Sorry, we couldn't find any article matching ''

Anak Takut Menjawab di Kelas? Ini 5 Cara Membangun Kepercayaan Dirinya
Anak takut salah menjawab di kelas dan tidak berani menjawab pertanyaan guru? Kenali penyebabnya dan cara membantu membangun kepercayaan diri anak di sekolah.
Pernah melihat anak sebenarnya tahu jawaban dari pertanyaan gurunya, tetapi memilih diam? Atau ketika guru bertanya, ia langsung menunduk, pura-pura sibuk, bahkan terlihat cemas?
Kalau iya, Mommies mungkin bertanya-tanya, “Padahal di rumah dia cerewet, kok di sekolah jadi diam?”
Anak takut salah menjawab di kelas bukan berarti ia tidak tahu jawabannya atau tidak pintar. Bisa jadi, ia sedang berhadapan dengan rasa takut salah, takut ditertawakan, takut dinilai oleh guru atau teman, atau merasa harus selalu memberikan jawaban yang benar.
Menurut American Psychological Association (APA), situasi sekolah dapat menjadi sumber stres bagi anak, termasuk ketika mereka menghadapi lingkungan atau tuntutan baru. APA juga merekomendasikan pendekatan yang menekankan usaha, menghindari perbandingan sosial, serta membantu anak melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
BACA JUGA: Anak Sering Menunda Mengerjakan PR? Ini 10 Cara Membentuk Kebiasaan Belajar Anak
Penyebab Anak Takut Menjawab Pertanyaan Guru
Ada beberapa kemungkinan mengapa anak tidak berani menjawab pertanyaan di kelas, Mommies.

Foto: Max Fischer/Pexels
1. Takut Jawabannya Salah
Bagi sebagian anak, salah menjawab bisa terasa seperti sebuah kegagalan besar. Apalagi jika sebelumnya ia pernah ditertawakan atau ditegur ketika jawabannya keliru.
2. Terlalu Takut Dinilai Orang Lain
Ada anak yang sebenarnya paham materi, tetapi merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Rasa takut dinilai oleh teman atau guru bisa membuatnya memilih diam.
Child Mind Institute mencatat, anak yang mengalami kecemasan di kelas bisa saja sebenarnya mengetahui jawaban, tetapi menjadi sulit merespons ketika dipanggil oleh guru. Anak juga dapat menghindari kontak mata, menunduk, atau berusaha menghindari perhatian.
3. Punya Standar yang Terlalu Tinggi terhadap Dirinya Sendiri
Anak yang cenderung perfeksionis bisa berpikir, “Kalau belum yakin 100 persen, lebih baik jangan jawab.”
Akhirnya, kesempatan untuk mencoba pun dilewatkan. Rasa takut gagal juga dapat membuat anak menghindari tugas atau situasi yang menurutnya berisiko membuat kesalahan.
4. Pernah Mengalami Pengalaman yang Membuatnya Malu
Satu pengalaman yang tidak menyenangkan di kelas bisa membuat anak lebih berhati-hati pada kesempatan berikutnya.
Child Mind Institute mencatat bahwa anak dapat menghindari situasi tertentu karena takut melakukan kesalahan atau dinilai oleh orang lain. Bahkan, pengalaman seperti memberikan jawaban yang salah di kelas bisa terasa sangat memalukan bagi sebagian anak.
BACA JUGA: Anak Mertua Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua
Lalu, Bagaimana Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Anak di Sekolah?
Kabar baiknya, kepercayaan diri anak bukan sesuatu yang harus ditunggu tumbuh dengan sendirinya. Ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan Mommies dan Daddies.

Foto: Mikhail Nilov/Pexels
1. Ubah Cara Membicarakan Kesalahan
Daripada mengatakan, “Masa begitu saja salah?” coba ubah menjadi, “Tidak apa-apa kalau jawabannya belum tepat. Dari sini kita bisa tahu bagian mana yang perlu dipelajari lagi.”
Anak perlu memahami bahwa salah adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa dirinya tidak pintar.
American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org juga menekankan pentingnya membantu anak menerima kesalahan dan kegagalan sebagai bagian normal dari hidup dan proses belajar, sekaligus memberikan umpan balik yang suportif.
2. Jangan Hanya Memuji Hasil
Saat anak berani mencoba, apresiasi keberaniannya, bukan hanya ketika jawabannya benar.
Misalnya, “Mama senang kamu berani mencoba menjawab,” atau “Kamu tadi tetap mencoba meski belum yakin, keren.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa usahanya juga memiliki nilai.
3. Latihan Menjawab di Rumah dengan Suasana Santai
Mommies bisa bermain “kuis keluarga” saat sedang santai. Ajukan pertanyaan sederhana dan biarkan anak menjawab tanpa takut salah.
Bisa juga bermain peran sebagai guru dan murid. Sesekali biarkan anak menjadi “gurunya” dan Mommies yang menjawab.
Tujuannya bukan membuat anak harus selalu benar, tetapi membiasakannya berbicara dan menyampaikan pendapat.
4. Hindari Membandingkan dengan Anak Lain
“Lihat tuh, temanmu berani menjawab.”
Kalimat seperti ini mungkin keluar karena Mommies ingin memotivasi. Namun, bagi anak, perbandingan justru bisa membuatnya merasa kurang mampu.
Lebih baik fokus pada perkembangan dirinya sendiri: “Kemarin kamu masih malu menjawab, sekarang sudah mau angkat tangan. Pelan-pelan, ya.”

Foto: Artem Podrez/Pexels
5. Ajak Guru Bekerja Sama
Kalau anak takut salah di kelas terus terjadi, Mommies bisa ngobrol dengan wali kelas atau guru.
Tidak harus langsung meminta anak untuk sering ditunjuk untuk menjawab di depan kelas. Guru mungkin bisa memberikan kesempatan untuk menjawab secara berpasangan atau secara personal terlebih dahulu, sebelum anak merasa siap berbicara di depan teman-temannya.
Lingkungan sekolah yang aman dan nyaman secara psikologis memang penting agar anak dapat belajar dan berkembang dengan lebih baik. Hal ini juga menjadi perhatian Kemendikdasmen melalui Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, yang mencakup perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis, sosial, spiritual, serta terciptanya lingkungan belajar yang kondusif.
BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri
Jangan Buru-Buru Melabeli Anak “Pemalu”
Mommies, ada satu hal penting: jangan buru-buru menyimpulkan anak tidak percaya diri hanya karena ia jarang menjawab pertanyaan guru.
Perhatikan juga konteksnya. Apakah ia hanya diam saat harus berbicara di depan kelas? Apakah ia sebenarnya aktif saat berdiskusi dalam kelompok kecil? Atau justru mulai menghindari sekolah, mengeluh sakit perut, sulit tidur, atau sangat cemas ketika ada tugas dan ujian?
Jika rasa takutnya semakin sering, mengganggu proses belajar, membuat anak menghindari sekolah atau aktivitas sosial, atau muncul bersama keluhan fisik dan perubahan perilaku, ada baiknya Mommies berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga kesehatan profesional.

Foto: Max Fischer/Pexels
Kecemasan yang menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari memang membutuhkan perhatian lebih. Tanda-tandanya dapat berupa menghindari sekolah atau interaksi sosial, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, hingga keluhan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut.
Pada akhirnya, membangun kepercayaan diri anak bukan soal membuatnya selalu berani mengangkat tangan atau selalu punya jawaban yang benar. Lebih dari itu, kita ingin anak percaya bahwa tidak apa-apa mencoba, tidak apa-apa salah, dan ia tetap berharga meski jawabannya belum sempurna.
Dan mungkin, dari situlah keberanian anak.
Cover: Max Fischer/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS