
Kenali gejala influenza A, cara mengatasinya di rumah, lama penularan, kelompok berisiko, hingga tanda bahaya pada anak, dewasa, dan lansia.
Mommies atau Daddies pernah merasa, “Kok flu kali ini beda, ya?” Demam datang cukup mendadak, badan pegal-pegal, kepala terasa berat, ditambah batuk dan lemas yang bikin rasanya ingin rebahan seharian.
Bisa jadi itu bukan sekadar flu biasa, melainkan influenza, termasuk yang disebabkan oleh virus influenza A.
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang mudah menular. Gejalanya memang bisa terlihat mirip pilek atau infeksi saluran pernapasan lainnya, tetapi influenza cenderung muncul lebih tiba-tiba dan pada sebagian orang bisa menyebabkan komplikasi serius.
Lalu, apa bedanya influenza A dengan flu biasa? Apa saja gejalanya? Dan bagaimana kalau yang sakit adalah anak atau orang tua kita yang sudah lansia?
Yuk, Mommies dan Daddies, kita bahas satu per satu.
BACA JUGA: Gejala Flu, COVID, dan Alergi pada Anak: Apa Bedanya?
Influenza A adalah salah satu tipe virus influenza yang dapat menyebabkan penyakit influenza pada manusia. Influenza A sendiri memiliki beberapa subtipe, sehingga istilah “Influenza A” tidak selalu merujuk pada satu varian atau subtipe tertentu.
Influenza menyebar melalui droplet atau partikel pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Virus juga dapat menyebar melalui tangan yang terkontaminasi.
Menurut WHO, gejala influenza biasanya muncul sekitar 1–4 hari setelah seseorang terinfeksi dan pada kebanyakan orang berlangsung sekitar satu minggu.
Jadi, kalau ada anggota keluarga yang mendadak demam dan merasa sangat tidak enak badan, jangan buru-buru menganggapnya hanya masuk angin atau kecapekan.

Salah satu ciri influenza adalah bahwa gejalanya bisa muncul cukup mendadak.
Beberapa gejala yang umum antara lain:
Tidak semua orang yang terkena influenza akan mengalami demam. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada orang lanjut usia karena gejalanya bisa lebih tidak khas.
Berbeda dengan pilek biasa yang sering berkembang secara perlahan, influenza cenderung membuat seseorang merasa “tumbang” secara tiba-tiba.
BACA JUGA: Kenali Super Flu yang Menyerang Anak dan Keluarga: Gejala, Penyebab, dan Pencegahannya
Sebagian besar orang dengan influenza dapat pulih dengan sendirinya. Namun, ada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit berat.
Di antaranya:
WHO dan CDC sama-sama menempatkan anak kecil dan lansia sebagai kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika mengalami influenza.
Seseorang dengan influenza dapat menularkan virus sebelum menyadari dirinya sakit dan selama mengalami gejala. Karena itu, ketika sedang sakit, sebaiknya tetap di rumah dan mengurangi kontak dekat dengan anggota keluarga, terutama bayi, anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis.

Untuk orang dewasa yang sehat dan mengalami gejala ringan, fokus utamanya adalah istirahat dan menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Yang bisa dilakukan di rumah:
Jangan memaksakan diri untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Tubuh membutuhkan energi untuk melawan infeksi.
Minum air secara cukup. Bila sedang demam, muntah, atau diare, kebutuhan cairan bisa meningkat dan risiko dehidrasi juga perlu diperhatikan.
Obat penurun demam atau pereda nyeri dapat digunakan sesuai petunjuk dokter atau aturan pakai yang tepat.
Usahakan tetap di rumah dan hindari kontak dekat dengan anggota keluarga, terutama bayi, anak kecil, lansia, atau anggota keluarga dengan penyakit tertentu.
Ini penting, Mommies dan Daddies. Influenza disebabkan oleh virus, sementara antibiotik digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Jadi, antibiotik tidak otomatis dibutuhkan untuk influenza.
Pada kelompok berisiko tinggi seperti anak kecil, lansia, ibu hamil, atau orang dengan penyakit kronis, dokter dapat mempertimbangkan obat antivirus influenza, terutama bila diberikan sejak awal gejala. Jangan membeli atau mengonsumsi obat antivirus tanpa berkonsultasi dengan dokter.
BACA JUGA: 6 Cara Mengatasi Anak Kejang dengan Aman, Menurut Dokter Spesialis Anak

Kabar baiknya, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan keluarga untuk mengurangi risiko influenza.
Vaksinasi merupakan salah satu cara utama untuk mencegah influenza dan mengurangi risiko komplikasi yang berat. Perlindungan vaksin perlu diperbarui setiap tahun karena virus influenza terus berubah.
Terutama setelah bepergian, sebelum makan, setelah batuk atau bersin, dan setelah menyentuh benda yang sering digunakan bersama.
Gunakan tisu atau bagian dalam siku saat batuk dan bersin, bukan telapak tangan.
Kalau Mommies atau Daddies sedang mengalami gejala influenza, sebisa mungkin kurangi kontak dekat dengan anak dan lansia di rumah.
Istirahat bukan berarti malas. Justru tubuh sedang membutuhkan waktu untuk pulih.
CDC memang membedakan warning signs pada anak dan dewasa.
Pada anak, ini beberapa tanda yang harus Mommies dan Daddies perhatikan:
Pada dewasa dan lansia:
BACA JUGA: Mengenal 4 Tipe Virus Flu, Mana yang Paling Sering Terjadi pada Anak?
Secara umum, segera cari pertolongan medis jika gejala semakin berat, muncul kesulitan bernapas, tanda dehidrasi, penurunan kesadaran, nyeri dada, atau kondisi tidak membaik. Pada orang dewasa, kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan yang menetap di dada, kebingungan, kejang, tidak buang air kecil, kelemahan berat, atau gejala yang sempat membaik lalu kembali memburuk juga merupakan tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera.
Untuk anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, ambang untuk berkonsultasi sebaiknya lebih rendah karena risiko komplikasinya lebih tinggi.
Intinya, Mommies dan Daddies tidak perlu langsung panik ketika mendengar “Influenza A”. Kenali gejalanya, bantu tubuh beristirahat, jaga cairan, cegah penularan, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter jika yang sakit termasuk kelompok berisiko atau kondisinya memburuk.
Karena menghadapi penyakit di rumah bukan soal siapa yang paling kuat, tetapi bagaimana seluruh keluarga bisa saling menjaga.