Selain Screen Time, Ini 5 Kebiasaan Digital Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 6 hours

detail-thumb

Bukan cuma screen time anak, kenali 5 kebiasaan digital anak yang perlu diwaspadai orang tua, dari doomscrolling hingga oversharing.

Selama ini, batasan utama yang kerap kita terapkan saat anak memegang gawai adalah durasi, yaitu seberapa lama atau sebentar mereka asyik bermain gadget. Kita sering bernapas lega jika anak “hanya” bermain gadget selama satu jam sehari. Namun, pernahkah Mommies dan Daddies memperhatikan apa yang sebenarnya dilakukan anak dalam kurun waktu satu jam tersebut?

Realitas di era modern menunjukkan bahwa angka durasi layar (screen time) bukanlah satu-satunya tolok ukur. Kebiasaan digital anak juga memegang peranan sangat krusial. Memahami pola ini merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan digital anak secara menyeluruh.

Jadi, apakah screen time yang hanya satu jam sehari berarti aman? Belum tentu. Orang tua juga perlu melihat apa yang dilakukan anak selama menggunakan gadget, kapan mereka menggunakannya, konten apa yang dikonsumsi, dan apakah kebiasaan tersebut mulai mengganggu tidur, belajar, aktivitas fisik, maupun hubungan sosialnya.

BACA JUGA: Bukan Salah Anak! Ini 7 Kesalahan Orang Tua yang Bikin Screen Time Sulit Dikontrol

Memahami Kebiasaan Digital Anak dan Batasan Screen Time

Dilansir dari Psychology Today, kebiasaan digital anak merujuk pada seluruh pola perilaku, interaksi, serta rutinitas anak saat terhubung dengan teknologi dan media elektronik. Ini mencakup pilihan platform, respons emosional saat menggunakan gawai, hingga etika berkomunikasi di dunia maya.

Senada dengan hal tersebut, Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., menekankan pentingnya orang tua melihat pola ini secara lebih utuh. “Kebiasaan digital adalah pola anak menggunakan gawai dan media digital: kapan digunakan, berapa lama, untuk tujuan apa, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan bukan hanya durasi, tapi juga jenis konten, konteks penggunaan, serta dampaknya,” paparnya.

Penjelasan ini menegaskan bahwa screen time bukanlah satu-satunya masalah. Membatasi jam layar memang penting, tetapi jika dalam durasi yang singkat itu anak terbiasa menyaksikan paparan kekerasan atau melakukan scrolling tanpa henti sebelum tidur, dampaknya bisa tetap merugikan.

Sebagaimana dijelaskan dalam pedoman kesehatan anak dari World Health Organization (WHO), untuk anak usia dini, perilaku sedentari dan penggunaan layar perlu diperhatikan sebagai bagian dari pola aktivitas anak secara keseluruhan.

Foto: kaboompics.com/Pexels

Apa yang Mendorong Anak Sering Scrolling Tanpa Henti?

Scrolling terus-menerus dapat dipicu oleh desain aplikasi yang memang membuat pengguna ingin melihat konten-konten berikutnya, rasa ingin tahu, kebutuhan mengikuti pergaulan, kebosanan, atau sebagai cara mengalihkan diri dari stres dan emosi yang tidak nyaman.

Sampai batas tertentu, hal ini wajar, terutama pada remaja yang kemampuan mengendalikan impulsnya masih berkembang. Namun, kebiasaan tersebut perlu diwaspadai ketika anak mulai kehilangan kendali dan sulit berhenti meski sudah mengetahui akibatnya,” terang Psikolog Vera.

BACA JUGA: Aturan Screen Time Anak dan Remaja, serta Dampak Jika Berlebihan

5 Kebiasaan Digital Buruk yang Sering Luput dari Perhatian Orang Tua

Mommies dan Daddies, yuk, amati bersama. Ada beberapa kebiasaan digital buruk saat anak bermain gawai yang sering kali luput dari pengawasan kita sehari-hari:

1. Doomscrolling dan Paparan Short-form Content Tanpa Henti

Pernahkah melihat anak terus menggeser layar ponsel, melihat video-video pendek tanpa jeda?

Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir dan mengonsumsi konten, terutama konten negatif atau yang memicu emosi, meski sebenarnya kita sudah ingin berhenti.

Perilaku scrolling cepat dan terus-menerus ini dapat memberikan stimulasi secara cepat. Kebiasaan scrolling cepat dan terus-menerus ini membuat anak terbiasa mendapatkan stimulasi secara cepat. Pada sebagian anak, pola konsumsi seperti ini dapat membuat mereka lebih mudah bosan dan kesulitan mempertahankan fokus saat beraktivitas di dunia nyata.

2. Menggunakan Gadget saat Makan dan Menjelang Tidur

Penggunaan gawai di meja makan dapat merusak kebiasaan makan sehat (mindful eating) karena anak tidak fokus pada rasa kenyang. Sementara itu, membiasakan anak menatap layar sebelum tidur berdampak lebih serius.

Menurut riset dari Sleep Foundation, paparan cahaya biru (blue light) dari perangkat elektronik pada malam hari dapat menekan produksi hormon melatonin yang berperan dalam mengatur rasa kantuk. Penggunaan perangkat sebelum tidur pun dikaitkan dengan gangguan pola dan kualitas tidur anak.

Foto: Andrea Piacquadio/Pexels

3. Mengonsumsi Konten Tanpa Filter dan Pendampingan

Jenis tayangan yang diakses anak memegang kendali besar atas pembentukan karakternya. Mengutip ulasan dalam Psychology Today, paparan layar yang terlalu menstimulasi (overstimulating) dapat berkaitan dengan masalah perilaku, pembelajaran, dan regulasi emosi anak.

4. Terlalu Bebas Membagikan Informasi Pribadi (Oversharing)

Anak-anak, terutama usia prareremaja, kerap belum memahami konsep privasi di internet. Membagikan nama sekolah, lokasi rumah, hingga aktivitas harian di platform digital membuka risiko cyberbullying, pelanggaran privasi, hingga potensi ancaman dari kejahatan siber.

5. Multitasking Digital Saat Belajar atau Mengerjakan Tugas

Anak terbiasa membuka gawai atau aplikasi hiburan sambil mengerjakan tugas sekolah. Kebiasaan multitasking ini dapat membuat fokus anak terpecah, sehingga materi pelajaran tidak terserap maksimal dan proses berpikir mendalam menjadi lebih sulit dilakukan.

Mengapa Konten dan Waktu Akses Digital Begitu Menentukan?

Gawai pada dasarnya adalah alat, tetapi jenis konten, fitur platform, serta waktu penggunaan itulah yang memberikan warna pada pengalaman dan kebiasaan digital anak.

Jenis konten dan waktu penggunaan itulah yang memberikan warna pada perkembangan otak anak. Konten bernuansa provokatif atau interaksi yang memicu Fear of Missing Out (FoMO) berpotensi memicu kecemasan dan rasa rendah diri pada anak.

Di sisi lain, saat gawai digunakan sebagai “obat penenang” ketika anak sedang tantrum atau bosan, anak kehilangan kesempatan alami untuk belajar mengelola emosinya sendiri.

Jika terus menjadi satu-satunya cara anak untuk mengatasi bosan, tantrum, atau emosi yang tidak nyaman, gadget dapat semakin terbentuk sebagai “pelarian” utama bagi anak ketika menghadapi emosi yang sulit.

Selain Screen Time, Ini 5 Kebiasaan Digital Anak yang Perlu Diwaspadai Orang Tua

Foto: Vitaly Gariev/Pexels

Tanda-tanda Kebiasaan Digital Anak Mulai Tidak Sehat

Mommies dan Daddies perlu mulai meningkatkan kewaspadaan apabila anak atau remaja kalian menunjukkan beberapa gejala berikut:

  • Perubahan emosi yang drastis: Anak menjadi sangat mudah marah, cemas, atau frustrasi ketika gawai diambil dari tangannya.
  • Pola tidur jadi terganggu: Kesulitan tidur malam, sering terbangun, atau terlihat lelah di pagi hari.
  • Menurunnya interaksi sosial: Anak menarik diri dari komunikasi langsung dengan keluarga atau teman sebaya dan lebih memilih mengurung diri bersama gawainya.
  • Aktivitas harian terabaikan: Tugas sekolah, hobi fisik, atau kewajiban personal dasar seperti mandi dan makan sering kali tertunda.

Riset dari American Psychological Association (APA) mengenai penggunaan media oleh remaja menunjukkan bahwa penggunaan media sosial perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu tidur, aktivitas fisik, dan fungsi sehari-hari. APA juga menekankan pentingnya memantau tanda-tanda penggunaan media sosial yang bermasalah.

BACA JUGA: 10 Ciri Screen Time Anak Sudah Berlebihan Selama Liburan Panjang

Langkah Praktis Membangun Kebiasaan Digital yang Sehat

Membimbing anak-anak, terutama remaja di era serba digital, memang butuh kesabaran ekstra. Berikut beberapa panduan yang bisa orang tua terapkan di rumah:

  • Tetapkan zona bebas gawai: Buat kesepakatan bersama bahwa meja makan dan kamar tidur adalah area bebas perangkat elektronik.
  • Dampingi dan ajak anak berdiskusi: Luangkan waktu untuk menonton bersama. Tanyakan perasaan mereka terhadap konten yang ditonton alih-alih hanya melarangnya.
  • Jadilah teladan yang baik: Anak adalah peniru yang andal. Jika kita ingin anak mengurangi scrolling, pastikan Mommies dan Daddies juga membatasi penggunaan ponsel saat berkumpul bersama keluarga.
  • Sediakan alternatif aktivitas fisik: Imbangi kehidupan digital anak dengan kegiatan luar ruangan, olahraga, hobi kreatif, atau membaca buku.

Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?

Psikolog Vera mengingatkan, orang tua perlu lebih serius jika penggunaan digital mulai mengganggu tidur, sekolah, makan, kebersihan diri, aktivitas fisik, maupun hubungan dengan keluarga dan teman.

Cermati tanda-tanda lain berikut ini: anak menjadi marah berlebihan atau cemas ketika gawai dibatasi, sering berbohong mengenai penggunaannya, menarik diri, kehilangan minat terhadap kegiatan lain, atau menggunakan gawai sebagai satu-satunya cara menghadapi emosi.

Jika Mommies dan Daddies menemukan bahwa kebiasaan digital anak sudah memicu tantrum hebat yang berulang, penurunan prestasi belajar yang signifikan, atau depresi dan penarikan diri dari lingkungan sosial, jangan ragu untuk berkonsultasi. Bantuan dari psikolog anak atau tenaga profesional tumbuh kembang anak dapat membantu keluarga memetakan akar masalah serta merancang tindakan yang tepat bagi anak.

Cover: kaboompics.com/Pexels