Athanacio Lucky Prabaswara: Atlet Muda Olimpiade Matematika yang Mengukir Prestasi di Usia TK  

Education

Sisca Christina・in 6 hours

detail-thumb

Kegemaran Athanacio Lucky Prabaswara (Tony) pada matematika mengantarkannya meraih 13 medali dari berbagai ajang math olympic di usianya yang baru 5 tahun.

Selama berbincang dengan Athanacio Lucky Prabaswara yang akrab disapa Tony, didampingi sang mama Sisilia Lucky Ajeng Argandini (Ajeng), saya sungguh terkesan. Selain karena banyaknya prestasi yang sudah Tony capai, juga dengan kisah perjalanan dirinya hingga bisa sampai di titik ini.

Tony yang saat ini masih duduk di bangku TK B dan bercita-cita menjadi dokter, telah mengikuti olimpiade matematika sejak usia empat tahun. Di Olimpiade pertamanya yaitu Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) Heat Round 2025, ia meraih medali silver. Kini, total 13 medali dari bronze, silver hingga gold, telah ia kantongi.

Di balik segudang prestasi yang Tony raih di usianya yang masih sangat muda ini, ada cerita menarik tentang bagaimana Tony memandang matematika, orang tua yang suportif, dan kakak-kakak yang menginspirasi.

Athanacio Lucky Prabaswara: Menunjukkan Minat dan Potensi Pada Matematika Sejak Usia 1 Tahun

“Matematika itu seru!” ujar Tony, “Seru karena angka, hehehe,” sambungnya. Bagi Tony, kumpulan angka-angka di soal matematika itu membuat Tony penasaran, dan ia ingin memecahkanya.

Sejak Tony berusia 1 tahun, sang mama memaparkan Tony pada pengenalan akan angka lewat lagu-lagu maupun gambar. Bukan agar Tony segera mahir, namun agar Tony bisa punya kegiatan sendiri, sehingga sang mama bisa mengerjakan tugas rumah tangga.

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony dengan kegiatan sehari-hari (dokumentasi pribadi)

Ternyata, Tony menikmati dan menyimak stimulasi yang mama berikan. Di usia 1,5 tahun, Tony sudah bisa menghitung hingga 20 dan 50. Di usia dua tahun, Tony sudah bisa menghitung hingga 100, menghitung mundur dari 100, menulis angka, menyebut angka dengan lancar, hingga mengurutkan angka. Di usianya yang ketiga, Tony mulai tertarik dengan perkalian, dan ingin tahu bagaimana caranya.

Jeli menangkap minat dan potensi Tony di bidang matematika, seluruh keluarga kemudian mendukung dan memfasilitasi Tony untuk mengembangkan potensinya.

“Waktu kami tahu kemampuan dia, kami sadar potensi Tony tak bisa disepelekan. Lalu saya beli number blocks untuk membantu menjelaskan Tony tentang perkalian, dan ia suka sekali. Kakak-kakaknya juga mencoba memberi soal-soal pada Tony, ia suka dan mau lagi. Akhirnya mengerjakan soal-soal matematika sudah menjadi rutinitas hingga sekarang,” kisah Ajeng.

Baca juga: Linggar Mandali Tanajiwa: Mengasah Bakat Tanpa Beban

Terinspirasi oleh Kedua Kakaknya yang Juga Atlet Olimpiade Matematika

Ketertarikan Tony pada dunia matematika rupanya tak lepas dari pengaruh kedua kakaknya yang juga merupakan atlet olimpiade matematika.

“Kakak-kakak Tony adalah inspirasi bagi Tony. Kakak pertama Tony mulai mengikuti olimpiade matematika pertamanya di kelas 4 SD. Nah, kakak kedua Tony, ngefans dengan kakak pertama, lalu mengikuti jejaknya. Kemudian Tony, juga nge-fans dengan kakak kedua. Jadi mereka saling nge-fans, gitu, lho. Kemudian kakak-kakaknya pun mendukung penuh potensi Tony.

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony bermain catur (dokumentasi pribadi)

“Dengan kemampuan yang Tony miliki, kami tak ingin ia berhenti sampai di sini. Kami melihat olimpiade matematika sebagai jalur yang patut dicoba. Jadi, ketika ada kesempatan mengikuti olimpiade matematika kategori TK, kami pun bersemangat mempersiapkannya menjadi atlet olimpiade matematika,” tutur Ajeng.

Bagi sang mama sendiri, mempersiapkan Tony terjun ke ajang olimpiade matematika bukan hal baru. Sebab kedua kakaknya pun sering mengikuti olimpiade matematika sejak di bangku SD. Namun, Tony memulai lebih muda dari kakak-kakaknya, sehingga sang mama perlu mengemas cara belajar sesuai dengan usia Tony.

“Setahun kami manfaatkan untuk melatih Tony dengan soal-soal olimpiade matematika TK. Ternyata soal-soalnya tak bisa dianggap remeh, lho, hehehe. Jadi, menurut saya Tony butuh drill yang terarah tetapi menyenangkan. Setelah dia siap, lalu kami tawari apakah ingin mengikuti olimpiade seperti kakak-kakaknya, dan dia mau,” kenang Ajeng.

Baca juga: Aleandra Rea Nathani: Potret Siswa Homeschooling Multitalenta, Dari Medali Emas di Gymnastic Hingga Aksi Sosial

Belajar Matematika adalah Ajang Bermain Bagi Tony

Setiap hari, Tony belajar mengerjakan soal-soal matematika sekitar 15 menit sehari. “Namun, sekarang dari Tony sendiri timbul kebutuhan untuk menyelesaikan soal-soal lebih banyak setiap harinya. Jika demikian, biasanya diatur waktunya hari ini latihan, besok dibahas,” papar Ajeng.

Menariknya, bagi Tony, setiap hari mengerjakan soal-soal itu layaknya bermain, dan ia menikmati setiap proses memecahkan soal matematika.

“Tony girang sekali kalau ada PR, ingin segera mengerjakan. Kalau sudah selesai dia bilang ‘horeeee!’,” kata Ajeng menirukan Tony.

“Tony juga suka eksplorasi misalnya mencari cara hitung cepat di ponsel papa, lalu didemonstrasikan ke saya. Setelah itu dia kulik, dan dia kemudian tahu bahwa cara A tak bisa digunakan ke soal B, misalnya. Ini dia jadi ketagihan menjelaskan matematika juga, hehehe,” sambung Ajeng.

Mengikuti Olimpiade Matematika Tanpa Beban

Hingga saat ini, Tony sudah mengikuti total 14 olimpiade matematika tingkat TK berskala internasional, dan sudah mengantongi 3 medali gold, 6 silver, 4 bronze dan 1 honorable mention.

“Kalau aku dapat medali, aku dapat hadiah dari papa dan engkong. Kalau dapat gold, hadiahnya lebih besar lagi dari papa,” ujar Tony sambil tertawa bahagia.

Di setiap proses Tony mengikuti olimpiade, sang mama selalu melakukan riset terlebih dahulu, berdiskusi dengan keluarga, melakukan persiapan, lalu bertanya kepada Tony apakah ia ingin mengikuti olimpiade atau tidak. “Sejauh ini jawabannya selalu mau, dan dia semangat banget! Bahkan selesai satu olimpiade dia lansung tanya: What’s next, Mama? Udah print soalnya belum? Pernah juga Tony sakit jadi nggak ikut SEAMO, dia malah sedih,” imbuh Ajeng mama sambil tersenyum.

“Jadi, tak pernah ada paksaan, apalagi ambisi orang tua. Kami tidak mengukur apalagi membandingkan Tony dengan anak lain. Kami fokus ke Tony kelebihannya apa, lalu memfasilitasi, mengarahkan, dan mendampinginya. Kami juga memberi kesempatan kepada Tony untuk berkenalan dengan kegiatan lain agar seimbang, seperti musik. Satu hal yang pasti, kami ingin Tony menjalani setiap kegiatannya dengan fun, bukan dengan tekanan.”

Baca juga: Jesslyn Anastasia Tambunan: Mengubah Hobi Menjadi Prestasi dengan Suara Emasnya

Tetap Bermain Layaknya Anak-anak

Foto: Tony sedang berenang (dokumentasi pribadi)

Dengan keseharian yang diwarnai dengan “bermain matematika” bukan berarti setiap harinya Tony belajar terus dengan durasi panjang dan tak kenal lelah.

Justru, rutinitas Tony sehari-hari tak ubahnya anak-anak seusianya. Setiap hari pergi ke sekolah diantar sang Mama, bermain bersama teman-teman, mengikuti berbagai les seperti Kumon, piano, catur dan bahasa Inggris. Akhir pekan adalah hari bebas les untuk Tony.

Tony yang meraih medali gold pertamanya di olimpiade kelima: TIMO Final 2026, dikenal memiliki kemampuan sosial yang baik. “Ia gampang lengket sama anak-anak, tetap bermain juga, dan suka playdate dengan teman-temannya. Dia suka sekali kalau olimpiade dilakukan secara tatap muka, karena bisa bertemu dengan anak-anak lain,” lanjut Ajeng.

Menjadi Anak Mandiri, Percaya Diri dan Tetap Rendah Hati

Athanacio Lucky Prabaswara

Foto: Tony bersama keluarga (dokumentasi pribadi)

Sebagai orang tua, Ajeng dan suami hanya bertugas mengasah potensi Tony sejak awal, agar semakin terbiasa di SD, SMP dan semakin mandiri di SMA dan universitas.

“Harapannya, jika Tony sudah terbiasa mengikuti lomba, maka Tony akan memiliki portofolio yang menjadi bekal yang bermanfaat bagi perjalanan pendidikan dia ke depan, termasuk jika ingin meraih beasiswa. Selagi saya masih kuat, saya akan terus mendukung dan mendampingi.

“Kami ingin Tony tumbuh menjadi anak mandiri dan percaya diri. Ternyata, melalui latihan-latihan soal harian turut membentuk kedua hal itu pada diri Tony. Ke depannya, semoga Tony juga bisa mengerjakan soal sendiri danpa didampingi nantinya, dan juga membantu mengajarkan temannya.

“Saat ini, di sekolah, walau dia memiliki kemampuan akademis yang bisa dibilang di atas rata-rata, namun menurut gurunya, Tony bisa menahan diri. Tidak sombong, tidak meremehkan atau sok tahu, dan mau dimintakan tolong oleh guru untuk membantu mengajar temannya,” tutup Ajeng penuh syukur.

Baca juga: Oseano Janardhana: Dalang Cilik yang Lestarikan Wayang Kulit Sejak Kecil

Cover: Dokumentasi pribadi Athanacio Lucky Prabaswara dan Mama Ajeng.