Jangan Keburu Baper, 8 Red Flag Ini Sebaiknya Kamu Perhatikan Saat First Date

Sex & Relationship

Mommies Daily・in 5 hours

detail-thumb

Jangan keburu baper! Kenali 8 red flag first date yang perlu diperhatikan, mulai dari tak menghargai batasan, terlalu intens, hingga perilaku mengontrol.

Ada yang baru ketemu sudah terasa klik. Obrolan mengalir, dia perhatian, penampilannya menarik, bahkan mungkin sudah ada sedikit rasa, “Kayaknya ini orang yang selama ini gue cari.”

Eits, jangan buru-buru baper.

Pertemuan pertama seharusnya bisa memberikan sejumlah petunjuk tentang cara seseorang berkomunikasi, menghargai batasan, menghadapi perbedaan, dan memperlakukan orang lain.

Jadi, sebelum chemistry bikin kita lupa berpikir jernih, coba perhatikan beberapa red flag first date berikut.

BACA JUGA: Ide Kencan untuk Pasangan Sibuk Bekerja, Tetap Romantis

1. Baru Kenal, tapi Sudah Terlalu Intens

Baru satu kali bertemu, tetapi dia sudah mengatakan hal-hal seperti, “Aku ngerasa kita cocok banget,” “Kayaknya kamu soulmate aku,” atau bahkan mulai membicarakan hubungan serius dan masa depan bersama.

Romantis? Bisa saja.

Tetapi kalau intensitasnya terasa jauh lebih cepat dibandingkan kedekatan yang sebenarnya terbangun, ada baiknya jangan langsung menganggapnya sebagai bukti bahwa dia sangat serius. P

Yang perlu dilihat: apakah dia memberikan ruang untuk hubungan berkembang secara natural atau justru membuat kamu merasa harus segera membalas intensitasnya?

Baca juga: From Swipe to Forever, Tips Kencan di Dating Apps Anti Gagal

2. Tidak Menghargai “Tidak”

Foto: Pexels

Kamu bilang tidak mau pindah tempat, dia terus membujuk. Kamu bilang belum nyaman membicarakan sesuatu, dia tetap memaksa. Kamu menolak kontak fisik tertentu, tetapi dia menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa dinegosiasikan.

Pemaksaan dapat berupa manipulasi, membuat seseorang merasa bersalah, mengancam akan mengakhiri hubungan, atau terus mengabaikan penolakan.

Dalam konteks dating dan seks, consent harus diberikan secara bebas tanpa tekanan, dan dapat ditarik kembali kapan saja. Mengabaikan penolakan, terus membujuk, atau membuat seseorang merasa bersalah karena tidak mau melakukan sesuatu termasuk perilaku yang tidak menghargai consent.

Perhatikan reaksinya ketika kamu menetapkan batasan. Seseorang yang menghargaimu tidak perlu membuatmu merasa bersalah karena punya batas.

Baca juga: Kenalan dengan Exer Dating, Gaya Kencan yang Bikin Tubuh Sehat

3. Kasar kepada Pelayan atau Orang Lain

Coba perhatikan bagaimana dia memperlakukan orang yang secara “posisi” ekonomi di bawahnya.

Misalnya membentak pelayan, meremehkan petugas parkir, mempermalukan staff restoran, atau marah berlebihan ketika mendapatkan pelayanan yang tidak sesuai keinginannya.

Satu kejadian tentu belum cukup untuk menyimpulkan karakter seseorang. Bisa saja ada situasi yang tidak kita ketahui.

Namun, kalau perilaku merendahkan atau agresif itu muncul berulang kali, jangan buru-buru mengabaikannya hanya karena dia bersikap manis kepada kamu.

Pertanyaan sederhananya: Apakah dia hanya baik kepada orang yang ingin dia dekati?

4. Semua Cerita Selalu Tentang Dirinya

Kamu bertanya tentang pekerjaan, hobinya, keluarganya, atau kehidupannya dan dia senang bercerita. Itu sebenarnya normal.

Yang perlu diperhatikan adalah apakah percakapan hanya berjalan satu arah.

Setiap kali kamu mulai bercerita, dia kembali mengarahkan pembicaraan kepadanya. Ketika kamu membagikan pengalaman, dia langsung mengalahkan ceritamu dengan pengalaman yang menurutnya lebih hebat. Bahkan ketika kamu bicara tentang sesuatu yang penting bagimu, dia terlihat tidak tertarik.

Ketertarikan yang sehat biasanya berjalan dua arah.

Coba lihat apakah dia benar-benar ingin mengenal kamu atau sekadar membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dirinya.

5. Terlalu Banyak Membicarakan Mantan

Membicarakan mantan sebenarnya bukan otomatis red flag. Dalam proses mengenal seseorang, cerita tentang hubungan sebelumnya bisa saja muncul secara natural.

Yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar mantan masih mengambil ruang dalam percakapan dan emosinya.

Apalagi kalau sebagian besar first date justru berubah menjadi sesi membicarakan mantan, menyalahkan mantan atas semua masalah, atau membandingkan kamu dengan hubungan sebelumnya.

6. Cepat Cemburu atau Mulai Mengatur

Kontrol dalam hubungan bisa muncul dalam bentuk pengawasan terhadap keberadaan, aktivitas sosial, hingga upaya mengisolasi seseorang dari orang-orang terdekat. Perilaku mengontrol, membatasi hubungan sosial, dan isolasi memang termasuk tanda yang perlu diperhatikan dalam hubungan yang tidak sehat.

Perhatian dan kontrol bukan hal yang sama.

Kalau baru di tahap awal dating saja sudah ada upaya mengatur dengan siapa kamu boleh berteman, ke mana kamu boleh pergi, atau bagaimana kamu harus menjalani aktivitasmu, coba perhatikan polanya dan bagaimana dia merespons ketika kamu mengatakan tidak.

BACA JUGA: · Kenalan dengan Exer Dating, Gaya Kencan yang Bikin Tubuh Sehat

7. Bercanda, tapi Isinya Merendahkan

Foto: Pexels

Misalnya membuat lelucon tentang tubuh, pekerjaan, penampilan, perempuan, mantan, atau sesuatu yang kamu ceritakan sebagai hal sensitif.

Satu lelucon yang tidak sengaja menyinggung tentu berbeda dengan pola terus-menerus meremehkan, mempermalukan, atau membuat kamu merasa kecil.

Psychology Today mencatat bahwa kebiasaan mengejek minat, identitas, atau kerentanan pasangan secara berulang dapat menjadi bagian dari pola perilaku emosional yang tidak sehat.

Lihat reaksinya ketika kamu bilang lelucon itu membuatmu tidak nyaman. Apakah dia meminta maaf dan menghargainya, atau malah menyalahkan kamu karena dianggap tidak bisa bercanda?

8. Kamu Merasa Tidak Nyaman, tapi Terus Mencari Alasan untuk Memakluminya

Ini mungkin red flag yang paling mudah kita abaikan.

Bukan karena setiap perasaan tidak nyaman berarti orang tersebut pasti bermasalah. First date memang bisa membuat seseorang gugup, canggung, atau salah bicara.

Namun, kalau sejak awal kamu terus merasa tidak nyaman, takut menolak, merasa harus menjaga ucapan, atau ada sesuatu yang terasa “off”, jangan langsung mengabaikannya hanya karena dia menarik atau kamu sudah terlanjur suka.

Intuisi juga bisa menjadi salah satu informasi yang patut diperhatikan—bukan sebagai bukti bahwa seseorang pasti buruk, tetapi sebagai sinyal untuk berhenti sejenak dan melihat situasinya lebih objektif.

Jadi, Haruskah Langsung Ghosting Kalau Menemukan Satu Red Flag?

Belum tentu.

Red flag bukan diagnosis karakter seseorang. Satu perilaku yang membuat tidak nyaman tidak otomatis berarti seseorang adalah pasangan yang buruk atau berbahaya.

Yang lebih penting adalah melihat pola, frekuensi, konteks, dan bagaimana dia merespons ketika batasan disampaikan. Dalam hubungan yang sehat, batasan seharusnya bisa dikomunikasikan dan dihargai, bukan justru menjadi alasan untuk menekan atau mengontrol pasangan.

Namun, untuk hal yang menyangkut keselamatan, ancaman, pemaksaan seksual, intimidasi, atau pelanggaran batas yang serius, kamu tidak perlu menunggu sampai punya “cukup bukti” untuk pergi.

Kamu juga tidak berutang second date kepada seseorang hanya karena first date sudah terjadi.

Jadi, boleh menikmati chemistry. Boleh deg-degan. Boleh berharap.

Tapi jangan sampai rasa suka membuat kita mengabaikan hal-hal yang sebenarnya sudah terlihat sejak first date.

Cover: Pexels