
Skincare 10 step mulai bergeser ke skincare minimalis dengan prinsip less is more. Ini cara menyederhanakan rutinitas tanpa mengorbankan kesehatan kulit.
Mommies, masih ingat masa ketika rutinitas skincare terasa seperti pekerjaan rumah? Mulai dari cleansing oil, facial wash, toner, essence, serum, ampoule, eye cream, moisturizer, face oil, sampai sleeping mask. Belum lagi kalau ada exfoliating toner dan retinol yang harus diselipkan di hari-hari tertentu.
Tidak heran kalau sekarang muncul pendekatan yang terasa jauh lebih sederhana: less is more.
Bukan berarti skincare 10 step otomatis buruk atau semua produk harus dibuang. Prinsipnya lebih kepada memilih produk yang memang dibutuhkan kulit, bukan sekadar menambah langkah karena sedang viral atau merasa “kok skincare saya belum lengkap?”
Bahkan, American Academy of Dermatology (AAD) menyebut pendekatan sederhana yang mencakup membersihkan, melembapkan, dan melindungi kulit dari sinar matahari sudah bisa menjadi dasar perawatan kulit. Terlalu banyak produk juga berpotensi membuat kulit iritasi.
BACA JUGA: Terlalu Banyak Skincare Bisa Bikin Kulit Bermasalah? Ini 6 Tandanya

Salah satu alasannya mungkin karena kita mulai sadar bahwa kulit tidak selalu membutuhkan sebanyak itu.
Bayangkan kulit sedang sensitif atau skin barrier sedang bermasalah, lalu kita menumpuk beberapa bahan aktif sekaligus. Bukannya semakin glowing, yang muncul justru rasa perih, kemerahan, kering, atau breakout.
AAD juga menyarankan untuk memperkenalkan produk anti-aging satu per satu karena penggunaan beberapa produk sekaligus dapat meningkatkan risiko iritasi.
Jadi, less is more bukan berarti malas merawat kulit. Justru sebaliknya, Mommies belajar lebih selektif dan memahami kebutuhan kulit sendiri.
Tidak ada satu formula yang cocok untuk semua orang. Namun, sebagai titik awal, Mommies bisa kembali ke tiga hal mendasar.
Gunakan cleanser yang sesuai dengan kondisi kulit dan tidak membuat wajah terasa tertarik atau kering setelah dicuci.
AAD merekomendasikan gentle, non-abrasive cleanser dan menyarankan untuk tidak menggosok wajah terlalu keras. Membersihkan wajah dua kali sehari dan setelah berkeringat juga umumnya cukup.
Kalau setelah mencuci wajah kulit terasa “kesat banget”, belum tentu itu tanda kulit benar-benar bersih, ya.
Moisturizer bukan hanya untuk pemilik kulit kering. Kulit berminyak pun tetap membutuhkan hidrasi.
Untuk rutinitas yang simpel, pilih moisturizer yang sesuai dengan jenis dan kondisi kulit. AAD juga menyarankan untuk mengaplikasikan moisturizer ketika kulit masih sedikit lembap agar dapat membantu mempertahankan kelembapan.

Kalau ada satu langkah yang sebaiknya jangan dihilangkan, sunscreen adalah salah satunya.
AAD merekomendasikan sunscreen dengan SPF 30 atau lebih, broad-spectrum, dan water-resistant. Sunscreen membantu melindungi kulit dari sunburn, penuaan dini, dan kanker kulit.
Jadi, meski rutinitas skincare Mommies sekarang cuma tiga atau empat langkah, sunscreen tetap masuk daftar prioritas.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Skincare Multifungsi, Cocok Buat yang Berprinsip Less is More
Bukan berarti semuanya harus pensiun.
Kalau Mommies punya concern tertentu, misalnya jerawat, hiperpigmentasi, atau tanda penuaan, produk dengan bahan aktif bisa saja membantu. Namun, prinsipnya tambahkan berdasarkan kebutuhan, bukan karena merasa harus punya semuanya.
AAD menyarankan untuk fokus pada satu concern dan memperkenalkan produk secara bertahap. Terlalu banyak produk aktif dalam waktu berdekatan justru dapat meningkatkan risiko iritasi.
Dan satu hal penting: kalau sebuah produk terasa perih atau terbakar, jangan otomatis menganggap “berarti produknya sedang bekerja”. Rasa menyengat atau terbakar bisa menjadi tanda iritasi.
Untuk produk baru, Mommies juga bisa melakukan patch test terlebih dahulu, terutama jika kulit sensitif.

Ada sisi lain dari tren skincare yang sering luput dibicarakan: tekanan untuk terus memperbaiki penampilan.
Scroll media sosial, kita bisa melihat wajah dengan pori-pori nyaris tidak terlihat, kulit glowing sepanjang waktu, atau rutinitas skincare yang panjang dan terlihat sangat sempurna. Lama-lama, muncul perasaan bahwa kulit kita juga harus seperti itu.
Padahal, standar kecantikan di media sosial tidak selalu merepresentasikan kondisi nyata. American Psychological Association (APA) mencatat bahwa social comparison terkait penampilan di media sosial berhubungan dengan body image yang lebih buruk dan sejumlah dampak psikologis, terutama pada remaja.
Jadi, menyederhanakan skincare juga bisa menjadi kesempatan untuk bertanya: “Kulit saya sebenarnya butuh apa?”, bukan “Produk apa yang sedang dipakai semua orang?”
BACA JUGA: Jerawat Remaja Tak Kunjung Hilang? 8 Kebiasaan Ini Bisa Jadi Penyebabnya
Tidak harus, Mommies.
Kalau 10 langkah skincare membuat kulit nyaman dan semuanya memang punya fungsi, silakan. Tetapi kalau rutinitas panjang justru membuat bingung, boros, atau kulit semakin rewel, tidak ada salahnya kembali ke basic.
Mulai dari cleanser, moisturizer, dan sunscreen. Setelah itu, kalau ada concern tertentu, tambahkan satu produk yang memang relevan dan lihat bagaimana respons kulit.
Sederhananya, skincare minimalis adalah rutinitas yang berfokus pada produk yang memang dibutuhkan kulit, bukan sebanyak mungkin produk.
Kulit sehat tidak selalu tentang melakukan lebih banyak. Kadang, justru tentang tahu kapan harus berhenti menambahkan.