Sorry, we couldn't find any article matching ''

10 Tantangan Working Single Mom dan Cara Mengatasinya, Bukan Cuma Soal Cari Uang
Tantangan working single mom bukan cuma soal mencari nafkah. Kenali 10 tantangan yang sering dihadapi dan cara mengatasinya agar hidup lebih seimbang.
Menjadi working single mom memang membutuhkan banyak tenaga. Di satu sisi, ada pekerjaan dan tuntutan karier yang harus dijalankan. Di sisi lain, ada anak yang membutuhkan perhatian, rumah yang perlu diurus, sampai urusan finansial yang mau tidak mau harus dipikirkan sendiri.
Belum lagi, ada hari-hari ketika anak sakit tepat saat deadline pekerjaan sedang menumpuk. Atau ketika Mommies sedang kelelahan, tetapi tetap harus bangun pagi, menyiapkan kebutuhan anak, lalu kembali bekerja.
Jadi, tantangan working single mom sebenarnya bukan cuma soal mencari uang. Ada beban fisik, mental, emosional, sampai urusan membagi waktu yang bisa terasa berat.
Penelitian dari PubMed mengenai ibu tunggal yang bekerja juga menemukan adanya kaitan antara konflik pekerjaan-keluarga, kondisi pekerjaan, tekanan finansial, dan kesejahteraan psikologis.
BACA JUGA: 8 Cara Single Parent Membagi Waktu antara Kerja dan Anak, agar Tidak Kewalahan
Tantangan yang Dihadapi Working Single Mom

Foto: Marcial Comeron/Pexels
Dalam artikel ini, working single mom merujuk pada ibu yang menjadi orang tua tunggal sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan anaknya.
Lalu, apa saja tantangan yang mungkin dihadapi working single mom dan bagaimana cara mengatasinya?
1. Harus Menjadi Pencari Nafkah Utama
Ini mungkin salah satu tantangan yang paling terasa. Ketika pemasukan keluarga terutama bergantung pada satu orang, keputusan soal pekerjaan dan karier bisa terasa lebih berat.
Mommies mungkin jadi merasa tidak punya banyak ruang untuk mengambil cuti, berganti pekerjaan, atau bahkan sekadar mengatakan, “Aku sedang capek.”
Cara mengatasinya:
Mulai dengan membuat sistem keuangan yang realistis. Pisahkan kebutuhan wajib, tabungan, dana darurat, dan pengeluaran yang bisa ditunda.
Tidak perlu langsung mengejar kondisi finansial yang sempurna. Yang penting, Mommies tahu uang pergi ke mana dan punya rencana untuk menghadapi kebutuhan tak terduga.
Kalau memungkinkan, bangun juga sumber dukungan finansial lain, misalnya asuransi kesehatan, dana darurat, atau pekerjaan tambahan yang tidak mengorbankan waktu istirahat secara berlebihan.
2. Sulit Membagi Waktu antara Kerja dan Anak
Meeting belum selesai, tetapi sudah waktunya menjemput anak. Deadline besok pagi, sementara malam ini anak ingin ditemani mengerjakan tugas sekolah.
Situasi seperti ini bisa membuat working single mom merasa seolah-olah selalu ada yang dikorbankan.
Padahal, konflik antara tuntutan pekerjaan dan keluarga memang dapat berkaitan dengan kesehatan mental. Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa work-family conflict dapat terjadi ketika tuntutan dari salah satu peran membuat seseorang kesulitan menjalankan peran lainnya. Kondisi tersebut juga dapat menjadi salah satu risiko psikososial bagi pekerja.
Cara mengatasinya:
Mommies tidak harus membagi waktu 50:50 setiap hari. Ada hari ketika pekerjaan membutuhkan lebih banyak perhatian, ada juga saat anak membutuhkan Mommies lebih banyak.
Coba tentukan beberapa non-negotiable time, misalnya waktu makan malam bersama atau 20 menit sebelum tidur untuk ngobrol dengan anak tanpa distraksi.
Sedikit waktu yang benar-benar hadir sering kali lebih bermakna daripada banyak waktu, tetapi pikiran masih sibuk dengan pekerjaan.
3. Tidak Punya Backup saat Anak Sakit
Anak demam tengah malam saja sudah bikin panik. Apalagi kalau besok pagi Mommies ada presentasi penting.
Working single mom sering perlu memikirkan pertanyaan yang mungkin tidak muncul pada keluarga dengan dua orang dewasa yang bisa berbagi pengasuhan: Kalau anak sakit, siapa yang menjaga?
Cara mengatasinya:
Buat backup plan sebelum benar-benar dibutuhkan.
Misalnya, catat beberapa orang yang bisa dihubungi dalam kondisi darurat: keluarga, pengasuh, daycare, atau teman dekat yang memang sudah bersedia membantu.
Kalau tempat kerja memungkinkan, bicarakan juga opsi kerja fleksibel atau kebijakan ketika anak sakit. Lebih baik punya rencana saat kondisi masih tenang daripada baru mencari solusi ketika anak sudah demam tinggi.
BACA JUGA: Jadi Single Parent? 7 Pekerjaan Ini Punya Jam Kerja Lebih Fleksibel dan Bisa Disesuaikan dengan Anak
4. Merasa Bersalah kepada Anak
“Jangan-jangan anak merasa kurang diperhatikan karena aku bekerja?”
Rasa bersalah seperti ini sangat manusiawi. Namun, bekerja bukan berarti Mommies tidak hadir untuk anak.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menjaga hubungan dan komunikasi dengan anak, bukan sekadar menghitung jumlah jam yang dihabiskan bersama.
Cara mengatasinya:
Ciptakan rutinitas kecil yang konsisten. Bisa berupa membacakan buku sebelum tidur, sarapan bersama di akhir pekan, atau ritual ngobrol selama perjalanan ke sekolah.
Dan jangan lupa, Mommies juga boleh menjelaskan kepada anak sesuai usianya bahwa bekerja adalah salah satu cara Mommies memenuhi kebutuhan keluarga.
Anak tidak membutuhkan ibu yang selalu tersedia setiap menit. Anak membutuhkan hubungan yang aman, hangat, dan bisa diandalkan.

Foto: Yan Krukau/Pexels
5. Semua Keputusan Terasa Harus Ditanggung Sendiri
Mulai dari sekolah anak, dokter, pekerjaan, sampai keputusan finansial. Ketika tidak ada pasangan untuk diajak berdiskusi setiap hari, hal-hal kecil pun bisa terasa melelahkan.
Bukan karena Mommies tidak mampu mengambil keputusan, tetapi karena terlalu banyak keputusan yang harus dibuat terus-menerus.
Cara mengatasinya:
Bangun lingkaran orang tepercaya. Tidak harus satu orang untuk semua masalah. Bisa ada teman untuk tempat curhat, keluarga untuk urusan anak, penasihat keuangan untuk masalah finansial, atau psikolog ketika Mommies membutuhkan bantuan profesional.
Meminta pendapat bukan berarti tidak mandiri. Justru, mengetahui kapan perlu meminta bantuan adalah bagian dari merawat diri.
6. Kelelahan Fisik dan Mental karena Beban Kerja dan Pengasuhan
Pagi bekerja, sore mengurus anak, malam membereskan rumah. Begitu anak tidur, baru punya waktu untuk diri sendiri, tetapi tubuh sudah meminta istirahat.
Kalau berlangsung terus-menerus, kondisi ini bisa membuat Mommies mudah marah, sulit berkonsentrasi, mengalami gangguan tidur, atau merasa kewalahan.
WHO menjelaskan bahwa stres dapat memengaruhi kondisi mental dan fisik. Ketika stres berlangsung terlalu lama, dampaknya bisa mencakup gangguan tidur, kesulitan berkonsentrasi, kecemasan, hingga masalah kesehatan lainnya.
Cara mengatasinya:
Berhenti menganggap istirahat sebagai hadiah setelah semua pekerjaan selesai. Karena, spoiler: pekerjaan rumah tidak pernah benar-benar selesai.
Pilih beberapa hal yang memang harus dilakukan hari itu. Sisanya bisa menunggu.
Dan kalau ada kesempatan tidur lebih awal, tidak perlu merasa bersalah karena memilih tidur daripada melipat laundry.
BACA JUGA: 9 Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak, Nomor 3 Sering Terjadi Tanpa Sadar
7. Beban Mental karena Harus Selalu “Ingat Semuanya”
Sering kali yang melelahkan bukan hanya melakukan pekerjaan, tetapi juga mengingat semua hal yang harus dilakukan.
Kapan bayar sekolah? Stok vitamin anak masih ada? Besok ada kegiatan sekolah? Deadline laporan kapan? Tagihan listrik sudah dibayar?
Semua berjalan di kepala.
Beban seperti ini sering disebut mental load, ketika yang melelahkan bukan hanya mengerjakan sesuatu, tetapi juga harus terus mengingat, merencanakan, dan memastikan semuanya berjalan.
Cara mengatasinya:
Keluarkan isi kepala ke sistem yang bisa dilihat.
Gunakan kalender digital, aplikasi pengingat, atau satu buku catatan khusus keluarga. Jadwalkan pembayaran rutin dan buat checklist mingguan.
Untuk anak yang sudah cukup besar, libatkan mereka dalam urusan rumah sesuai usia. Misalnya, menyiapkan tas sendiri atau membereskan mainan.
Tujuannya bukan membuat anak membantu Mommies, tetapi mengajarkan bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama.
8. Sulit Punya Waktu untuk Diri Sendiri
Ketika menjadi orang tua tunggal, kebutuhan anak memang menjadi prioritas. Namun, bukan berarti kebutuhan Mommies otomatis menjadi nomor terakhir selamanya.
Mommies tetap membutuhkan waktu untuk melakukan hal-hal yang membuat diri mereka sendiri merasa menjadi manusia, bukan hanya pekerja dan orang tua.
Cara mengatasinya:
Tidak perlu menunggu punya satu hari penuh untuk me time.
Mulai dari 15–30 menit. Minum kopi sambil bekerja, jalan kaki, membaca buku, olahraga, bertemu teman, atau sekadar duduk diam tanpa ada yang meminta apa-apa.
WHO juga merekomendasikan rutinitas harian, tidur yang cukup, aktivitas fisik, dan waktu bersama orang terdekat sebagai bagian dari pengelolaan stres.
9. Tekanan dari Lingkungan dan Ekspektasi Sosial
Ada saja komentar seperti, “Kok bisa sih kerja terus?” atau sebaliknya, “Kan sudah jadi ibu, harusnya lebih banyak di rumah.”
Belum lagi ekspektasi bahwa seorang ibu harus selalu kuat, sabar, produktif, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Padahal, Mommies juga manusia.
Cara mengatasinya:
Belajar membedakan antara masukan yang memang membantu dan ekspektasi orang lain yang tidak perlu dipikul.
Tidak semua komentar harus dijawab. Tidak semua standar orang lain harus diikuti.
Tentukan sendiri nilai yang ingin Mommies pegang dalam keluarga. Fokus pada kebutuhan nyata Mommies dan anak, bukan pada bagaimana keluarga terlihat dari luar.
10. Takut Akan Masa Depan
Ketika menjadi satu-satunya orang dewasa yang bertanggung jawab secara finansial dan dalam pengasuhan, wajar kalau masa depan kadang terasa menakutkan.
“Kalau aku sakit bagaimana?”
“Kalau kehilangan pekerjaan?”
“Bagaimana biaya sekolah anak nanti?”
Kekhawatiran semacam ini bisa terus berputar di kepala.
Cara mengatasinya:
Ubah kekhawatiran yang terlalu besar menjadi beberapa langkah kecil.
Misalnya, daripada terus memikirkan “bagaimana masa depan anak?”, mulailah dengan membuat dana darurat. Setelah itu, cek perlindungan kesehatan. Kemudian mulai menabung untuk pendidikan sesuai kemampuan.
Tidak harus selesai semuanya dalam satu tahun.
Yang penting, Mommies punya langkah yang bisa dilakukan hari ini.
BACA JUGA: Beban Mental Working Mom di Awal Pernikahan dan Cara Menyikapinya

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels
Working Single Mom Tidak Harus Selalu Kuat
Menjadi working single mom memang membutuhkan banyak hal: tenaga, waktu, uang, kesabaran, dan kemampuan untuk mengambil keputusan.
Tetapi satu hal yang juga penting: Mommies tidak harus melakukan semuanya sendirian.
Kalau sesekali merasa lelah, kewalahan, mudah marah, sulit tidur, atau kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, jangan langsung menganggap diri sendiri kurang kuat. Menurut World Health Organization (WHO), stres dapat muncul dalam bentuk seperti kecemasan, mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, sakit kepala, gangguan pencernaan, hingga gangguan tidur.
Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa gejala stres dapat muncul dalam bentuk psikis, fisik, kognitif, maupun perilaku. Jika stres tidak mereda dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, penanganan oleh tenaga profesional dapat diperlukan.
Jika keluhan menetap, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan, perawatan diri, dan aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Hal ini juga sejalan dengan anjuran Kementerian Kesehatan RI mengenai kesehatan mental pekerja perempuan, yang menyarankan untuk mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga kesehatan ketika keluhan berlangsung, semakin berat, atau mulai mengganggu pekerjaan, perawatan diri, dan hubungan dengan orang lain.
Dan untuk Mommies yang sedang berada di titik sangat berat, mencari bantuan bukan berarti gagal menjadi ibu. Justru, meminta pertolongan bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan anak.
Karena pada akhirnya, menjadi working single mom bukan tentang membuktikan bahwa Mommies bisa melakukan semuanya sendirian.
Tetapi tentang membangun kehidupan yang cukup aman, sehat, dan nyaman untuk Mommies dan anak—dengan bantuan ketika memang dibutuhkan.
Cover: Ketut Subiyanto/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS