
Anak sering main HP sampai lupa waktu? Kenali 5 jenis screen time anak dan cara mengatur waktu layar sesuai aktivitas dan kebutuhan anak.
“Lima menit lagi, ya, Ma!”
Kalimat ini mungkin sudah masuk daftar kalimat paling sering Mommies dengar kalau sedang berusaha menyuruh anak berhenti main HP. Lima menit yang dijanjikan pun kadang punya definisi sendiri: tahu-tahu sudah setengah jam dan anak masih anteng di depan layar.
Wajar kalau akhirnya Mommies bertanya-tanya, “Sebenarnya screen time anak yang masih oke itu seperti apa, sih?”
Selama ini kita memang sering membicarakan screen time dari sisi durasi. Anak main HP satu jam, dua jam, atau lebih dari itu. Padahal, ada hal lain yang nggak kalah penting untuk diperhatikan: selama waktu tersebut, anak sebenarnya sedang melakukan apa?
Penelitian terhadap 4.013 anak usia 10–11 tahun, misalnya, membedakan penggunaan layar menjadi lima jenis: passive, educational, interactive, social, dan other. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan penggunaan layar dengan berbagai aspek kesehatan, pendidikan, dan sosial-emosional memang berbeda menurut jenis aktivitasnya, meski efek yang ditemukan dalam penelitian tersebut tergolong kecil.
Jadi, sebelum langsung menyita HP karena merasa anak “kebanyakan screen time”, yuk, kenali dulu 5 jenis screen time anak berikut. Bisa jadi masalahnya bukan sesederhana “anak terlalu lama main HP”.
Ini mungkin jenis yang paling familiar buat Mommies: anak duduk sambil menonton YouTube, serial, film, video pendek, atau konten hiburan lainnya.
Disebut passive karena anak lebih banyak menerima apa yang ada di layar dibandingkan berinteraksi atau membuat sesuatu. Bukan berarti setiap tontonan otomatis buruk, tetapi kualitas konten dan durasinya tetap perlu diperhatikan.
Penelitian yang sama menemukan bahwa passive screen time, seperti menonton televisi, memiliki hubungan dengan sejumlah hasil yang kurang baik pada anak, meskipun besarnya hubungan tersebut kecil. Sementara itu, jenis aktivitas layar lainnya menunjukkan pola yang berbeda.
Jadi kalau anak awalnya bilang cuma mau menonton satu video, tetapi akhirnya masuk ke video berikutnya, berikutnya lagi, dan tahu-tahu sudah sejam, ini salah satu jenis penggunaan layar yang layak Mommies awasi.
Yang bisa dilakukan: matikan autoplay bila memungkinkan, pilih tontonan sebelum anak mulai menonton, dan sepakati kapan waktunya berhenti.
BACA JUGA : Selain Screen Time, Ini 5 Kebiasaan Digital Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua
“Kan tadi belajar, Ma!”
Nah, yang ini biasanya agak bikin Mommies bingung. Anak bilang sedang belajar, tetapi kok ujung-ujungnya YouTube juga?
Educational screen time mencakup penggunaan perangkat untuk mengerjakan tugas, mencari informasi, belajar bahasa, mengikuti tutorial, atau menggunakan aplikasi yang memang ditujukan untuk pembelajaran.
Penelitian pada 4.013 anak tadi menemukan bahwa educational screen time, seperti penggunaan komputer untuk mengerjakan pekerjaan rumah, berkaitan dengan hasil pendidikan yang lebih positif dan tidak menunjukkan hubungan negatif dengan sejumlah hasil kesehatan atau psikologis yang diteliti. Namun, ini bukan berarti semakin lama belajar lewat layar otomatis semakin baik.
Mommies tetap bisa melihat apakah anak benar-benar menggunakan perangkat untuk belajar atau hanya membuka satu video edukasi lalu terseret ke konten hiburan lainnya.
Yang bisa dilakukan: tanyakan dulu anak mau melakukan apa di HP dan berapa lama kira-kira membutuhkannya. Setelah selesai, tutup aktivitas tersebut dan lanjut ke kegiatan lain.
Kalau passive screen time membuat anak lebih banyak menjadi penonton, interactive screen time membuat anak ikut melakukan sesuatu di layar.
Contohnya bermain video game, menggunakan aplikasi yang membutuhkan respons langsung, atau permainan digital yang membuat anak harus memilih, memecahkan masalah, atau mengikuti instruksi.
Penelitian terhadap 4.013 anak sebelumnya menemukan bahwa interactive screen time, seperti video game, memiliki hubungan positif dengan beberapa hasil pendidikan, tetapi juga hubungan negatif dengan beberapa hasil lainnya. Namun, ukuran hubungan tersebut kecil sehingga tidak tepat menyimpulkan bahwa bermain game otomatis buruk atau justru baik untuk anak.
Ini juga alasan kenapa durasi saja kadang kurang memberikan gambaran lengkap. Dua anak sama-sama memegang HP selama satu jam, tetapi aktivitasnya bisa sangat berbeda.
AAP menyarankan orang tua melihat siapa anaknya, konten yang digunakan, apa yang tergantikan oleh media, serta bagaimana komunikasi mengenai penggunaan media dilakukan di rumah.
Video call dengan nenek, mengobrol dengan teman, berdiskusi untuk tugas sekolah, atau aktivitas sosial digital lainnya juga termasuk screen time.
Ini sering luput dari perhitungan orang tua karena bentuknya tidak terlihat seperti “main HP”. Padahal, tetap saja anak sedang menghabiskan waktu dengan perangkat digital.
Dalam penelitian tersebut, social screen time juga dianalisis sebagai kategori tersendiri. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan dengan beberapa aspek kesehatan dan sosial-emosional, tetapi bukan berarti setiap aktivitas sosial melalui layar otomatis bermasalah.
Yang perlu dilihat adalah konteksnya. Video call dengan kakek yang tinggal jauh tentu berbeda dengan anak yang berjam-jam berada di grup chat sambil mengabaikan tidur atau tugas sekolah.
Yang bisa dilakukan: tetap beri ruang untuk interaksi digital, terutama jika memang dibutuhkan, tetapi pastikan anak tetap punya kesempatan berinteraksi langsung dengan keluarga dan teman.
Nah, ini kategori yang mungkin terdengar kurang catchy, tetapi memang ada dalam penelitian tentang jenis screen time tadi: other screen time.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan layar anak memang tidak selalu bisa dimasukkan dengan rapi ke kotak “nonton”, “belajar”, “main”, atau “bersosialisasi”. Bisa saja anak menggunakan perangkat untuk berbagai kebutuhan lain.
Daripada Mommies sibuk mencari kategori yang paling tepat, lebih penting melihat tujuan penggunaan dan apa yang terjadi setelahnya.
Misalnya, anak menggunakan tablet untuk mencari resep karena ingin membantu membuat kue, mencari tutorial membuat sesuatu, atau mengerjakan proyek sekolah. Aktivitas seperti ini tidak perlu otomatis diperlakukan sama dengan kebiasaan scrolling video pendek selama satu jam.
AAP sendiri kini mendorong orang tua untuk melihat penggunaan media secara lebih utuh melalui pendekatan 5 Cs: Child, Content, Calm, Crowding Out, dan Communication. Salah satu pertanyaan pentingnya adalah apakah media mulai “menggeser” hal lain yang dibutuhkan anak, seperti tidur, aktivitas fisik, waktu bersama keluarga, atau pertemanan.
Nah, ini pertanyaan yang biasanya paling ingin dijawab orang tua.
Sayangnya, tidak ada satu angka yang bisa ditempel untuk semua anak dan semua usia. AAP kini mendorong pendekatan yang melihat kebutuhan anak dan konteks penggunaan media, bukan hanya memakai satu batas waktu untuk semua anak.
Untuk anak di bawah 5 tahun, WHO memang memiliki rekomendasi khusus mengenai waktu sedentari berbasis layar. Misalnya, screen time tidak direkomendasikan untuk bayi di bawah 1 tahun, sedangkan anak usia 2 tahun serta 3–4 tahun direkomendasikan tidak lebih dari satu jam per hari, dengan prinsip bahwa lebih sedikit lebih baik. Rekomendasi ini berlaku khusus untuk anak di bawah 5 tahun, jadi jangan otomatis dipakai sebagai patokan untuk anak SD atau remaja.
Untuk anak yang lebih besar, Mommies bisa mulai melihat pola harian secara keseluruhan. Kalau screen time membuat anak tidur terlalu malam, malas bergerak, tidak punya waktu bermain, sulit menyelesaikan kewajiban, atau terus-menerus konflik ketika HP disimpan, berarti sudah waktunya aturan di rumah dievaluasi.
BACA JUGA: Aturan Gadget untuk Anak SD yang Sebaiknya Diterapkan di Rumah
Setelah tahu jenisnya, aturan penggunaan HP untuk anak juga bisa dibuat lebih realistis.
Anak akan lebih mudah memahami aturan kalau Mommies sudah menentukan kapan boleh menggunakan gadget, untuk keperluan apa, dan kapan harus berhenti. Jangan sampai hari ini boleh dua jam, besok satu jam, lalu lusa HP disita karena Mommies sedang kesal.
Waktu mengerjakan tugas sekolah tentu punya konteks berbeda dengan bermain gim atau menonton video. Bukan berarti screen time untuk belajar tidak perlu dibatasi, tetapi Mommies bisa melihat kebutuhannya secara lebih proporsional.
Misalnya meja makan dan kamar tidur menjadi area bebas layar. AAP juga menyarankan keluarga membuat media plan yang memberi ruang untuk aktivitas lain seperti membaca, bermain di luar, hobi, dan waktu bersama keluarga.
Kalau HP ditutup lalu anak hanya mendengar, “Sudah! Matikan!”, ya wajar kalau negosiasi babak kedua segera dimulai.
Mommies bisa memberikan pilihan sederhana: “Setelah ini mau gambar atau main sepeda?” Anak tetap punya rasa memiliki pilihan, tetapi pilihannya tidak kembali ke layar.
Ini yang sering menjadi bagian paling susah. Anak diminta tidak membawa HP ke meja makan, tetapi orang tua malah sibuk membalas chat kantor sambil makan.
AAP juga menekankan pentingnya orang tua menjadi contoh dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Family media plan bahkan dianjurkan mencakup semua anggota keluarga, termasuk orang dewasa.
BACA JUGA: Bukan Salah Anak! 7 Kesalahan Orang Tua yang Bikin Screen Time Sulit Dikontrol
Belum tentu.
Yang perlu dilakukan pertama kali justru lihat layar itu sedang mengambil peran sebagai apa dalam kehidupan anak. Apakah hanya hiburan? Dipakai belajar? Bermain? Berkomunikasi? Atau sudah menjadi satu-satunya kegiatan yang anak cari setiap kali bosan?
AAP menyarankan keluarga melihat apakah media mulai crowding out aktivitas penting lainnya dan membicarakan penggunaan media secara rutin, bukan menunggu sampai masalahnya menjadi besar.
Jadi, Mommies nggak harus menjadi polisi HP 24 jam sehari.
Cukup mulai dengan mengenali: anak sedang melakukan apa di depan layar, kenapa dia melakukannya, dan apa yang mungkin terlewat karenanya.
Karena pada akhirnya, tujuan mengatur screen time anak bukan membuat anak jauh dari teknologi sama sekali. Kita justru sedang membantu mereka belajar satu hal yang akan makin penting seiring bertambahnya usia: tahu kapan harus menggunakan layar dan kapan waktunya meletakkan HP.
Cover: Pexels