Sorry, we couldn't find any article matching ''

7 Tanda Anak Butuh Quality Time Bersama Orang Tua, Nomor 5 Sering Nggak Disadari!
Kenali 7 tanda anak butuh quality time bersama orang tua, mulai dari mudah rewel hingga menarik diri, serta cara membangun kedekatan.
Pernah merasa anak semakin sering merengek, meminta ditemani, atau tiba-tiba ingin terus berada di dekat kita, orang tuanya? Padahal, pekerjaan sedang menumpuk dan masih banyak urusan rumah yang harus diselesaikan.
Dalam situasi seperti ini, kita mungkin menganggap anak sedang manja atau mencari perhatian. Namun, ada baiknya Mommies berhenti sejenak dan melihat apakah ia sedang membutuhkan lebih banyak waktu bersama orang tuanya.
Anak tidak hanya membutuhkan kehadiran fisik orang tua, tetapi juga perhatian dan koneksi emosional. Menurut Raising Children Network, menghabiskan waktu berkualitas bersama anak dapat memperkuat hubungan, membantu orang tua memahami kebutuhan mereka, dan membuat anak merasa lebih diperhatikan.
Lantas, apa saja tanda anak mungkin membutuhkan lebih banyak quality time bersama orang tua?
1. Anak Lebih Mudah Rewel dan Marah
Anak yang biasanya tenang mendadak mudah tersinggung, menangis karena hal kecil, atau marah ketika permintaannya tidak langsung dituruti.
Perilaku ini tentu bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti kelelahan, lapar, perubahan rutinitas, atau kesulitan mengelola emosi. Namun, jika anak lebih sering rewel ketika Mommies sedang sibuk atau tidak bisa menemaninya, coba perhatikan apakah ia sedang membutuhkan perhatian lebih.
Apa yang bisa dilakukan? Dekati anak dengan tenang dan tanyakan apa yang membuatnya kesal. Hindari langsung memarahinya. Terkadang, anak perlu merasa didengarkan terlebih dahulu sebelum bisa mengungkapkan perasaannya dengan lebih baik.

Photo by Jithin Murali on Unsplash
2. Terus Mencari Perhatian, Bahkan Saat Mommies Sibuk
Baru mulai bekerja, anak sudah memanggil berkali-kali. Saat Mommies menelepon, ia meminta ditemani bermain. Ketika Mommies mengerjakan pekerjaan rumah, ia kembali datang untuk mengajak bicara.
Anak belum tentu tahu cara menyampaikan kebutuhannya secara langsung. Ia mungkin belum bisa mengatakan bahwa dirinya ingin menghabiskan waktu bersama Mommies.
Apa yang bisa dilakukan? Coba sediakan waktu khusus selama 10–15 menit untuk bermain, membaca buku, atau mengobrol tanpa gangguan ponsel. Waktu yang singkat pun bisa menjadi momen berarti ketika Mommies benar-benar fokus pada anak.
BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri
3. Selalu Ingin Ditemani
Anak yang sebelumnya cukup mandiri tiba-tiba ingin terus berada di dekat orang tua.
Pada anak yang lebih kecil, perilaku ini bisa berkaitan dengan tahap perkembangan atau kebutuhan akan rasa aman. Pada anak yang lebih besar, perubahan tersebut mungkin muncul ketika ia sedang menghadapi situasi baru atau merasa tidak nyaman.
Jika perubahan ini cukup drastis, coba evaluasi apakah belakangan waktu kebersamaan keluarga berkurang.
Apa yang bisa dilakukan? Bangun kembali rutinitas sederhana, seperti sarapan bersama, mengobrol sebelum tidur, atau berjalan sore. Konsistensi membantu anak memiliki momen kebersamaan yang bisa ia nantikan.

Photo by Xavier Mouton Photographie on Unsplash
4. Mulai Enggan Bercerita tentang Kesehariannya
Dulu, anak selalu punya cerita sepulang sekolah. Sekarang, setiap ditanya, jawabannya hanya, “Biasa aja,” atau “Nggak ada.”
Seiring bertambahnya usia, anak memang bisa membutuhkan lebih banyak privasi. Namun, bisa juga ia belum merasa nyaman untuk berbagi cerita atau khawatir akan langsung dihakimi ketika bercerita.
Apa yang bisa dilakukan? Jangan langsung membombardir anak dengan pertanyaan. Cobalah berbagi cerita tentang hari Mommies terlebih dahulu, kemudian beri kesempatan anak untuk ikut bercerita. Ketika ia mulai terbuka, dengarkan tanpa buru-buru memberikan nasihat.
5. Lebih Memilih Gadget daripada Berinteraksi dengan Keluarga
Sepulang sekolah, anak langsung mencari ponsel atau tablet. Saat makan bersama, perhatiannya masih tertuju pada layar. Ketika diajak melakukan aktivitas keluarga, ia justru terlihat tidak tertarik.
Gadget memang bisa menjadi sarana hiburan, belajar, dan berkomunikasi dengan teman. Jadi, kebiasaan menggunakan gadget tidak otomatis berarti anak kekurangan perhatian orang tua.
Namun, jika screen time mulai menggantikan hampir semua kesempatan untuk berinteraksi dengan keluarga, Mommies perlu mengevaluasi keseimbangan aktivitas hariannya.
Apa yang bisa dilakukan? Ajak anak melakukan kegiatan yang sesuai dengan minatnya. Buat kesepakatan waktu bebas gadget, termasuk bagi orang tua, agar kebersamaan terasa lebih menyenangkan.
BACA JUGA: Mengenal Apa Itu Loneliness Pada Remaja di Era Digital. Kenapa Bisa Terjadi?
6. Sering Meminta Mommies Melihat atau Memuji Hal yang Dilakukannya
“Mama, lihat gambarku!”
“Ma, aku bisa, lho!”
Anak ingin menunjukkan hasil karyanya, kemampuan baru, atau pencapaian kecil yang membuatnya bangga. Namun, ketika orang tua terlalu sibuk untuk merespons, ia mungkin terus mengulang permintaannya atau terlihat kecewa.
Apa yang bisa dilakukan? Luangkan waktu untuk benar-benar melihat apa yang ingin ditunjukkan anak. Mommies tidak harus selalu memberikan pujian besar. Cukup tunjukkan ketertarikan, misalnya dengan bertanya, “Ceritain dong, kamu bikin ini bagaimana?”
Respons sederhana tersebut menunjukkan bahwa Mommies menghargai usaha dan cerita anak, bukan sekadar hasil akhirnya.

Photo by Vikram Chouhan Udaipur Web Designer on Unsplash
7. Tampak Murung atau Mulai Menarik Diri
Anak yang biasanya bersemangat saat diajak bermain atau melakukan kegiatan favorit mendadak lebih banyak diam. Ia juga mungkin mulai jarang bercerita atau memilih menyendiri.
Perubahan suasana hati seperti ini perlu diperhatikan. Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami hal tersebut karena kurangnya quality time. Ia mungkin sedang menghadapi masalah pertemanan, tekanan sekolah, kecemasan, atau persoalan emosional lainnya.
Apa yang bisa dilakukan? Dekati anak dengan lembut tanpa memaksanya bercerita. Mommies bisa mengatakan, “Mama lihat belakangan kamu lebih banyak diam. Ada sesuatu yang lagi kamu pikirkan? Mama siap mendengarkan kalau kamu mau cerita.”
Jika perubahan berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu kesehariannya, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional yang sesuai.
BACA JUGA: Jangan Langsung Murka saat Tahu Anak Sering Bohong, Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya
Bagaimana Cara Memberikan Quality Time yang Berarti bagi Anak?
Berikut beberapa cara yang bisa dicoba:
- Fokus pada anak. Simpan ponsel dan berikan perhatian penuh, meskipun hanya selama 10–15 menit.
- Biarkan anak memilih aktivitas. Ikuti minatnya, mulai dari menggambar, bermain bola, sampai membicarakan hobi favoritnya.
- Dengarkan tanpa buru-buru mengoreksi. Tidak semua cerita membutuhkan nasihat. Terkadang, anak hanya ingin didengarkan.
- Bangun rutinitas bersama. Misalnya, sarapan, makan malam, atau mengobrol sebelum tidur.
- Sesuaikan dengan usia anak. Anak kecil mungkin senang bermain bersama, sedangkan anak remaja bisa lebih nyaman mengobrol sambil berkendara atau melakukan hobi bersama.
Jika memiliki lebih dari satu anak, Mommies juga bisa menyediakan waktu berdua secara bergantian.
Cover: National Cancer Institute on Unsplash
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS