banner-detik
SEX & RELATIONSHIP

Kapan Single Parent Siap Membuka Hati Lagi? 7 Tanda Ini Bisa Jadi Jawabannya

author

Mommies Dailyin 6 hours

Kapan Single Parent Siap Membuka Hati Lagi? 7 Tanda Ini Bisa Jadi Jawabannya

Kapan single parent siap pacaran lagi? Kenali 7 tanda yang menunjukkan Anda siap membuka hati dan menjalani hubungan baru.

Tidak ada deadline untuk jatuh cinta lagi. Yang penting, jangan sampai rasa sepi disalahartikan sebagai tanda sudah siap.

Menjadi single parent bukan berarti kehidupan percintaan harus berhenti. Namun setelah melewati perceraian atau hubungan yang berakhir, wajar kalau muncul pertanyaan: “Aku sudah siap pacaran lagi belum, ya?”

Menurut psikolog klinis Greg Matos, PsyD, tidak ada aturan pasti bahwa seseorang harus menunggu sekian bulan atau tahun setelah perceraian sebelum mulai dating. Tidak ada bukti empiris yang mendukung aturan harus menunggu satu tahun sebelum kembali dating. Yang lebih penting adalah kesiapan emosional dan alasan di balik keinginan untuk menjalin hubungan baru.

BACA JUGA: Tips Dating untuk Usia 40-an, Menyenangkan dan Anti Gagal

Lantas, apa tandanya?

1. Ingin punya pasangan, bukan sekadar mengusir kesepian

Kalau alasan utamanya adalah “aku nggak mau sendirian”, mungkin masih perlu waktu. Berbeda ketika Anda merasa hidup Anda sudah cukup baik, tetapi ingin punya seseorang untuk berbagi.

Matos juga menempatkan motivasi sebagai salah satu petunjuk penting kesiapan untuk dating lagi. Apakah ingin mengenal seseorang karena memang siap menjalani pengalaman baru, atau sekadar ingin menghindari rasa sepi, takut sendirian, atau mencari validasi setelah hubungan berakhir?

2. Hubungan masa lalu sudah tidak mengendalikan hidup kita

Bukan berarti harus melupakan mantan. Apalagi kalau masih harus co-parenting. Namun, Anda sudah bisa melihat hubungan tersebut sebagai pengalaman yang bisa dipelajari, bukan luka yang terus menentukan pilihan Anda.

Photo by Matt W Newman on Unsplash

3. Tahu apa yang kita mau

Setelah pengalaman sebelumnya, Anda mungkin semakin tahu boundaries, nilai, dan karakter pasangan yang cocok dengan kehidupan Anda—termasuk kehidupan sebagai orang tua.

Pengalaman dari hubungan sebelumnya juga bisa membantu seseorang melihat kembali pola hubungan, cara berkomunikasi, batasan, hingga red flags yang mungkin sebelumnya terlewat.

4. Kita tidak mencari “penyelamat”

Pasangan baru bukan obat untuk semua masalah. Anda boleh membutuhkan support, tetapi hubungan sebaiknya menjadi tempat bertumbuh dan berbagi, bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.

BACA JUGA: Pengalaman Seru Mencoba Dating Apps, Ada yang Sampai ke Pelaminan

5. Tidak buru-buru melibatkan anak

Dating boleh saja. Tapi tidak semua orang yang dikencani harus langsung dikenalkan kepada anak.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menyarankan orang tua tidak memperkenalkan setiap pasangan dating kepada anak. Tunggu sampai hubungan terasa cukup serius karena anak bisa membangun attachment dengan pasangan baru. HealthyChildren.org juga memberikan panduan umum sekitar enam bulan setelah berpisah sebelum mulai dating, meski mereka mencatat bahwa dating bisa terjadi lebih cepat dan setiap keluarga memiliki kondisi yang berbeda.

Jadi, membuka hati lagi bukan berarti anak harus langsung dilibatkan dalam setiap tahap kehidupan romantis kita. Ada proses dan pertimbangan yang perlu disesuaikan dengan kondisi keluarga dan kesiapan anak.

6. Tidak lagi merasa bersalah ingin punya kehidupan romantis

Menjadi orang tua bukan berarti berhenti menjadi individu. Anda tetap boleh flirting, dating, pergi dinner, bahkan menikmati kehidupan seksual—selama semuanya dijalani secara sehat dan tidak mengorbankan kebutuhan anak.

Photo by Alexander Sinn on Unsplash

7. Siap menerima bahwa hubungan baru belum tentu berhasil

Siap membuka hati bukan berarti yakin orang baru adalah “the one”. Anda siap mengenalnya, menikmati prosesnya, dan menerima kalau ternyata tidak cocok.

Kesiapan untuk dating lagi juga bukan berarti seseorang harus merasa sudah “sembuh total” atau yakin hubungan berikutnya pasti berhasil. Yang lebih penting adalah mampu menjalani proses dengan kesadaran diri dan kematangan emosional, bukan menjadikan hubungan baru sebagai cara untuk melarikan diri dari ketidaknyamanan.

BACA JUGA: Kenalan dengan Exer-Dating, Gaya Kencan yang Bikin Tubuh Sehat

Jadi, kapan single parent siap membuka hati lagi?

Tidak ada angka pasti berapa bulan atau tahun yang harus dilewati sebelum seorang single parent kembali dating. Kesiapan lebih terlihat dari bagaimana kita menjalani hidup setelah hubungan berakhir: apakah sudah bisa berdamai dengan masa lalu, tahu apa yang diinginkan, tidak mencari pasangan hanya untuk mengusir kesepian, dan tetap mampu menempatkan kebutuhan anak sebagai pertimbangan penting.

Kalau beberapa tanda di atas mulai terasa familiar, mungkin memang tidak ada salahnya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk mengenal seseorang lagi. Pelan-pelan saja. Tidak perlu buru-buru menemukan pasangan baru, karena membuka hati juga berarti memberi ruang untuk mengenal diri sendiri dalam versi yang sekarang.

Yang penting bukan seberapa cepat kita jatuh cinta lagi, tetapi apakah kali ini kita memilih hubungan karena memang ingin berbagi kehidupan, bukan karena takut menjalani kehidupan sendirian.

Cover: Photo by Priscilla Du Preez 🇨🇦 on Unsplash

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan