Bayi Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah, Ini Alasan Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Boleh Diberi Makanan

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 5 hours

detail-thumb

Bayi di Surabaya meninggal setelah diduga diberi telur mentah. Simak kronologi kasus dan alasan bayi di bawah 6 bulan hanya boleh ASI. 

Ada kalanya niat untuk membantu bayi justru bisa berisiko bagi kesehatannya. Salah satunya adalah ketika orang tua atau anggota keluarga memberikan makanan maupun ramuan tertentu kepada bayi karena mengikuti kebiasaan turun-temurun.

Kasus bayi Alena di Surabaya yang meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya menjadi pengingat penting bagi kita semua, Mommies dan Daddies, bahwa merawat bayi perlu berlandaskan informasi medis yang tepat, bukan sekadar mitos atau pengalaman orang lain.

Lantas, bagaimana kronologi kasus ini dan mengapa bayi di bawah usia 6 bulan belum boleh diberikan makanan selain ASI?

BACA JUGA: 10 Penyebab Bayi Rewel Terus, Ternyata Bukan Cuma Lapar atau Ngantuk!

Kronologi Bayi Alena Meninggal Usai Diduga Diberi Telur Mentah

Foto: Luis Becerra Fotógrafo/Pexels

Kasus bayi Alena menjadi perhatian publik setelah kabar meninggalnya bayi tersebut diberitakan pada 12 Oktober 2026.

Mengutip pemberitaan detikNews dan detikHealth, Alena merupakan bayi yang masih berusia kurang dari satu bulan. Ia sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, sebelum akhirnya meninggal dunia.

Berdasarkan informasi yang beredar, Alena sempat mengalami demam. Bayi tersebut kemudian diduga diberi telur mentah oleh nenek dari pihak ayah untuk menurunkan demamnya. Menurut informasi dari pihak rumah sakit, Alena meninggal akibat infeksi serius pada saluran pencernaan.

Meski demikian, hubungan langsung antara telur mentah yang diduga dikonsumsi dan penyebab kematian Alena perlu merujuk pada penjelasan medis yang berwenang. Jadi, penting bagi kita untuk tidak buru-buru menyimpulkan penyebabnya hanya berdasarkan informasi yang beredar.

BACA JUGA: MPASI Bisa Mencegah Stunting? Ini Bahan Makanan yang Harus Ada

Mengapa Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Boleh Diberi Makanan?

Mommies dan Daddies, bayi yang baru lahir memiliki kebutuhan nutrisi dan kemampuan tubuh yang berbeda dari anak yang lebih besar. Karena itu, pemberian makanan tidak bisa disamakan dengan pemberian makanan pada orang dewasa, bahkan ketika bahan makanannya dianggap bergizi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Artinya, bayi hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih.

Ada beberapa alasan penting di balik rekomendasi ini.

Bayi di Surabaya Meninggal Diduga Diberi Telur Mentah, Ini Faktanya

Foto: Jonathan Borba/Pexels

1. ASI sudah memenuhi kebutuhan nutrisi bayi pada enam bulan pertama

ASI mengandung energi dan zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh dan berkembang pada awal kehidupannya. ASI juga mengandung komponen imunologis yang membantu melindungi bayi dari berbagai infeksi.

Jadi, anggapan bahwa bayi perlu diberi pisang, bubur, telur, atau makanan lain supaya lebih kenyang dan cepat besar bukanlah alasan medis untuk memberikan makanan sebelum waktunya.

2. Sistem pencernaan dan kemampuan menelan bayi masih berkembang

Bayi yang baru lahir belum memiliki kesiapan perkembangan untuk menerima makanan padat atau semi-padat seperti bayi berusia enam bulan ke atas.

Pemberian makanan terlalu dini berisiko menyebabkan gangguan pencernaan, tersedak, hingga aspirasi, yaitu kondisi ketika makanan atau cairan masuk ke saluran pernapasan.

3. Ada risiko paparan kuman dari makanan

Makanan yang tidak diolah dengan aman dapat membawa mikroorganisme penyebab infeksi. Telur mentah, misalnya, berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan.

Pada bayi baru lahir, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi serius sehingga perlu penanganan medis segera.

4. Memberikan makanan terlalu dini tidak membuat bayi otomatis lebih sehat

Memberikan makanan tambahan sebelum usia enam bulan bukan cara yang tepat untuk mengatasi bayi yang rewel, sering menyusu, atau dicurigai belum kenyang.

Jika Mommies merasa produksi ASI kurang atau berat badan bayi tidak bertambah sesuai harapan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter anak atau konselor laktasi. Dokter dapat membantu mengevaluasi kondisi bayi dan menentukan langkah yang sesuai.

BACA JUGA: 15 Resep MPASI Sederhana untuk Penambah Berat Badan si Kecil, Bikinnya Mudah

MPASI Dimulai saat Bayi Berusia 6 Bulan

Setelah genap berusia sekitar enam bulan, bayi mulai membutuhkan tambahan energi dan zat gizi yang tidak lagi cukup dipenuhi oleh ASI saja. Pada tahap inilah Mommies dapat mulai memperkenalkan makanan pendamping ASI (MPASI).

MPASI perlu diberikan secara bertahap, dengan tekstur yang sesuai dengan kemampuan bayi, kandungan gizi yang memadai, serta proses pengolahan yang higienis. ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih, sesuai rekomendasi WHO.

Jadi, bukan berarti telur, pisang, atau bubur merupakan makanan yang buruk untuk bayi. Yang perlu diperhatikan adalah usia, kesiapan bayi, cara pengolahan, dan keamanan makanan tersebut.

Telur, misalnya, bisa menjadi salah satu sumber protein dalam MPASI setelah bayi berusia sekitar enam bulan, dengan penyajian yang matang sempurna dan tekstur yang sesuai.

Foto: kaboompics.com/Pexels

Ilmu Pengetahuan Lebih Penting daripada Mitos

Dalam keluarga, nasihat dari orang tua atau kakek-nenek sering kali diberikan karena rasa sayang dan keinginan agar bayi tumbuh sehat. Namun, niat baik tetap perlu disertai pengetahuan yang benar.

Kalimat seperti, “Dulu anak saya juga dikasih makanan sejak bayi dan baik-baik saja,” bukan bukti bahwa praktik tersebut aman untuk semua bayi. Setiap bayi memiliki kondisi kesehatan yang berbeda, dan risiko tertentu tidak selalu langsung terlihat.

Mommies dan Daddies juga bisa menghadapi situasi ketika harus menjelaskan aturan pengasuhan kepada anggota keluarga yang lebih tua. Cobalah menyampaikan dengan tenang bahwa rekomendasi medis dibuat berdasarkan penelitian dan pertimbangan keselamatan bayi, bukan untuk menyalahkan kebiasaan generasi sebelumnya.

Jika bayi mengalami demam, muntah berulang, diare, sesak napas, tampak sangat lemas, atau tidak mau menyusu, segera cari pertolongan medis. Jangan memberikan makanan, ramuan, atau obat tanpa arahan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, melindungi bayi bukan hanya soal memberikan makanan yang dianggap bergizi, tetapi juga memastikan makanan tersebut sesuai dengan usia dan kesiapan tubuhnya. Untuk enam bulan pertama, mari utamakan ASI eksklusif dan jadikan informasi medis yang tepercaya sebagai pegangan dalam merawat si kecil.

Cover: Catalina Herrera/Pexels