Sorry, we couldn't find any article matching ''

5 Cara Ajak Anak Membantu Pekerjaan Rumah Tanpa Marah-Marah, Beres-Beres Bebas Stres
Anak susah diajak membantu pekerjaan rumah? Simak 5 cara melibatkan anak sesuai usia tanpa marah-marah, dari membuat kesepakatan hingga memberi apresiasi.
“Kak, tolong bersihkan teras sekarang!”
Apakah anak akan langsung melakukannya? Belum tentu. Bisa jadi, hal yang terjadi berikutnya adalah drama saling berargumen, anak mulai cemberut, atau bahkan aksi mogok. Situasi ini tentu sangat familiar bagi Mommies dan Daddies di rumah.
Mengajak anak untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga (chores) memang gampang-gampang susah. Kunci utamanya bukanlah memaksakan hasil yang bersih sempurna, melainkan membangun kebiasaan dan rasa keterikatan tanpa merusak hubungan dengan anak.
Lantas, bagaimana langkah konkret agar anak mau terlibat dengan sukacita?
BACA JUGA: Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya untuk Masa Depan
Agar anak mau membantu pekerjaan rumah tanpa drama, orang tua bisa mulai dengan memilih tugas sesuai usia dan kemampuan, memahami kecenderungan anak, membuat kesepakatan bersama, memberi contoh, serta memberikan apresiasi atas prosesnya.
Berikut 5 panduan aksi yang bisa Mommies dan Daddies terapkan mulai hari ini:
1. Pahami Tahap Perkembangan Anak dan Pilih Tugas yang Sesuai

Foto: cottonbro studio/Pexels
Agar anak tidak merasa terbebani, berikan tugas yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Dengan memahami tahap perkembangan anak, kita sebagai orang tua dapat melibatkan anak dalam aktivitas yang sesuai dengan kemampuannya.
Selain itu, kita juga dapat dengan lebih mudah menyesuaikan ekspektasi sehingga tidak akan menyamakan standar kerapian anak usia 5 tahun dengan standar orang dewasa.
Berikut contoh pekerjaan rumah yang dapat dilakukan anak sesuai usianya:
- Usia 3–5 tahun (prasekolah): menaruh pakaian kotor di keranjang, merapikan mainan sendiri, dan menyiram tanaman. Namun, perlu diingat bahwa kemampuan setiap anak bisa berbeda, sehingga contoh tugas di atas tetap perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing anak.
- Usia 6–9 tahun (Sekolah Dasar): menyapu kamar, menyiapkan dan merapikan alat makan, serta melipat pakaian sendiri.
- Usia 10+ tahun (praremaja): mencuci piring, membuang sampah, dan membantu menyiapkan bahan masakan. Untuk tugas yang melibatkan benda tajam, kompor, atau peralatan tertentu, pastikan anak mendapat pendampingan sesuai kebutuhannya.
2. Pahami Sifat Bawaan Anak dan Pilih Tugas yang Disukai
Setiap anak memiliki kecenderungan sifat bawaan masing-masing. Dengan memahami sifat bawaan anak, kita bisa menyesuaikan jenis tugas dengan kecenderungan sifat bawaannya.
Sebagai contoh, anak yang cenderung aktif secara fisik akan lebih menikmati tugas dinamis seperti menyiram tanaman, menyapu, atau mengepel. Sementara anak yang cenderung lebih tenang bisa kita ajak untuk melipat baju atau menata buku.
BACA JUGA: 7 Pekerjaan Rumah Tangga yang Perlu Kita Ajarkan ke Anak Laki-Laki
3. Buat Kesepakatan Bersama
Anak-anak akan lebih kooperatif jika mereka merasa terlibat dari awal, misalnya dengan berdiskusi dalam pembagian tugas, bukan sekadar menerima perintah mutlak dari orang tua.
Kita bisa mengadakan family meeting santai di akhir pekan untuk membicarakan tugas-tugas rumah. Berikan mereka hak memilih tugas yang disukai serta sepakati konsekuensi logisnya jika tugas tersebut diabaikan.
Agar kesepakatan tersebut tidak terlupa, buat bagan atau jadwal tugas visual yang menarik dan tempelkan di ruang keluarga atau lokasi lain yang sering dilewati.

Foto: cottonbro studio/Pexels
4. Hadir sebagai Role Model, Bukan Sekadar Pengawas
Anak adalah peniru yang ulung. Jika mereka melihat orang tua menganggap pekerjaan rumah sebagai beban yang menyebalkan, mereka akan mengadopsi mentalitas serupa.
Agar pekerjaan rumah tidak menjadi tugas rutin belaka, kita bisa membuat jadwal kerja bersama dan membuatnya menjadi momen yang tidak biasa. Sesekali, kita bisa menciptakan momen family chore time secara berkala.
Misalnya, setiap akhir pekan, kita dan anak mengerjakan tugas rumah bersama-sama sambil mendengarkan musik favorit keluarga. Kita sebagai orang tua turut menuntaskan pekerjaan, bukan sekadar berdiri memegang pinggang, memberi perintah, atau sibuk mengoreksi kesalahan anak.
BACA JUGA: 6 Manfaat Berbagi Pekerjaan Rumah Tangga, serta Tipsnya
5. Berikan Dukungan & Apresiasi Emosional
Fokus utama kita dalam melibatkan anak dalam berbagai pekerjaan rumah tangga adalah agar kita dan anak bersama-sama berproses. Sekecil apa pun progresnya, kita perlu mengapresiasi.
Bila ada kegagalan yang terjadi, kita tetap perlu saling mendukung agar tidak ada yang merasa berkecil hati. Ucapkan terima kasih atas kontribusi mereka, misalnya, “Terima kasih sudah bantu melipat baju hari ini. Ibu sangat terbantu.”
Jika lipatan bajunya masih miring atau sapuannya belum bersih total, kita bisa memberi semangat atau menanyakan apa hal yang menantang bagi mereka, kemudian mendampingi mereka menghadapi tantangan tersebut.
Mengajarkan dan mendampingi anak dalam melakukan pekerjaan rumah tangga memang membutuhkan kesabaran ekstra dan tak jarang memancing emosi. Namun, percayalah bahwa setiap usaha yang Mommies dan Daddies tanamkan hari ini adalah modal paling berharga agar anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangannya di masa depan.
Tetap semangat dan nikmati setiap prosesnya, ya, Mommies dan Daddies!
Cover: Annushka Ahuja/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS