Sorry, we couldn't find any article matching ''

Anak Menyalahkan Diri Sendiri karena Perceraian Orang Tua? Ini yang Harus Dilakukan
Anak menyalahkan diri sendiri karena perceraian orang tua? Kenali penyebabnya dan cara membantu anak memahami bahwa perceraian bukan kesalahannya.
Perceraian bukan cuma perubahan besar bagi Mommies dan Daddies. Bagi anak, keputusan orang tua untuk berpisah juga bisa menghadirkan banyak pertanyaan yang belum tentu mudah mereka ungkapkan.
“Apakah Mama dan Papa bertengkar karena aku?”
“Kalau waktu itu aku lebih menurut, apa Mama dan Papa tidak jadi bercerai?”
“Jangan-jangan aku yang bikin Papa pergi?”
Kalau pernah mendengar kalimat seperti ini dari anak, jangan buru-buru menganggapnya sebagai pemikiran yang tidak masuk akal. Anak menyalahkan diri sendiri karena orang tua bercerai bisa terjadi, terutama pada anak yang masih kecil. Mereka belum selalu mampu memahami persoalan orang dewasa secara utuh dan menghubungkan berbagai kejadian dengan diri mereka sendiri.
American Academy of Pediatrics (AAP) juga mencatat bahwa self-blame atau menyalahkan diri sendiri dapat muncul pada anak dalam situasi perceraian. Pada anak usia prasekolah, misalnya, mereka dapat berpikir bahwa mereka menyebabkan perpisahan orang tua.
Lalu, apa yang bisa dilakukan Mommies dan Daddies?
BACA JUGA: 10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya
Kenapa Anak Merasa Bersalah karena Perceraian Orang Tua?

Foto: Gustavo Fring/Pexels
Bagi orang dewasa, penyebab perceraian mungkin terasa jelas: konflik yang sudah berlangsung lama, perbedaan prinsip, masalah komunikasi, atau berbagai persoalan rumah tangga lainnya.
Namun, anak belum tentu memiliki kemampuan untuk melihat situasi sekompleks itu.
Anak, terutama yang masih kecil, cenderung memahami dunia dari pengalaman yang dekat dengan dirinya. Karena itu, ketika melihat orang tua sering bertengkar setelah ia melakukan sesuatu, atau mendengar percakapan yang tidak sengaja berkaitan dengan dirinya, anak bisa menarik kesimpulan bahwa dirinya adalah penyebab masalah.
Misalnya, anak bisa berpikir:
- “Mama marah setelah aku dapat nilai jelek.”
- “Papa dan Mama bertengkar karena aku nakal.”
- “Kalau aku lebih baik, mungkin mereka tidak akan bercerai.”
- “Aku harus membuat Mama dan Papa akur lagi.”
Padahal, perceraian adalah keputusan dan persoalan orang dewasa, bukan tanggung jawab anak.
AAP merekomendasikan agar anak diberi penjelasan yang sesuai dengan usianya dan diyakinkan bahwa ia tidak menyebabkan perceraian serta tidak memiliki tanggung jawab untuk “memperbaiki” hubungan orang tuanya.
BACA JUGA: Anak Bertanya Soal Perceraian? Ini Cara Menjawab yang Dianjurkan Psikolog
Apa Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak?
Perlu diingat, tidak semua anak akan menunjukkan respons yang sama.
Ada anak yang menjadi lebih pendiam. Ada yang mudah marah, sulit tidur, lebih clingy, mengalami perubahan perilaku, atau justru terlihat baik-baik saja.
Menurut Child Mind Institute, respons anak terhadap perceraian dapat berupa kecemasan, menarik diri, perubahan perilaku, regresi, hingga kesulitan berkonsentrasi. Anak juga dapat mengalami rasa bersalah dan berpikir bahwa dirinya ikut menyebabkan perceraian.
AAP juga menjelaskan bahwa perubahan perilaku dapat muncul pada tahun pertama setelah perpisahan. Pada anak usia sekolah, misalnya, self-blame, keinginan agar orang tua kembali bersama, kemarahan, menarik diri, hingga penurunan performa di sekolah dapat terjadi.
Namun, ini bukan berarti setiap anak yang mengalami perceraian akan mengalami masalah psikologis jangka panjang. Anak memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda-beda, dan dukungan dari orang tua maupun lingkungan dapat membantu proses penyesuaian mereka.

Foto: Boris Pavlikovsky/Pexels
Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Menyalahkan Dirinya?
1. Katakan dengan Jelas: “Ini Bukan Salah Kamu”
Jangan hanya menganggap anak akan memahami hal tersebut dengan sendirinya.
Ketika anak berkata, “Aku penyebab Mama dan Papa cerai, ya?”, jawab dengan kalimat yang sederhana dan tegas.
Mommies bisa mengatakan:
Tidak, Sayang. Perceraian Mama dan Papa bukan karena kamu. Kamu tidak melakukan sesuatu yang membuat Mama dan Papa bercerai.
Kalimat seperti ini mungkin perlu diulang berkali-kali.
Bukan karena anak tidak mendengar, tetapi karena ia sedang berusaha memahami perubahan besar dalam hidupnya. Child Mind Institute juga menyarankan orang tua untuk secara eksplisit meyakinkan anak bahwa perceraian bukan kesalahan mereka.
2. Dengarkan Dulu, Jangan Buru-Buru Membantah
Ketika anak berkata, “Aku sedih karena Papa pergi gara-gara aku,” respons pertama yang mungkin muncul adalah, “Enggak dong! Jangan mikir begitu!”
Wajar. Mommies pasti ingin segera menghilangkan rasa bersalahnya.
Tapi sebelum meyakinkan, coba beri ruang untuk anak bercerita.
“Kenapa kamu merasa begitu?”
“Apa yang membuat kamu berpikir Mama dan Papa berpisah karena kamu?”
Dengan begitu, Mommies bisa mengetahui apa yang sebenarnya ada di kepala anak.
Menurut American Psychological Association (APA), membangun komunikasi terbuka dan membuat anak merasa aman untuk bercerita merupakan bagian penting ketika anak sedang menghadapi kesulitan emosional.
BACA JUGA: Walkaway Wife Syndrome: Kenapa Suami Sering Kaget saat Istri Minta Cerai?
3. Jangan Memberikan Detail Konflik Orang Dewasa kepada Anak
Jujur kepada anak bukan berarti semua detail perceraian harus diceritakan.
Anak tidak perlu menjadi tempat curhat tentang perselingkuhan, masalah keuangan, konflik hukum, atau kesalahan mantan pasangan.
Mommies boleh menjelaskan bahwa Mama dan Papa memiliki masalah sebagai orang dewasa yang tidak bisa diselesaikan dengan tetap tinggal bersama, tetapi hindari membuat anak merasa harus memilih pihak.
AAP menekankan pentingnya tidak menempatkan anak di tengah konflik orang tua. Ketika anak merasa harus memilih salah satu orang tua, mereka dapat mengalami rasa bersalah, sedih, dan marah.
4. Jangan Meminta Anak Menjadi “Penengah”
Ini termasuk ketika tanpa sadar kita berkata:
“Coba kamu bilang ke Papa supaya jangan marah.”
“Atau kamu mau Mama dan Papa balikan?”
“Kamu lebih pilih tinggal sama siapa?”
Anak tidak seharusnya diberi tanggung jawab untuk memperbaiki hubungan kedua orang tuanya.
Kalaupun Mommies dan Daddies sudah tidak menjadi pasangan, anak tetap membutuhkan kesempatan untuk menjadi anak, bermain, belajar, berteman, dan menjalani kesehariannya tanpa harus memikirkan bagaimana membuat orang tuanya kembali bersama.
5. Jaga Rutinitas Anak Sebisa Mungkin
Setelah perceraian, banyak hal mungkin berubah: rumah, jadwal bertemu orang tua, sekolah, bahkan lingkungan tempat tinggal.
Karena itu, hal-hal yang masih bisa dibuat konsisten akan membantu anak merasa lebih aman.
Misalnya:
- Jadwal sekolah tetap.
- Jam tidur relatif konsisten.
- Tetap melakukan aktivitas favorit anak.
- Memberi tahu anak sebelumnya jika ada perubahan jadwal.
- Memastikan anak tahu kapan akan bertemu masing-masing orang tuanya.
Rutinitas yang terstruktur dapat membantu mengurangi kecemasan dan membuat anak lebih mudah memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Child Mind Institute juga menyarankan orang tua untuk mempertahankan rutinitas yang konsisten dan membuat perubahan yang terjadi terasa lebih dapat diprediksi bagi anak.
6. Pastikan Anak Tahu bahwa Kasih Sayang Orang Tua Tidak Ikut “Bercerai”
Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak, kepastian seperti ini penting.
Mommies bisa mengatakan:
“Mama dan Papa tidak lagi menjadi suami istri, tapi kami tetap Mama dan Papa kamu. Kami tetap sayang kamu dan akan tetap mengurus kamu.”
Anak mungkin akan menanyakan hal yang sama berkali-kali. Tidak apa-apa.
Bagi mereka, pengulangan bisa menjadi cara untuk mencari rasa aman di tengah situasi yang berubah. Anak juga membutuhkan kepastian bahwa mereka tetap aman, dicintai, dan tidak bertanggung jawab atas keputusan orang tuanya.
BACA JUGA: Selain Selingkuh, Ternyata Ini 10 Penyebab Utama Perceraian!
Kapan Anak Perlu Dibantu Psikolog?
Rasa sedih, marah, bingung, atau merasa bersalah setelah perceraian bisa menjadi bagian dari proses penyesuaian. Namun, Mommies dan Daddies perlu lebih waspada jika perubahan emosi atau perilaku anak terasa semakin berat, menetap, atau mulai mengganggu kesehariannya.
Misalnya, anak:
- Terus-menerus mengatakan dirinya penyebab perceraian.
- Sangat menarik diri dari keluarga atau teman.
- Mengalami gangguan tidur atau makan yang menetap.
- Mengalami penurunan signifikan di sekolah.
- Menunjukkan kecemasan atau kesedihan yang berat.
- Terus-menerus merasa bertanggung jawab untuk menyatukan orang tuanya.
- Mengatakan dirinya tidak berharga atau tidak ingin hidup.
Dalam kondisi seperti ini, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak, psikiater anak, atau dokter anak. AAP juga menyarankan orang tua untuk mencari bantuan profesional bila anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri atau ketika dukungan tambahan dibutuhkan.
Yang juga penting, jangan menunggu sampai anak “sudah tidak kuat” untuk mencari bantuan. Konsultasi bisa menjadi ruang bagi anak maupun orang tua untuk memahami apa yang sedang terjadi dan mencari cara menghadapi perubahan tersebut dengan lebih sehat.

Foto: Gustavo Fring/Pexels
Mommies, Anak Tidak Perlu Ikut Memikul Masalah Orang Dewasa
Saat orang tua bercerai, wajar jika Mommies dan Daddies sendiri sedang mengalami banyak emosi: sedih, marah, kecewa, bingung, atau bahkan lega.
Namun, di tengah semua itu, ada satu pesan yang perlu terus didengar anak:
“Ini bukan salah kamu. Kamu tidak perlu memperbaiki hubungan Mama dan Papa. Dan kamu tetap dicintai.”
Mungkin kalimat itu perlu disampaikan bukan sekali, tetapi berkali-kali.
Bagi anak, proses menerima perceraian bukan hanya tentang memahami bahwa Mama dan Papa tidak lagi tinggal bersama. Mereka juga perlu belajar bahwa perubahan dalam keluarga tidak berarti kehilangan cinta, keamanan, atau tempat mereka sebagai anak.
Dan dalam proses tersebut, kehadiran orang tua yang mau mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi salah satu bentuk dukungan yang paling berarti.
Cover: cottonbro studio/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS