Sorry, we couldn't find any article matching ''

TKA 2026 Sebentar Lagi, 7 Hal yang Harus Dilakukan Anak Sebelum Simulasi
TKA 2026 tinggal sebentar? Sebelum simulasi TKA, pastikan anak melakukan 7 hal ini agar lebih siap, tenang, dan tidak mudah panik saat mengerjakan soal.
TKA atau Tes Kemampuan Akademik mungkin sudah mulai sering terdengar di rumah, terutama buat Mommies dan Daddies yang anaknya akan mengikutinya. Apalagi kalau sekolah sudah mulai mengadakan simulasi dan anak mulai bertanya, “Nanti tesnya susah nggak?”
Untuk TKA 2026 jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat, simulasi dijadwalkan berlangsung pada 21–27 September 2026, sebelum gladi bersih pada 5–18 Oktober 2026.
Buat anak, simulasi TKA bukan sekadar kesempatan untuk mengerjakan soal. Ini juga bisa menjadi latihan untuk mengenal suasana tes, memahami format soal, mengatur waktu, sekaligus mengetahui bagian mana yang masih perlu diperkuat.
Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), TKA merupakan pengukuran capaian kemampuan akademik murid pada mata pelajaran tertentu dan diselenggarakan secara terkomputerisasi.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Platform dan Website untuk Latihan Soal TKA, Ada yang Gratis!
Nah, sebelum anak duduk di depan komputer dan mulai mengerjakan simulasi TKA, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan. Bukan cuma soal belajar, ya, Mommies.
1. Kenali dulu seperti apa TKA dan simulasinya
Jangan sampai anak datang ke ruang simulasi dengan bayangan, “Ini nanti tesnya seperti apa, sih?”
Ajak anak mencari tahu hal-hal dasar: tes dilakukan dengan komputer atau perangkat apa, bagaimana bentuk soalnya, berapa lama durasinya, dan apa saja mata pelajaran yang akan diujikan sesuai jenjangnya.
Mengenal format tes bisa membuat anak merasa lebih siap karena tidak sepenuhnya berhadapan dengan sesuatu yang asing. Dalam menghadapi test anxiety, memahami format tes dan berlatih mengerjakan soal serupa juga dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.
Untuk informasi resmi mengenai TKA, Mommies bisa mengecek laman TKA Kemendikdasmen dan dokumen panduan yang tersedia di Pusat Asesmen Pendidikan.

Foto: detik
2. Coba latihan dengan kondisi yang mirip tes
Kalau selama ini anak belajar sambil selonjoran di kasur, sesekali coba ubah suasananya.
Minta anak duduk di meja, menggunakan komputer sesuai perangkat yang nantinya dipakai, lalu mengerjakan latihan soal dalam batas waktu tertentu. Tidak perlu setiap hari. Yang penting, anak punya pengalaman mengerjakan soal dengan suasana yang lebih menyerupai kondisi tes.
Tujuannya bukan membuat anak tegang, tetapi supaya ia terbiasa dengan situasinya.
Kalau nanti saat simulasi anak menemukan soal yang sulit, setidaknya ia sudah tahu strategi dasarnya: kerjakan yang bisa dulu, jangan terlalu lama berhenti di satu soal, lalu kembali lagi kalau masih ada waktu.
Strategi semacam ini juga dapat membantu anak menghadapi kecemasan saat tes.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Buku Persiapan TKA SMA, Lengkap dengan Latihan Soal dan Pembahasannya
3. Evaluasi materi yang masih bikin bingung
Setelah beberapa kali latihan, jangan cuma melihat berapa jumlah jawaban yang benar.
Ajak anak melihat soal seperti apa yang masih sering salah.
Misalnya, ternyata ia cukup paham konsep matematika, tetapi sering keliru membaca soal cerita. Atau sebenarnya bisa mengerjakan, tetapi terburu-buru sehingga salah menghitung.
Dari sini, belajar bisa dibuat lebih spesifik. Tidak perlu mengulang semua materi dari awal.
Mommies juga bisa bertanya, “Bagian mana yang menurut kamu paling susah?” daripada langsung mengatakan, “Kok ini masih salah?”
Dengan begitu, anak belajar mengenali kekuatan dan bagian yang masih perlu diperbaiki.

Foto: Annushka Ahuja/Pexels
4. Latih kemampuan membaca soal dengan teliti
Satu hal yang sering membuat anak kehilangan poin bukan selalu karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena kurang teliti membaca soal.
Jadi, saat latihan, biasakan anak untuk tidak langsung terburu-buru memilih jawaban.
Ajarkan untuk memperhatikan kata-kata seperti kecuali, paling tepat, bukan, atau informasi angka yang ada di dalam soal.
Untuk soal berbentuk bacaan, anak juga bisa dilatih mencari informasi penting sebelum menentukan jawaban.
Kemampuan memahami pertanyaan ini akan sangat membantu, terutama ketika anak menghadapi soal yang bentuknya sedikit berbeda dari latihan yang biasa ia kerjakan.
5. Siapkan strategi kalau tiba-tiba panik
Mommies, anak tidak harus selalu merasa santai 100 persen saat mengikuti tes.
Rasa gugup sebelum atau ketika menghadapi ujian bisa terjadi. Yang penting, anak tahu apa yang harus dilakukan ketika mulai panik.
Misalnya:
- Berhenti sebentar dan tarik napas perlahan.
- Baca kembali soal dengan lebih tenang.
- Kerjakan soal yang lebih mudah terlebih dahulu.
- Kalau benar-benar buntu, lanjutkan ke soal berikutnya dan kembali lagi nanti.
Menurut American Psychological Association (APA), anak yang mengalami kecemasan dapat dibantu dengan strategi menenangkan diri seperti deep breathing, serta dengan membuat rencana untuk menghadapi hal yang dikhawatirkan.
Mommies juga bisa mengingatkan, “Kalau ada soal yang kamu belum tahu jawabannya, nggak apa-apa. Lewati dulu, nanti coba lagi.”
Pesan sederhana seperti ini bisa membuat anak merasa bahwa satu soal sulit bukan berarti seluruh tesnya gagal.
BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri
6. Jangan mengorbankan tidur demi belajar
Ini yang kadang suka terjadi menjelang tes: malamnya belajar lebih lama karena merasa masih banyak yang harus dikejar.
Padahal, tidur tetap penting.
American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan anak usia 6–12 tahun tidur 9–12 jam per hari, sementara remaja usia 13–18 tahun membutuhkan 8–10 jam. Tidur yang cukup juga berkaitan dengan perhatian, kemampuan belajar, memori, dan regulasi emosi.
Jadi, kalau besok anak ada simulasi, tidak perlu membuatnya belajar sampai larut malam. Lebih baik materi yang belum dikuasai dicicil dari jauh-jauh hari.
Malam sebelum simulasi? Fokus pada rutinitas yang membuat anak tenang, makan secukupnya, siapkan perlengkapan, lalu tidur.

Foto: Mikhail Nilov/Pexels
7. Bicara soal proses, bukan hanya nilai
Yang tidak kalah penting: pastikan anak tahu bahwa simulasi adalah latihan, bukan penentu harga dirinya.
Hindari terlalu sering bertanya, “Dapat berapa?” atau membandingkan hasilnya dengan teman.
Lebih baik tanyakan:
“Tadi bagian mana yang paling gampang?”
“Ada soal yang bikin kamu bingung?”
“Menurut kamu, apa yang mau kamu latih lagi?”
Pendekatan ini membantu anak melihat hasil simulasi sebagai informasi untuk belajar, bukan sebagai label bahwa dirinya pintar atau tidak pintar.
Child Mind Institute juga mengingatkan bahwa ekspektasi orang tua dapat memengaruhi kecemasan anak menghadapi tes. Orang tua disarankan untuk memberikan dukungan dan menunjukkan kepercayaan bahwa anak mampu menghadapi situasi tersebut, tanpa memberikan tekanan berlebihan pada hasil.
BACA JUGA: 10 Rekomendasi Buku Latihan Soal TKA SMP dan SMA 2026
Jadi, Mommies dan Daddies, nggak perlu panik ikut belajar!
Menjelang simulasi TKA, fokusnya bukan membuat anak belajar sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Yang lebih penting adalah memastikan anak tahu apa yang akan dihadapi, terbiasa dengan format tes, punya strategi ketika menemukan soal sulit, dan datang dalam kondisi fisik serta mental yang cukup baik.
Kalau hasil simulasi belum sesuai harapan, justru di situlah gunanya simulasi: menjadi bahan untuk melihat apa yang perlu diperbaiki sebelum tes yang sebenarnya. Apalagi simulasi TKA memang menjadi bagian dari rangkaian persiapan sebelum pelaksanaan utama.
Dan satu lagi, Mommies: anak tidak harus selalu merasa percaya diri untuk bisa menghadapi sebuah tes. Kadang yang mereka butuhkan hanya tahu bahwa kalau nanti gugup atau menemukan soal sulit, mereka tetap punya cara untuk menghadapinya—dan ada Mommies serta Daddies yang tetap mendukung mereka.
Cover: Katerina Holmes/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS