banner-detik
LIFESTYLE

Film Laut Bercerita: Makna Sejarah dan Pelajaran untuk Orang Tua

author

Dhevita Wulandari・in 5 hours

Film Laut Bercerita: Makna Sejarah dan Pelajaran untuk Orang Tua

Review film Laut Bercerita tanpa spoiler. Ini makna sejarah, empati, keluarga, dan pelajaran yang bisa direnungkan orang tua untuk diajarkan pada anak dari film adaptasi novel ini.

Ada film yang selesai ditonton, lalu ceritanya ikut selesai. Namun, ada juga film yang justru meninggalkan banyak pertanyaan, perasaan, dan ingatan setelah kita keluar dari bioskop. Laut Bercerita termasuk salah satunya.

Diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori, film Laut Bercerita tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, film drama berlatar sejarah ini mengajak penonton menyelami perjuangan para mahasiswa pada era 1990-an, persahabatan, keluarga, hingga penantian panjang orang-orang yang kehilangan sosok tercinta.

Bagi Mommies dan Daddies yang sudah membaca novelnya, adaptasi ini menjadi kesempatan untuk kembali bertemu dengan karakter-karakter yang mungkin sudah terasa dekat. Sementara bagi yang belum membaca bukunya, film ini tetap bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal salah satu babak sejarah Indonesia.

Film Laut Bercerita

Foto: Mommies Daily/Dhevita Wulandari. Press screening dan press conference film Laut Bercerita

Review Film Laut Bercerita: Bukan Sekadar Kisah tentang Kehilangan

Laut Bercerita berpusat pada Biru Laut, yang diperankan oleh Reza Rahadian, mahasiswa yang terlibat dalam kelompok diskusi Winatra dan pergerakan mahasiswa pada masa Orde Baru. Bersama teman-temannya, ia berusaha menyuarakan keadilan dan membela masyarakat yang terpinggirkan, di tengah situasi politik yang penuh tekanan.

Tanpa membocorkan jalan ceritanya, film ini tidak hanya berbicara tentang keberanian mereka yang turun ke jalan. Ada sisi lain yang sama pentingnya, yaitu bagaimana sebuah peristiwa memengaruhi keluarga, sahabat, dan orang-orang yang harus menjalani hidup dalam ketidakpastian menunggu kabar dari orang-orang yang dihilangkan secara paksa.

Film ini juga mengajak kita memahami bahwa kehilangan tanpa kepastian bukanlah sesuatu yang mudah diselesaikan. Bagi keluarga yang ditinggalkan, pertanyaan yang tidak terjawab bisa terus membayangi kehidupan sehari-hari.

Karena mengangkat kekerasan dan pengalaman traumatis, film ini mungkin terasa emosional bagi sebagian penonton. Jadi, Mommies dan Daddies bisa menyiapkan diri untuk menyaksikan cerita yang tidak selalu nyaman, tetapi penting untuk direnungkan.

Perlu dicatat juga, film ini diklasifikasikan untuk penonton berusia 17 tahun ke atas oleh Lembaga Sensor Film.

BACA JUGA: Mengenal 10 Pahlawan Perempuan Indonesia dan Perjuangan Mereka

Apa yang Bisa Dipelajari dari Buku dan Film Laut Bercerita?

Setelah membaca dan menonton film ini, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dan renungkan untuk kemudian menjadikan kita manusia yang lebih berani untuk bersuara dalam bentuk apa pun.

1. Belajar Melihat Sejarah dari Sisi Manusia

Ketika belajar sejarah, kita sering fokus pada peristiwa besar dan tokoh-tokoh penting. Padahal, sejarah juga dibentuk oleh kehidupan orang-orang biasa yang terdampak oleh keputusan dan situasi politik pada zamannya.

Melalui Laut Bercerita, kita diajak melihat bahwa di balik perjuangan mahasiswa ada keluarga yang menunggu, sahabat yang kehilangan, dan orang-orang yang terus mencari jawaban.

Untuk Mommies dan Daddies, ini bisa menjadi pengingat bahwa mengenalkan sejarah kepada anak tidak harus selalu dimulai dari hafalan. Kita bisa mulai dari cerita manusia, perasaan mereka, dan alasan mengapa suatu peristiwa penting untuk diingat.

2. Empati Berarti Mau Mendengarkan, Bukan Buru-Buru Menghakimi

Kisah ini memperlihatkan bahwa setiap orang bisa mengalami ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian dengan cara yang berbeda.

Pelajaran ini juga relevan dalam pengasuhan. Saat anak bercerita tentang masalahnya, kita tidak harus selalu buru-buru memberikan solusi. Terkadang, mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan tanpa mengecilkan perasaan mereka dan percaya pada hal benar yang mereka lakukan.

Film Laut Bercerita

Foto: Instagram/filmlautbercerita

3. Berani Bersuara dan Paham Risiko dari Tindakan

Salah satu tema penting dalam Laut Bercerita adalah keberanian menyampaikan pendapat dan memperjuangkan sesuatu yang diyakini benar.

Di rumah, Mommies dan Daddies bisa menerapkan nilai ini dengan memberikan ruang bagi anak untuk bertanya, berbeda pendapat, dan menyampaikan ketidaksetujuan secara sehat.

Anak, tidak hanya laki-laki tetapi juga perempuan, perlu tahu bahwa mereka boleh memiliki pandangan sendiri. Pada saat yang sama, mereka juga perlu belajar menyampaikan pendapat dengan menghormati orang lain, memeriksa informasi, dan memahami konsekuensi tindakan mereka.

BACA JUGA: Ajarkan Anak Perempuan agar Berani Bersuara

4. Keluarga adalah Tempat untuk Saling Menguatkan

Selain perjuangan para aktivis, cerita ini juga menyentuh hubungan keluarga dan beratnya menghadapi kehilangan.

Kita diingatkan bahwa keluarga bukan hanya tempat berbagi kabar bahagia, tetapi juga ruang untuk menghadapi masa-masa sulit bersama. Tidak semua masalah bisa langsung diselesaikan, tetapi kehadiran dan dukungan emosional dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian.

Bagi orang tua, anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang punya semua jawaban. Mereka juga membutuhkan orang tua yang bersedia hadir, mendengarkan, dan menemani.

5. Ingatan Penting agar Kita Tidak Melupakan Masa Lalu

Membaca buku sejarah atau menonton film berlatar sejarah bukan sekadar menambah wawasan. Keduanya bisa membantu kita memahami mengapa kebebasan berpendapat, keadilan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia perlu dijaga.

Kita tidak harus mengalami sebuah peristiwa secara langsung untuk belajar darinya. Mendengarkan kesaksian, membaca berbagai sumber, dan berdiskusi secara terbuka bisa menjadi cara untuk menjaga ingatan bersama sekaligus membangun kepedulian terhadap sesama.

Foto: Instagram/pal8pictures

6. Kebebasan Menulis, Membaca Buku, dan Berdiskusi Perlu Dijaga

Menulis, membaca buku, dan berdiskusi tentang pemerintah pada zaman itu menjadi hal yang sulit dan harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Dari sini, kita diingatkan bahwa kebebasan untuk mencari informasi, membaca berbagai sudut pandang, dan menyampaikan pendapat bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh, melainkan hal berharga yang bisa kita dapatkan saat ini dari hasil pengorbanan dan perjuangan keluarga, sahabat, dan orang-orang pemberani terdahulu.

Bagi Mommies dan Daddies, nilai ini juga bisa diterapkan di rumah dengan membiasakan anak membaca, bertanya, serta berdiskusi secara terbuka tanpa anak merasa takut langsung disalahkan.

7. Pentingnya Solidaritas, Terutama saat Orang Lain Membutuhkan Dukungan

Kisah Laut Bercerita juga mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu harus dijalani sendirian. Kehadiran teman, dukungan keluarga, dan kepedulian orang-orang di sekitar bisa berarti besar ketika seseorang sedang menghadapi situasi yang sulit.

Dalam kehidupan sehari-hari, Mommies dan Daddies bisa mengenalkan arti solidaritas kepada anak melalui hal-hal sederhana. Misalnya, menemani teman yang sedang sedih, tidak ikut mengejek orang lain, atau berani membantu ketika melihat seseorang diperlakukan tidak adil.

Anak juga perlu belajar bahwa peduli bukan berarti harus selalu menyelesaikan masalah orang lain. Terkadang, mendengarkan, menemani, dan mencari bantuan dari orang dewasa yang tepercaya sudah menjadi bentuk dukungan yang berarti.

BACA JUGA: Kuis: Pahlawan Muda, Seberapa Jauh Kamu Memaknai Sumpah Pemuda?

Perlu Baca Novel Laut Bercerita Dulu Sebelum Menonton?

Foto: Gramedia

Menjadi hal yang paling banyak ditanyakan, film ini bisa dinikmati sebagai karya tersendiri, meskipun membaca novel terlebih dahulu dapat membantu Mommies memahami konteks dan kedalaman karakter dengan lebih utuh.

Novel memberikan ruang bagi pembaca untuk menyelami pikiran dan perasaan tokoh melalui narasi. Sementara itu, film menghadirkan cerita melalui ekspresi, gambar, suasana, dan suara. Keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda, sehingga tidak perlu dibandingkan semata-mata berdasarkan seberapa banyak bagian cerita yang berhasil diadaptasi.

Kalau Mommies sudah membaca bukunya, menonton filmnya bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali cerita dari sudut pandang yang berbeda. Kalau belum, tidak ada salahnya menonton filmnya terlebih dahulu, lalu membaca novel untuk menggali lebih dalam.

Satu hal yang perlu diingat, film ini ditujukan untuk penonton berusia 17 tahun ke atas. Jadi, meskipun memiliki banyak bahan diskusi tentang empati dan sejarah, itu tidak berarti filmnya otomatis cocok ditonton bersama anak-anak.

Pada Akhirnya, Laut Bercerita Mengajak Kita untuk Tidak Berhenti Peduli

Salah satu pelajaran terpenting dari Laut Bercerita adalah bahwa mengingat bukan berarti terus hidup di masa lalu. Mengingat adalah cara untuk memahami apa yang pernah terjadi, menghargai mereka yang terdampak, dan belajar agar nilai-nilai kemanusiaan tidak mudah kita abaikan.

Mommies dan Daddies tidak harus selalu mengubah setiap buku atau film menjadi sesi belajar bersama anak. Namun, ketika ada kesempatan, kita bisa mengajak mereka berdiskusi tentang keberanian, kehilangan, keadilan, dan bagaimana memperlakukan orang lain dengan lebih manusiawi.

Sebab, pada akhirnya, pendidikan tidak hanya tentang membuat anak mengetahui lebih banyak hal, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang mau berpikir, berempati, dan peduli.

Laut Bercerita mengingatkan kita bahwa ada cerita-cerita yang perlu terus disampaikan dan dirawat dalam ingatan, bukan untuk membuat kita terjebak dalam kesedihan, melainkan agar kita tidak kehilangan rasa kemanusiaan.

Cover: Mommies Daily/Dhevita Wulandari

Share Article

author

Dhevita Wulandari

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan