Sorry, we couldn't find any article matching ''

Kenapa Laki-Laki Seperti Luke di Dracin Early Spring Sebaiknya Tak Dinikahi
Ada yang mengikuti kisah Luke dan Flora di dracin Early Spring? Ikutan gemes juga? Sama. Bahkan menurut pandangan saya, Luke sebaiknya tidak dinikahi.
Yang lagi terLuke-Luke dan terFlora-Flora, sini kumpul! Pesona dracin Early Spring yang kini jadi no. 1 di Top 10 Netflix Indonesia (kabarnya di berbagai negara juga) ini memang sepertinya nggak habis-habis untuk dibahas.
Selama drama ini tayang, penonton pun terbagi dua. Ada yang jadi tim Flora, ada juga yang merapat ke tim Luke. Tim Luke sambat kalau Flora, tuh, insecure banget. Jadi perempuan, kok, nggak punya pendirian. Ke sana iya, ke sini iya. Tak heran kalau Luke kesal dan memuntahkan kata-kata pedasnya.
Tim Flora tentu saja membela diri. Sebagai fresh graduate yang baru mulai kerja, wajar dia masih harus adaptasi dengan lingkungan kantor. Baru masuk kantor baru, sudah ‘digoda’ atasan ganteng pula. Sayangnya sang atasan bermulut lantam. Ngakunya pacar, tapi suka merendahkan secara verbal. Ya, terang saja Flora jadi sulit terbuka.
Ah, kalau menurut saya, sih, dua-duanya bermasalah. Hahaha… Jujur saya sendiri gemas menontonnya. Rasanya mau masuk layar lalu menengahi mereka berdua. Pintar, nih, scriptwriternya mengaduk-aduk perasaan penonton.
Terlepas dari konflik romansa antar karyawan agency periklanan ini, yang mau saya bahas kali ini adalah sikap Luke yang kalau kata anak sekarang red flag. Untuk itu, lebih pantas dijadikan pasangan HTS saja daripada dinikahi. Adik-adik waspada, ya. Karena menikah itu untuk seumur hidup.
Mulut pedas bak mie chili oil level 10

Photo by Youku
Sebenarnya punya atasan blak-blakan begini ada plus minusnya. Sebagai mantan karyawan yang pernah punya bos seperti Luke (mulutnya aja yang sama, mukanya nggak), saya banyak belajar dan tentunya berkembang dengan sangat baik. Iya, karena dia jujur, meski kalimat-kalimatnya terasa pedih.
Sayang dalam hubungan berpasangan, kalimat-kalimat jujur yang seringkali terasa pedas itu malah bisa merusak rasa percaya diri. Luke itu mulutnya ampun, ya. Apa nggak ada filternya? Menurut saya, dia tidak bisa membedakan lagi bicara dengan karyawan, atau lagi ngomong sama pasangannya.
Di mana-mana perempuan itu paling suka dimanja, disayang, dan dikasih validasi-validasi dengan kalimat-kalimat yang menenangkan. Lha, ini suka banget bilang, “Kamu, tuh, bodoh. Mudah dimanipulasi.” Bisa-bisanya ngatain pacarnya bodoh. Nanti kalau sudah menikah, kosa kata lainnya juga bisa aja tumpah-tumpah. Yakin sanggup hidup sama laki-laki yang mulutnya lantam begini. Ingat menikah itu harapannya, kan, seumur hidup. Bahaya kalau punya anak laki-laki mencontoh bapaknya.
Baca juga: Drama Cina yang Pas Ditonton Bareng Keluarga Saat Liburan
Gengsinya ketinggian, manipulatifnya kebangetan

Photo by Youku
Sudah tahu salah, kata maaf jarang banget terucap. Paling hanya dengan gestur tubuh, misalnya dengan pandangan mata yang sedikit (iya sedikit banget) meneduhkan. Buat kita-kita perempuan yang butuh suami minta maaf meski kita nggak salah, Luke jelas bukan calon suami idaman.
Bahkan saat cemburu saja, Luke masih gengsi untuk mengakui. Ia merasa dirinyalah yang paling pantas mendampingi Flora. Ya, gantengnya, ya, kayanya, ya semua-semuanya. Jadi ketika cemburu terhadap laki-laki yang menurutnya berada di bawah levelnya, dia jadi gengsi. Padahal, mah, cemburu, ya, cemburu aja.
Luke selalu berhasil memanipulasi Flora. Membuat Flora merasa bersalah hanya karena ingin menenangkan teman laki-lakinya yang sedang bersedih. Terkadang hal-hal yang tidak tersampaikan memang suka bikin salah paham. Luka lebih suka salah paham kayaknya, lalu mengeluarkan senjata andalannya, manipulasi. Jago banget ini orang. Jangankan dinikahi, dijadiin pacar aja menurut saya juga jangan, sih.
Komunikasinya jelek
Ya, itu tadi. Mungkin karena tumbuh di bawah didikan ayah yang keras, Luke jadi ikutan keras. Ia menyaksikan betapa buruknya komunikasi antara ayahnya dengan ibunya. Ia bertumbuh kembang di bawah didikan ayah yang komunikasinya juga jelek.
Jadi nggak heran, kalau komunikasi Luke jelek juga. Luke seperti kurang bisa mengungkapkan isi hati yang sebenarnya, sehingga sering salah paham sendiri. Yang namanya berpasangan, tak bosan-bosannya pepatah mengatakan, “Kuncinya komunikasi!”
Sayangnya kalau sudah punya karakter seperti ini dari kecil, akan sulit berubah. Kecuali dia mau memperbaiki sikap sungguh-sungguh, dengan cara konsul ke psikolog misalnya. Soalnya perempuan seorang, akan sangat sulit mengubah sifat seseorang hanya atas nama cinta. Seriusan.
Baca juga: 5 Alasan Kenapa Drama Cina The Best Thing Baiknya Nggak Usah Ditonton
Cuma baik kalau ada maunya

Pas nonton bagian dia melambaikan tangan dengan angkuhnya saat menyuruh Flora masuk mobil dengan anjingnya, aduh, rasanya ingin saya krawuk itu muka.
Beneran. Arogan banget. Serasa paling ganteng. Iya, sih, Luke ganteng. Tapi kalau saya jadi Flora yang digituin, sudah saya tinggal. Sorry, Flora jelek saja nggak. Masih bisa banget cari cowok lain yang bisa aja lebih ganteng, lebih kaya, tapi jauh lebih baik. Bhay, Luke!
Sementara kalau ada maunya, Luke jadi baik banget. Physical touch-nya memang bisa bikin Flora meleleh dan melupakan sikap Luke yang nggilani ngeselinnya. Selain ganteng, tentu saja keahliannya dalam meramu sentuhan-sentuhan fisik tak jarang bikin perempuan memaafkan lagi, lagi, dan lagi. Tapi mau sampai kapan?
Itulah 4 alasan kenapa menurut saya, hubungan dengan laki-laki berkarakter Luke di dracin Early Spring ini, cuma pantas dijadikan hubungan HTS-an saja. Buat seru-seruan. Bukan buat diseriusin, apalagi sampai dinikahi. Kalau kalian bagaimana?
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS