
Anak bertengkar dengan teman? Kenali kapan orang tua perlu turun tangan dan cara mengajarkan anak menyelesaikan konflik tanpa mengambil alih masalahnya.
Suatu hari, anak Mommies pulang ke rumah dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca. Saat ditanya, ternyata ia baru saja bertengkar karena temannya memamerkan mobil-mobilan baru, tetapi menolak meminjamkannya kepada anak Mommies, padahal teman-temannya yang lain boleh meminjamnya.
Sebagai orang tua, naluri pertama kita tentu ingin langsung pasang badan dan membela anak tersayang. Namun, di sisi lain, kita juga paham bahwa konflik pertemanan anak adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang mereka.
Lantas, di mana letak batasan yang pas? Banyak orang tua yang sering serba salah dalam menemukan keseimbangan antara terlalu cepat campur tangan dan membiarkan anak berjuang sendirian menghadapi masalah yang belum sanggup mereka atasi.
Sebenarnya, beberapa perselisihan justru memberikan kesempatan berharga bagi anak untuk berlatih komunikasi dan memecahkan masalah. Namun, ada pula kondisi tertentu yang melibatkan intimidasi, pengucilan berulang, hingga kekerasan fisik yang memang membutuhkan intervensi orang dewasa. Kuncinya adalah melihat sifat konflik, kemampuan anak untuk mengatasinya, serta apakah kesehatan mental dan keselamatan fisik anak terancam.
BACA JUGA: Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan

Memperhatikan anak berjuang menghadapi masalah pertemanan memang bisa membuat hati orang tua ikut mengelus dada. Sangat manusiawi jika timbul dorongan kuat untuk segera turun tangan. Namun, apakah langsung melangkah ke garis depan selalu menjadi keputusan yang tepat? Ataukah orang tua sebaiknya tetap berada di pinggir lapangan saat anak mengalami konflik?
Melansir dari Highlights, membiarkan anak belajar mengurai masalahnya sendiri sebenarnya memberikan dampak positif bagi tumbuh kembangnya.
“Itu sangat tergantung pada apa masalahnya,” ungkap Dr. Deborah Gilboa, seorang pakar pengasuhan dan ketahanan anak (parenting and resiliency expert). “Penting untuk diingat bahwa sebagian besar teman masa kecil hadir sebagai tempat berlatih, bukan untuk selamanya. Sebagai orang tua, kita harus memperlakukan hubungan pertemanan ini sebagaimana mestinya, yaitu sebagai kesempatan berharga untuk belajar, berdiskusi, tumbuh, dan bersenang-senang.”
Dana Kerford, seorang pengajar, pakar pertemanan, sekaligus pendiri program kesejahteraan sosial-emosional anak, menjelaskan bahwa keinginan orang tua untuk langsung campur tangan sebenarnya berawal dari niat yang sangat baik.
“Rasa cinta yang orang tua rasakan untuk anak itu sangat murni dan mendalam,” ujar Dana Kerford, melansir dari ABC News Australia. “Tetapi begitu tahu anak kita tersakiti oleh anak lain, sosok ibu yang tadinya penuh kehangatan bisa seketika berubah menjadi ‘Mama Bear’ yang siap menyerang. Kehangatan dan kasih sayang pun berubah menjadi rasa marah.”
BACA JUGA: Anak Menjadi Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua
Sebuah perselisihan kecil sebenarnya tidak selalu membutuhkan hakim orang dewasa untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika anak-anak berada dalam kondisi aman secara fisik, konfliknya relatif ringan, dan kedua belah pihak memiliki kesempatan yang sama untuk mengekspresikan diri, mengambil jarak adalah hal bijaksana yang bisa dilakukan orang tua ketika anak bertengkar dengan temannya.
Sebagai contoh, dua anak mungkin berbeda pendapat soal aturan permainan atau bertengkar hanya karena memiliki pendapat berbeda tentang warna langit. Jika mereka masih bisa berbicara tanpa ancaman atau intimidasi, berikan mereka waktu untuk mencari titik tengah alih-alih langsung menentukan siapa pemenangnya.
Mommies dan Daddies bisa tetap berada di dekat mereka tanpa perlu mengambil alih pembicaraan. Ini menyampaikan pesan bahwa kita selalu ada jika dibutuhkan, sekaligus memberi ruang bagi anak untuk bernegosiasi, berkompromi, dan belajar bahwa perselisihan tidak selalu membutuhkan campur tangan orang dewasa.

Meskipun emosi orang tua kerap terpancing saat anak bertengkar di sekolah, Dana Kerford menekankan pentingnya untuk tidak langsung terlibat dalam sebagian besar dinamika perselisihan anak. Melansir dari ABC News Australia, berikut adalah lima alasannya.
Melibatkan orang tua dari teman anak Mommies sering kali membuat anak merasa malu dan canggung, bahkan bisa mengikis rasa percaya antara anak dan orang tua.
Sekeras apa pun kita mencoba melihat dari berbagai sudut pandang, orang tua secara alami pasti memiliki bias terhadap anaknya sendiri.
Saat membayangkan hal buruk terjadi pada anak, tubuh kita merespons secara naluriah. Maksudnya memang baik, yaitu untuk melindungi, tetapi reaksi yang terlalu emosional jarang menghasilkan solusi.
Masalah yang menurut kita sangat besar bisa jadi dianggap sepele oleh anak kita, atau sebaliknya. Boleh jadi, esok harinya anak-anak sudah bermain bersama lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
Percakapan antarorang tua mengenai konflik anak sering kali berujung pada sikap defensif. Ini tidak hanya memperkeruh suasana, tetapi juga merenggut kesempatan berharga bagi anak untuk belajar mengatasi konflik secara mandiri.
BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri
Meski dalam banyak situasi orang tua disarankan menjadi penonton yang suportif, Dr. Deborah Gilboa menegaskan satu pengecualian penting: orang tua wajib mengambil tindakan jika anak mengalami bahaya secara fisik maupun emosional.
Melansir dari Raising Guide, intervensi orang dewasa sangat diperlukan ketika situasi pertemanan sudah tidak lagi aman atau berdampak buruk pada kesejahteraan anak.
“Apakah yang terjadi dalam pertemanan itu benar-benar membahayakan anak Anda? Jika itu berbahaya, maka ya, kita harus mengintervensi,” tegas Dr. Gilboa.
Mommies dan Daddies perlu memperhatikan sinyal bahaya berikut sebagai petunjuk untuk mengenali konflik pertemanan yang sudah tidak sehat:
Jika terjadi masalah serius seperti perundungan, psikolog klinis Dr. Judith Locke menyarankan agar orang tua berkoordinasi dengan pihak ketiga, seperti guru di sekolah, ketimbang mendatangi langsung anak yang bermasalah.
Melansir dari ABC News Australia dan panduan pengasuhan di Raising Guide, menghampiri anak lain secara langsung justru bisa tergolong sebagai bentuk perundungan baru karena adanya perbedaan kekuatan yang besar antara orang dewasa dan anak-anak.

Terlepas dari apakah kita perlu menghubungi pihak sekolah atau tidak, tugas utama orang tua adalah menjadi tempat berlabuh yang aman saat anak menghadapi dinamika pertemanan. Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak menyelesaikan konflik secara bijak?
“Hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah mendengarkan apa yang terjadi pada mereka dan percaya bahwa itulah yang mereka rasakan,” tutur Dr. Gilboa, mengutip dari Highlights.
“Bukan berarti anak tidak pernah salah paham, tetapi kita benar-benar bisa melukai mereka jika kita menyebut perasaan, pengalaman, atau cerita mereka tidak valid.”
Bantu anak menemukan solusinya sendiri. Ajukan pertanyaan seperti:
Orang tua tidak perlu menyelesaikan setiap masalah pertemanan anak. Yang kita perlukan adalah kepekaan untuk membedakan mana masalah yang membutuhkan empati, mana yang memerlukan bimbingan (coaching), dan mana yang benar-benar membutuhkan intervensi tegas dari orang dewasa.