
Menjadi single parent sambil bekerja memang tidak mudah. Cek cara single parent membagi waktu antara kerja dan anak, tetap punya quality time, dan tidak mudah kewalahan.
Menjadi orang tua saja sudah punya banyak “to-do list”. Ketika harus bekerja sekaligus mengurus anak seorang diri, rasanya daftar tersebut bisa berlipat ganda.
Mulai dari pekerjaan kantor, antar-jemput anak, menyiapkan makan, menemani belajar, urusan rumah, sampai memastikan kebutuhan anak terpenuhi. Belum lagi kalau tiba-tiba anak sakit atau ada pekerjaan yang harus diselesaikan di luar jam kerja.
Jadi, kalau Mommies atau Daddies yang menjadi single parent pernah merasa kewalahan, perasaan tersebut sangat wajar. American Psychological Association (APA) juga menyebutkan bahwa single parenting dapat menghadirkan tekanan tambahan karena orang tua harus menangani pekerjaan, pengasuhan, keuangan, dan urusan rumah tangga secara bersamaan.
BACA JUGA: Jadi Single Parent? 7 Pekerjaan Ini Punya Jam Kerja Lebih Fleksibel dan Bisa Disesuaikan dengan Anak
Kabar baiknya, membagi waktu bukan berarti harus membuat semua hal berjalan sempurna. Justru, kuncinya adalah membuat hidup lebih realistis dan tahu mana yang perlu didahulukan.

Mommies, coba berhenti sejenak dari keinginan untuk menyelesaikan semua hal dalam satu hari.
Buat tiga kategori sederhana:
Dengan begitu, energi tidak habis untuk hal-hal yang sebenarnya masih bisa menunggu.
Tidak apa-apa kalau rumah tidak selalu rapi atau menu makan malam sesekali sederhana. Yang penting kebutuhan utama keluarga tetap terpenuhi.
Anak biasanya lebih mudah mengikuti aktivitas kalau memiliki rutinitas yang konsisten. Bagi single parent, rutinitas juga membantu mengurangi keputusan kecil yang harus dibuat sepanjang hari.
Misalnya:
Pagi: sarapan – mandi – sekolah – kerja
Sore: pulang – makan – waktu bersama anak
Malam: belajar/bermain – persiapan untuk besok – tidur
Tidak harus kaku. Buat jadwal yang fleksibel, tetapi cukup konsisten untuk menjadi “kerangka” sehari-hari.
American Academy of Pediatrics juga menyarankan menjaga rutinitas makan, pekerjaan rumah, dan waktu tidur agar anak tahu apa yang bisa mereka harapkan setiap hari.
BACA JUGA: 9 Kesalahan Single Parent dalam Mengasuh Anak, Nomor 3 Sering Terjadi Tanpa Sadar
Salah satu kekhawatiran single parent adalah merasa waktu bersama anak terlalu sedikit karena harus bekerja. Padahal, quality time tidak selalu harus berjam-jam.
Makan malam tanpa gadget, membaca buku sebelum tidur, atau mengobrol selama perjalanan pulang. Bahkan 15 menit bermain bersama tanpa distraksi bisa menjadi salah satu momen khusus yang berarti.
Jadi, daripada merasa bersalah karena tidak bisa selalu menemani anak, coba buat satu-dua momen yang memang khusus untuk anak setiap hari.
Yang penting bukan selalu berapa lama waktunya, tetapi apakah selama waktu tersebut Mommies benar-benar hadir.

Anak tidak harus selalu menjadi pihak yang “dilayani”.
Sesuai usianya, anak bisa dilibatkan dalam pekerjaan sederhana seperti membereskan mainan, menyiapkan tas sekolah, memilih pakaian untuk besok, atau membantu menyiapkan meja makan.
Selain meringankan pekerjaan Mommies dan Daddies, kebiasaan ini juga membantu anak belajar mandiri dan bertanggung jawab.
Untuk anak yang lebih besar, Mommies bahkan bisa membuat jadwal keluarga bersama-sama. Anak jadi tahu kapan waktunya bermain, belajar, dan kapan orang tua perlu menyelesaikan pekerjaan.
Ini mungkin salah satu hal yang paling sulit dilakukan. Ada kalanya single parent merasa, “Saya harus bisa mengurus semuanya sendiri.” Padahal, meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
Kalau memungkinkan, buat daftar orang yang bisa diandalkan ketika sedang membutuhkan bantuan: kakek-nenek, saudara, teman, tetangga yang dipercaya, atau support system lainnya.
Bantuan juga tidak harus selalu berupa menjaga anak. Bisa berupa menemani anak ke dokter, membantu menjemput, membawakan makanan, atau sekadar menjadi tempat bercerita.
APA dan American Academy of Pediatrics sama-sama menekankan pentingnya dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas bagi single parent.
Kalau ada budget dan memungkinkan, bantuan profesional seperti daycare, babysitter, laundry, katering, atau jasa antar-jemput juga bisa menjadi bagian dari support system. Tidak semua hal harus dikerjakan sendiri.
BACA JUGA: 8 Film dan Drakor tentang Single Parent, dari Drama hingga Komedi
Kalau memungkinkan, tentukan jam “selesai bekerja”. Setelah itu, hindari mengecek email atau chat pekerjaan terus-menerus, kecuali memang ada kondisi yang mendesak.
Batas seperti ini membantu pekerjaan dan kehidupan keluarga tidak terus bercampur.
Kalau pekerjaan Mommies memang fleksibel atau bisa dilakukan dari rumah, coba buat area dan waktu khusus untuk bekerja. Ketika jam kerja selesai, tutup laptop dan beralih ke rutinitas keluarga.
Dukungan di tempat kerja, fleksibilitas, dan pengelolaan waktu juga dapat membantu mengurangi stres akibat tuntutan pekerjaan dan keluarga.
Ini penting, Mommies. Rumah tidak harus selalu rapi. Bekal anak tidak harus selalu cantik. Makan malam tidak harus selalu masakan sendiri. Dan orang tua tidak harus selalu sabar setiap saat.
Ada hari ketika semuanya berjalan lancar. Ada juga hari ketika rasanya baru jam 10 pagi saja sudah ingin menyerah. Tidak apa-apa.
APA menyarankan orang tua untuk menurunkan ekspektasi yang tidak realistis dan melatih self-compassion karena mengejar keseimbangan sempurna antara pekerjaan dan keluarga justru bisa menambah beban.

Self-care bukan berarti harus pergi spa atau liburan jauh.
Mandi tanpa terburu-buru, tidur lebih awal, berjalan kaki sebentar, membaca buku, bertemu teman, atau punya waktu 20 menit tanpa harus mengurus siapa pun juga termasuk bentuk merawat diri.
Justru, ketika kebutuhan dasar seperti istirahat dan kesehatan terus diabaikan, tubuh dan pikiran bisa semakin sulit menghadapi stres.
Jika Mommies terus-menerus merasa sangat lelah, mudah marah, kehilangan minat pada aktivitas, atau merasa tidak sanggup menjalani keseharian, jangan ragu mencari bantuan profesional. Stres yang berlangsung terus-menerus dapat berkembang menjadi burnout dan berdampak pada kesehatan maupun kesejahteraan orang tua.
Pada akhirnya, membagi waktu sebagai single parent bukan soal membagi 50 persen untuk pekerjaan dan 50 persen untuk anak.
Ada hari ketika pekerjaan memang membutuhkan lebih banyak perhatian. Di hari lain, anak mungkin sedang sakit dan membutuhkan Mommies lebih banyak.
Jadi, daripada mengejar work-life balance yang sempurna, coba pikirkan bagaimana membuat kehidupan sehari-hari tetap berjalan dengan realistis.
Prioritaskan yang penting, buat rutinitas sederhana, terima bantuan, dan jangan lupa menyisakan sedikit ruang untuk diri sendiri.
Menjadi single parent bukan berarti harus menjadi “super parent” yang bisa melakukan semuanya seorang diri. Mommies dan Daddies juga manusia yang boleh lelah, boleh meminta bantuan, dan boleh memilih cara yang paling masuk akal untuk keluarganya.