
Anak tertarik kuliah jurusan Psikologi? Kenali mata kuliah, tugas kuliah, apakah harus jago Matematika, dan gambaran perkuliahannya.
Kalau anak bilang ingin masuk jurusan Psikologi karena suka mendengarkan cerita teman atau penasaran dengan perilaku manusia, kira-kira apa yang terlintas di pikiran Mommies? Mungkin membayangkan anak akan banyak belajar tentang kepribadian, emosi, dan cara memahami orang lain.
Memang benar, Psikologi mempelajari perilaku dan proses mental manusia. Namun, kuliah jurusan ini ternyata tidak hanya berisi diskusi tentang karakter seseorang atau belajar menjadi pendengar yang baik. Ada teori, penelitian, statistik, praktikum, hingga tugas menganalisis perilaku berdasarkan bukti ilmiah.
Jadi, sebelum anak mantap memilih jurusan ini, ada baiknya Mommies dan anak mengenal lebih jauh isi perkuliahannya. Sebenarnya, kuliah jurusan Psikologi belajar apa saja?
Secara umum, mahasiswa Psikologi mempelajari perilaku manusia dan proses mental yang melatarbelakanginya. Pembahasannya mencakup cara manusia berpikir, belajar, mengingat, merasakan emosi, mengambil keputusan, serta berinteraksi dengan orang lain.
Nama dan susunan mata kuliah bisa berbeda di setiap universitas. Namun, jika melihat kurikulum S1 Psikologi di beberapa perguruan tinggi, ada sejumlah bidang yang umumnya menjadi bagian dari pembelajaran mahasiswa.

Berikut gambaran materi yang akan dipelajari.
Psikologi umum menjadi salah satu dasar untuk mengenal ilmu psikologi. Mahasiswa mempelajari konsep dasar mengenai perilaku dan proses mental manusia.
Misalnya, bagaimana manusia berpikir, mengingat sesuatu, memperhatikan lingkungan, belajar, hingga mengambil keputusan. Mahasiswa juga akan mengenal berbagai pendekatan dalam memahami perilaku manusia.
Kenapa cara berpikir anak usia 5 tahun berbeda dengan remaja berusia 17 tahun atau orang dewasa? Hal-hal seperti ini dipelajari dalam psikologi perkembangan.
Mahasiswa mempelajari perubahan manusia sepanjang rentang kehidupan, mulai dari masa bayi, anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Pembahasannya bisa mencakup perkembangan kognitif, emosi, sosial, dan aspek lain yang memengaruhi kehidupan seseorang.
Di bidang ini, mahasiswa mengenal berbagai teori untuk memahami kepribadian manusia. Mereka belajar bahwa setiap orang memiliki pola berpikir, merasakan sesuatu, dan berperilaku yang bisa berbeda.
Mahasiswa juga mempelajari berbagai pendekatan untuk menjelaskan kepribadian serta faktor-faktor yang dapat memengaruhi pembentukannya. Jadi, bukan sekadar mengelompokkan seseorang berdasarkan tipe kepribadian yang populer di media sosial, ya, Mommies.
Kenapa seseorang bisa berperilaku berbeda ketika sendirian dan saat berada di tengah kelompok? Mengapa lingkungan pertemanan bisa memengaruhi keputusan seseorang?
Pertanyaan seperti itu berkaitan dengan psikologi sosial. Mahasiswa mempelajari bagaimana pikiran, perasaan, dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh kehadiran orang lain maupun lingkungan sosialnya.
Topik yang dibahas dapat mencakup hubungan antarmanusia, prasangka, stereotip, konformitas, kelompok sosial, hingga pengaruh lingkungan terhadap perilaku individu.
Psikologi juga berhubungan dengan tubuh manusia, terutama otak dan sistem saraf. Hubungan antara proses biologis dengan perilaku dan fungsi mental dipelajari dalam biopsikologi.
Mahasiswa akan mengenal bagaimana kerja otak berkaitan dengan emosi, ingatan, tidur, serta respons seseorang terhadap situasi tertentu. Jadi, anak juga akan bersentuhan dengan materi biologi dan dasar-dasar ilmu saraf selama kuliah Psikologi.
Selain mata kuliah dasar, mahasiswa juga akan mengenal penerapan ilmu psikologi dalam berbagai bidang.
Beberapa bidang yang umum dipelajari antara lain:
Bidang-bidang tersebut bisa menjadi gambaran awal bagi anak untuk mengenali area Psikologi yang paling menarik minatnya.
Nah, ini bagian yang mungkin tidak terpikirkan oleh calon mahasiswa. Kuliah Psikologi bukan hanya membaca teori dan berdiskusi tentang perilaku manusia. Mahasiswa juga perlu memahami cara memperoleh dan mengolah data secara ilmiah.
Karena itu, ada mata kuliah statistik dan metode penelitian. Mahasiswa belajar menyusun penelitian, mengumpulkan data, menganalisis hasil, serta menarik kesimpulan berdasarkan bukti.
Sebagai contoh, kurikulum S1 Psikologi Universitas Negeri Jakarta mencantumkan mata kuliah Statistika Deskriptif, Statistika Inferensial, Metode Penelitian Kuantitatif, Metode Penelitian Kualitatif, Psikologi Eksperimen, Observasi dan Wawancara, serta Psikometri.
Sementara itu, kurikulum S1 Psikologi Universitas Padjadjaran menjelaskan bahwa mahasiswa mempelajari konsep dan teori psikologi, keterampilan, serta penerapan ilmu psikologi dalam berbagai konteks.
Artinya, kemampuan memahami data dan melakukan penelitian juga menjadi bagian penting dalam perkuliahan Psikologi.
BACA JUGA: Tes Minat Bakat Anak: Rekomendasi Tempat dan Kisaran Biaya 2026
Ini salah satu pertanyaan yang mungkin muncul ketika anak tertarik masuk Psikologi, tetapi kurang percaya diri dengan pelajaran Matematika.
Jawabannya, anak tidak harus menjadi jago Matematika. Namun, bukan berarti jurusan Psikologi bebas dari hitung-hitungan.
Mahasiswa tetap akan bertemu statistik dan pengolahan data. Mereka perlu memahami angka, membaca hasil analisis, mengenali hubungan antarvariabel, serta menggunakan metode statistik untuk mendukung penelitian.
Jadi, kemampuan Matematika dasar, logika, dan kemauan untuk belajar akan membantu. Anak yang awalnya kurang percaya diri dengan angka pun tetap bisa mengembangkan kemampuan tersebut selama bersedia berlatih.
Selain Matematika, kemampuan membaca, menulis, menyusun argumen, dan berpikir kritis juga penting. Sebab, mahasiswa Psikologi akan banyak berhadapan dengan teori, jurnal ilmiah, diskusi, laporan praktikum, dan penelitian.

Jangan membayangkan kuliah Psikologi hanya berisi diskusi tentang karakter seseorang atau mendengarkan cerita orang lain. Ada berbagai tugas yang perlu dikerjakan mahasiswa, baik secara individu maupun kelompok.
Beberapa contohnya:
Jenis tugas dan intensitasnya tentu bergantung pada kurikulum serta metode pembelajaran masing-masing kampus. Namun, gambaran ini bisa membantu Mommies dan anak memahami bahwa perkuliahan Psikologi membutuhkan ketekunan belajar, bukan hanya ketertarikan pada manusia.
Tidak ada satu tipe kepribadian yang otomatis paling cocok untuk masuk jurusan Psikologi. Anak yang pendiam bukan berarti tidak bisa belajar Psikologi. Begitu juga anak yang senang berbicara belum tentu otomatis cocok.
Namun, ada beberapa ketertarikan dan kemampuan yang bisa menjadi modal awal untuk menjalani perkuliahan ini.
Mommies bisa mengajak anak berdiskusi tentang alasan ia tertarik pada jurusan ini. Apakah karena ingin menjadi psikolog, tertarik pada isu kesehatan mental, atau memang senang mempelajari perilaku manusia?
Diskusi sederhana seperti ini bisa membantu anak mengenali ekspektasinya terhadap jurusan yang dipilih.
BACA JUGA: Tes Sidik Jari untuk Minat Bakat Anak? Ketahui Risiko dan Efektivitasnya

Ini juga penting untuk diluruskan, Mommies. Lulus S1 Psikologi tidak otomatis membuat seseorang berhak menyandang profesi psikolog.
Di Indonesia, pendidikan dan layanan psikologi diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2022 tentang Pendidikan dan Layanan Psikologi. Aturan tersebut membedakan pendidikan psikologi akademik dan pendidikan profesi. Pendidikan profesi diperuntukkan bagi lulusan pendidikan psikologi program sarjana.
Jadi, jika anak bercita-cita menjadi psikolog, perjalanan pendidikannya tidak berhenti setelah mendapatkan gelar Sarjana Psikologi (S.Psi.). Anak perlu melanjutkan ke jalur pendidikan profesi dan memenuhi ketentuan yang berlaku untuk menjalankan layanan psikologi.
Mommies juga perlu membedakan psikolog dengan psikiater. Psikiater merupakan dokter yang menempuh pendidikan kedokteran dan melanjutkan pendidikan spesialis kedokteran jiwa, sedangkan psikolog menempuh pendidikan psikologi dan jalur pendidikan profesi psikologi.
BACA JUGA: 7 Ciri Orang Tua yang Memaksakan Cita-cita ke Anak
Kalau anak sudah menunjukkan ketertarikan untuk kuliah jurusan Psikologi, Mommies bisa mengajaknya mencari tahu lebih jauh sebelum menentukan pilihan kampus.
Beberapa hal yang bisa didiskusikan bersama:
Mommies juga bisa mengajak anak mengikuti tes minat dan bakat jika ia masih bingung menentukan pilihan. Hasilnya dapat menjadi bahan diskusi, bukan penentu mutlak jurusan yang harus diambil.
BACA JUGA: Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya
Memilih jurusan kuliah memang bukan keputusan kecil. Karena itu, kalau anak tertarik masuk kuliah jurusan Psikologi, bantu ia mengenali apa yang akan dipelajari, tantangan selama kuliah, dan jalur pendidikan yang perlu ditempuh setelah lulus.
Dengan begitu, anak tidak memilih jurusan hanya karena terlihat menarik atau menganggap kuliahnya akan mudah. Mommies pun bisa mendampingi prosesnya dengan lebih tenang, sambil tetap memberi ruang bagi anak untuk menentukan pilihan masa depannya sendiri.
Cover: Magnific