
Anak jadi korban bullying di sekolah? Kenali dampak perundungan pada kesehatan mental anak dan 7 langkah tepat yang bisa dilakukan orang tua.
Melihat anak tercinta memendam rasa sakit fisik maupun emosional akibat bullying atau cyberbullying tentu menjadi momen paling menghancurkan hati bagi setiap orang tua. Rasanya campur aduk: sedih, marah, sekaligus bingung harus memulai dari mana untuk melindungi anak dari tindak kekerasan tersebut. Beberapa orang tua bahkan sering kali tak menyadari apakah buah hatinya sedang menjadi korban, saksi mata, atau justru terlibat dalam perilaku berbahaya ini.
Isu perundungan di sekolah di Indonesia sendiri bukanlah perkara sepele. Berdasarkan siaran pers resmi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), maraknya perundungan anak mendorong perlunya pengawasan ketat, pendampingan psikologis, serta perlindungan yang mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak di lingkungan pendidikan.
Sejalan dengan hal tersebut, melansir dari Kompas.com, para pakar menyoroti bahwa belum optimalnya sekolah sebagai ruang aman membuat perundungan kerap berulang. Fenomena ini menegaskan bahwa peran orang tua dalam mengatasi anak yang jadi korban bullying sangat krusial agar buah hati tidak terus-menerus terjebak dalam lingkaran perundungan yang merusak masa depannya.
BACA JUGA: Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan

Sebelum menentukan cara menghadapi bullying, Mommies dan Daddies perlu memahami apa itu bullying pada anak.
Singkatnya, bullying atau perundungan adalah penyalahgunaan kekuasaan secara terus-menerus dan sengaja dalam suatu hubungan yang bertujuan merugikan orang atau kelompok lain. Perundungan bukanlah tindakan kebetulan, gertakan sesaat, atau kejadian sekali selesai, melainkan aksi yang konsisten dan berulang.
Melansir dari ParentGuidance.org, US Department of Health and Human Services mengategorikan bullying ke dalam tiga jenis utama:
Memahami sudut pandang pelaku juga penting bagi orang tua. Dr. Melissa Lopez-Larson, M.D., seorang psikiater anak dan remaja, menjelaskan lewat ParentGuidance.org bahwa pelaku perundungan biasanya memiliki self-esteem atau rasa percaya diri yang rendah.
Pelaku kerap kesulitan memahami serta memedulikan perasaan orang lain. Mereka tidak memikirkan penderitaan korbannya karena dorongan utama perilaku tersebut adalah untuk mendapatkan rasa kuasa dan kendali, hal yang justru tidak mereka miliki dalam hidup mereka sendiri. Karena kurang memiliki keterampilan sosial untuk mendapatkan keinginan tanpa menyakiti orang lain, perundungan menjadi cara instan bagi mereka untuk mendominasi lingkungan.
BACA JUGA: Anak Menjadi Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua
Perundungan merupakan masalah serius yang diperkirakan memengaruhi hingga 75 persen anak sepanjang masa sekolah mereka (sejak TK hingga lulus SMA). Meskipun sebagian besar anak mampu bangkit kembali, sekitar 10–20 persen di antaranya mengalami trauma sebagai korban bullying secara kronis.
Kondisi ini berisiko buruk bagi kesehatan fisik dan emosional bagi anak yang jadi korban bullying, seperti memicu depresi, kecemasan berlebih, dorongan agresif, hingga penurunan prestasi akademik dan karier di masa depan.

Jika Mommies dan Daddies mengetahui atau mencurigai anak sedang mengalami perundungan, berikut adalah tujuh langkah taktis yang perlu segera dilakukan:
Saat anak mulai bercerita, fokuslah untuk membuat mereka merasa didengar dan didukung. Tahan keinginan untuk langsung mencari penyebab utama atau terburu-buru menyelesaikan masalah saat itu juga. Menurut panduan UNICEF, pastikan anak paham betul bahwa bullying yang menimpanya sama sekali bukan kesalahannya.
Anak harus tahu bahwa orang tuanya memercayai ceritanya, menghargai keberaniannya untuk terbuka, dan siap membantu mencari jalan keluar. Jangan pernah menyalahkan anak atau berasumsi mereka melakukan sesuatu yang memicu perundungan tersebut. Hindari pertanyaan seperti, “Lagian kamu ngapain duluan sampai dia marah?” karena kalimat ini bisa menghancurkan hatinya.
Bagi seorang anak korban bullying, memiliki orang tua yang suportif adalah fondasi paling krusial untuk mengatasi ketakutan mereka. Yakinkan anak bahwa dia selalu bisa bercerita dan bahwa situasi sulit ini pasti bisa diatasi bersama.
BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-Ciri Pelaku Bullying dan Korban
Latih anak cara merespons intimidasi tanpa memperkeruh suasana. Mommies dan Daddies bisa melakukan simulasi peran (role-play) di rumah tentang cara pergi dengan tenang, tetap percaya diri, serta kapan harus segera meminta bantuan orang dewasa tepercaya. Dorong anak untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai minatnya agar kepercayaan dirinya pulih dan teman-teman barunya semakin bertambah.
Mendengar buah hati diancam tentu memancing emosi. Namun, mendatangi atau membalas pelaku dan keluarganya secara emosional bukanlah solusi. Menurut artikel di Empowering Parents, aksi balas dendam tidak akan membantu menyelesaikan masalah maupun menyembuhkan lukanya. Ambillah napas dalam-dalam dan tunjukkan contoh penyelesaian masalah yang bijak dan dewasa kepada anak.
Jika kurang sreg dengan cara anak merespons perundungan, hindari mengkritiknya. Jangan pula menyuruh anak membalas dengan kekerasan fisik seperti, “Kalau dipukul, balas pukul aja!” Melansir dari panduan keselamatan MyFLFamilies, memukul kembali tidak akan menghentikan bullying di sekolah, malah berisiko membuat anak terkena sanksi skorsing atau memperparah tingkat bahaya.
Tanyakan dan catat kapan kejadiannya, siapa saja yang terlibat, serta apa bentuk perundungan yang diterima (apakah verbal, fisik, atau cyberbullying). Jika perundungan terjadi di media sosial, segera ambil tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti fisik.
Dr. Melissa Faith, Ph.D., ABPP, seorang psikolog anak klinis terdaftar di Johns Hopkins All Children’s Hospital, menyarankan melalui Johns Hopkins Medicine agar orang tua mengajukan permohonan investigasi secara tertulis kepada konselor atau kepala sekolah.
Setelah itu, jadwalkan pertemuan dengan semua pihak terkait (guru kelas dan konselor). Ajukan pertanyaan secara spesifik, minta rencana aksi nyata dari sekolah, dan pastikan keluar dari ruangan dengan kesepakatan tertulis mengenai cara mengatasi bullying ini. Manfaatkan juga pengalaman guru kelas dalam menangani karakter murid-muridnya, lalu jadwalkan pertemuan evaluasi susulan sekitar satu bulan kemudian.

Langkah pencegahan bullying sejatinya bisa dimulai dari lingkungan keluarga. Melansir dari StopBullying.gov, orang tua dan orang dewasa tepercaya dapat menerapkan beberapa kebiasaan berikut:
BACA JUGA: Hati-Hati! Bullying pada Anak Juga Bisa Terjadi di Rumah! Ini Tandanya
Jika kondisi kesehatan mental anak menunjukkan tanda-tanda trauma berat atau situasi perundungan sudah di luar kapasitas yang bisa ditangani sendiri di rumah, jangan ragu untuk mencari bantuan dari luar.
Melansir kembali dari Johns Hopkins Medicine, berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental (psikolog anak atau konselor) akan memberikan alat koping dan pendampingan yang tepat bagi seluruh anggota keluarga dalam melewati masa sulit ini.
Foto 1: Unsplash
Foto 2: Unsplash