
Seks sebagai hadiah atau hukuman bisa menjadi pola manipulasi dalam hubungan. Kenali tanda, sexual coercion, dan cara membangun relasi yang lebih sehat.
Pernah dengar pasangan bilang, “Kalau kamu mau melakukan ini, nanti kita seks,” atau sebaliknya, “Aku nggak mau berhubungan seks sama kamu karena kamu bikin aku kesal”?
Sekilas, kalimat seperti ini mungkin terdengar seperti dinamika biasa dalam sebuah hubungan. Toh, setiap pasangan punya cara masing-masing untuk menunjukkan rasa sayang, kecewa, atau mengelola konflik.
Namun, Mommies perlu memperhatikan satu hal: ketika seks mulai digunakan secara sengaja untuk mendapatkan sesuatu, mengontrol pasangan, memberi “imbalan”, atau menghukum, pola ini bisa menjadi tanda hubungan yang tidak sehat.
Sebab, seks seharusnya lahir dari keinginan dan persetujuan kedua orang, bukan menjadi alat tawar-menawar.
BACA JUGA: Visum Korban Kekerasan Seksual Tidak Lagi Ditanggung Negara, Ini Dampaknya!

Dalam hubungan, memberikan atau menolak seks tentu bukan sesuatu yang otomatis salah. Setiap orang punya hak penuh untuk mengatakan ya atau tidak terhadap aktivitas seksual, kapan pun.
Yang perlu diperhatikan adalah alasan dan polanya.
Artinya, bukan berarti setiap kali seseorang menolak seks setelah bertengkar, ia sedang “menghukum” pasangan. Yang membedakan adalah apakah penolakan tersebut merupakan batasan pribadi atau sengaja digunakan sebagai alat untuk mengontrol, menekan, atau membuat pasangan melakukan sesuatu.
Misalnya, menggunakan seks sebagai hadiah bisa terlihat seperti:
Sementara itu, menggunakan seks sebagai hukuman bisa berupa:
Sekali-dua kali pasangan tidak ingin berhubungan seks karena sedang marah, lelah, kecewa, atau memang tidak mood, tentu berbeda. Yang menjadi masalah adalah ketika seks secara konsisten dijadikan alat untuk mengendalikan perilaku pasangan.
Mungkin terdengar sepele, tetapi ada perbedaan antara flirting atau bercanda dan benar-benar menjadikan seks sebagai alat transaksi.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang boleh saja berkata, “Aku pengin banget sama kamu setelah melihat kamu mengurus anak-anak hari ini.” Itu ekspresi ketertarikan.
Tetapi kalau polanya menjadi “Kalau kamu tidak melakukan X, aku tidak akan memberi kamu seks,” seks mulai ditempatkan sebagai alat kontrol.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), dalam hubungan yang sehat, seks merupakan pilihan. Kedua pihak harus merasa nyaman dan tidak boleh ada tekanan untuk melakukan aktivitas seksual.
Jadi, Daddies dan Mommies, seks bukan hadiah atas perilaku baik pasangan, dan tidak berhubungan seks juga bukan hukuman yang harus diterima pasangan.
BACA JUGA: MD Ask the Expert: Waspada Anak dan Remaja Jadi Korban Pelecehan Seksual Online hingga Pornografi

Nah, ini bagian yang penting.
Menolak seks bukan otomatis manipulasi.
Mommies berhak mengatakan tidak ketika sedang capek, tidak nyaman, sedang sakit, stres, atau memang tidak ingin berhubungan seksual. Begitu juga dengan Daddies.
Consent atau persetujuan seksual harus diberikan secara bebas, tanpa tekanan, manipulasi, rasa takut, atau ancaman. Persetujuan juga bisa ditarik kapan saja.
Jadi, kalimat seperti: “Aku sedang nggak ingin seks malam ini” adalah batasan yang sehat.
Berbeda dengan: “Kamu nggak mau melakukan yang aku minta? Ya sudah, aku nggak akan kasih kamu seks selama seminggu.”
Kalimat kedua menunjukkan adanya unsur transaksi atau hukuman, terutama jika pola tersebut terus berulang untuk mengontrol pasangan.
Masalahnya bukan sekadar soal frekuensi seks. Yang lebih penting adalah power dan control dalam hubungan.
Seksual coercion atau pemaksaan seksual tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Tekanan dapat berupa rasa bersalah, ancaman putus, intimidasi, terus-menerus membujuk setelah pasangan mengatakan tidak, atau membuat seseorang merasa berutang seks.
Secara sederhana, sexual coercion adalah tekanan atau manipulasi yang membuat seseorang merasa harus mengatakan “ya” terhadap aktivitas seksual yang sebenarnya tidak ia inginkan secara bebas.
Contohnya:
“Kalau kamu benar-benar sayang aku, harusnya kamu mau.”
“Atau kamu mau seks sama aku, atau kita putus.”
“Kamu sudah jadi suamiku, masa aku harus minta?”
Kalimat-kalimat tersebut patut diwaspadai ketika digunakan untuk membuat seseorang merasa tidak punya pilihan.
Bahkan, kekerasan seksual dapat melibatkan tindakan untuk menguasai atau memanipulasi orang lain agar terlibat dalam aktivitas seksual yang tidak dikehendaki.
Bisa menjadi tanda pola hubungan tidak sehat, terutama jika perilakunya terus berulang dan disertai bentuk kontrol lain.
Coba perhatikan apakah pasangan juga:
Kontrol dalam hubungan memang tidak selalu terlihat dramatis. American Psychological Association menjelaskan bahwa kontrol merupakan salah satu ciri penting dalam kekerasan terhadap pasangan, termasuk upaya mengontrol aktivitas, hubungan sosial, atau mengancam akan menyakiti dirinya sendiri atau pasangannya.
BACA JUGA: 7 Fantasi Seksual yang Sebaiknya Dipikirkan Sebelum Dicoba
Kalau Mommies merasa ada pola seperti ini dalam hubungan, tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri atau buru-buru mengambil keputusan besar.
Coba tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya merasa bebas mengatakan “tidak” tanpa takut pasangan marah, mengancam, atau menghukum saya?
Mommies bisa mengatakan:
“Aku ingin kita tetap punya kehidupan seksual yang menyenangkan, tapi aku nggak nyaman kalau seks dijadikan hadiah atau hukuman. Aku ingin kita bisa membicarakan keinginan dan kekecewaan tanpa menggunakan seks sebagai alat untuk mengontrol satu sama lain.”
Pasangan yang sehat mungkin merasa kecewa atau tidak langsung mengerti, tetapi idealnya tetap mau mendengarkan dan menghormati batasan. Sebaliknya, jika pembicaraan justru diikuti ancaman, intimidasi, atau tekanan yang semakin kuat, ini perlu menjadi perhatian serius.
Dan kalau sudah ada pemaksaan seksual, ancaman, atau rasa takut terhadap keselamatan diri, jangan hadapi sendirian. Mencari bantuan dari psikolog, konselor, layanan pendamping korban kekerasan, atau orang yang dipercaya bisa menjadi langkah awal.
RAINN juga menekankan bahwa ketika seseorang ditekan atau dipaksa melakukan aktivitas seksual, kejadian tersebut tetap penting dan bukan kesalahan korban.
Untuk pembaca di Indonesia yang membutuhkan pendampingan terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak, SAPA 129 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dapat dihubungi melalui hotline 129 atau WhatsApp 08111-129-129. Layanan ini juga menyediakan formulir pengaduan online.

Dalam hubungan jangka panjang, wajar kalau gairah naik-turun. Wajar juga kalau Mommies dan Daddies sesekali punya keinginan seksual yang berbeda.
Yang tidak sehat adalah ketika perbedaan tersebut diselesaikan dengan manipulasi dalam hubungan.
Seks bisa menjadi cara untuk merasa dekat, menunjukkan kasih sayang, dan menikmati hubungan bersama. Tetapi supaya tetap menjadi pengalaman yang sehat, keduanya harus punya ruang untuk mengatakan “ya”, “tidak”, atau “belum” tanpa takut dihukum.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan bukan seseorang yang harus “diberi hadiah” atau “dihukum” lewat seks. Pasangan adalah partner yang batasan, keinginan, dan rasa amannya sama-sama perlu dihormati.