Sorry, we couldn't find any article matching ''

Memutus Hubungan dengan Orang Tua, Ini 6 Penyebab yang Sering Terjadi
Kenali 7 penyebab seseorang memutus hubungan dengan orang tua, mulai dari trauma masa kecil hingga konflik keluarga yang berkepanjangan.
Punya hubungan darah bukan berarti seseorang pasti merasa dekat. Meski hubungan orang tua dan anak kerap dianggap sebagai ikatan seumur hidup yang tidak boleh terputus, kenyataannya tidak semua keluarga memiliki hubungan yang sehat.
Ada anak yang memilih menjaga jarak, membatasi komunikasi, bahkan tidak lagi berhubungan dengan orang tuanya setelah dewasa. Keputusan ini dikenal sebagai family estrangement, yaitu kondisi ketika anggota keluarga mengalami keterasingan atau sengaja membatasi hubungan secara signifikan.
Bagi orang luar, keputusan tersebut mungkin terlihat berlebihan. Namun, bagi orang yang menjalaninya, bisa jadi ada pengalaman panjang yang melatarbelakanginya, mulai dari konflik yang tidak kunjung selesai, perasaan tidak dihargai, hingga trauma masa kecil.
Dalam wawancara di podcast American Psychological Association (APA), psikolog Lucy Blake, PhD, menjelaskan bahwa keterasingan dalam keluarga dapat berkaitan dengan kekerasan emosional, perceraian, dan perbedaan nilai hidup.
BACA JUGA: 16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak
Lantas, apa saja penyebab seseorang memilih memutus hubungan dengan orang tua?
1. Mengalami kekerasan emosional yang terus berulang
Hubungan orang tua dan anak yang dipenuhi kritik, hinaan, ancaman, manipulasi, atau tindakan merendahkan dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam.
Misalnya, anak terus-menerus disebut tidak berguna, dibandingkan dengan saudara kandung, atau dibuat merasa bersalah setiap kali menyampaikan pendapat yang berbeda.
Ketika pola tersebut berlangsung bertahun-tahun tanpa perubahan, sebagian anak saat beranjak dewasa merasa bahwa menjaga jarak merupakan cara untuk melindungi kesehatan emosionalnya.

Photo by Steven Thompson on Unsplash
2. Trauma masa kecil yang tidak pernah diselesaikan
Pengalaman masa kecil dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan membangun hubungan ketika dewasa.
Anak yang mengalami pengabaian, kekerasan fisik, kekerasan seksual, atau tidak mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan mungkin masih membawa luka tersebut hingga bertahun-tahun kemudian.
Ketika dewasa, ia bisa mulai memahami bahwa pengalaman yang dahulu dianggap normal ternyata menyakitkan dan berdampak pada kehidupannya.
Jika orang tua menolak mengakui pengalaman tersebut, mengecilkan dampaknya, atau justru menyalahkan anak, proses pemulihan hubungan bisa menjadi semakin sulit.
Bagi sebagian orang, membatasi atau menghentikan kontak menjadi salah satu cara untuk mendapatkan ruang pemulihan.

Photo by Markus Winkler on Unsplash
3. Perasaan dan pendapat anak tidak pernah dihargai
Tidak semua orang tua menyadari bahwa anak yang sudah dewasa tetap membutuhkan ruang untuk memiliki pendapat, pilihan, dan batasan pribadi.
Masalah bisa muncul ketika orang tua selalu merasa paling benar, tidak mau mendengarkan, atau menganggap perbedaan pendapat sebagai bentuk pembangkangan.
Contohnya, orang tua terus menentukan pilihan karier, pasangan, cara mengasuh cucu, hingga keputusan rumah tangga anak yang sudah mandiri.
Lama-kelamaan, anak mungkin merasa bahwa satu-satunya cara agar suaranya didengar adalah dengan menjauh.
Hubungan yang sehat tidak mengharuskan orang tua dan anak selalu sepakat. Namun, keduanya perlu bersedia mendengarkan dan menghormati batasan masing-masing.
BACA JUGA: 5 Konflik tentang Pengasuhan Cucu yang Paling Sering Terjadi dan Cara Mengatasinya
4. Konflik nilai hidup yang sulit dipertemukan
Perbedaan pandangan tentang agama, keyakinan, pernikahan, pilihan hidup, atau prinsip-prinsip keluarga dapat memicu ketegangan antargenerasi.
Perbedaan itu sebenarnya wajar. Namun, konflik dapat membesar ketika salah satu pihak memaksa pihak lain untuk mengikuti keyakinannya atau menolak menerima pilihan hidup yang berbeda.
Bagi anak, terus-menerus merasa ditolak karena pilihan hidupnya sendiri bisa membuat hubungan dengan orang tua terasa melelahkan secara emosional.
Pada akhirnya, sebagian orang memilih mengurangi interaksi untuk menghindari konflik yang sama berulang kali.

Photo by IGOR LOLATTO on Unsplash
5. Orang tua tidak mau mengakui kesalahan atau meminta maaf
Jika orang tua melakukan kesalahan tetapi selalu menyangkal, menyalahkan anak, atau mengatakan bahwa anak terlalu sensitif, masalah yang seharusnya bisa dibicarakan justru menumpuk.
Anak mungkin sudah berulang kali mencoba menjelaskan perasaannya, tetapi tidak pernah merasa didengarkan.
Artinya, keputusan untuk menjauh tidak selalu dipicu satu pertengkaran. Bisa jadi keputusan tersebut muncul setelah berbagai upaya memperbaiki hubungan tidak membuahkan hasil.
6. Konflik keluarga yang tidak kunjung selesai
Perselisihan mengenai warisan, uang, perceraian, pasangan anak, atau konflik antar saudara bisa memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak.
Dalam beberapa situasi, anak merasa orang tua selalu memihak saudara kandungnya atau tidak memberikan dukungan ketika ia membutuhkannya. Sebaliknya, orang tua mungkin merasa anaknya tidak lagi memprioritaskan keluarga setelah menikah.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Family Communication menemukan bahwa orang tua dan anak dewasa dapat memiliki penjelasan yang berbeda mengenai penyebab renggangnya hubungan mereka. Studi berjudul Giving Voice to the Silence of Family Estrangement: Comparing Reasons of Estranged Parents and Adult Children in a Nonmatched Sample membahas perbedaan alasan yang disampaikan oleh kedua pihak.
Ketika kedua pihak memiliki versi kejadian yang berbeda dan tidak menemukan cara untuk menyelesaikannya, jarak emosional dapat semakin lebar.
Apakah memutus hubungan dengan orang tua selalu menjadi pilihan terbaik?
Tidak ada jawaban yang baku. Bagi sebagian orang, komunikasi yang lebih terbatas sudah cukup untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat. Bagi yang lain, menghentikan kontak mungkin dirasa perlu, terutama ketika interaksi terus menimbulkan rasa tidak aman atau luka emosional.
Namun, rekonsiliasi tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja. Memperbaiki hubungan membutuhkan kesediaan untuk mendengarkan, mengakui dampak perilaku masing-masing, dan melakukan perubahan nyata.
Sebagai orang tua, kita juga perlu mengingat bahwa membesarkan anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan fisik dan pendidikan mereka. Anak perlu merasa aman untuk menyampaikan pendapat, membuat pilihan, dan menjadi dirinya sendiri tanpa takut direndahkan.
Cover: Megan Watson on Unsplash
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS