
Sekolah Tunas Indonesia, andalan orang Bintaro dan sekitarnya karena pengantarnya bahasa Inggris, menerima siswa ABK, dengan harga yang affordable.
Kalau bisa berangkat sekolah tanpa ngongkos, enam tahun lagi, orang tua mana yang nggak mau ambil kesempatan? Jujur, awalnya hanya itu saja tujuan saya saat survey Sekolah Tunas Indonesia (STI) yang kebetulan jaraknya satu kali lampu merah dari rumah. Bonusnya, bisa jalan kaki, hihihi!
Sebagai “orang lama” di daerah tempat saya tinggal, STI ini bukan tergolong sekolah baru, tapi jenjang akademik yang ditawarkan sekolah ini cukup lengkap, dari pre-school, TK, SD, SMP, SMA, pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), bahkan hingga pendidikan lanjutan (vokasi). Dan dari hari pertama mengantar anak saya masuk sekolah, saya merasakan betul keramaian di depan lobi sekolah. Para karyawan sekolah (terutama para asisten guru, OB, dan para petugas admin merangkap helper/usher nampak sigap melayani semua siswa, bahkan ABK dengan sepenuh hati. Tidak lupa tiga satpam inti yang bertugas di garda depan. Berhubung sebagian besar mobil hanya bisa berhenti untuk drop off, ajaibnya, mereka bisa hafal setiap mobil saat mengantar-jemput anak-anaknya yang sebanyak itu, wow!
Baca juga: Cara Memilih Sekolah untuk Anak: 9 Red Flag yang Wajib Diperhatikan Orang Tua

STI menerapkan integrasi antara Kurikulum Standar Nasional dan Kurikulum Cambridge Primary. Ini juga salah satu yang membuat saya yakin akan pilihan saya di awal. Ketika pertama kali anak saya survey ke kelas Primary 1, saya melihat banyak guru-guru muda yang menyambutkan dengan sangat ramah dan menggunakan bahasa Inggris, sesuai dengan bahasa pengantar yang anak saya dapatkan di Pre-School dan TK luar, sebelumnya. Jadi, meski pindah sekolah, setidaknya saya tahu bahwa kemampuan bahasa Inggris anak saya tidak akan sia-sia. Selain itu, anak saya juga mendapatkan mata pelajaran yang cukup menarik, selain yang paling utama, seperti Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Agama, CME (PPKN), Science, serta PE (Olahraga), ada juga pelajaran Gamelan seminggu sekali, dan bahasa Mandarin; yang kebetulan juga sudah ia dapatkan dari TK.
Baca juga: Anak Mulai Belajar Bahasa Mandarin? Ini 10 Tempat Les Mandarin yang Bisa Dipilih
Ini juga buat saya termasuk nilai bonus, karena awalnya saya tidak tahu kalau STI ternyata seluas itu bangunannya dan bangunan di belakang merupakan ORBIT, yakni divisi pelayanan bagi siswa berkebutuhan khusus yang nantinya diharapkan dapat berbaur, menyesuaikan diri, dan beradaptasi di kelas reguler. Berpegang pada prinsip “Tidak Ada Anak yang Tertinggal” (No Child Left Behind). Dan terbukti, beberapa teman sekelas anak saya merupakan ABK yang sudah mampu berbaur. Selain itu, di balik keramaian yang terjadi di jam pulang sekolah, anak-anak juga belajar saling menghargai ketika berhadapan dengan teman-teman ABK-nya, tidak ada satu siswa pun yang merasa tidak nyaman dalam suasana padat dan ramai tersebut. Semua belajar untuk saling berempati.
Baca juga: 20 SD Inklusi di Jabodetabek yang Bisa Menjadi Pilihan Orang Tua
Buat warga Bintaro, pilihan sekolah memang cukup banyak, radius satu kilometer dari rumah saya saja, sepertinya ada 10 sekolah yang bisa dijadikan pilihan. Namun, kembali lagi, tidak semua sekolah menawarkan paket biaya masuk yang sesuai kantong. Kebanyakan, ya, sekolah internasional yang harganya jelas bombastis. Saya paham bahwa harga tersebut sesuai dengan fasilitas, kurikulum, maupun ekstrakurikuler yang memang tersedia di dalamnya. Namun, dengan kualitas tenaga pengajar yang ada di STI, pilihan ekskul yang juga cukup beragam, dan bonus-bonus yang saya tulis di atas, rasanya saya telah memilih sekolah yang tepat dan sesuai dengan biaya yang saya keluarkan.
Biar nggak makin penasaran, cek langsung di https://sti.sch.id/, ya, Mommies! Dalam waktu dekat, alias bulan Oktober mendatang, STI juga bakalan open house untuk penerimaan siswa baru, lho!
Foto by Dokumentasi Sekolah Tunas Indonesia