banner-detik
SELF

Keracunan Makanan Bisa Mengganggu Saraf dan Bikin Hilang Ingatan? Ini Penjelasannya

author

Mommies Dailyin 6 hours

Keracunan Makanan Bisa Mengganggu Saraf dan Bikin Hilang Ingatan? Ini Penjelasannya

Keracunan makanan dalam kondisi tertentu bisa memengaruhi sistem saraf. Benarkah bisa menyebabkan hilang ingatan dan kejang? Simak penjelasan medis dan kemungkinan penyebab lainnya.

Mommies dan Daddies mungkin mengikuti pemberitaan tentang seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang dilaporkan mengalami kejang dan gangguan ingatan setelah menjadi salah satu korban dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Kasus ini tentu membuat banyak orang tua bertanya-tanya: memangnya keracunan makanan bisa sampai memengaruhi otak dan menyebabkan seseorang kehilangan ingatan?

Singkatnya, keracunan makanan tertentu memang bisa menimbulkan gangguan pada sistem saraf, tetapi hilang ingatan setelah keracunan makanan tidak otomatis berarti keracunan tersebut menjadi penyebabnya.

Dalam kondisi tertentu, infeksi atau toksin yang berasal dari makanan memang bisa menimbulkan komplikasi pada sistem saraf. Namun, bukan berarti setiap orang yang mengalami keracunan makanan akan mengalami gangguan saraf, apalagi kehilangan ingatan.

Yang juga penting, pada kasus siswi di Sumatera Utara tersebut, penyebab pasti gangguan ingatan dan kejang yang dialami belum bisa disimpulkan hanya dari fakta bahwa sebelumnya ia mengalami dugaan keracunan makanan.

Jadi, apa sebenarnya yang mungkin terjadi?

BACA JUGA: 6 Cara Mengatasi Anak Kejang dengan Aman, Menurut Dokter Spesialis Anak

Kasus siswi di Sumatera Utara yang dilaporkan mengalami hilang ingatan

Foto: 8photo/Magnific

Kasus ini bermula dari dugaan keracunan MBG yang dialami ratusan pelajar di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, pada Agustus 2026.

Salah satu korban, siswi berinisial FP (16), kemudian dilaporkan mengalami kejang. Menurut keterangan ibunya kepada media, FP juga sempat mengalami gangguan ingatan dan tidak mengenali anggota keluarganya ketika dirawat di rumah sakit.

Dalam pemeriksaan lanjutan di RSUP H. Adam Malik Medan pada 8 September 2026, FP disebut kembali mengalami kejang ketika akan menjalani pemeriksaan EEG.

Namun, ada hal penting yang perlu digarisbawahi, Mommies. Gangguan ingatan tersebut masih merupakan laporan dari keluarga, bukan diagnosis bahwa FP mengalami amnesia akibat keracunan MBG.

Pihak Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) juga memberikan penjelasan berbeda mengenai kondisi tersebut dan menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan tim, FP masih dapat berkomunikasi dengan baik serta mengenali pendamping yang datang menjenguknya.

Lantas, apakah keracunan makanan memang bisa mengganggu otak?

Keracunan makanan memang bisa berdampak pada sistem saraf

Selama ini, ketika mendengar istilah keracunan makanan, yang langsung terbayang biasanya adalah muntah, diare, sakit perut, atau demam.

Memang, gejala tersebut merupakan gejala yang paling umum.

Namun, beberapa penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius. Menurut CDC – Food Poisoning Symptoms, penyakit akibat makanan pada kondisi tertentu dapat menyebabkan komplikasi seperti meningitis, kerusakan ginjal, hingga kerusakan otak dan saraf.

CDC juga mencatat bahwa beberapa jenis infeksi, misalnya Listeria monocytogenes, dapat menyebabkan kebingungan, gangguan keseimbangan, dan kejang.

Jadi, gangguan saraf setelah mengalami penyakit akibat makanan memang mungkin terjadi, tetapi penyebabnya sangat bergantung pada kuman, toksin, tingkat keparahan penyakit, serta kondisi pasien.

Bahkan, CDC mencatat bahwa pada pasien dengan dugaan penyakit akibat makanan dan gejala neurologis, dokter perlu mempertimbangkan berbagai kemungkinan, termasuk paparan toksin, keracunan bahan kimia, hingga jenis makanan tertentu yang terkontaminasi.

BACA JUGA: Kenapa Bekal Anak Cepat Basi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Lalu, bagaimana keracunan makanan bisa memengaruhi otak?

Ada beberapa jalur yang mungkin.

1. Toksin tertentu memang menyerang sistem saraf

Tidak semua keracunan makanan memengaruhi saluran pencernaan.

Contohnya adalah botulisme. Penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum. Toksin tersebut bersifat neurotoksik, alias dapat memengaruhi sistem saraf.

Menurut WHO – Botulism, botulisme akibat makanan dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan penglihatan, sulit menelan dan berbicara, hingga kelumpuhan yang dapat mengganggu pernapasan.

Ada juga jenis keracunan makanan tertentu yang memang dapat menyebabkan gangguan neurologis, termasuk kebingungan dan gangguan memori.

Namun, ini bukan berarti setiap kasus keracunan makanan memiliki mekanisme yang sama.

Botulisme sendiri merupakan kondisi yang jarang, sehingga contoh ini tidak bisa langsung digunakan untuk menjelaskan kondisi seseorang tanpa pemeriksaan medis.

2. Dehidrasi berat dan gangguan elektrolit

Muntah dan diare berkali-kali bisa membuat tubuh kehilangan banyak cairan.

Kalau tidak segera digantikan, seseorang bisa mengalami dehidrasi. Pada kondisi yang berat, perubahan keseimbangan elektrolit dan kondisi metabolik tubuh juga dapat memengaruhi fungsi otak.

Itulah mengapa pada kasus keracunan makanan, yang perlu diperhatikan bukan hanya “sudah tidak muntah” atau “diare sudah berhenti”, tetapi juga apakah anak masih bisa minum, buang air kecil dengan normal, tetap sadar, dan beraktivitas seperti biasa.

Foto: jcomp/Magnific

3. Kejang juga dapat membuat seseorang tampak bingung atau tidak mengingat kejadian

Ini penting karena pada kasus FP, kejang juga dilaporkan terjadi.

Setelah kejang, seseorang dapat mengalami fase yang disebut postictal state. Pada fase ini, orang tersebut bisa tampak bingung, mengantuk, sulit berkomunikasi, atau tidak mengingat kejadian tertentu.

Jadi, kalau seseorang mengalami kejang dan kemudian tampak seperti kehilangan ingatan, dokter perlu mencari tahu apakah gangguan tersebut merupakan bagian dari kondisi neurologis yang mendasari, efek setelah kejang, atau memang ada masalah lain pada otak.

Karena itu pula, pemeriksaan seperti EEG dapat digunakan untuk membantu dokter mengevaluasi aktivitas listrik otak.

Jadi, apakah penyebabnya pasti keracunan makanan?

Belum tentu. Ketika dua kejadian terjadi berurutan, misalnya anak makan makanan tertentu, kemudian sakit, lalu mengalami gangguan ingatan, kita memang secara alami akan menghubungkan keduanya.

Tetapi secara medis, urutan waktu belum otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat.

Dokter tetap perlu mencari kemungkinan lain, terutama kalau gejalanya tidak biasa seperti kejang, perubahan kesadaran, kebingungan, atau gangguan memori.

Beberapa kemungkinan yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Infeksi yang menyerang otak atau sistem saraf.
  • Efek toksin tertentu.
  • Dehidrasi berat atau gangguan metabolisme.
  • Gangguan kadar gula atau elektrolit.
  • Kejang dan kondisi setelah kejang.
  • Efek obat atau zat tertentu.
  • Cedera kepala yang terjadi sebelum atau sesudah sakit.
  • Kondisi psikologis tertentu yang dapat memengaruhi ingatan.

Gangguan memori sendiri memiliki banyak kemungkinan penyebab. Referensi medis dari MSD Manual mencantumkan antara lain ensefalitis, keracunan obat atau zat tertentu, cedera kepala, serta trauma atau stres psikologis sebagai kondisi yang dapat berkaitan dengan amnesia.

Dengan kata lain, “habis keracunan makanan lalu lupa” bukan diagnosis. Itu adalah gejala yang perlu dicari penyebabnya.

BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kekurangan Vitamin dan Butuh Suplemen Tambahan

Apa yang sebaiknya dilakukan kalau anak mengalami gejala seperti ini?

Kalau anak hanya mengalami sakit perut, muntah, atau diare ringan, fokus pertama biasanya adalah menjaga asupan cairan dan memantau kondisinya.

Tetapi segera cari pertolongan medis jika muncul gejala yang lebih berat, seperti:

  • Anak sulit dibangunkan atau kesadarannya berubah.
  • Mengalami kejang.
  • Kebingungan atau perubahan perilaku yang tiba-tiba.
  • Sulit berjalan atau mengalami kelemahan.
  • Gangguan bicara atau penglihatan.
  • Sulit bernapas atau menelan.
  • Muntah terus-menerus sehingga tidak bisa mempertahankan cairan.
  • Tanda dehidrasi berat.
  • Diare berdarah.

CDC juga menyarankan pemeriksaan medis untuk gejala keracunan makanan yang berat, termasuk muntah terus-menerus, dehidrasi, demam tinggi, atau diare berdarah.

Kalau ada gejala neurologis, jangan menunggu sampai anak “sembuh sendiri”.

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Pemeriksaan apa yang mungkin dilakukan dokter?

Tentu pemeriksaan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak.

Dokter bisa mulai dari riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik, lalu mempertimbangkan pemeriksaan darah, pemeriksaan elektrolit dan gula darah, pemeriksaan untuk infeksi atau toksin, hingga pemeriksaan neurologis.

Hasil EEG juga perlu dibaca bersama gejala, riwayat kesehatan, dan pemeriksaan lainnya. Jadi, hasil EEG saja tidak selalu cukup untuk menjelaskan penyebab gangguan ingatan atau kejang.

Dalam kasus tertentu, dokter juga bisa mempertimbangkan pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI.

Untuk gangguan memori yang diduga berkaitan dengan faktor psikologis, evaluasi psikiatri atau psikologis dilakukan setelah penyebab medis yang relevan dievaluasi. Pada dissociative amnesia, misalnya, pemeriksaan dapat mencakup MRI, EEG, serta pemeriksaan darah atau urine untuk membantu menyingkirkan penyebab lain.

BACA JUGA: 4 Tanda Pencernaan Anak Kurang Optimal yang Perlu Dikenali Orang Tua

Jadi, benarkah keracunan makanan bisa menyebabkan hilang ingatan?

Bisa, dalam kondisi tertentu, tetapi tidak bisa digeneralisasi.

Beberapa penyakit akibat makanan memang dapat memengaruhi sistem saraf, baik karena infeksi, toksin, maupun komplikasi penyakitnya. Bahkan, beberapa jenis toksin dapat secara langsung menyerang sistem saraf.

Namun, ketika seseorang mengalami gangguan ingatan setelah keracunan makanan, dokter tetap perlu mencari tahu apa mekanisme sebenarnya.

Apakah karena toksin? Apakah ada infeksi yang memengaruhi otak? Apakah terjadi dehidrasi atau gangguan metabolik? Apakah ada kejang? Atau justru ada faktor psikologis setelah mengalami peristiwa yang traumatis?

Semua kemungkinan tersebut membutuhkan pemeriksaan.

Pada akhirnya, ini juga menjadi pengingat buat kita sebagai orang tua: ketika anak sakit setelah makan sesuatu, jangan hanya memperhatikan muntah dan diare. Perhatikan juga kesadaran, perilaku, kemampuan berkomunikasi, gerakan tubuh, dan kondisi neurologisnya.

Karena kalau anak mulai mengalami kejang, kebingungan, atau perubahan ingatan, itu bukan lagi sekadar masalah perut, dan sebaiknya segera mendapatkan evaluasi medis.

Cover: Tima Miroshnichenko/Pexels

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan