Inspiring Dad: Cerita Ricardo Salampessy Mendampingi Reno Berkarir di Timnas U-20

Dad's Corner

dewdew・in 6 hours

detail-thumb

Ricardo Salampessy, legenda sepakbola dari Papua, Mengiringi langkah anaknya berkarir di lapangan hijau. Dari bayi hingga bergabung di squad Timnas Junior.

Membesarkan anak laki-laki agar tumbuh menjadi sosok yang tangguh tentu punya tantangannya sendiri. Terlebih jika sang anak memilih untuk berkarir di jalan yang sama dengan sang ayah di dunia olahraga profesional yang penuh dengan tekanan dan sorotan publik.

Inilah cerita inspiratif dari Ricardo Salampessy, legenda sepak bola Indonesia dari Persipura Jayapura, yang memulai karirnya tahun 2006 hingga pensiun di tahun 2023. Beliau sendiri pernah mengiringi kemenangan  tim Papua di PON 2004 dan mengantarkan Persipura sebagai juara Liga 1, tahun 2009, 2011, 2013. 

Ricardo Salampessy teguh mendampingi sang putra, Reno Salampessy, yang kini mulai menapaki jejaknya di lapangan hijau. Dari ikatan emosional yang terbangun di pinggir lapangan hingga cara beliau membimbing Reno menghadapi beban nama besar orang tua, berikut adalah catatan hangat tentang peran seorang ayah, mentor, dan pelindung.

1. Suka sepakbola sedari kecil

Perjalanan Reno di dunia sepak bola sebenarnya tidak pernah direncanakan secara terpaksa. Semuanya mengalir begitu alami sejak ia dilahirkan ke dunia.

“Perjalanan Reno memang tidak jauh dari sepak bola. Dia lahir ketika saya sedang dalam masa persiapan pelatnas di Jakarta tahun 2007. Tepatnya, Reno lahir di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2007.

Kecintaannya pada sepak bola sudah terlihat sejak kecil. Saat usianya baru 1 sampai 2 tahun, hampir semua mainannya adalah bola. Ketika diberikan mainan bentuk lain, dia kurang berminat dan selalu memilih apa pun yang berhubungan dengan bola.

Pertama kali saya membawanya ke lapangan adalah saat Persipura sedang berlatih. Waktu itu usianya baru sekitar 2 tahun, dan dia terlihat gembira sekali berada di dalam lapangan. Mulai dari situ, saya melihat dia punya passion di sepak bola. Setelah itu, ke mana pun saya pergi berlatih bersama Persipura, dia selalu ingin ikut. Dari sinilah saya yakin bahwa dia memang memiliki passion dan keinginan yang kuat di bidang sepak bola.”

2. Membangun bonding Ayah dan Anak di pinggir lapangan

Bagi seorang atlet profesional dengan jadwal laga tandang (away match) dan pemusatan latihan yang padat, waktu bersama keluarga adalah hal yang sangat mahal. Di tengah keterbatasan waktu tersebut, Ricardo dan sang istri memiliki pembagian peran yang saling melengkapi.

“Kalau untuk mengasuh secara langsung, jujur memang cukup sulit karena waktu saya lebih banyak di perjalanan—baik itu bersama Tim Nasional maupun Persipura. Waktu saya bersama Reno tidak terlalu banyak, sehingga di sini istri yang mengambil peran besar tersebut.

Namun, ketika tim kembali berada di Jayapura, saya tentu mencoba menghabiskan waktu bersama Reno. Saat latihan sehari-hari, saya selalu mengikutkan dia ke lapangan. Hal itu membuat hubungan saya dan Reno semakin erat. Apalagi ketika diajak ke lapangan, tanpa paksaan sama sekali, justru dia sendiri yang sangat ingin ikut—baik itu saat latihan di lapangan maupun dalam kegiatan tim lainnya.

Hal tersebut menjadi momen kebersamaan saya bersama Reno di masa pertumbuhannya, sehingga terbangun ikatan emosional yang sangat baik antara kami berdua. Walaupun di rumah jarang bertemu karena padatnya aktivitas, hubungan kami sebagai ayah dan anak justru makin terjalin erat di lapangan.”

3. Menjadi Ayah sekaligus mentor: Menjawab Beban Nama Besar

Ketika Reno memutuskan untuk melangkah serius ke dunia sepak bola profesional, rasa bangga seorang ayah tentu membuncah. Namun di sisi lain, Ricardo tidak memungkiri adanya rasa khawatir akan bayang-bayang nama besar yang harus dipikul oleh sang anak.

“Ketika muncul keinginan dari dirinya untuk menjadi seorang pemain profesional, tentunya saya cukup senang. Saya mencoba menata jalannya dan membagikan pengalaman-pengalaman yang pernah saya lalui kepadanya.

Namun, tentunya ada rasa khawatir juga. Ada beban tersendiri yang dia tanggung karena secara tidak langsung nama besar orang tua akan terseret ketika dia mengawali kariernya. Itu menjadi salah satu kekhawatiran saya: apakah dia mampu melewati hal tersebut? Sebab, tidak banyak anak dari mantan pesepak bola yang terlibat langsung di dunia sepak bola mampu melewati fase itu.

Sebagai orang tua sekaligus mentornya, saya selalu memberikan motivasi, wejangan, dan nasihat ketika dia mengalami situasi sulit yang sebenarnya pernah saya alami dulu. Saya memberikan pandangan tentang bagaimana cara menghadapi masa-masa sulit tersebut.”

4. Membuktikan diri lewat kerja keras

Ujian terberat bagi anak seorang legenda sering kali datang dari sudut pandang publik. Tudingan tentang “hak istimewa” atau keberadaan anak di dalam tim karena faktor sang ayah adalah hal yang kerap tak terelakkan. Namun, Reno berhasil menjawab keraguan tersebut dengan pembuktian di lapangan.

“Puji Tuhan, dia bisa melewati fase pertama itu ketika terlibat langsung di sepak bola profesional. Sebagai orang tua, tentu saya merasa bangga melihat perkembangannya, meski di awal-awal rasa khawatir itu cukup dominan karena adanya penilaian publik.

Apalagi mengingat posisi saya sebagai pelatih dan dia ada di dalam tim, banyak orang sempat berpikir keberadaannya di dalam tim adalah karena saya. Tapi puji Tuhan, dia bisa melewati masa-masa itu dengan sangat baik dan membuktikan bahwa kehadirannya di dalam tim memang murni karena kemampuan yang dia miliki.”

Dari kisah Ayah Ricardo Salampessy, kita belajar bahwa mendampingi impian anak tidak harus selalu dengan cara mendikte. Kadang, peran terbaik seorang ayah adalah dengan menjadi ruang yang aman untuk anak mengeksplorasi minatnya, hadir di setiap proses tumbuh kembangnya meskipun dalam keterbatasan waktu, serta menjadi tempat bersandar saat sang anak harus menghadapi kerasnya dunia luar.