Sorry, we couldn't find any article matching ''

Viral Orang Tua Kasari Anak di Lift, Ini 6 Cara Menegur Anak Tanpa Kekerasan
Video orang tua mengasari anak di lift viral dan memicu keprihatinan. Kenali dampak membentak anak dan 6 cara menegur anak tanpa kekerasan.
Video yang memperlihatkan orang tua memperlakukan anak dengan kasar di dalam lift baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial. Rekaman CCTV tersebut turut diberitakan oleh media Malaysia, The Reporter, pada 21 Oktober 2026 dan memicu kekhawatiran publik tentang perlindungan anak. Di media sosial Indonesia, muncul pula dugaan mengenai asal orang tua dalam video tersebut yang dibagikan netizen. Namun, identitas dan latar belakang mereka belum terverifikasi secara independen.
Dalam video tersebut, terlihat seorang ibu yang menggoyang-goyangkan stroller yang sedang diduduki anak laki-lakinya dengan keras, lalu disusul seorang laki-laki dewasa yang menendang stroller tersebut. Ibu dalam video tersebut kemudian menarik paksa anak laki-lakinya hingga membuat anak tersebut terjedut ke pojok lift. Setelah si anak laki-laki tidak berada di atas stroller, anak yang lebih kecil menaikinya. Namun, ibu tersebut masih tetap menyentil dan mendorong anak laki-lakinya yang lebih besar meski ada orang lain yang baru masuk ke dalam lift.
Terlepas dari siapa orang tua dalam video tersebut, ada satu hal yang penting untuk kita bahas bersama: apa dampaknya bagi anak ketika orang yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru membentak, mempermalukan, atau menyakitinya? Bentakan dan kekerasan fisik memang tidak sama, tetapi keduanya dapat menjadi bagian dari pola disiplin yang menyakiti anak.
Kita semua tahu, mengasuh anak bukan perkara mudah. Ada kalanya Mommies dan Daddies kehabisan kesabaran, apalagi ketika anak tantrum atau susah dikasih tahu di tempat umum. Namun, merasa marah adalah hal yang manusiawi, sedangkan menyakiti anak bukanlah cara yang tepat untuk mendisiplinkannya.

Foto: Instagram/thereportermy
Apa dampak membentak dan memperlakukan anak dengan kasar?
Membentak anak secara berulang, mempermalukannya, atau menggunakan kekerasan fisik dapat meningkatkan risiko masalah emosi dan perilaku, termasuk kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, dan perilaku agresif. Namun, dampaknya berbeda pada setiap anak, tergantung pengalaman, tingkat keparahan, dan dukungan yang ia terima.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), hukuman fisik, membentak, dan mempermalukan anak tidak efektif untuk membangun perilaku baik dalam jangka panjang. Sebaliknya, cara-cara tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko masalah perilaku dan kesehatan mental.
Berikut beberapa dampak yang perlu Mommies dan Daddies pahami.
1. Anak bisa merasa takut dan kehilangan rasa aman
Ketika anak berulang kali dibentak, dihina, diancam, atau diperlakukan secara kasar oleh orang tua, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman bisa terasa menakutkan.
Sebagian anak menjadi lebih mudah cemas, menarik diri, atau takut melakukan kesalahan. Pengalaman tersebut juga dapat memengaruhi kepercayaan dirinya dan cara ia memandang dirinya.
2. Berisiko mengalami masalah kesehatan mental
Penelitian yang dirangkum AAP mengaitkan disiplin verbal yang keras dengan peningkatan gejala depresi dan masalah perilaku pada remaja.
Jika anak terus-menerus menghadapi stres berat tanpa dukungan yang memadai, respons stres tubuhnya juga dapat terganggu. Harvard Center on the Developing Child menjelaskan bahwa stres yang intens, berulang, dan berkepanjangan tanpa dukungan orang dewasa yang suportif dapat memengaruhi perkembangan otak dan kesehatan dalam jangka panjang.
Namun, bukan berarti setiap anak yang pernah dibentak pasti mengalami trauma. Dampaknya bergantung pada banyak faktor, termasuk frekuensi, tingkat keparahan, usia anak, dan dukungan yang ia terima.
3. Anak berisiko meniru perilaku agresif
Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang tua terbiasa menggunakan bentakan, ancaman, atau pukulan untuk menyelesaikan masalah, anak bisa menganggap agresi sebagai cara yang wajar untuk menghadapi konflik.
Dalam beberapa kasus, pola ini dapat meningkatkan risiko anak berperilaku agresif terhadap teman, terlibat dalam perundungan (bullying), atau membawa pola komunikasi yang tidak sehat ke hubungan saat dewasa, termasuk hubungan romantis.
Meski demikian, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya penentu. Tidak semua anak yang mengalami kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan. Lingkungan yang suportif, hubungan yang aman, dan bantuan profesional dapat membantu memutus pola tersebut.
BACA JUGA: Bisa Bikin Anak Trauma, Ketahui 9 Dampak Memarahi Anak!
6 Cara menegur anak tanpa membentak atau melakukan kekerasan
Lalu, bagaimana kalau anak berulah saat sedang di mal, restoran, atau bahkan di dalam lift? Apakah orang tua harus membiarkannya begitu saja?
Tentu tidak, Mommies dan Daddies. Anak tetap membutuhkan batasan dan disiplin. Bedanya, disiplin bertujuan mengajarkan perilaku yang tepat, bukan membuat anak takut kepada orang tuanya.
Ini beberapa cara yang bisa Mommies dan Daddies lakukan untuk menegur anak dengan baik dan tenang tanpa kekerasan.

Foto: Anna Shvets/Pexels
1. Tenangkan diri sebelum bereaksi
Ketika emosi mulai naik, ambil napas perlahan dan beri jeda beberapa detik sebelum berbicara. Jika anak berada dalam situasi berbahaya, amankan terlebih dahulu dengan tindakan yang tegas tetapi tidak menyakiti.
Kalau merasa hampir kehilangan kendali, minta bantuan Daddies atau orang dewasa tepercaya untuk mengambil alih sejenak.
2. Turunkan posisi tubuh dan gunakan suara tegas
Usahakan sejajar dengan tinggi anak, jika situasinya memungkinkan. Tatap anak dengan tenang dan gunakan kalimat singkat yang mudah dipahami.
Misalnya, “Kakak, berhenti dulu, ya. Memukul itu menyakiti orang lain.”
Tegas tidak harus keras. Anak perlu memahami batasannya tanpa merasa dirinya sedang diancam.
3. Tegur perilakunya, bukan harga dirinya
Hindari ucapan seperti, “Kamu nakal sekali!” atau “Kamu memang bikin Mama malu!”
Fokus pada perilaku yang perlu diperbaiki. Katakan, “Mama tidak mengizinkan kamu melempar barang karena bisa melukai orang lain.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa perilakunya bisa salah tanpa harus merasa dirinya anak yang buruk.
4. Kalau tantrum di tempat umum, prioritaskan keamanan
Saat anak menangis atau mengamuk di tempat umum, tidak perlu buru-buru membuatnya diam hanya karena malu dilihat orang lain.
Bila memungkinkan, ajak anak ke tempat yang lebih tenang. Pastikan ia aman, kurangi stimulasi, dan bantu ia menenangkan diri. Setelah emosinya mereda, barulah ajak bicara tentang apa yang terjadi.
5. Berikan konsekuensi yang masuk akal dan konsisten
Disiplin bukan berarti harus menghukum sekeras mungkin. Konsekuensi sebaiknya berhubungan dengan perilaku anak.
Misalnya, jika anak melempar mainan, mainan tersebut disimpan terlebih dulu. Jelaskan alasannya dengan tenang dan konsisten.
Anak perlu memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensinya, bukan sekadar patuh karena takut dimarahi.
6. Ajarkan cara memperbaiki kesalahan
Setelah situasi tenang, ajak anak memahami dampak perbuatannya dan memikirkan cara memperbaiki keadaan. Jika ia menyakiti teman, misalnya, bantu ia memahami perasaan temannya dan cari cara untuk memperbaikinya.
Orang tua juga perlu memberi contoh. Jika Mommies atau Daddies telanjur membentak, akui kesalahan dan minta maaf tanpa menyalahkan anak. Meminta maaf bukan berarti kehilangan wibawa, melainkan menunjukkan tanggung jawab.
BACA JUGA: Jangan Langsung Marah! 7 Cara Menegur Anak Remaja Tanpa Memicu Pertengkaran di Rumah
Bagaimana jika orang tua telanjur sering membentak?

Foto: Monstera Production/Pexels
Jangan langsung merasa semuanya sudah terlambat, Mommies. Hubungan orang tua dan anak masih bisa diperbaiki melalui perubahan perilaku yang konsisten, komunikasi yang hangat, dan rutinitas yang membuat anak merasa aman.
Namun, jika anak terlihat terus-menerus ketakutan, mengalami perubahan perilaku yang signifikan, sulit tidur, atau menunjukkan kecemasan berkepanjangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Jika orang tua merasa sulit mengendalikan amarah atau khawatir akan menyakiti anak, mencari bantuan profesional juga merupakan langkah yang bertanggung jawab.
Pada akhirnya, anak memang perlu belajar mengenali batasan, menghormati orang lain, dan bertanggung jawab atas perilakunya. Namun, semua itu tidak harus diajarkan melalui rasa takut.
Mommies dan Daddies tidak harus menjadi orang tua yang selalu sabar setiap saat. Yang penting, kita mau belajar mengelola emosi, memperbaiki kesalahan, dan menciptakan rumah yang aman bagi anak untuk tumbuh. Sebab, cara kita memperlakukan anak hari ini ikut membentuk bagaimana mereka belajar memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain kelak.
Cover: Monstera Production/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS