banner-detik
PARENTING & KIDS

Jangan Asal Kasih, Ini Cara Menghitung Kebutuhan Protein Anak Sesuai Usia dan Berat Badan

Jangan Asal Kasih, Ini Cara Menghitung Kebutuhan Protein Anak Sesuai Usia dan Berat Badan

Berapa kebutuhan protein anak per hari? Ini cara menghitung kebutuhan protein anak sesuai usia dan berat badan, tabel AKG, serta contoh porsi makan yang tepat.

Setiap orang pada dasarnya memiliki kebutuhan protein harian yang berbeda-beda, tergantung pada faktor usia, jenis kelamin, hingga berat badan. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan acuan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang bisa Mommies jadikan panduan utama untuk memenuhi asupan harian anak.

Sebagaimana kita ketahui, protein merupakan zat gizi makro (macronutrient) yang memegang peranan sangat vital dalam pembentukan jaringan tubuh. Tak hanya itu, protein juga membantu memproduksi berbagai enzim yang mengoptimalkan fungsi setiap organ. Melansir informasi dari Siloam Hospitals, kecukupan protein harian yang terpenuhi dengan baik akan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Lantas, berapa sebenarnya kebutuhan protein harian anak dan bagaimana cara menghitungnya dengan tepat? Yuk, kita bedah bersama di artikel ini!

BACA JUGA: Infografik: Kebutuhan Nutrisi untuk Anak Usia 6-12 Tahun

Mengapa Protein Sangat Krusial di Masa Tumbuh Kembang Anak?

Cara Menghitung Kebutuhan Protein Anak Sesuai Usia dan Berat Badan

Foto: cottonbro studio/Pexels

Bagi anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, fungsi protein jauh lebih luas ketimbang sekadar pembentuk massa otot. Protein adalah bahan baku utama yang digunakan tubuh untuk membangun tulang, kulit, organ internal, hormon (termasuk hormon pertumbuhan dan IGF-1), antibodi sistem imun, hingga jaringan otak.

Terlebih saat anak memasuki fase growth spurt (lonjakan pertumbuhan), khususnya menjelang usia remaja, tubuh mereka akan membentuk jaringan baru dengan sangat cepat. Di momen inilah kebutuhan protein anak perlu diperhatikan sebagai bagian dari pemenuhan gizi sesuai usia dan kondisi pertumbuhannya.

Menurut penjelasan Dr. David S. Ludwig, M.D., Ph.D., pakar nutrisi, dokter anak dari Boston Children’s Hospital, dan pengajar di Harvard T.H. Chan School of Public Health, protein adalah building blocks penting untuk membentuk sel-sel baru dan memperkuat imunitas. Melansir dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, protein merupakan zat gizi esensial yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan berbagai jaringan tubuh.

Namun, pendekatan asupan protein pada anak tentu beda dengan target fitness orang dewasa. Mommies tidak perlu terobsesi “memaksimalkan” protein seperti binaragawan. Kuncinya terletak pada pemenuhan nutrisi yang stabil dan seimbang dari makanan utuh (real food) yang terbagi rata dalam menu makan harian serta camilan anak.

Mengutip penjelasan dari Height Growth Blog, tujuan memahami perhitungan ini adalah agar orang tua tahu seperti apa porsi “cukup” yang sebenarnya saat disajikan di atas piring anak.

Ringkasan Fungsi Utama Protein bagi Tubuh Anak

Secara teknis, protein yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna dan dipecah menjadi asam amino. Asam amino inilah yang bekerja menjalankan berbagai fungsi vital, antara lain:

  • Membantu pembentukan sel-sel dan jaringan tubuh baru.
  • Memperbaiki sel serta jaringan tubuh yang rusak.
  • Menjadi sumber pasokan asam amino esensial.
  • Memelihara kesehatan tulang dan kekuatan otot.
  • Mengoptimalkan kinerja sistem kekebalan tubuh (imunitas).
  • Menjaga dan merawat fungsi kognitif otak anak.

BACA JUGA: 10 Rekomendasi Snack Rendah Gula untuk Balita, Kaya Akan Nutrisi

Hati-hati, Ini Risiko Anak Kelebihan Protein

Foto: Pavel Danilyuk/Pexels

Di era sekarang, isu yang perlu diperhatikan pada anak-anak bukan hanya kekurangan protein, tetapi juga konsumsi berlebihan (overconsumption). Hal ini perlu menjadi perhatian, terutama jika anak mengonsumsi suplemen atau protein powder yang dipasarkan untuk atlet muda.

Menurut Dr. Jennifer Shu, M.D., FAAP, dokter anak dan juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP), asupan protein tinggi dari makanan utuh jarang membahayakan. Namun, konsumsi suplemen protein berlebih perlu diwaspadai, terutama jika tidak sesuai dengan kebutuhan anak. Melansir dari HealthyChildren.org by AAP, penggunaan suplemen pada anak sebaiknya mempertimbangkan kebutuhan, keamanan, dan anjuran tenaga kesehatan.

Saat asupan protein terlalu tinggi, pola makan anak juga bisa menjadi tidak seimbang karena terlalu berfokus pada satu zat gizi. Oleh karena itu, kebutuhan protein sebaiknya dipenuhi bersama asupan karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, serat, dan cairan yang cukup.

Selain itu, protein powder atau shake bisa mengandung gula tambahan dan bahan lain yang belum tentu diperlukan anak. Seperti dijelaskan dalam berbagai edukasi gizi dari Cleveland Clinic Health Essentials, pemenuhan gizi anak perlu memperhatikan keseimbangan makanan secara keseluruhan, termasuk asupan serat dari buah dan sayur.

Bagi anak yang terbiasa makan sedikit (picky eater atau small appetite), konsumsi protein berlebih justru bisa berbalik merugikan karena membuat mereka kenyang lebih cepat sebelum memenuhi kebutuhan kalori harian keseluruhannya.

Tanda-tanda Anak Kekurangan Protein

Kasus defisiensi protein murni memang cukup jarang ditemui pada anak dengan pola makan yang beragam. Namun, kondisi ini tetap bisa mengintai anak-anak yang menjalani diet sangat ketat, memiliki penyakit kronis, atau mengalami keterbatasan akses makanan.

Beberapa tanda awal anak kekurangan protein antara lain:

  • Pertumbuhan tinggi dan berat badan terhambat (slow growth).
  • Anak mudah lelah dan sering rewel.
  • Sering terkena infeksi atau sakit akibat daya tahan tubuh melemah.

Jika kekurangannya makin parah, gejala fisik seperti pembengkakan (edema) pada kaki dan pergelangan kaki, rambut kering atau rapuh serta pudar warnanya, kulit bersisik, hingga perut buncit akibat penumpukan cairan (ascites) bisa muncul. Anak juga berisiko mengalami keterlambatan perkembangan.

Selama grafik pertumbuhan anak di buku KMS tetap naik sesuai usianya, energinya aktif, dan variasi makanannya beragam, Mommies tidak perlu terlalu cemas akan risiko kekurangan protein ini. Namun, pemantauan pertumbuhan tetap perlu dilakukan secara berkala, dan keluhan yang menetap sebaiknya dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan.

Bagaimana dengan Anak yang Menjalani Diet Plant-Based?

Foto: Nadin Sh/Pexels

Apakah anak vegetarian atau vegan bisa memenuhi kebutuhan proteinnya? Jawabannya: sangat bisa! Hanya saja, dibutuhkan sedikit kecermatan dari orang tua.

American Academy of Pediatrics mencatat bahwa kacang-kacangan, tempe, tahu, miju-miju (lentils), dan olahan biji-bijian adalah sumber protein nabati yang sangat baik. Kuncinya adalah variasi. Masing-masing bahan nabati memiliki kombinasi asam amino yang berbeda.

Melansir artikel edukasi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, orang yang tidak mengonsumsi protein hewani tetap dapat memenuhi kebutuhan asam amino dengan mengonsumsi beragam sumber protein nabati sepanjang hari.

Mommies tidak harus menggabungkan semua jenis protein nabati dalam satu porsi makan sekaligus. Selama anak mengonsumsi aneka polong-polongan, biji-bijian, dan kacang-kacangan sepanjang hari—misalnya nasi campur kacang merah di pagi hari dan tahu kukus di sore hari—tubuhnya dapat memperoleh asam amino yang dibutuhkan.

BACA JUGA: 10 Menu Sarapan Tinggi Protein untuk Anak Aktif

Menghitung Kebutuhan Protein Sesuai Usia dan Berat Badan Anak

Berikut adalah tabel standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) Kemenkes RI serta contoh konversi makanannya.

Tabel Acuan Protein Anak Berdasarkan Usia

Kelompok usia/sekolah Kisaran umur Rata-rata berat badan Kebutuhan protein harian
Balita (batita) 1–3 tahun 13 kg 20 gram
Anak TK/balita 4–6 tahun 19 kg 25 gram
Anak SD (kelas 1–3) 7–9 tahun 27 kg 40 gram
Anak SD (kelas 4–6) 10–12 tahun 36 kg Laki-laki: 50 gram; perempuan: 60 gram
Anak SMP 13–15 tahun 50 kg Laki-laki: 70 gram; perempuan: 65 gram

Cara Menghitung Kebutuhan Protein Berdasarkan Berat Badan

Anak-anak di usia sekolah membutuhkan sekitar 0,95 hingga 1 gram protein untuk setiap 1 kg berat badannya. Jika si kecil yang duduk di bangku TK memiliki berat badan 18 kg, maka perkiraan kebutuhan protein hariannya adalah:

18 kg × 1 gram = 18 gram protein per hari.

Angka tersebut merupakan ilustrasi perhitungan sederhana. Untuk menentukan kebutuhan yang sesuai, Mommies perlu mempertimbangkan usia anak, acuan AKG yang berlaku, kondisi pertumbuhan, serta keadaan kesehatannya.

Contoh Porsi Makanan Sumber Protein untuk Anak

Agar Mommies tidak bingung membayangkan “gram protein”, berikut gambaran kandungan protein pada makanan populer:

  • 1 butir telur ayam: ±6 gram protein.
  • 1 potong ayam (paha/dada): ±7–10 gram protein.
  • 1 potong sedang tempe/tahu: ±4–5 gram protein.
  • 1 gelas susu sapi (200 ml): ±6–7 gram protein.

Kandungan protein sebenarnya dapat berbeda, tergantung ukuran porsi, jenis bahan makanan, serta cara pengolahannya.

Tips Memenuhi Kebutuhan Protein Anak

Berdasarkan penjelasan dari situs Kementerian Kesehatan RI, berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan membantu mencegah stunting:

  • Utamakan protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging sapi, dan susu sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang.
  • Kombinasikan dengan protein nabati seperti tahu dan tempe sebagai pendamping gizi seimbang.
Cover: cottonbro studio/Pexels

Share Article

author

Fannya Gita Alamanda

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan