banner-detik
#MOMMIESWORKINGIT

Ibu Bekerja, Jangan Mau Kewalahan Sendiri! Ini 7 Cara Berbagi Tugas Rumah Tangga dengan Suami

author

Mommies Daily・in 6 hours

Ibu Bekerja, Jangan Mau Kewalahan Sendiri! Ini 7 Cara Berbagi Tugas Rumah Tangga dengan Suami

Ini 7 cara berbagi tugas rumah tangga dengan suami agar ibu bekerja tidak kewalahan, mulai dari membagi tanggung jawab hingga waktu istirahat.

Pagi sibuk menyiapkan sarapan, memastikan anak siap sekolah, dan bergegas berangkat kerja. Siang hingga sore, menyelesaikan pekerjaan kantor. Begitu sampai di rumah, ternyata masih ada cucian menumpuk, piring kotor di dapur, dan anak yang butuh ditemani belajar.

Belum lagi, sering kali ibu bukan hanya mengerjakan pekerjaan rumah, tetapi juga menjadi orang yang harus mengingat semuanya. Mulai dari kapan stok bahan makanan habis, kapan anak harus kontrol ke dokter, sampai mengingatkan suami tentang jadwal kegiatan keluarga.

Padahal, ibu juga punya hak untuk beristirahat tanpa merasa bersalah.

Karena itu, berbagi tugas rumah tangga dengan suami bukan sekadar soal siapa yang mencuci piring atau menyapu lantai. Ini tentang membangun kerja sama agar kedua pasangan memiliki tanggung jawab yang lebih adil, termasuk dalam mengurus anak dan mengelola kebutuhan keluarga.

BACA JUGA: Merasa Capek Sendiri di Rumah? Ini 5 Tanda Pembagian Tugas Rumah Tangga Nggak Adil

Lantas, bagaimana cara membagi tugas rumah tangga dengan suami agar ibu bekerja tidak kewalahan sendirian?

1. Bicarakan pembagian tugas sebelum sama-sama kelelahan

Cobalah membicarakan pembagian tugas ketika suasana sedang tenang, bukan saat salah satu sudah kelelahan atau emosi memuncak.

Diskusikan pekerjaan yang perlu dilakukan setiap hari, setiap minggu, dan sesekali. Misalnya, siapa yang menyiapkan sarapan, mengantar anak sekolah, mencuci pakaian, membersihkan kamar mandi, atau mengurus belanja bulanan.

Mommies bisa memulai percakapan dengan kalimat seperti:

“Aku merasa akhir-akhir ini kewalahan karena pekerjaan kantor dan urusan rumah sama-sama menumpuk. Aku ingin kita membagi tanggung jawab supaya kita berdua punya waktu istirahat.”

Fokuskan pembicaraan pada kebutuhan keluarga, bukan mencari siapa yang paling banyak bekerja atau siapa yang paling bersalah.

2. Jangan hanya membagi pekerjaan, tetapi juga tanggung jawabnya

Ini salah satu hal penting yang sering luput.

Misalnya, suami bertugas mencuci pakaian, tetapi ibu tetap harus mengingatkan kapan mesin cuci perlu dinyalakan, memisahkan pakaian, menjemur, mengangkat, hingga memastikan pakaian anak untuk besok sudah siap.

Secara fisik, suami memang membantu mencuci. Namun, ibu masih memegang sebagian besar tanggung jawab untuk memastikan semuanya berjalan.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Archives of Women’s Mental Health pada 2025, Elizabeth Aviv, Yael Waizman, Elizabeth Kim, Jasmine Liu, Eve Rodsky, dan Darby Saxbe meneliti pembagian pekerjaan rumah tangga fisik dan kognitif pada 322 ibu dengan anak kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa beban perencanaan rumah tangga atau cognitive labor cenderung lebih timpang dibandingkan pekerjaan fisik. Beban ini juga berkaitan dengan stres, kelelahan emosional, dan kesehatan mental ibu.

Artinya, berbagi tugas sebaiknya mencakup tiga hal: memikirkan apa yang perlu dilakukan, merencanakan caranya, dan mengerjakannya sampai selesai.

Jika suami bertanggung jawab atas cucian, misalnya, ia juga bertanggung jawab memastikan pakaian keluarga tersedia dan proses mencuci berjalan tanpa harus selalu diingatkan.

BACA JUGA: Perempuan Lelah Jadi Provider Emosional dalam Hubungan? Kenali Tandanya

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

3. Bagi tugas berdasarkan waktu, kemampuan, dan kondisi masing-masing

Pembagian tugas rumah tangga tidak harus selalu 50:50 untuk setiap pekerjaan. Yang lebih penting, beban keseluruhan terasa adil bagi kedua pasangan.

Contoh pembagian yang bisa disesuaikan:

  • Pagi hari: Suami menyiapkan sarapan dan membantu anak bersiap sekolah, sementara ibu menyiapkan kebutuhan kerja dan mengecek barang yang perlu dibawa.
  • Sore hari: Pasangan yang tiba lebih awal di rumah mengambil tanggung jawab menyiapkan makan atau mendampingi anak.
  • Malam hari: Suami mencuci piring dan merapikan dapur, sedangkan ibu menyiapkan kebutuhan anak untuk esok hari.
  • Akhir pekan: Keduanya membagi pekerjaan bersih-bersih rumah dan kebutuhan keluarga, termasuk mengurus anak.

Jadwal ini tentu tidak harus sama untuk semua keluarga. Jika salah satu sedang menghadapi tenggat pekerjaan atau kondisi tertentu, pembagian bisa disesuaikan.

4. Buat daftar pekerjaan rumah agar beban yang tidak terlihat ikut terbagi

Kadang-kadang, suami dan istri memiliki gambaran yang berbeda tentang pembagian tanggung jawab pengasuhan anak dan keluarga. Hal ini juga terlihat dalam laporan Pew Research Center, yang membahas perbedaan pandangan ibu dan ayah mengenai siapa yang lebih banyak menangani sejumlah tanggung jawab pengasuhan.

Bagi suami, rumah mungkin terlihat baik-baik saja karena lantainya bersih. Namun, ibu masih memikirkan stok sabun mandi anak, jadwal pembayaran sekolah, menu makan selama seminggu, dan pakaian olahraga yang harus dicuci sebelum hari Senin.

Coba buat daftar seluruh pekerjaan rumah tangga, termasuk pekerjaan kecil yang sering tidak terlihat. Contohnya:

  • Menyiapkan bahan makanan.
  • Mencuci, menjemur, melipat, dan menyimpan pakaian.
  • Membersihkan kamar mandi dan dapur.
  • Membeli kebutuhan rumah tangga.
  • Mengurus jadwal sekolah dan kegiatan anak.
  • Membayar tagihan dan mencatat kebutuhan bulanan.
  • Menjadwalkan pemeriksaan kesehatan anggota keluarga.
  • Menyiapkan kebutuhan anak untuk sekolah atau kegiatan akhir pekan.

Setelah semuanya tercatat, tentukan siapa yang bertanggung jawab atas setiap pekerjaan.

Daftar ini bukan untuk menghitung siapa yang lebih berjasa. Tujuannya agar kedua pasangan bisa melihat keseluruhan beban rumah tangga dan membaginya secara lebih realistis.

Photo by Nguyễn Hiệp on Unsplash

5. Sepakati standar kebersihan yang bisa diterima bersama

Pernah meminta suami membersihkan kamar mandi, tetapi setelah selesai, Mommies merasa hasilnya masih kurang bersih? Akhirnya, pekerjaan itu dikerjakan ulang oleh Mommies sendiri.

Cobalah membicarakan standar yang disepakati bersama. Misalnya, dapur dianggap selesai dibersihkan ketika meja sudah dilap, sampah dibuang, dan piring kotor tidak tertinggal di wastafel.

Tidak semua pekerjaan harus dilakukan persis dengan cara yang biasa Mommies lakukan. Selama hasilnya memenuhi kesepakatan, berikan ruang kepada suami untuk menyelesaikannya dengan caranya sendiri.

Intinya, bedakan antara standar kebersihan yang memang diperlukan dan preferensi pribadi.

6. Libatkan anak dan manfaatkan bantuan jika memungkinkan

Rumah tangga bukan hanya tanggung jawab ibu dan ayah. Anak juga bisa mulai dilibatkan sesuai usia dan kemampuannya.

Anak usia sekolah, misalnya, bisa belajar merapikan tempat tidur, memasukkan pakaian kotor ke keranjang, menyiapkan perlengkapan sekolah, atau membereskan mainannya sendiri.

Untuk anak remaja, tanggung jawabnya bisa ditingkatkan, seperti mencuci pakaian sendiri, membantu menyiapkan makanan sederhana, atau bergantian membersihkan area rumah.

Selain membantu meringankan beban orang tua, pembiasaan ini mengajarkan anak bahwa menjaga rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan pekerjaan yang otomatis dilakukan ibu.

Jika kondisi finansial memungkinkan, Mommies dan suami juga bisa mempertimbangkan bantuan tambahan, seperti jasa bersih-bersih berkala, laundry, atau layanan pesan antar bahan makanan.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash

BACA JUGA: Tanggung Jawab Anak Sesuai Usia: Daftar Tugas di Rumah dari Balita hingga Remaja

7. Evaluasi pembagian tugas dan pastikan ibu juga punya waktu istirahat

Pembagian tugas yang terasa adil bulan ini belum tentu tetap cocok bulan depan. Jadwal kerja berubah, anak bertambah besar, kegiatan sekolah semakin banyak, atau salah satu pasangan sedang menghadapi periode pekerjaan yang padat.

Karena itu, luangkan waktu sekitar 10–15 menit setiap minggu untuk mengevaluasi pembagian tugas.

Tanyakan beberapa hal berikut:

  • Apakah ada pekerjaan yang kembali menumpuk pada salah satu pihak?
  • Apakah jadwal yang dibuat masih realistis?
  • Apakah ada tanggung jawab baru yang perlu dibagi?
  • Apakah masing-masing masih punya waktu untuk beristirahat dan melakukan hal yang disukai?

Jangan lupa, waktu istirahat juga perlu masuk dalam perencanaan keluarga. Bukan hanya waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, mendampingi anak, atau menyiapkan kebutuhan orang lain.

Rumah Tangga adalah Kerja Sama, Bukan Perlombaan

Berbagi tugas rumah tangga dengan suami bukan tentang menghitung siapa yang paling banyak bekerja. Ini tentang memastikan bahwa kebutuhan keluarga terpenuhi tanpa membuat salah satu pasangan terus-menerus kelelahan.

Mulailah dari satu atau dua pekerjaan yang paling sering membuat Mommies kewalahan. Bicarakan dengan pasangan, sepakati tanggung jawabnya, lalu evaluasi setelah beberapa minggu.

Sebab, rumah yang terurus memang penting. Namun, ibu yang sehat, bahagia, dan punya energi untuk dirinya sendiri juga sama pentingnya.

Cover: Photo by Josue Michel on Unsplash

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan