banner-detik
PARENTING & KIDS

Begini Cara Merespons Anak 2-3 Tahun Saat Bilang "Nggak Mau" Terus

author

RachelKalohin 6 hours

Begini Cara Merespons Anak 2-3 Tahun Saat Bilang "Nggak Mau" Terus

Yuk, pelajari cara merespons anak usia 2-3 tahun dengan kebiasaan ajaibnya yang selalu bilang “nggak mau”, tanpa ikut emosi.

Sedikit-sedikit “nggak mau”, diajak ini, disuruh itu, jawabannya selalu “nggak mau”. Sebenarnya, mungkin saja dia bukan beneran nggak mau, tapi, jawaban tersebut hanyalah respon yang keluar setiap kali mendengar kalimat ajakan kita. Nah, ini yang biasa terlintas di pikiran orang tua: “Memang, apa yang salah dari pertanyaanku?”, “Udah ditanya baik-baik, kenapa masih sering jawab “nggak mau”? Trus, mesti gimana, dong?”, sehingga cara merespons anak yang kita lakukan jadi keliru. Tenang, Mommies, saya paham betul kalau kesabaran kita lagi diuji, nih, sama si manusia kecil yang umurnya baru 2-3 tahun. Biar nggak ikut emosi dan bawaannya malah nge-gas balik, mari kita pelajari cara yang tepat.

Validasi perasaan saat ia bilang “nggak mau”

Sebagai generasi yang sehari-hari mengadopsi berbagai gaya pengasuhan:, gentle parenting, iya; VOC parenting, iya; pasti sudah paham kalau orang tua wajib memvalidasi perasaan anak setiap kali anak mengutarakannya, termasuk lewat kalimat “nggak mau”. Emosi yang anak rasakan itu semuanya valid. Hanya saja, si manusia kecil usia 2-3 tahun ini masih belum bisa mendeskripsikan yang sebetulnya sedang dia rasakan. 

Di balik “nggak mau”, ini yang sedang anak tunjukkan 

Anak sebetulnya sedang menunjukkan bahwa ia punya kendali atas dirinya, yang merupakan tanda kemampuan sosial anak sedang berkembang di usia 2-3 tahun. Ada kalanya juga, mereka hanya ingin melihat respon kita ketika mendengar penolakan lewat kata-kata “nggak mau”, bahkan bukan tidak mungkin anak sedang merasa frustasi karena nggak tahu mau bilang apa. Jadi, ya, dia bilang aja “nggak mau!” 

Baca juga: 10 Kecemasan Anak Balita yang Harus Orang Tua Pahami, Biar Nggak Drama 

Kenali pemicu “nggak-mau”-nya

Rasanya nggak mungkin kalau ketika mood-nya lagi bagus, ditawarkan yang ia suka, jawabnya bakalan “nggak mau”. Kita juga pasti paham, situasi apa, yang paling sering menjadi pemicu dari penolakan anak. Apakah setiap kali mau makan? Mau diajak tidur siang? Atau saat diajak bersalaman dengan orang baru? 

Tanyakan alasannya

Ketika mau makan, misalnya, tanyakan secara perlahan, “Kenapa nggak mau?” Anak biasanya akan merespon dengan berbagai alasan. Sayangnya, ketika kita sudah merasa lelah menyiapkan makanan, kemudian respon anak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, alhasil, kita cenderung ikutan emosi. Hal ini wajar, kita juga punya perasaan yang valid, terutama ketika sedang merasa kelelahan. Namun, ingat juga bahwa di mata anak, kita adalah satu-satunya orang yang ia harapkan bisa mengerti kebutuhannya. 

Alasan umum di balik anak menolak makan:

  • Menunya baru buat dia,
  • Belum terlalu lapar,
  • Masih mau main,
  • Lagi tumbuh gigi, jadi nggak nyaman buat ngunyah, dsb.

Dari daftar alasan ini saja, sebetulnya wajar kalau anak jadi bilang “nggak mau”. Kita yang dewasa saja, paling nggak suka, kan, kalau didesak untuk melakukan hal yang bikin kita nggak nyaman?

Beri anak (dan diri sendiri) waktu

Anak lelah dipaksa, ibu lelah membujuk, maka yang paling tepat untuk dilakukan, ya, beri waktu. Dengan kita memberi anak waktu, kita juga sedang memberi waktu buat diri sendiri untuk bernapas dan menenangkan pikiran. Meski saat itu keadaan mendesak kita untuk menyelesaikan hal lain, namun semakin kita memaksa agar anak makan, anak pun akan semakin tertekan. Maka, take your time! Things can wait! 

Ubah kalimat tanya, tawarkan pilihan

Ketika emosi kita dan anak sama-sama sudah reda, kita bisa switch kalimat ajakan kita dengan “Mau coba sedikit dulu, nggak? Nanti kalau nggak suka, nggak apa-apa, nggak usah dihabiskan”, atau “Mau coba makan sendiri pakai tangan, atau mau Mama bantu suapin?” Dengan cara ini anak akan belajar bahwa ada cara yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman, dan ia punya kendali untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut. 

Orang tua juga perlu membatasi penggunaan kata “nggak mau”

Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar sehari-hari. Kita sudah belajar cara merespons anak, tapi nggak sadar anak masih terpapar kalimat-kalimat yang membatasi dan yang bermakna penolakan, seperti, “Mama nggak mau, ya, kamu main air”, “Nggak boleh, ya!”, “Pokoknya enggak!”, maka anak akan merasa sah-sah saja untuk sering-sering bilang “nggak” atau “nggak mau”. Namun, bukan lalu kita jadi nggak bisa ngomong “nggak” sama sekali. Melainkan, kita bisa mengajarkan anak tentang kapan, sih, kita bisa bilang “nggak”, dan ada, lho, kalimat lain yang bisa menggambarkan rasa tidak nyaman.

Baca juga: 15 Rekomendasi Buku Anak yang Cocok Dibacakan Sejak Bayi untuk Stimulasi dan Bonding 

Pertanyaan: Apakah kita sering mengabaikan “nggak mau” anak?

Ketika situasinya anak menolak bersalaman dengan orang asing, bahkan menunjukkan sikap tidak ramah —yang kemudian bikin kita panik, seakan-akan nggak pernah ngajarin sopan santun—, padahal saat itu memang dia nggak nyaman, apakah kita cenderung mengabaikannya? Padahal, anak sedang menunjukkan kemampuannya lewat batasan yang ia buat. Dalam situasi ini, kita bisa membawa anak menjauh sebentar dari keramaian, sambil kita jelaskan perlahan, dan tetap membuka telinga mendengarkan perasaannya. Anak akan belajar cara yang tepat saat menghadapi situasi serupa dan akan menempel juga dalam benaknya, bahwa perasaannya dihargai. Ia juga tidak akan ragu menceritakan semua hal pada kita, orang tuanya. 

Baca juga: Dua Faktor Penting yang Membentuk Karakter Anak di Masa Depan Menurut Psikolog, Apa Saja?

Image by Magnific

Share Article

author

RachelKaloh

Ibu 2 anak yang hari-harinya disibukkan dengan menulis artikel dan content di media digital dan selalu rindu menjalani hobinya, menjahit.

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan