Anak Remaja Mau Ikut Halloween Party? Jangan Langsung Bilang Iya, Ini 7 Hal yang Perlu Dibicarakan!

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 7 hours

detail-thumb

Anak remaja mau ikut Halloween party? Ini 7 hal yang perlu dibicarakan orang tua sebelum memberi izin, mulai dari keamanan, pergaulan, hingga batasan pribadi anak.

“Ma, teman-teman aku mau Halloween party. Aku boleh ikut, nggak?”

Buat Mommies yang punya anak remaja, pertanyaan seperti ini mungkin terdengar sederhana. Apalagi, Halloween party bisa menjadi salah satu kesempatan bagi anak untuk bersenang-senang, mengekspresikan diri lewat kostum, dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.

Di sisi lain, sebagai orang tua, wajar jika muncul banyak pertanyaan. Acaranya di mana? Siapa saja yang datang? Ada orang dewasa yang mengawasi atau tidak? Pulangnya jam berapa?

Belum lagi kekhawatiran soal kemungkinan alkohol, rokok, vape, atau situasi yang membuat anak merasa tidak nyaman.

Lantas, apakah sebaiknya orang tua langsung melarang anak ikut Halloween party?

Tidak selalu. Keputusan memberikan izin sebaiknya mempertimbangkan usia dan kesiapan anak, karakter acaranya, serta seberapa jelas informasi yang bisa didapatkan orang tua.

Jadi, sebelum menjawab “boleh” atau “tidak”, yuk, bicarakan tujuh hal berikut bersama anak remaja!

Foto: Gabe Pierce/Unsplash

1. Pastikan orang tua tahu acara Halloween party-nya seperti apa

Halloween party bisa berupa pesta kostum di rumah teman, acara sekolah, kegiatan komunitas, atau pesta di tempat umum. Masing-masing tentu punya situasi dan risiko yang berbeda.

Tanyakan beberapa hal berikut kepada anak:

  • Acaranya diadakan di mana dan siapa penyelenggaranya?
  • Siapa yang mengundang dan siapa saja yang akan datang?
  • Apakah acara ini khusus undangan atau terbuka untuk umum?
  • Apakah ada orang dewasa yang bertanggung jawab selama acara berlangsung?

Jika pesta diadakan di rumah teman, Mommies bisa menghubungi orang tua tuan rumah untuk memastikan detail acara dan pengawasannya.

Ini bukan berarti Mommies tidak percaya kepada anak. Justru, mengetahui lingkungan tempat anak menghabiskan waktu merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Mama mau tahu acaranya seperti apa supaya kita bisa sama-sama memastikan kamu aman. Boleh ceritakan rencananya?”

Baca juga: 13 Soft Skills yang Dimiliki Remaja Sebelum Lulus SMA

2. Bicarakan soal alkohol, rokok, vape, dan hal-hal yang berisiko

Jelaskan bahwa pesta tidak berarti semua hal yang dilakukan orang lain otomatis aman atau boleh diikuti. Ada kemungkinan anak menjumpai teman yang membawa alkohol, rokok, vape, atau zat lainnya.

Daripada sekadar mengatakan, “Pokoknya jangan macam-macam!”, ajak anak membahas apa yang akan ia lakukan jika situasi tersebut benar-benar terjadi.

Misalnya:

  • Bagaimana jika ada teman yang menawarkan alkohol atau vape?
  • Bagaimana jika teman dekatnya ikut mencoba?
  • Bagaimana jika pesta yang awalnya aman ternyata berubah menjadi situasi yang tidak nyaman?

Tekankan bahwa anak tidak harus ikut-ikutan demi diterima oleh kelompoknya. Ia boleh menolak, menjauh, atau menghubungi Mommies untuk meminta bantuan.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kalau ternyata ada hal yang bikin kamu nggak nyaman, kamu boleh pergi. Mama lebih ingin kamu pulang dengan selamat daripada memaksakan diri bertahan karena nggak enak sama teman.”

Foto: Gabriel Martin/Unsplash

3. Sepakati jam pulang dan transportasi sebelum berangkat

Jangan menunggu sampai anak sudah berada di lokasi untuk membicarakan jam pulang.

Sepakati waktu berangkat, batas waktu pulang, dan siapa yang akan menjemput atau mengantar anak. Jika anak menggunakan transportasi online, pastikan ia tahu cara memeriksa identitas pengemudi dan detail kendaraannya.

Buat juga kesepakatan tentang apa yang harus dilakukan jika acara selesai lebih larut dari rencana atau lokasi pesta berpindah.

Yang tidak kalah penting, pastikan anak tahu bahwa ia boleh menelepon Mommies kapan saja jika membutuhkan bantuan untuk pulang, termasuk ketika ia terlanjur berada dalam situasi yang tidak aman.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kita sepakati jam pulangnya, ya. Kalau ada perubahan rencana atau kamu butuh dijemput lebih cepat, langsung kabari Mama.”

Baca juga: 10 Ide Kostum Halloween Anak yang Lucu Unik dan Mudah Dibuat di Rumah

4. Pastikan anak pergi bersama teman yang dikenal

Bagi remaja, pergi bersama teman-teman bisa terasa lebih menyenangkan daripada datang sendiri. Namun, Mommies tetap perlu mengetahui siapa saja yang akan pergi bersama anak.

Kenali teman-temannya, termasuk teman yang mungkin belum pernah Mommies temui. Jika memungkinkan, berkenalanlah dengan orang tua mereka juga.

Penting bagi anak untuk memiliki teman yang bisa dipercaya dan bersedia saling membantu jika terjadi sesuatu.

Ingatkan anak untuk tidak meninggalkan teman yang sedang kesulitan sendirian, tidak ikut berpindah lokasi tanpa mengetahui tujuannya, serta tidak mudah menerima ajakan dari orang yang tidak dikenal.

Foto: Tucker Good/Unsplash

5. Bicarakan soal batasan pribadi dan tekanan dari teman sebaya

Pesta dengan suasana meriah, musik, kostum, dan banyak teman bisa membuat anak merasa perlu mengikuti arus agar tidak dianggap berbeda.

Karena itu, percakapan sebelum pesta sebaiknya tidak hanya membahas aturan, tetapi juga bagaimana anak mengenali batasan pribadinya.

Misalnya, anak perlu tahu bahwa ia berhak menolak ketika ada orang yang memaksa melakukan sesuatu, mengambil foto atau video yang membuatnya tidak nyaman, menyentuh tanpa persetujuan, atau mengajaknya melakukan hal yang bertentangan dengan nilai dan keinginannya.

Bicarakan pula soal foto dan video yang diunggah ke media sosial. Ingatkan anak untuk meminta izin sebelum mengunggah foto orang lain, serta berpikir dua kali sebelum membagikan konten yang dapat mempermalukan dirinya atau teman-temannya.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kamu nggak harus melakukan sesuatu hanya supaya teman-teman suka sama kamu. Kalau kamu nggak nyaman, bilang tidak itu boleh.”

Baca juga: Toxic Friendship pada Remaja: 7 Tanda dan Cara Menghadapinya

6. Sepakati aturan komunikasi selama acara

Mommies mungkin ingin anak memberi kabar setiap beberapa menit. Sementara itu, anak remaja bisa merasa kesal jika harus terus-menerus membalas pesan saat sedang berkumpul dengan teman.

Jalan tengahnya adalah membuat kesepakatan yang masuk akal bagi kedua pihak.

Contohnya:

  • Anak mengirim pesan saat sudah tiba di lokasi.
  • Anak memberi kabar jika lokasi atau rencana berubah.
  • Ponsel tetap aktif dan memiliki baterai yang cukup.
  • Anak membalas pesan atau panggilan orang tua dalam situasi yang sudah disepakati.
  • Anak menghubungi orang tua jika terjadi sesuatu yang membuatnya tidak aman.

Jelaskan bahwa komunikasi tersebut bukan cara untuk mengontrol setiap gerak-geriknya, melainkan bentuk tanggung jawab dan upaya menjaga keselamatan.

Anak Remaja Mau Ikut Halloween Party? Ini 7 Hal yang Perlu Dibicarakan
Foto: sina rezakhani/Unsplash

7. Tegaskan bahwa anak boleh meminta bantuan tanpa takut dimarahi

Ini mungkin menjadi salah satu kesepakatan paling penting sebelum anak berangkat.

Ada kalanya anak menyadari bahwa situasi pesta tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Mungkin ada teman yang mabuk, suasana berubah tidak terkendali, atau anak merasa terancam oleh seseorang.

Dalam situasi seperti itu, anak perlu tahu bahwa ia bisa meminta bantuan orang tua tanpa harus terlebih dahulu memikirkan hukuman yang mungkin diterimanya.

Kalimat yang bisa orang tua gunakan: “Kalau ada apa-apa, telepon Mama. Kita urus dulu supaya kamu aman. Mama akan mendengarkan ceritamu, dan kita bisa membicarakan yang lain setelahnya.”

Jadi, bolehkah anak remaja ikut Halloween party?

Jika penyelenggara tidak jelas, pengawasan orang dewasa tidak tersedia padahal dibutuhkan, atau detail lokasi dan transportasi tidak bisa dipastikan, Mommies berhak menunda atau menolak izin.

Sebaliknya, jika acaranya jelas, pengawasannya memadai, dan anak bersedia menjalankan kesepakatan, Mommies bisa mempertimbangkan untuk memberikan izin sesuai usia dan kesiapan anak.

Cover: Daisy Anderson/Pexels