Sorry, we couldn't find any article matching ''

Mau Kembali Kerja Setelah Jadi Single Parent? Ini 7 Langkah agar Lebih Siap
Mau kembali bekerja setelah jadi single parent? Ini 7 langkah mempersiapkan diri, anak, finansial, dan support system agar lebih siap kembali ke dunia kerja.
Menjadi single parent berarti menjalani banyak peran sekaligus. Ada hari ketika kita merasa kuat dan bisa mengurus semuanya sendiri, tetapi ada juga hari ketika rasanya baru bangun tidur saja sudah punya daftar tanggung jawab yang panjang.
Lalu, di tengah semua itu, muncul keinginan atau kebutuhan untuk kembali bekerja setelah menjadi single parent.
Bisa jadi sebelumnya Mommies berhenti bekerja untuk fokus mengurus anak. Bisa juga status sebagai single parent membuat Mommies perlu kembali punya penghasilan sendiri. Apa pun alasannya, kembali ke dunia kerja setelah cukup lama berhenti bukan perkara sekadar memperbarui CV dan mengirim lamaran.
Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan, terutama karena sekarang ada anak yang juga perlu dipikirkan.
Tenang, Mommies. Tidak harus semuanya beres dalam satu waktu. Justru, semakin realistis persiapannya, semakin besar kemungkinan transisi ini terasa lebih ringan.
BACA JUGA: Gaji Nggak Naik? Ini 7 Cara Tetap Bahagia di Tempat Kerja Tanpa Harus Resign
Persiapan Kembali Kerja untuk Single Parent
Berikut tujuh langkah yang bisa Mommies mulai lakukan.

Foto: Tatiana Syrikova/Pexels
1. Tentukan dulu alasan dan tujuan kembali bekerja
Sebelum membuka situs lowongan kerja atau menghubungi teman lama soal pekerjaan, coba berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri: sebenarnya saya ingin kembali bekerja untuk apa?
Jawabannya bisa sangat personal.
Mungkin karena kebutuhan finansial. Mungkin Mommies ingin kembali punya kemandirian secara ekonomi. Bisa juga karena ingin mengembangkan diri lagi setelah beberapa tahun fokus menjadi ibu.
Tidak ada jawaban yang salah.
Mengetahui alasan utama akan membantu Mommies menentukan jenis pekerjaan yang paling sesuai. Misalnya, jika saat ini prioritas utama adalah stabilitas finansial dan waktu bersama anak, pekerjaan dengan jam kerja yang lebih terprediksi mungkin lebih cocok dibandingkan dengan pekerjaan yang menuntut banyak perjalanan dinas.
Jangan sampai karena merasa harus segera bekerja, Mommies menerima pekerjaan yang sejak awal sebenarnya tidak sesuai dengan kondisi keluarga saat ini.
2. Evaluasi kemampuan dan pengalaman yang masih bisa dijual
Salah satu kekhawatiran yang sering muncul setelah career break adalah “Masih ada yang mau menerima saya bekerja, nggak, ya?”
Jawabannya: pengalaman Mommies tidak otomatis hilang hanya karena sempat berhenti bekerja.
Coba buat daftar pengalaman kerja sebelum menjadi single parent. Kemudian tambahkan berbagai keterampilan yang Mommies miliki sekarang.
Bahkan selama menjadi ibu, ada banyak kemampuan yang sebenarnya terasah. Misalnya, mengatur jadwal, membuat prioritas, mengelola anggaran rumah tangga, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, sampai mengerjakan banyak hal dalam waktu yang berdekatan.
Memang, kemampuan tersebut tidak perlu ditulis secara berlebihan di CV seolah-olah semuanya adalah pengalaman profesional. Namun, keterampilan yang relevan tetap bisa menjadi nilai tambah.
Setelah itu, lihat lagi apakah ada kemampuan yang perlu di-refresh. Mommies bisa mengikuti kursus singkat, webinar, pelatihan, atau belajar mandiri untuk mengejar perkembangan di bidang yang dituju.
Tidak perlu menunggu sampai merasa sudah jago untuk mulai mencari kerja. Belajar dan mencari kerja bisa dilakukan bersamaan.
BACA JUGA: Kembali Bekerja Setelah Punya Bayi: Persiapan Fisik, Mental, dan Logistik
3. Sesuaikan target pekerjaan dengan kondisi sebagai single parent
Ini bagian yang penting.
Saat kembali bekerja sebagai single parent, Mommies mungkin tidak punya fleksibilitas yang sama seperti ketika masih lajang atau memiliki pasangan yang bisa berbagi tanggung jawab pengasuhan.
Artinya, pertimbangkan juga kebutuhan keluarga ketika memilih pekerjaan.
Beberapa hal yang bisa dipikirkan antara lain:
- Apakah jam kerja memungkinkan Mommies menjemput atau menemani anak?
- Berapa lama waktu perjalanan dari rumah ke kantor?
- Apakah pekerjaan mengharuskan lembur secara rutin?
- Seberapa sering harus melakukan perjalanan dinas?
- Apakah tersedia opsi kerja hybrid atau remote?
- Bagaimana kebijakan perusahaan jika anak sakit atau ada kondisi darurat?
- Apakah penghasilan yang ditawarkan sepadan dengan biaya daycare, pengasuh, transportasi, dan kebutuhan lain?
Jangan hanya melihat angka gaji.
Hitung juga “biaya untuk bisa bekerja”.
Bisa saja sebuah pekerjaan menawarkan gaji lebih tinggi, tetapi membutuhkan perjalanan dua jam setiap hari dan biaya pengasuhan yang besar. Sementara pekerjaan dengan gaji sedikit lebih rendah ternyata membuat Mommies punya waktu dan energi lebih banyak untuk anak.
Yang dicari bukan pekerjaan yang sempurna, tetapi pekerjaan yang paling masuk akal untuk kondisi Mommies saat ini.

Foto: BOOM 💥 Photography/Pexels
4. Bangun kembali support system
Menjadi single parent bukan berarti Mommies harus melakukan semuanya sendirian.
Justru, memiliki support system untuk single parent sangat penting ketika Mommies mulai kembali bekerja.
Coba petakan orang-orang yang bisa menjadi tempat meminta bantuan. Bisa orang tua, saudara, sahabat, tetangga yang dipercaya, atau orang lain yang memang sudah dekat dengan keluarga.
Tidak harus selalu berupa bantuan besar.
Misalnya, siapa yang bisa menjemput anak ketika Mommies terlambat pulang? Siapa yang bisa membantu ketika anak sakit? Siapa yang bisa dihubungi kalau tiba-tiba Mommies harus lembur?
Buat juga rencana cadangan. Karena kita tahu, Mommies, hidup dengan anak sering kali punya kejutan yang tidak masuk kalender.
Kalau menggunakan daycare atau pengasuh, pastikan Mommies juga sudah memahami jam operasional, kebijakan ketika anak sakit, biaya tambahan, serta siapa yang bisa menjadi alternatif ketika layanan tersebut tidak tersedia.
Semakin jelas sistem pendukungnya, semakin tenang Mommies ketika kembali bekerja.
5. Rapikan kondisi finansial sebelum mulai bekerja
Kembali bekerja tentu berkaitan erat dengan kondisi keuangan.
Sebelum menerima pekerjaan, coba hitung ulang kebutuhan bulanan keluarga. Masukkan pengeluaran yang mungkin muncul karena Mommies mulai bekerja, seperti transportasi, makan di luar, daycare, pengasuh, atau biaya tambahan lainnya.
Dari situ, Mommies bisa mengetahui berapa penghasilan minimum yang dibutuhkan.
Kalau memungkinkan, mulai bangun dana darurat secara bertahap. Tidak perlu langsung mengejar angka ideal. Yang penting ada upaya untuk memiliki cadangan jika sewaktu-waktu terjadi kondisi yang tidak direncanakan.
Mommies juga bisa memisahkan rekening untuk kebutuhan sehari-hari, tabungan, dan dana darurat agar pengelolaannya lebih mudah.
Kondisi finansial yang lebih tertata bukan hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga bisa memberikan rasa aman ketika Mommies menjalani fase baru ini.
BACA JUGA: 7 Pertanyaan yang Sebaiknya Ditanyakan Single Parent kepada HR Sebelum Menerima Pekerjaan
6. Latihan menjelaskan career break tanpa merasa harus minta maaf
Pertanyaan tentang career break bisa membuat sebagian Mommies gugup saat wawancara.
“Kenapa sempat tidak bekerja?”
Tidak perlu merasa harus meminta maaf karena pernah memilih berhenti bekerja untuk mengurus keluarga.
Jawab pertanyaan tersebut dengan jujur dan singkat, kemudian arahkan pembicaraan pada kesiapan Mommies sekarang.
Misalnya, Mommies bisa menjelaskan bahwa selama beberapa tahun terakhir fokus pada keluarga, dan saat ini sudah siap kembali ke dunia profesional. Setelah itu, ceritakan apa yang sudah Mommies lakukan untuk mempersiapkan diri kembali bekerja.
Yang perlu ditonjolkan adalah kesiapan dan relevansi Mommies hari ini, bukan terus-menerus merasa harus menjelaskan masa lalu.
Sebelum wawancara, coba latihan menjawab beberapa pertanyaan umum. Dengan begitu, Mommies tidak perlu mencari-cari jawaban ketika sedang gugup.

Foto: Ketut Subiyanto/Pexels
7. Siapkan diri secara emosional, bukan cuma administratif
CV sudah diperbarui. LinkedIn sudah dirapikan. Lamaran sudah dikirim.
Tapi ada satu hal yang kadang terlupakan: kesiapan mental.
Kembali bekerja setelah menjadi single parent bisa membawa banyak emosi sekaligus. Ada rasa excited, takut, bersalah, minder, bahkan khawatir apakah keputusan ini akan membuat anak kurang mendapat perhatian.
Perasaan seperti itu tidak otomatis berarti keputusan Mommies salah.
Beri waktu untuk diri sendiri untuk beradaptasi.
Kalau akhirnya mendapat pekerjaan, jangan berharap minggu pertama langsung bisa menjalankan semuanya dengan sempurna. Mungkin ada pagi yang berantakan. Mungkin Mommies pulang dalam keadaan sangat lelah. Mungkin ada momen ketika pekerjaan dan kebutuhan anak sama-sama terasa mendesak.
Itu bagian dari proses menemukan ritme baru.
Dan kalau ternyata pekerjaan pertama setelah career break tidak cocok, bukan berarti Mommies gagal. Mommies boleh mengevaluasi dan mencari pilihan lain.
BACA JUGA: Bukan Cuma Burnout, Ini 6 Tanda Parenting Fatigue pada Ibu Bekerja
Kembali bekerja bukan berarti harus menjadi “supermom”
Mommies, kembali kerja setelah menjadi single parent memang membutuhkan persiapan yang lebih banyak. Tetapi jangan sampai standar yang kita pasang untuk diri sendiri justru terlalu tinggi.
Anak tidak membutuhkan ibu yang selalu sempurna.
Anak membutuhkan ibu yang hadir, yang membuat anak merasa aman, dan yang bisa menjalani hidup dengan cukup baik.
Jadi, tidak apa-apa kalau rumah tidak selalu rapi. Tidak apa-apa kalau sesekali membeli makanan jadi. Tidak apa-apa meminta bantuan. Tidak apa-apa juga mengubah strategi ketika sesuatu ternyata tidak berjalan sesuai rencana.
Mulailah dari hal-hal yang bisa Mommies kontrol: tentukan tujuan, kenali kemampuan, hitung kebutuhan finansial, bangun support system, dan cari pekerjaan yang realistis dengan kondisi keluarga.
Pelan-pelan saja.
Mommies tidak sedang memulai hidup dari nol. Mommies sedang memulai babak baru dengan semua pengalaman yang sudah dimiliki.
Cover: Yan Krukau/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS