
Toddler suka memukul saat marah? Kenali penyebabnya dan cari tahu 10 cara merespons anak tanpa ikut terpancing emosi.
Lagi asyik memperhatikan si Kecil main ayunan di taman dengan tenang, tiba-tiba, plak! Tangannya melayang mendarat di pipi teman mainnya. Momen seperti ini mungkin pernah membuat Mommies bertanya-tanya, kenapa toddler suka memukul saat marah? Atau mungkin ia tiba-tiba menggigit, menendang, dan merebut mainan saudaranya saat keinginannya tak dituruti.
Momen seperti ini sering kali bikin kaget dan malu. Namun, tahukah Mommies? Perilaku toddler suka memukul, menggigit, atau menendang sebenarnya bisa menjadi bagian dari fase perkembangan emosi anak yang wajar, terutama pada rentang usia 18 bulan hingga 3 tahun. Pada usia ini, kemampuan bahasa dan kontrol impuls anak masih berkembang sehingga mereka belum selalu mampu mengungkapkan rasa frustrasi dengan kata-kata.
Meski wajar terjadi, bukan berarti perilaku memukul boleh dibiarkan. Memahami penyebab anak memukul dan tahu cara merespons dengan tepat adalah kunci utama agar anak belajar mengelola amarahnya tanpa menyakiti orang lain.

Pemicu aksi fisik anak kerap terlihat sepele di mata orang dewasa. Mulai dari warna gelas yang salah, biskuit yang terbelah dua, hingga adik yang duduk terlalu dekat. Namun, pemicu utamanya bukanlah hal sepele tersebut, melainkan adanya dorongan emosi yang belum mampu ia kelola.
Berikut beberapa alasan utama kenapa anak suka memukul yang perlu dipahami, sebagaimana dijelaskan dalam ulasan tumbuh kembang di NeuroLaunch:
Salah satu pemicu yang umum adalah ketidakcocokan antara apa yang ingin anak sampaikan dan kemampuan bahasanya yang belum matang. Ketika kata-kata belum sanggup mengutarakan emosi, aksi fisik pun bisa mengambil alih.
Seiring kemampuan bahasa berkembang, anak perlahan memiliki lebih banyak cara untuk menyampaikan keinginan, rasa frustrasi, dan emosinya tanpa harus menggunakan tindakan fisik.
Anak-anak adalah peniru yang luar biasa. Eksperimen klasik Bobo Doll puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa anak yang mengamati orang dewasa berperilaku agresif dapat meniru tindakan tersebut.
Rumah yang sering menyelesaikan konflik dengan teriakan atau kontak fisik secara tidak langsung dapat mengajarkan anak bahwa cara tersebut merupakan salah satu cara menghadapi konflik. Karena itu, cara orang dewasa merespons rasa marah juga menjadi contoh bagi si Kecil.
Perubahan rutinitas, kehadiran adik baru, hingga penyesuaian masuk daycare bisa memicu stres pada anak. Karena belum mampu berpikir, “Aku merasa cemas dengan perubahan ini,” anak bisa mengekspresikan rasa tidak amannya melalui tubuh dan tindakan fisik.
Mommies juga bisa memperhatikan apakah perilaku memukul lebih sering muncul ketika anak lapar, lelah, kewalahan, atau menghadapi perubahan rutinitas. Mengenali pola seperti ini dapat membantu mencegah ledakan emosi berikutnya.
Dalam beberapa kasus, perilaku agresif bisa lebih sering muncul bersamaan dengan masalah pengolahan sensorik, keterlambatan bicara, gangguan tidur, atau kondisi tumbuh kembang tertentu.
Bukan berarti anak yang suka memukul pasti memiliki kondisi tersebut. Namun, jika perilaku agresif muncul terus-menerus atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak, Mommies bisa mendiskusikannya dengan dokter anak atau profesional tumbuh kembang.
Angharad Rudkin, seorang psikolog klinis sekaligus pakar medis dari BabyCentre, memberikan penegasan untuk meredakan kepanikan orang tua, “Memang sangat menyedihkan melihat anak kita yang manis menjadi agresif kepada orang lain. Namun ingatlah, ini bisa menjadi bagian normal dari perkembangan dan tidak berarti anak akan terus seperti ini selamanya.”
Pada usia ini, perilaku sering kali menjadi salah satu bentuk komunikasi anak, termasuk ketika perasaannya diwujudkan melalui memukul atau menggigit.
Melansir dari panduan perkembangan anak ZERO TO THREE, perilaku menantang pada toddler dapat menjadi bagian dari proses perkembangan karena kemampuan mengendalikan impuls dan mengelola emosi mereka masih berkembang. Pada banyak anak, perilaku tantrum dan agresif akan berkurang seiring bertambahnya kemampuan bahasa, regulasi emosi, dan kemampuan menyelesaikan konflik.
Namun, setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Yang lebih penting bukan menghitung kapan tepatnya fase memukul akan berhenti, melainkan melihat apakah frekuensi dan intensitas perilaku tersebut perlahan berkurang seiring anak mendapatkan dukungan dan batasan yang konsisten.
Mommies bisa membantu proses ini dengan menyebutkan emosi yang dirasakan si Kecil. Kalimat sederhana seperti, “Kamu marah ya, karena menaranya rubuh?” membantu memberikan kata-kata yang mereka butuhkan untuk memahami perasaannya, ketimbang langsung memarahinya.
BACA JUGA: Kenali 7 Masalah Perilaku pada Balita, Supaya Mommies Nggak Frustrasi

Mengapa orang tua kerap kali ikut emosi saat melihat anak memukul? Sering kali karena kita menganggap anak sengaja bertindak “nakal”. Padahal, pada usia toddler, kemampuan mengendalikan impuls masih berkembang sehingga anak dapat bertindak secara fisik ketika frustrasi atau kewalahan oleh emosi.
Karena itu, tugas orang tua bukan hanya menghentikan perilaku memukul, tetapi juga menjadi “wadah yang tenang” (co-regulator) bagi emosi anak. Cara orang tua merespons saat anak sedang kehilangan kendali dapat membantu anak belajar mengatur emosinya secara bertahap.
Meski ledakan emosi sesekali adalah hal yang wajar saat tantrum, perilaku memukul tetap perlu dihentikan. Mengutip panduan pengasuhan HealthyChildren, berikut langkah tepat untuk mengatasi toddler yang agresif:
Anak tidak langsung memahami aturan sampai kita mengajarkannya. Tetapkan harapan dan aturan perilaku yang jelas dan konsisten, misalnya, “Di rumah kita, tangan digunakan untuk menyayangi, bukan untuk menyakiti.”
Gunakan kalimat yang sama setiap kali perilaku tersebut muncul agar anak perlahan memahami batasannya.
Jangan berharap anak balita langsung memiliki kontrol diri seperti orang dewasa. Mereka membutuhkan bimbingan kita untuk belajar tidak menendang, memukul, atau menggigit saat marah, melainkan mengekspresikan perasaan lewat kata-kata.
Ekspektasi yang sesuai usia akan membantu Mommies tetap tegas tanpa menganggap anak sengaja menantang aturan.
Kalimat seperti, “Hentikan atau nanti Mama hukum!” cenderung tidak membantu anak memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Ketika anak memukul, hentikan perilakunya dengan tenang dan tegas. Misalnya, “Mama nggak izinkan kamu memukul. Memukul itu sakit.” Setelah anak lebih tenang, barulah bantu ia memahami cara lain untuk menyampaikan keinginannya.
Kedisiplinan yang efektif terjadi secara berkelanjutan, bukan hanya saat anak berbuat salah. Puji si Kecil saat ia bersikap lembut, mau menunggu giliran, berbagi, atau berhasil menyampaikan rasa kesalnya dengan kata-kata.
Perhatian positif seperti ini membantu anak memahami perilaku apa yang diharapkan darinya.
Selalu dampingi anak saat bermain, terutama jika Mommies sudah mengetahui ada situasi tertentu yang mudah memicu konflik.
Jika terjadi pertengkaran fisik antaranak yang terus berlanjut atau anak terlihat sangat emosional, segera pisahkan mereka hingga situasinya aman dan emosinya lebih tenang. Setelah itu, bantu anak memahami apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan lain kali.
Latih anak untuk mengatakan “Tidak!” dengan nada tegas, meminta bantuan orang dewasa, bergantian menggunakan mainan, atau menyampaikan keinginannya dengan kata-kata ketimbang main fisik.
Tunjukkan bahwa menyelesaikan masalah dengan kata-kata membutuhkan latihan, tetapi bisa membantu anak mendapatkan apa yang ia butuhkan tanpa menyakiti orang lain.
Saat melihat tanda-tanda anak mulai emosional, mengalihkan perhatiannya ke aktivitas lain yang menenangkan dapat membantu meredakan situasi, terutama pada toddler yang masih kesulitan mengendalikan impuls.
Namun, jangan menjadikan distraksi sebagai “suap” agar anak berhenti memukul. Tujuannya adalah membantu anak keluar dari situasi yang semakin memanas, bukan mengajarkan bahwa memukul akan menghasilkan hadiah.
Time-out bisa menjadi salah satu pilihan ketika perilaku anak terus berlanjut dan batas yang sudah diberikan tidak berhasil. Jika digunakan, lakukan secara singkat dan sesuai usia anak.
Namun, time-out bukan satu-satunya cara untuk merespons perilaku agresif. Yang paling penting adalah memastikan perilaku memukul dihentikan, anak aman, dan setelah tenang ia mendapatkan kesempatan untuk belajar tentang perilaku yang lebih tepat.
Salah satu cara terbaik mengajarkan perilaku baik adalah dengan mengontrol emosi kita sendiri. Jika orang tua mengekspresikan kemarahan dengan cara yang tenang, anak mendapatkan contoh bagaimana menghadapi emosi besar tanpa menggunakan kekerasan.
Tentu saja, Mommies juga manusia dan bisa kehilangan kesabaran. Jika sampai ikut berteriak atau bereaksi berlebihan, Mommies tetap bisa memperbaiki situasi dengan meminta maaf dan menunjukkan cara merespons yang lebih baik setelah suasana tenang.
BACA JUGA: Anak Pemarah? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Menetapkan batas bukan berarti Mommies adalah orang tua yang jahat. Anak tetap perlu tahu bahwa memukul, menggigit, atau menyakiti orang lain bukan perilaku yang boleh dilakukan.
Sampaikan batas tersebut dengan tenang dan konsisten. Tidak perlu merasa bersalah karena menghentikan perilaku yang membahayakan, tetapi tetap beri ruang bagi anak untuk belajar dan mencoba cara yang lebih tepat.

Beberapa respons refleks yang sering dilakukan orang tua justru bisa memperburuk situasi. Berdasarkan berbagai panduan pengasuhan, termasuk dari HealthyChildren dan Kapi Parenting, hindari hal-hal berikut:
American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan hukuman fisik karena respons agresif dari orang dewasa dapat memperkuat perilaku agresif pada anak.
Anak juga belajar melalui contoh. Jika orang tua memukul ketika marah, pesan yang diterima anak bisa menjadi membingungkan: memukul dilarang, tetapi boleh dilakukan ketika seseorang sedang marah.
Anak yang sedang meltdown biasanya belum mampu memproses penjelasan panjang dengan baik. Gunakan kalimat pendek dan tegas, seperti, “Mama tidak izinkan kamu memukul.”
Pembahasan lebih panjang bisa dilakukan setelah emosinya benar-benar reda dan anak sudah lebih siap mendengarkan.
Jika anak terus memukul, Mommies tentu perlu menjauhkannya dari situasi tersebut demi keamanan. Namun, jangan menjadikan anak sendirian sebagai hukuman tanpa membantu mereka memahami emosinya.
Setelah situasi aman, tetap dampingi si Kecil untuk menenangkan diri dan ajarkan perilaku yang bisa dilakukan sebagai gantinya.
BACA JUGA: Ada Tantrum, Ada Sensory Meltdown, Pahami Bedanya!
Perilaku memukul yang menyebabkan orang lain terluka tetap membutuhkan respons yang konsisten. Jangan berharap anak otomatis berhenti hanya karena perilakunya diabaikan.
Hentikan perilakunya dengan tenang, tegaskan batas, lalu bantu anak belajar cara lain untuk menyampaikan rasa marah atau frustrasinya.
BACA JUGA: Sudah Jadi Orangtua, Masih Alami Tantrum?
Sebagian besar perilaku anak memukul saat tantrum dapat berkaitan dengan rasa frustrasi dan kemampuan regulasi emosi yang masih berkembang. Namun, Mommies perlu lebih waspada jika perilaku agresif berlangsung terus-menerus, semakin berat, menyebabkan cedera, atau disertai kekhawatiran lain mengenai perkembangan anak.
Seperti saran dari Michael Vallejo, LCSW, seorang terapis anak dari Mental Health Center Kids, orang tua perlu mempertimbangkan konsultasi dengan profesional jika perilaku agresif atau tindakan menyakiti diri sendiri sudah berada di luar kendali orang tua, seperti:
Mommies juga bisa berkonsultasi lebih awal jika merasa khawatir atau kesulitan mengendalikan situasinya. Konsultasi bukan berarti anak pasti memiliki masalah perkembangan tertentu, tetapi dapat membantu mencari tahu apakah ada kebutuhan atau pemicu yang selama ini belum terlihat.
Cover: Pexels