Sorry, we couldn't find any article matching ''

Sering Dibilang Tone Deaf? 7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Terlihat Nggak Peka
Sering dibilang tone deaf? Cek 7 kebiasaan kecil yang tanpa sadar bisa bikin Mommies terlihat kurang peka terhadap perasaan dan situasi sekitar.
Pernah nggak, Mommies merasa sudah ngomong biasa saja, tapi tiba-tiba ada yang bilang, “Kok kamu nggak peka, sih?”
Atau malah setelah ngobrol sama seseorang, baru kepikiran, “Eh… tadi gue salah ngomong, ya?”
Istilah tone deaf sekarang memang sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang dianggap kurang peka terhadap situasi, perasaan, atau konteks sosial di sekitarnya. Padahal, tone deaf dalam konteks sosial bukan berarti seseorang pasti nggak punya empati. Kadang, kebiasaan kecil saat berkomunikasi saja yang membuat kita terlihat kurang sensitif.
Menariknya, penelitian tentang perspective-taking menunjukkan bahwa kemampuan memahami sudut pandang orang lain berkaitan dengan lebih rendahnya perilaku negatif dalam interaksi pasangan. Jadi, peka bukan cuma soal “bisa membaca pikiran orang”, tetapi juga bagaimana kita mencoba melihat situasi dari sudut pandang orang lain sebelum merespons.
BACA JUGA: 10 Kalimat Ini Menunjukkan Orang yang Kurang Memiliki Empati, Hindari!
7 Kebiasaan yang Bikin Kamu Terlihat Tone Deaf

Foto: Pexels
Nah, coba cek, apakah Mommies sering melakukan beberapa kebiasaan ini?
1. Cepat kasih solusi saat orang cuma ingin didengarkan
Teman cerita sedang capek mengurus anak, lalu kita langsung bilang, “Ya sudah, tinggal delegasikan saja.”
Atau seseorang curhat soal pekerjaan dan respons kita, “Kalau aku jadi kamu, sih, langsung resign.”
Niatnya mungkin membantu. Namun, kadang orang memang nggak sedang mencari solusi. Mereka cuma ingin didengarkan dulu.
Coba tahan keinginan untuk langsung memberi nasihat. Bisa mulai dengan, “Berat juga, ya,” atau “Kamu pasti capek banget.”
Kadang validasi sederhana justru lebih dibutuhkan daripada lima solusi sekaligus.
2. Membandingkan masalah orang dengan pengalaman sendiri
“Ah, aku juga pernah mengalami yang lebih parah.”
“Dulu pas anakku masih bayi, aku malah sendirian.”
Kalimat seperti ini mungkin terdengar seperti usaha menunjukkan bahwa kita memahami. Tapi bagi orang yang sedang bercerita, respons tersebut bisa terasa seperti pengalamannya sedang dikecilkan.
Boleh kok berbagi pengalaman sendiri. Hanya saja, beri ruang dulu untuk cerita mereka selesai sebelum percakapan berubah menjadi cerita tentang kita.
3. Bercanda di situasi yang sebenarnya nggak pas
Humor memang bisa mencairkan suasana. Masalahnya, tidak semua situasi butuh dicairkan.
Teman baru cerita sedang menghadapi masalah rumah tangga, kita malah bercanda. Atau seseorang sedang kecewa, tetapi respons pertama kita justru meme dan ketawa.
Kalau orang lain sampai bilang, “Ini bukan waktunya bercanda,” mungkin yang perlu diperhatikan bukan selera humornya, tetapi apakah kita membaca situasinya dengan tepat.
4. Memotong cerita karena merasa sudah tahu ujungnya
“Ah, aku tahu kok maksud kamu.”
Lalu belum selesai orang tersebut bicara, kita sudah menyimpulkan, memberikan pendapat, atau bahkan mengganti topik.
Padahal, mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran bicara.
Penelitian yang melibatkan 1.225 orang dalam lima studi menemukan bahwa orang sering kesulitan membedakan apakah lawan bicaranya benar-benar memperhatikan atau hanya terlihat seperti mendengarkan. Bahkan, partisipan cenderung melebihkan seberapa perhatian lawan bicaranya. Artinya, merasa sudah mendengarkan belum tentu sama dengan membuat orang lain merasa didengarkan.
Jadi, sesekali nggak apa-apa menahan diri untuk nggak langsung menyela.
BACA JUGA: 13 Kesalahan Komunikasi Pasangan Baru, Bisa Bikin Pernikahan Gagal!
5. Menganggap semua orang punya standar sensitif yang sama
“Ah, dia baper banget.”
“Kan aku cuma bercanda.”
“Kalau aku sih nggak akan tersinggung.”
Masalahnya, ukuran nyaman setiap orang memang berbeda.
Sesuatu yang menurut kita lucu bisa saja terasa menyakitkan bagi orang lain. Bukan berarti kita harus takut bicara atau selalu menyenangkan semua orang, tetapi memahami bahwa perspektif orang lain bisa berbeda dari kita adalah bagian dari empati.
6. Tetap fokus ke HP saat orang sedang bicara
Ini kelihatannya sepele, tapi efeknya bisa terasa banget.
Lagi ngobrol, tangan tetap scrolling. Lawan bicara cerita, kita sambil membalas chat. Sesekali bilang “iya, iya” padahal sebenarnya nggak tahu dia baru ngomong apa.
Mommies mungkin merasa masih mendengarkan. Tapi dari sisi orang yang diajak bicara, sinyal yang terlihat bisa sangat berbeda.
Kalau pembicaraannya penting, coba letakkan HP sebentar. Nggak harus satu jam. Lima atau sepuluh menit benar-benar hadir saja sudah jauh lebih terasa.
7. Nggak membaca situasi sebelum bicara
Ini mungkin yang paling sering bikin seseorang dicap tone deaf.
Misalnya, seseorang baru saja gagal mendapatkan sesuatu yang sangat dia inginkan, lalu kita malah bertanya, “Jadi kapan coba lagi?”
Atau teman sedang berusaha berdamai dengan masalah berat, kita justru melontarkan komentar yang sebenarnya tidak perlu.
Sebelum bicara, coba berhenti sebentar dan tanyakan dalam hati: “Kalau aku ada di posisi dia, kira-kira kalimat ini akan terasa bagaimana?”
Bukan berarti kita harus selalu benar membaca perasaan orang. Yang penting adalah punya kemauan untuk berhenti, mempertimbangkan konteks, dan memperbaiki diri ketika ternyata respons kita kurang tepat.
BACA JUGA: Komunikasi Anda dan Pasangan Sehat, Nggak? Cek di Sini!
Jadi, Apakah Kamu Termasuk Orang yang Tone Deaf?

Foto: Pexels
Tenang, sesekali salah membaca situasi bukan berarti otomatis membuat seseorang menjadi orang yang nggak punya empati.
Justru, kepekaan masih bisa dilatih. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang terbit pada 2024, yang menganalisis 110 studi, menemukan bahwa pelatihan tertentu dapat meningkatkan beberapa aspek empati. Namun, besarnya efek berbeda-beda tergantung jenis empati dan metode pelatihan yang digunakan.
Jadi, kalau pernah ditegur karena dianggap kurang peka, nggak perlu langsung defensif atau malah memberi label buruk ke diri sendiri.
Mungkin yang perlu dilakukan cuma sedikit pause sebelum merespons.
Dengarkan sampai selesai. Baca situasinya. Jangan buru-buru membandingkan. Dan kalau salah, ya bilang saja, “Oh, maaf. Aku tadi nggak kepikiran kalau kedengarannya begitu.”
Karena menjadi orang yang peka bukan berarti selalu tahu harus berkata apa.
Kadang, cukup tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan orang lain cuma butuh didengarkan.
BACA JUGA: Halo Ayah, Ini 10 Hal yang Diinginkan Istri Saat Curhat
Cover: Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS