Mengenal Apa Itu Loneliness Pada Remaja di Era Digital. Kenapa Bisa Terjadi?

Parenting & Kids

dewdew・in 5 hours

detail-thumb

Meski sekilas tampak sibuk bersosialisasi melalui whatsapp, discord, hingga snapchat, ternyata ada fenomena loneliness pada remaja. Apa alasannya?

Mommies yang punya anak remaja sering banget nggak bertanya-tanya, “Perasaan yang dia pegang ke mana-mana, tuh, gawainya. Tapi kalau aku chat, kok, lama amat balasnya?” Yes, yes, yes, sepertinya itu dirasakan hampir semua Mommies.

Sekilas kita melihat mereka sibuk chatting, berselancar di chat room macam Discord, seakan-akan mereka punya ribuan teman. Apakah itu teman sekolah, teman main, bahkan teman yang baru mereka temui di dunia maya. 

Tapi, tahu nggak, Mommies? Ternyata ada sesuatu yang harus kita waspadai dari fenomena tersebut. Yaitu, fenomena loneliness meski serasa dikelilingi banyak teman. Keterhubungan secara virtual ternyata sangat bisa memicu rasa terasing di dunia nyata. 

Baca juga: Jeremia Habel Novano Manurung: Buktikan Anak SMK juga Bisa Bersaing dan Kuliah di Luar Negeri

Mengapa media sosial justru memicu kesepian pada remaja?

Di tengah gempuran berbagai macam platform sosial, sekilas remaja tampak memiliki kehidupan sosial yang sangat ramai karena terhubung selama hampir  24 jam. 

Namun, yang kita sangka-sangka bahwa ia punya banyak teman, pengikut, atau bahkan secret admirer, interaksi lewat layar sering kali bersifat dangkal dan kehilangan kelekatan emosional yang hangat. 

Studi global dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa hampir separuh dari populasi remaja merasa penggunaan platform atau media sosial secara berlebihan justru memicu tekanan emosional dan rasa terisolasi akibat maraknya perbandingan sosial (social comparison) serta drama daring.

Kondisi kemudian makin terasa mengancam, karena berkurangnya interaksi tatap muka secara langsung di dunia nyata. Menurut laporan resmi American Psychological Association (APA), remaja itu pada dasarnya sedang berada pada fase perkembangan usia yang paling sensitif. Sensitif  terhadap kebutuhan akan dukungan emosional dan rasa memiliki (peer belonging). 

Ketika koneksi nyata tersebut digantikan oleh validasi semu berupa likes dan views, otak remaja menjadi sangat rentan mengalami kesepian kronis (chronic loneliness) yang berujung pada meningkatnya kecemasan hingga risiko depresi.

Apa saja dampak platform dan media sosial terhadap rasa sepi anak remaja?

Berikut ini beberapa alasan mengapa media sosial atau platform chat bisa menyebabkan timbulnya rasa kesepian pada anak remaja: 

  1. Ilusi Koneksi (Connected but Alone)
    Remaja merasa “terhubung” dengan ratusan orang sekaligus. Namun, ketika mereka membutuhkan teman curhat saat menghadapi masalah berat, tak ada satu pun yang benar-benar hadir secara emosional.
  2. Perbandingan Sosial yang Tiada Henti
    Melihat unggahan orang lain yang selalu tampak ceria, populer, dan estetik membuat remaja rentan membandingkan hidupnya (social comparison). Ini memicu rasa tidak cukup (insecure) dan merasa dirinya teringkirkan.
  3. Ketergantungan Validasi Digital
    Jumlah likes dan views sering dianggap sebagai tolok ukur penerimaan diri. Ketika unggahan mereka sepi respons, timbul kecemasan dan perasaan bahwa tidak ada yang peduli pada mereka.

Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Latihan Soal TKA SMP dan SMA 2026

Lalu bagaimana cara mencegah loneliness remaja di era digital?

Sebagai orangtua, terutama di tengah kemajuan teknologi, kita nggak bisa sepenuhnya menarik atau melarang remaja menggunakan gawainya. 

Saya masih ingat seorang psikolog mengingatkan, bahwa gawai sudah menjadi bagian dari kehidupan anak remaja saat ini. Sehingga bila kita hilangkan secara mendadak, malah justru membuat mereka kebingungan. 

Nah yang bisa kita lakukan adalah dengan mendampingi mereka agar memiliki hubungan yang sehat dengan teknologi. Berikut ini adalah beberapa cara menjaga kesehatan mental remaja di era digital yang bisa diterapkan di rumah:

1. Komunikasi emosional yang terbuka di rumah

Sebelum mencari validasi di luar, pastikan anak merasa aman dan didengar di rumah. Jadikan rumah sebagai tempat pertama mereka bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Hindari langsung menghakimi cerita-cerita mereka.

Menurut psikolog klinis Roslina Verauli, ruang komunikasi yang hangat di rumah sangat menentukan kesehatan emosional anak. Ketika anak merasa didengar di dunia nyata, risiko mereka terjebak dalam rasa kesepian dan pencarian validasi semu di media sosial akan jauh berkurang.

2. Detoks digital di waktu-waktu tertentu

Mommies bisa mencanangkan aturan screen-free time, misalnya saat makan malam bersama atau 1 jam sebelum tidur. Manfaatkan momen ini untuk mengobrol santai dari hati ke hati.

3. Dorong kegiatan fisik dan interaksi di dunia nyata

Bantu anak menemukan hobi di dunia nyata, bisa seperti padel, inline skate, atau kegiatan musik. Kegiatan volunteer juga bisa jadi pilihan. Interaksi tatap muka secara langsung terbukti efektif memicu hormon kebahagiaan dan mengikis rasa kesepian.

4. Literasi digital dan self-awareness

Ajarkan anak bahwa apa yang terlihat di media sosial hanyalah highlight reel (potongan terbaik) dari hidup seseorang, bukan realita utuhnya. Sehingga tak perlu merasa rendah diri dan merasa lebih banyak kurangnya daripada teman-temannya yang lain. Ajarkan juga cara bersyukur sesuai dengan nilai yang dianut keluarga. 

Baca juga: Tes Minat Bakat Anak: Rekomendasi Tempat dan Kisaran Biaya Tahun 2026

Cover photo by Magnific.com