali dengan membuat RDPT baru dan memindahkan investasi RDPT lama ke RDPT baru untuk mendapatkan keringanan pajak. Ini biasanya diatur otomatis oleh MI-nya, jadi investor tidak perlu khawatir.
    Contoh Produk: Batavia Dana Obligasi Ultima, Danareksa Melati, Mandiri Investa Keluarga, Manulife Obligasi Negara Indonesia, Trim Dana Stabil.
  3. Reksadana Campuran (RDC) dengan potensi imbal hasil hingga 20% per tahun (asumsi rata-rata target jangka waktu investasi > 10 tahun atau Long Term.
    Reksadana ini menggunakan instrumen investasi campuran antara saham dan obligasi, jadi cocok buat yang ingin mencoba investasi saham tapi masih takut perutnya mual karena roller coaster harga saham yang drastis dan cepat.
    Contoh Produk: Schroder Dana Prestasi, Schroder Dana Terpadu II, Fortis Equitra, Fortis Pesona (sangat agresif, mostly saham), Manulife Tumbuh Berimbang, Trim Syariah Berimbang
  4. Reksadana Saham (RDS) dengan potensi imbal hasil hingga 25% per tahun (asumsi rata-rata jangka waktu investasi > 10 tahun atau Long Term
    Reksadana ini menggunakan instrumen investasi saham. Dibandingkan dengan reksadana lainnya, RDS memiliki potensi imbal hasil yang paling tinggi, namun juga memiliki tingkat risiko yang paling tinggi pula. Sebagai contoh, pada tahun 2008-09 di mana dunia dilanda krisis ekonomi global, imbal hasil RDS sempat rontok sampai negatif 40%! (itu artinya Rp 10,000,000 investasi Anda menjadi bernilai Rp Rp 6,000,000) Meski di awal 2010 sudah pulih, tapi goncangan harga RDS cukup berbahaya untuk menjadikannya sebagai sarana investasi jangka pendek. RDS diperuntukkan hanya untuk investor dengan tingkat toleransi risiko yang tinggi dan jangka waktu investasi yang panjang.
    Contoh Produk: Ekuitas, Fortis Pesona, Schroder Dana Istimewa, Schroder Dana Prestasi Plus, Schroder Dana Investa, Mandiri Investa Atraktif, Mandiri Investa Atraktif Syariah, Manulife Saham Andalan

Ada juga sih reksadana lain semisal reksadana terstruktur, reksadana indeks, dan instrumen investasi lainnya seperti ORI, Sukuk Ritel, emas, etc. Tapi itu ntar aja dibahasnya biar nggak tambah bingung, yang empat di atas itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan investasi kita untuk mencapai berbagai kebutuhan finansial dari jangka pendek (liburan misalnya) sampai jangka panjang (biaya kuliah anak dan biaya pensiun kita sendiri misalnya).

Akhir kata, saya ucapkan Selamat berinvestasi!

Gimana, gimana? Sudah ada pencerahan dong sekarang setelah membaca ini?. Kalau ada pertanyaan, silahkan tanya di comment box ya supaya bisa dijawab dengan Yoga. Kalau misalnya masih belum mengerti sampai ngelotok nggak papa kok, itu bukan alasan untuk menunda investasi reksadana. Langsung terjun aja, nanti pasti mengerti dengan sendirinya deh. Yang penting sekarang putuskan dulu mau ke bank mana dan segeralah samperin banknya untuk membuka rekening reksadana :)

Kalau mau diskusi lebih jauh lagi bisa check thread investadi reksadana di sini ya dan saling belajar bersama teman-temang yang lain..:)

Share this story:

Recommended for you:

87 thoughts on “Investasi: Reksadana Untuk Pemula

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Irawati DA
  3. Pingback: divianti alfira
  4. Pingback: arghatara - wibowo
  5. Pingback: Thikaiwan
  6. Pingback: mira a
  7. Pingback: NoviSay
  8. Pingback: Monique Natalia
  9. Pingback: Anastasia Lumiu
  10. Pingback: Yoga Prakasa
  11. Pingback: gita aldiansyah
  12. Thanks for this post ya! Lumayan buat merekap info2 di thred investasi reksadana yg ratusan halaman itu *lebay* :D artikel seri 2 nya (kalo ada) rekomendasi pakar RD apa saja yg mereka rekomendasikan dan kenapa :D

  13. Thanks for this post ya! Lumayan buat merekap info2 di thred investasi reksadana yg ratusan halaman itu *lebay* :D artikel seri 2 nya (kalo ada) rekomendasi pakar RD apa saja yg mereka rekomendasikan dan kenapa :D. Oya, penting banget sebelum mulai investasi cek CS bank (kalo via bank ya) apakah dia tahu soal reksa dana. Minggu lalu gw ke bank gw yg CSnya (mungkin) gak ngerti soal jualan RD jadi gw gemesss bgt bawaannya. Padahal sama juga gw baru mulai, tp palling nggak udah ada info yg lumayan soal reksa dana.

  14. Target bulan depan, kudu beli RD nih gue.. Thanks hani+mas yoga, penjelasannya simple jd mudah dimengerti buat sy yg bodoh kalo berhadapan sm hal2 yg berkaitan sm ekonomi+keuangan+perbankan :D

  15. Saya sudah mencoba berinvestasi di Reksadana Terproteksi selama 1 tahun, tapi sayang tidak ada bahasannya ya disini Reksadana tersebut. Mungkin next time bisa bahas tentang investasi ini?

  16. mba Hani
    maap ni, aye pemula bener dalam reksadana.. bener2 buta, tapi pengen belajar
    bole ya?
    jadi berdasarkan pemahaman gw, kita bisa membeli saham yg diperjualbelikan di BEI itu secara kolektif dan tidak pada 1 perusahaan aja ya? yg ngelola ada yg namanya MI itu?
    trus klo udah beli, ntar ditaro dimana reksadana kita mba?
    *gw ngebayangin emas yg bentuknya jelas, jadi tau disimpen dimana. apa reksadana kaya tabungan gitu?
    trus, klo nanti kita pengen jual, gimana caranya?
    makasi inpo2nya yak

  17. Pingback: Anne Qorina
  18. Halo, sorry kelamaan balas ya.. banyak kerjaan, hehe..

    @pia, untuk rekomendasi reksa dana sebenarnya agak sulit ya, karena: 1) apabila berdasarkan kinerja, daftarnya berubah2 terus tiap tahun, tapi 10 besar biasanya pemainnya mirip2 lah, Majalah Investor biasanya rutin mengeluarkan ranking ini; 2) ada faktor selain kinerja yang mempengaruhi pilihan masing2 individu (misal: kemudahan akses pembelian/penjualan, fasilitas auto-debet/installment, instrumen investasi khusus syariah, dsb); 3) agak2 berbau iklan yah, hehe.. sensitip..

    @dian, untuk reksadana terproteksi Insha Allah akan dibahas bila ada request (gimana Han?)

    @cHendy, (gue bantuin jawab ya Han) ya betul instrumen2 investasi yang diperdagangkan di BEI itu bisa dibeli bersama2 dalam wadah reksadana, tapi keputusan apa yang dibeli dan kapan belinya sudah diserahkan ke tangan Manajer Investasi (MI). Jadi dalam membeli reksadana dibaca juga ya prospektusnya, karena MI tidak boleh mengambil keputusan di luar apa yang sudah digariskan di dalam prospektus (RDPT ya hanya boleh invest di obligasi, ga di saham, dsb). Tatacara pembelian dan penjualan unit juga akan dijelaskan di dalam prospektus tersebut. Sedangkan untuk bukti kepemilikan, MI (atau bank agen penjual) akan memberikan laporan tiap bulan (atau tiap kwartal, tergantung kebijakan) yang menyatakan jumlah unit reksadana yang kita miliki dan harga tiap unitnya (unit x harga = total investasi). Kecuali ada pembelian atau penjualan tambahan, unit tidak akan berubah, harga yang nanti bisa naik turun tiap hari. Khusus untuk RDPU, harga tetap (Rp 1000) tapi unitnya yang bertambah, ujung-ujungnya unit x harga = total investasi.

    1. @anggi untuk tips memilih RD yang bagus sudah saya kemukakan sebelumnya, yaitu untuk menjawab pertanyaan @Cherry. Sebetulnya dari prospektus itu kita dapat mengetahui karakteristik dari RD yang hendak kita beli, mulai dari manajernya siapa saja, biaya yang dikenakan, strategi investasi yang dijalankan, kinerja yang dicapai, dll. Memang terkadang terasa tebal prospektus itu, tapi coba dibandingkan apabila kita hendak membeli handphone atau TV baru, sebanding ga research-nya?

      @mitha reksadana hanyalah instrumen dan autoinvest hanyalah metode. Kuncinya ada di tujuan investasi. Dari situ kita bisa menentukan RD apa yang cocok buat kita, lalu apakah autoinvest merupakan metode yang tepat, dan terakhir berapa Rp yang perlu disisihkan untuk autoinvest tersebut.

      @EIN thanks for stopping by, glad you could find the article useful. Cheers!

  19. haduuhh..mupeng banget pengen ikutan reksadana!
    kalo sebagai orang awam yang buta banget soal invest RD gini, gimana langkah awalnya? kudu datengin MI-nya gitu ya?
    Trus apa si RD ini bisa kita tarik kapan aja? Misalnya tadinya mo inves RD buat 5 tahun, tapi di tahun ke-dua ada kebutuhan mendesak, apa RD-nya bisa dicairin? ada penaltinya ga?
    thx before yach :-)

  20. @Astrid, RDPU itu bisa untuk jangka pendek, tapi ya jangan harap langsung besar dalam hitungan minggu; malah dalam hitungan tahun pun juga ga kerasa “besarnya. Tapi daripada duit nganggur tergerus inflasi, kan mendingan daya belinya tetap terjaga dengan ditempatkan di RDPU?

    @greeny, janganlah berinvestasi bila belum paham benar. Saya sarankan mulai mencari tahu dengan membaca dulu baik itu lewat buku, ataupun via jin Google. Ketik saja “reksa dana”. Kalo langsung ujug2 dateng ke MI, ntar malah ditawarin yang ngga cocok dengan profil kita, mereka kan jualan juga. Jadi bekali diri dengan pengetahuan dulu baru bisa diskusi kalo perlu debat sama MI-nya, hehehe..
    Pada prinsipnya RD bisa diambil kapan saja, meski ga 1×24 jam ya, paling lama 5 hari kerja lah dari tanggal kita minta dananya dicairkan. Karena MI-nya kan mesti ngatur cash flow dia juga, kalo perlu malah jual barang. Perkara penalti tergantung dari kebijakan MI-nya. Tidak sedikit MI ngasih penalti 1-5% apabila RD dicairkan sebelum 1-3 tahun. Lho kok? Ya, sebenernya ada baiknya buat kita jadi kita ga terdorong untuk main cair setor terlebih untuk RDS karena susah banget kalo mau timing saham. Kalau dari kacamata MI-nya:
    1) bila ada nasabah menarik dananya maka MI kemungkinan harus jual barang (instrumen investasi) dan belum tentu pada saat yang diinginkan oleh MI, tapi ya mau ga mau kan sudah jadi kewajiban dia;
    2) bila nasabah sudah didorong untuk tidak melakukan pencairan dini dengan adanya “penalti” atau fee tadi, maka dia cenderung untuk tetap bertahan dengan MI-nya tersebut meskipun sudah lewat jangka waktu dikenakannya penalti;
    3) kan “gaji” MI dihitung dari persentase Dana Kelolaan jadi makin gede Dana Kelolaan makin gede gaji MI, dan supaya gede terus, nasabah narik dananya dibuat rada lamaan ;) tapi selama RD-nya perform ya ga masalah.

  21. biasanya klo mw inves direksadana minimal hrs siapin dana brp ya?
    aq mw inves bwt dana pendidikan anak nih, ada bisa kasih advise gak cocoknya pake reksadana apa ? dan perhitungan keuntungannya gmn?
    saya sama sekali buta ttg perbankan niih, tp sangat tertarik dg reksadana…

    1. @Mimo, berinvestasi di reksadana sekarang sudah bisa dilakukan dengan dana yang amat sangat minimal, Rp 100 ribu! Tapi tidak semua MI menawarkan jumlah awal ini ya, tiap MI punya kebijakan yang berbeda.
      Tujuannya sudah ada nih, oke, dana pendidikan anak. Sekarang yang jadi pertanyaan: anaknya umur berapa? berapa tahun lagi dananya akan dibutuhkan? berapa jumlahnya (masuk sekolah apa? berapa biayanya?).
      Dari situ bisa dihitung berapa kebutuhan dana, asumsi tingkat imbal hasil reksadana, lama investasi, dan terakhir: jumlah dana yang harus disisihkan/diinvestasikan tiap bulan untuk mencapai jumlah tersebut.

  22. Pingback: Maung Agus Sutikno
  23. Terima kasih banyak atas ilmu yang dibagi
    penjelasan Anda jauh lebih jelas dari artikel2 lain yang saya baca

    FYI, saya baru beli RD minggu lalu dari bank Commonwealth.
    staf yang melayani sangat informatif dan helpful dan sabar mejelaska kepada pemula sprt saya

  24. Duu maap ni mu nanya juga.. katanya klo lgsg ke MI lebih murah,,MI itu bisa dicari dimana aja ya..MI itu sama dengan bank atau gmn..maap ya pertanyaannya basic bgt..

  25. @aden, hasil maksimal dari berinvestasi, terutama di RD, adalah bila bisa dilakukan secara rutin. Prinsipnya, berinvestasilah sebanyak-banyak, sesering mungkin, selama mungkin. Tujuannya adalah meminimalisasi risiko dari sisi waktu, dan memaksimalkan imbal hasil. Namun apabila hanya bisa sekali2 waktu saja ya tidak mengapa, daripada tidak sama sekali. Tapi perlu diingat, tujuannya harus jelas juga ya, biar ada arahnya.

    @Liz, thanks sudah mampir membaca. Apabila sudah menemukan agen yang cocok, bisa diteruskan saja dan bisa meminta tips2 juga dari dia. Cuman perlu diingat, agen juga berusaha menjual barang, jadi tetap sesuaikan dengan kebutuhan investasi Anda.

    @Cherry, MI tidak sama dengan bank. Peraturan perundangannya berbeda, pengawas/regulator-nya pun juga berbeda. MI bertugas mengelola dana investasi Anda, sedangkan bank menyalurkan dana simpanan anda kepada peminjam. Bank bisa menawarkan RD, tapi yang mengelola tetaplah MI, di sini bank hanya bertindak sebagai makelar dan mendapatkan komisi. Untuk mencari MI yang baik bisa dilihat di majalah investasi terkemuka untuk melihat kinerja MI dalam 1,3,5,10 tahun terakhir (tanpa bermaksud mempromosikan MI tertentu). Setelah menemukan yang kira-kira cocok, bisa di-Google untuk mendapatkan alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi karena sekarang hampir semua MI sudah memiliki website. Anda bisa menghubungi MI2 tersebut untuk mengetahui prosedur pembelian/penjualan unit RD. Dan apabila masih dirasa rumit, Anda bisa menggunakan jasa bank sebagai “penyalur/supermarket”, namun dengan membayar fee tertentu.

  26. Pingback: Mommies Daily
  27. Pingback: mira a
  28. Pingback: indiraabidin
  29. Pingback: riska puspadewi
  30. Pingback: Terry Luana
  31. Pingback: astrid utari
  32. Pingback: Anggi Ratna
  33. Pingback: risna permatasari
  34. Pingback: Dharwiyanti Rusdi
  35. Pingback: Devi Pradana
  36. Pingback: Singgih Sahid.
  37. Pingback: Christine Sibarani
  38. Pingback: andriana chaizir
  39. Pingback: Enny Yulianti
  40. Pingback: Hanifa Ambadar
  41. Pingback: Aku
  42. Pingback: dessy sitorus
  43. Pingback: Mommies Daily
  44. Pingback: Gita Nasution
  45. Deat Hanzky and Yoga,

    Thank you! I’ve been investing in reksadana for a few years and even till today I could not explain about reksadana better than you two! You make it simpler to understand!

    Salut!

  46. @anggi untuk tips memilih RD yang bagus sudah saya kemukakan sebelumnya, yaitu untuk menjawab pertanyaan @Cherry. Sebetulnya dari prospektus itu kita dapat mengetahui karakteristik dari RD yang hendak kita beli, mulai dari manajernya siapa saja, biaya yang dikenakan, strategi investasi yang dijalankan, kinerja yang dicapai, dll. Memang terkadang terasa tebal prospektus itu, tapi coba dibandingkan apabila kita hendak membeli handphone atau TV baru, sebanding ga research-nya?

    @mitha reksadana hanyalah instrumen dan autoinvest hanyalah metode. Kuncinya ada di tujuan investasi. Dari situ kita bisa menentukan RD apa yang cocok buat kita, lalu apakah autoinvest merupakan metode yang tepat, dan terakhir berapa Rp yang perlu disisihkan untuk autoinvest tersebut.

    @EIN thanks for stopping by, glad you could find the article useful. Cheers!

    @mirna, RD bisa digunakan untuk sarana penyimpanan dana darurat. Syarat dana darurat adalah harus liquid (dapat dengan mudah dicairkan), risiko rendah dan return tidak dititikberatkan, yang penting nilainya terjaga (volatilitas rendah). Jadi RD yang cocok ya yang bisa memfasilitasi syarat tersebut.

  47. Hai…kalo aku bener2 pemula bgt nih. Baru baca2 info tentang reksadana belakangan ini dan langsung tertarik.
    Aku baru aja lulus kuliah dan memulai bisnis baru. Kira2 RD apa yg paling cocok buat aku?
    Dimana aja tempat2 yg nyediain RD dgn jumlah minimum.

    Thanks.

  48. trimakasih infonya,

    gimana cara membeli RD yang rencananya untuk sekolah anak kurang lebih 6 th mendatang.

    Saya juga awam ttg RD, mohon infonya

  49. @oz, ada sih cara penghitungan NAB, mungkin bisa diliat di websitenya Bursa Efek

    @key, RD-nya buat modal bisnis? Kebutuhan bisnisnya sendiri berapa lama lagi? Berapa besarnya? Bersedia ngga dananya “menciut” pada saat akan dibutuhkan?

    @sri budi, tata cara membeli RD secara dasar ada 2: beli langsung ke MI-nya (bisa menghubungi MI-nya langsung, kontak infonya bisa di-Google), dan lewat “makelar” (via bank, atau unit link, memang sedikit lebih mudah tapi harus dicermati juga biaya “makelar”-nya)

    @yugi, tergantung kebutuhan, besarnya dana yang dibutuhkan, dan kemampuan berinvestasi saat ini. Metode lump-sum (sekali setor) atau cost-average (sistem tabungan) sama2 valid asalkan tujuan awal investasi dan situasi keuangan yang ada bisa terjawab.

  50. Pingback: Mommies Daily
  51. Pingback: riansyahramdhan
  52. Pingback: NurulMufidati
  53. Pingback: lita iqtianti
  54. Pingback: Aulia Afrianto
  55. Pingback: Mommies Daily
  56. Pingback: Joyce Novelyn
  57. Pingback: Fonda Kuswandi
  58. Pingback: Ai Sadidah
  59. Pingback: Fibrina Bian
  60. Pingback: Andini Desita
  61. Pingback: Prastiwi Raharjo
  62. Pingback: nadwamia
  63. Pingback: pipiet
  64. Pingback: Windy Mizward
  65. Pingback: sapril cammangi
  66. Pingback: RB Sukmono
  67. Pingback: Nonny Ariyanthi

Leave a Reply