Sorry, we couldn't find any article matching ''

Cara Mengajarkan Anak Merawat Tubuh Tanpa Membuatnya Terobsesi dengan Penampilan
Kunci utama mengajarkan anak merawat tubuh adalah dengan menanamkan bahwa itu merupakan bentuk self-love, bukan tuntutan untuk selalu tampil sempurna.
Setiap orang tua tentu ingin anak terbiasa merawat dirinya sendiri, demi kesehatan, kebersihan, dan kenyamanannya. Namun, kesadaran ini tidak selalu tumbuh dengan sendirinya, terutama saat anak mulai beranjak remaja.
Jujur saja, setiap melihat anak perempuan saya mandi terlalu cepat, saya suka gemas dan bertanya dalam hati, “Bersih nggak, ya? Mandinya benar, nggak, ya?”
Ternyata, saya nggak sendiri. Ada teman yang khawatir karena anaknya mulai mengalami bau badan saat memasuki usia praremaja. Ada juga yang bercerita anak remajanya malas memilih pakaian, rambut disisir seadanya, enggan menggunakan skincare atau membersihkan wajah; padahal sudah mulai berjerawat.
Hal-hal seperti ini kadang membuat orang tua bertanya-tanya, “Bagaimana, ya, mengajarkan anak untuk peduli dan mau merawat tubuhnya ?”
Mommies pernah mengalami hal serupa?
Kita tentu ingin anak belajar menjaga kebersihan dan membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini. Namun, kita juga nggak ingin anak menganggap bahwa merawat tubuh berarti harus terus-menerus memperbaiki penampilan. Kita ingin mereka paham bahwa tubuhnya layak dirawat dan dihargai, apapun bentuk tubuh maupun warna kulitnya.
Cara orang tua berbicara tentang tubuh bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Oleh karena itu, lakukan dengan bijaksana saat mengajarkan anak merawat tubuh. Tidak memuji secara berlebihan, namun juga tidak mengomentari anak kurusan, gendutan, menghitam atau hal-hal yang mengarah ke kritik terhadap penampilan fisiknya.
Baca juga: Anak Mulai Membandingkan Tubuhnya dengan Teman? Ini Cara Bijak Orang Tua Merespons
Lantas, bagaimana cara mengajarkan anak merawat tubuh tanpa membuatnya terobsesi dengan penampilan?
1. Ajarkan pada anak bahwa merawat tubuh adalah bentuk menyayangi diri sendiri
Jelaskan pada anak bahwa tubuhnya perlu dirawat karena dirinya berharga, bukan karena harus terlihat menarik di mata orang lain. Misalnya, mandi bukan semata-mata agar tubuh wangi, tetapi untuk menjaga kebersihan dan membuat tubuh nyaman.

Foto: Image by magnific
Begitu juga dengan makan bergizi, tidur cukup, dan berolahraga, semuanya adalah cara menjaga diri agar tetap sehat, bukan cara untuk mengubah bentuk tubuh atau memenuhi standar penampilan tertentu.
Psikolog Lisa Damour, seperti dilansir dari UNICEF Parenting, mengingatkan bahwa orang tua perlu membantu anak melihat nilai dirinya lebih dari sekadar penampilan fisik. Karena itu, saat mengajarkan perawatan diri, tekankan manfaatnya bagi kesehatan dan kenyamanan tubuh, bukan agar anak terlihat lebih cantik, tampan, kurus atau ideal.
2. Hati-hati dengan komentar tentang tubuh
“Wah, kamu sekarang gendutan, ya?”
“Dia udah SMP? Kok kecil, ya?”
“Duh, perut Mama bergelambir. Mama harus diet, nih!”
Anak belajar memahami tubuh melalui perkataan orang-orang terdekatnya, termasuk orang tuanya. Jika terus mendengar bahwa tubuh gemuk memalukan atau kulit gelap merupakan kekurangan, anak bisa menganggap karakteristik fisiknya sebagai sesuatu yang harus diperbaiki.
Oleh karena itu, UNICEF mengingatkan pentingnya menghindari komentar negatif tentang tubuh anak maupun tubuh orang tua sendiri. Jika ada kebiasaan kesehatan yang perlu diperbaiki, fokuslah pada kebiasaannya, bukan penampilannya.
Misalnya, ganti “Kamu harus kurus” dengan “Mulai sekarang, kita coba rajin jalan pagi yuk, supaya tubuh tetap sehat.”
Baca juga: Begini Cara Membangun Body Confidence pada Anak Remaja di Era Tiktok
3. Jangan hanya memuji anak berdasarkan penampilannya

Foto: Image by magnific
Memuji penampilan anak nggak sepenuhnya salah. Namun, kalau terlalu sering memuji anak karena terlihat cantik, tampan, atau rapi, lama-lama pujian tersebut juga bisa terasa kosong dan nggak bermakna, karena terlalu mudah untuk dilontarkan. Selain itu, anakpun bisa menganggap bahwa itulah yang paling penting dari dirinya.
Sesekali, apresiasi juga usaha, perubahan-perubahan kecil, keberanian, kepedulian, dan kemauannya mencoba hal baru. Dalam artikel Raising Girls With Healthy Self-Esteem, Child Mind Institute menekankan pentingnya mengapresiasi kemampuan dan kualitas anak, bukan hanya fisiknya. Tujuannya, agar anak tetap merasa berharga saat penampilannya berubah atau tidak sesuai harapannya.
Variasikan respon Mommies sehari-hari, misalnya:
- Saat senang rambutnya terlihat bagus, katakan: “Rambutmu hari ini tampak rapi, kamu sudah mulai menikmati menata rambut, ya?”
- Ketimbang hanya bilang “Kamu cantik banget hari ini,” ganti dengan “Kamu pintar memilih baju yang nyaman buatmu dan sesuai dengan acara kita hari ini, lho!”
- Ketika anak mengeluh jerawatnya membuat wajah terlihat jelek, berikan respon, “Mama tahu kamu sedang kurang nyaman, tapi jerawat tidak mengurangi nilai dirimu, kok.”
4. Beri ruang anak mengenal dan merawat tubuhnya sendiri
Orang tua boleh menganjurkan pakaian, model rambut atau skincare yang dibutuhkan anak. Tapi, kalau anak punya preferensi pilihan lain, boleh juga, dong. Tugas orang tua mengarahkan, memberi pengertian, berbagi pengetahuan untuk membantu anak memilih yang sesuai kebutuhan, usia dan aman bagi anak; bukan semata-mata melarang.
Misalnya, saat anak ingin mencoba skincare viral karena ikut-ikutan teman, alih-alih langsung menghakimi, coba tanya, “Kamu ingin pakai ini karena apa? Yuk, kita cari tahu apakah kulitmu memang membutuhkannya.” Dengan begitu, anak belajar merawat diri berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar mengikuti tren.
Baca juga: Skincare Remaja: Mana yang Wajib dan Mana yang Nggak Perlu?
5. Bantu anak memahami bahwa setiap tubuh berbeda
Saat anak mengkritisi bentuk atau warna tubuhnya, orang tua tak perlu langsung membantah dan ingin memperbaiki perasaan anak. Dengarkan, lalu bantu anak memahami bahwa setiap orang punya karakteristik fisik berbeda dan tidak ada satu standar penampilan yang harus dipenuhi semua orang.
6. Ajarkan kebiasaan sehat, bukan cara mengubah bentuk tubuh
Daripada meminta anak kurus atau melarang makanan tertentu karena takut gemuk, ajak ia membangun kebiasaan sehat: makan bergizi dan bervariasi, tidur cukup, dan bergerak dengan cara yang menyenangkan. Berikan juga edukasi saat meminta anak tidak mengonsumsi makanan tertentu, misalnya, makan makanan manis berlebihan.
Alih-alih mengatakan “Duh, jangan makan donat melulu, nanti gendut!”, ganti dengan “Nak, tahu nggak, kalau makan donat dan makan makanan manis lainnya secara berlebihan, bisa berisiko terkena diabetes, bahkan pada anak-anak. Mama bukan ingin menakut-nakuti ya, tetapi mama juga ingin mengajarkan kamu memilih makanan yang lebih sehat. Yuk, tonton video edukasi ini sama Mama.”
7. Jelaskan pada anak perubahan bentuk tubuh atau wajah ketika remaja adalah hal yang wajar
Jelaskan bahwa jerawat, perubahan berat badan, atau penampilan yang sedang tidak sesuai harapannya itu bisa terjadi, dan tak apa jika terjadi. Bantu anak mengatasi masalah penampilannya tanpa rasa panik atau khawatir berlebihan karena takut merasa jelek. Jelaskan juga, perubahan fisik tidak lantas mengurangi nilai dirinya.
Selalu ingat bahwa tujuan kita bukan untuk mengajarkan anak agar selalu puas dengan penampilannya, melainkan agar anak mampu merawat tubuhnya tanpa menjadikan penampilan sebagai ukuran harga dirinya.
Baca juga: Anak Ngadu Sering Dikatain Jelek oleh Temannya: Begini Cara Bantu Anak Hadapi Komentar Menjatuhkan
Cover: Image by magnific
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS