
Weekend tanggal tua bukan berarti harus mager! Coba 10 aktivitas seru bareng anak yang murah, kreatif, dan bisa dilakukan di rumah atau luar rumah.
Weekend sudah di depan mata, tapi isi dompet mulai mengingatkan bahwa tanggal gajian masih beberapa hari lagi. Mau ajak anak jalan-jalan ke mal, makan di restoran, atau beli mainan baru pun rasanya harus pikir-pikir dulu.
Eits, weekend tanggal tua bukan berarti Mommies dan anak harus bosan di rumah. Banyak aktivitas seru bareng anak yang sebenarnya nggak membutuhkan banyak uang, bahkan bisa dilakukan dengan barang-barang yang sudah ada di rumah.
UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas bermain bersama anak juga bisa memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar rumah. Dalam kegiatan untuk orang tua di Kupang, misalnya, kardus bekas, wadah telur, dan stik es krim digunakan sebagai media permainan sekaligus belajar.
Jadi, sebelum membuka aplikasi e-commerce dan memasukkan mainan baru ke keranjang, coba lihat dulu apa saja yang tersedia di rumah. Siapa tahu, weekend kali ini justru menghasilkan cerita yang bakal diingat anak lebih lama.
BACA JUGA: 50 Aktivitas Anak saat Libur Sekolah di Rumah yang Seru dan Anti Bosan

Nggak perlu punya halaman luas untuk bikin arena permainan sendiri. Mommies bisa menggunakan bantal sofa, kursi, selimut, kardus, atau selotip kertas untuk membuat jalur yang harus dilewati anak.
Misalnya, anak harus melompat dari satu bantal ke bantal lain, merangkak di bawah kursi, berjalan mengikuti garis di lantai, lalu memasukkan bola ke keranjang cucian. Mommies juga wajib ikut, ya! Biar bukan cuma anak yang olahraga, tapi Mama juga sekalian dapat bonus keringat.
Aktivitas fisik seperti berjalan, berlari, dan bermain aktif juga termasuk bentuk aktivitas fisik yang bermanfaat bagi anak. WHO mencatat bahwa aktivitas fisik pada anak dan remaja berkaitan dengan perkembangan kognitif dan motorik, integrasi sosial, serta kesejahteraan secara umum.
Tetap pastikan area bermain aman, tidak ada benda tajam atau permukaan licin, dan sesuaikan tantangan dengan usia serta kemampuan anak.
Kalau belum memungkinkan camping sungguhan, kenapa nggak bikin versi rumahan? Gelar kasur atau selimut di ruang keluarga, susun bantal menjadi “tenda”, lalu matikan lampu dan gunakan lampu tidur atau senter.
Setelah itu, isi malam dengan cerita, tebak-tebakan, membaca buku, atau sekadar ngobrol. Nggak perlu dekorasi Pinterest-level juga. Justru tenda dari selimut yang agak miring dan bantal berantakan bisa terasa seperti petualangan kecil buat anak.
Kalau mau lebih seru, bikin aturan bahwa malam itu semua anggota keluarga tidur di “tenda” tersebut. Mau sampai akhirnya ada yang pindah ke kamar karena pegal? Itu urusan nanti.
Pilih satu film keluarga yang sudah tersedia di layanan streaming atau koleksi rumah, lalu buat suasana seperti bioskop. Tiketnya bisa berupa kertas buatan anak, ruang keluarga jadi studio, dan semua orang wajib membawa “bekal bioskop” masing-masing.
Untuk camilan, nggak perlu pesan snack box. Cek saja isi dapur: popcorn, roti panggang, pisang, kentang, biskuit, atau buah yang tersedia bisa diolah menjadi camilan sederhana.
Biar lebih seru, biarkan anak memilih film dan Mommies menentukan “aturan bioskop”, misalnya semua orang meninggalkan HP selama film berlangsung.
Kalau anak sudah mulai bosan melihat empat sudut rumah, waktunya pindah arena. Cari taman kota, ruang terbuka hijau, atau playground publik yang tidak memungut tiket masuk di sekitar rumah.
Ruang hijau juga bisa menjadi tempat anak bergerak, bermain, dan mengeksplorasi lingkungan. WHO menyebut ruang hijau seperti taman dan playground dapat mendukung aktivitas fisik, interaksi sosial, relaksasi, serta kesehatan fisik dan mental.
Kalau di kota Mommies ada car free day, ini juga bisa menjadi pilihan weekend tanggal tua. Di Jakarta, misalnya, kawasan Sudirman-Thamrin menjadi salah satu lokasi CFD yang digunakan warga untuk berjalan kaki, bersepeda, berolahraga, dan berkumpul bersama keluarga maupun komunitas. Mulai 7 Juni 2026, CFD di kawasan tersebut berlangsung pukul 05.30–10.00 WIB.
Mommies bisa membuat misi kecil supaya jalan-jalan terasa seperti permainan: siapa yang pertama menemukan orang memakai topi merah, sesuatu berwarna kuning, atau tiga jenis pohon berbeda?
Kalau membawa anak ke ruang terbuka, tetap cek kondisi cuaca, bawa air minum, gunakan perlindungan dari matahari, dan pilih area yang aman untuk anak bergerak.
BACA JUGA: Tanggal Tua tapi Long Weekend? 10 Ide Kegiatan Keluarga Hemat yang Tetap Seru
Kardus bekas belanja jangan buru-buru dibuang. Dengan sedikit kreativitas, kardus bisa berubah menjadi rumah boneka, garasi mobil, kapal, robot, toko-tokoan, sampai rumah-rumahan.
Nggak harus bagus. Malah semakin “nggak jelas” bentuknya, semakin terasa seperti hasil karya anak sendiri. Mommies bisa memberikan beberapa bahan seperti kardus, kertas, spidol, lem, atau selotip, lalu biarkan anak menentukan mau membuat apa.
Aktivitas seperti ini juga sejalan dengan pendekatan learning through play yang dikenalkan UNICEF Indonesia. Dalam salah satu kegiatan untuk orang tua, kardus bekas digunakan untuk membuat teka-teki geometri, sementara wadah telur dan stik es krim daur ulang dipakai sebagai media belajar warna.
Ambil beberapa lembar kertas dan alat gambar yang ada di rumah. Setelah itu, tentukan tema, misalnya “keluarga kita kalau jadi superhero”, “rumah impian”, atau “Mama dan Papa waktu kecil”.
Biar nggak berubah jadi kompetisi serius, bikin kategori yang kocak: gambar paling absurd, paling banyak warna, paling bikin Mama ketawa, atau “karya yang paling nggak bisa dijelaskan tapi tetap harus dihargai.”
Mommies juga bisa ikut menggambar. Aktivitas bermain yang melibatkan orang tua dan anak bisa menjadi kesempatan untuk berinteraksi sekaligus belajar bersama, yang memang menjadi bagian dari pendekatan learning through play UNICEF.

Ini saatnya membuka kulkas dan pantry, lalu membuat tantangan: “Kita bisa bikin apa dari bahan yang ada?”
Nggak harus membuat resep rumit. Roti bisa dibuat menjadi roti panggang dengan topping sederhana, pisang bisa diberi cokelat atau selai yang tersedia, atau buah-buahan bisa dipotong dan disusun menjadi fruit platter.
Anak bisa dilibatkan sesuai usianya, misalnya mencuci buah, mengaduk adonan, menata topping, atau menghias makanan. Setelah itu, hasilnya bisa langsung disantap bersama sebagai bagian dari aktivitas keluarga.
Sebuah systematic umbrella review yang terbit di Nutrients pada 2023 merangkum 41 review mengenai family mealtimes. Peneliti menemukan bahwa frekuensi makan bersama yang lebih tinggi berkaitan dengan sejumlah hasil yang lebih baik pada pola makan, berat badan, perilaku berisiko, kesejahteraan, dan capaian akademik anak maupun remaja. Namun, hasil penelitian tentang intervensi untuk meningkatkan frekuensi makan bersama masih beragam.
Jadi, nggak masalah kalau hasil masakannya bentuknya agak ajaib. Yang penting, proses bikin dan makannya dilakukan bareng-bareng.
Untuk scavenger hunt, Mommies bisa membuat daftar benda yang harus ditemukan anak. Misalnya sesuatu yang berwarna hijau, benda berbentuk lingkaran, benda yang terasa kasar, atau tiga benda yang diawali huruf tertentu.
Permainannya bisa dilakukan di rumah, taman, atau saat jalan-jalan. Kalau dilakukan di luar, tantangannya sekaligus menjadi kesempatan anak mengamati lingkungan sekitar.
Kalau mau dibuat lebih seru, ubah nature walk menjadi misi mencari “harta karun”. Ajak anak mencari lima jenis daun, mendengarkan suara burung, menemukan bunga dengan warna berbeda, atau memperhatikan bentuk awan.
Menghabiskan waktu di ruang hijau juga bisa menjadi kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik, bersosialisasi, dan relaksasi. WHO mencatat bahwa paparan terhadap lingkungan alami berkaitan dengan sejumlah manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan, termasuk suasana hati dan fungsi kognitif.
Kalau Mommies ingin aktivitas yang sedikit lebih “wah”, coba eksperimen sains menggunakan bahan yang memang sudah tersedia di rumah. Salah satunya eksperimen lada dan sabun yang bisa dilakukan menggunakan air, lada bubuk, dan sedikit sabun cuci tangan.
Caranya sederhana: isi wadah dengan air, taburkan lada di permukaannya, lalu sentuhkan ujung jari yang sudah diberi sedikit sabun ke permukaan air. Lihat bagaimana lada bergerak menjauh dari titik tersebut.
Setelah itu, jangan langsung kasih jawabannya. Ajak anak menebak dulu, “Menurut kamu, kenapa ladanya lari?” Baru kemudian Mommies bisa menjelaskan secara sederhana bahwa sabun mengubah tegangan permukaan air sehingga terjadi gerakan pada permukaan air.
Pastikan eksperimen dilakukan dengan pengawasan orang dewasa dan menggunakan bahan yang aman untuk usia anak.
BACA JUGA: 30 Aktivitas Ayah dan Anak yang Bikin Bonding Makin Kuat dan Kompak
Kalau punya board game di rumah, keluarkan lagi. Kalau nggak punya, bikin permainan sendiri menggunakan kertas dan benda-benda kecil yang ada di rumah.
Misalnya, buat papan permainan sederhana dengan beberapa tantangan: nyanyi satu lagu, menirukan gaya hewan, menyebutkan lima makanan favorit, atau melakukan gerakan lucu. Yang kalah nggak perlu dapat hukuman serius—cukup mendapat tugas lucu seperti memilih film keluarga malam itu.
Kalau sudah selesai bermain, lanjutkan dengan sesi “Mama dulu waktu kecil gimana, sih?” Ceritakan permainan favorit, jajanan zaman dulu, sahabat masa kecil, sampai kenakalan kecil yang masih aman untuk diceritakan.
Jangan kaget kalau anak tiba-tiba bertanya, “Mama dulu pernah dimarahin Nenek juga?” Dari satu cerita bisa melebar menjadi obrolan panjang tentang keluarga.
Atau, bikin family challenge sederhana. Misalnya tantangan membuat menara tertinggi dari gelas plastik, membuat kostum dari koran bekas, atau menyelesaikan satu permainan dalam waktu 15 menit.
Nggak perlu semuanya dijadikan kompetisi. Justru tantangan yang harus diselesaikan bersama bisa membuat Mommies dan anak sama-sama ikut bermain, bukan cuma Mama yang berdiri di samping sambil bilang, “Ayo, coba lagi!”

Pada akhirnya, aktivitas seru bareng anak nggak selalu membutuhkan tiket masuk, restoran fancy, atau mainan baru. Kadang modalnya cuma kardus bekas, selimut, beberapa bahan makanan di dapur, dan kemauan orang tua untuk ikut turun bermain.
Bermain bersama juga nggak harus selalu punya tujuan besar. UNICEF Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas sederhana di rumah dapat menjadi kesempatan anak untuk belajar melalui bermain sekaligus berinteraksi dengan orang tua.
Begitu juga dengan aktivitas di luar rumah. Jalan kaki, bermain di taman, atau sekadar mengeksplorasi ruang hijau bisa menjadi bentuk aktivitas fisik dan waktu bersama keluarga yang nggak harus mahal.
Jadi, kalau weekend ini saldo rekening sedang berkata “kita di rumah saja dulu, ya”, nggak perlu langsung merasa kasihan pada anak.
Bisa jadi yang paling diingat anak nantinya bukan berapa uang yang Mommies keluarkan hari itu, tetapi waktu Mama ikut merangkak melewati obstacle course, tidur di tenda selimut, bikin eksperimen yang berantakan, atau kalah telak saat main bareng.
Dan yes, tanggal tua pun tetap bisa punya weekend yang seru.
BACA JUGA: 5 Ide Bermain di Rumah
Cover: Magnific