banner-detik
SELF

“Kok Bisa Jadi Single Parent?” 7 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan kepada Orang Tua Tunggal

author

Mommies Dailyin 6 hours

“Kok Bisa Jadi Single Parent?” 7 Pertanyaan yang Sebaiknya Jangan Ditanyakan kepada Orang Tua Tunggal

Single parent sering mendapat pertanyaan yang terlalu personal. Kenali 7 pertanyaan sensitif yang sebaiknya tidak ditanyakan agar tetap saling menghargai.

“Kok bisa jadi single parent?”

“Anaknya kalau kamu kerja sama siapa?”

“Bapaknya masih kasih nafkah, nggak?”

“Kapan nikah lagi?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terdengar biasa dalam obrolan sehari-hari. Apalagi di lingkungan keluarga atau pertemanan yang sudah saling dekat.

Namun, bagi orang tua tunggal, pertanyaan tersebut bisa menyentuh cerita yang tidak selalu ingin dibagikan.

Menjadi single parent bukan hanya soal status pernikahan. Ada urusan pengasuhan, finansial, hubungan dengan mantan pasangan, kondisi anak, pekerjaan, kehidupan sosial, sampai proses membangun kembali kehidupan setelah perubahan besar dalam keluarga.

American Psychological Association (APA) menyebut bahwa menjadi single parent dapat menghadirkan berbagai tekanan, termasuk mengurus anak sambil bekerja, mengelola keuangan dan pekerjaan rumah, persoalan hak asuh, konflik dengan mantan pasangan, hingga tantangan ketika orang tua mulai menjalin hubungan baru.

Bahkan, penelitian terhadap 347 perempuan yang menjadi single parent setelah perceraian menemukan bahwa tingkat self-stigma yang lebih tinggi berkaitan dengan harga diri yang lebih rendah dan mental health distress yang lebih tinggi.

Jadi, sebelum bertanya karena penasaran, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: “Apakah dia memang nyaman menceritakan hal ini kepada saya?”

BACA JUGA: Cara Menjawab Pertanyaan Tentang Perceraian dari Anak

Berikut tujuh pertanyaan yang sebaiknya kita pikirkan lagi sebelum mengucapkannya.

1. “Kok bisa jadi single parent?”

Ini mungkin terlihat seperti pertanyaan pembuka percakapan. Padahal, jawabannya bisa melibatkan perceraian, kehilangan pasangan, hubungan yang tidak sehat, keputusan pribadi, atau cerita lain yang sangat panjang.

Tidak semua orang ingin menjelaskan bagaimana sebuah pernikahan berakhir. Kalau memang sudah dekat dan ia ingin bercerita, biasanya cerita akan datang dengan sendirinya.

Lebih baik:

“Gimana kabarmu dan anak-anak sekarang?”

2. “Anaknya tinggal sama kamu atau sama bapaknya/ibunya?”

Pengaturan tempat tinggal dan pengasuhan anak bisa sangat kompleks.

Ada yang tinggal bersama salah satu orang tua dan menjalani co-parenting. Ada yang bergantian. Ada pula yang situasinya jauh lebih rumit karena jarak, pekerjaan, konflik keluarga, atau keputusan hukum.

Pertanyaan tersebut bisa membuat seseorang merasa harus menjelaskan kondisi keluarganya secara detail. Padahal, kita tidak perlu mengetahui semua detail untuk menunjukkan perhatian.

BACA JUGA: Tahapan Emosi Anak Pasca Orangtua Bercerai

3. “Mantanmu masih kasih nafkah nggak?”

single parent

Photo by Mathieu Stern on Unsplash

Urusan finansial termasuk salah satu area yang paling personal.

Bukan hanya karena menyangkut jumlah uang, tetapi juga karena bisa berkaitan dengan hubungan dengan mantan pasangan, hak dan kewajiban orang tua, serta kondisi ekonomi keluarga.

Single parent juga tidak selalu berarti “sendirian secara finansial”. Situasi setiap keluarga berbeda.

Jadi, daripada menebak-nebak atau bertanya soal uang, lebih baik tawarkan bantuan secara konkret jika memang mampu.

“Kalau suatu hari kamu butuh bantuan antar-jemput anak, kabari aku, ya.”

Jauh lebih berarti daripada bertanya, “Mantan masih transfer berapa?”

BACA JUGA: Persiapan Finansial Sebelum Bercerai yang Wajib Diketahui Istri

4. “Kamu kuat banget, ya. Bisa ngurus anak sendirian.”

Sekilas, ini adalah pujian.

Namun, hati-hati. Kalimat seperti ini bisa tanpa sengaja menciptakan ekspektasi bahwa single parent harus selalu kuat.

Padahal, mereka juga bisa lelah, bingung, kewalahan, membutuhkan bantuan, atau sekadar ingin punya satu hari tanpa harus menjadi “orang yang paling kuat di rumah”.

Penelitian mengenai single parent juga menunjukkan bahwa tekanan sosial, kondisi ekonomi, stres, dan kurangnya dukungan dapat menjadi faktor penting dalam kesejahteraan orang tua.

Jadi, daripada mengatakan:

“Kamu hebat banget, bisa semuanya sendiri.”

Coba katakan:

“Kalau lagi capek, nggak apa-apa minta bantuan.”

5. “Anakmu baik-baik saja, kan, setelah orang tuanya berpisah?”

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sebaiknya dihindari—terutama jika ditanyakan di depan anak.

Pertanyaan ini seolah mengasumsikan bahwa anak dari keluarga single parent pasti memiliki masalah.

Padahal, pengalaman setiap anak berbeda. Yang lebih penting bukan sekadar struktur keluarganya, tetapi bagaimana anak mendapatkan rasa aman, dukungan, komunikasi, dan pengasuhan yang konsisten.

Jadi, jangan menjadikan anak sebagai objek pertanyaan atau rasa kasihan.

Jika ingin menunjukkan perhatian, cukup tanyakan:

“Ada yang bisa aku bantu supaya kamu lebih ringan mengurus anak?”

BACA JUGA: Ketika Perceraian Membuat Saya Menjadi Ayah dan Laki-laki yang Lebih Baik

6. “Kapan nikah lagi?”

single parent

Photo by Marek Studzinski on Unsplash 

Ya, pertanyaan klasik ini tetap masuk daftar.

Tetapi bukan karena single parent harus menikah lagi. Justru sebaliknya.

Menikah kembali adalah keputusan personal yang bisa melibatkan kesiapan emosional, anak, kondisi finansial, tempat tinggal, sampai dinamika dengan pasangan sebelumnya.

Ketika seseorang memutuskan untuk memiliki pasangan baru, tantangannya juga tidak berhenti pada “sudah punya pasangan”. APA mencatat bahwa keluarga yang terbentuk kembali (blended family) memiliki berbagai hal yang perlu dibicarakan, termasuk pengaturan keuangan, tempat tinggal, serta peran masing-masing orang dewasa dalam keluarga.

Jadi, jangan menjadikan pernikahan baru sebagai “solusi” yang harus segera dicapai.

Single parent tidak sedang mengejar deadline.

BACA JUGA: Cara Menumbuhkan Kepercayaan Diri Setelah Bercerai di Tengah Stigma Negatif

7. “Kalau kamu punya pasangan baru, anakmu bakal menerima?”

Ini mungkin ditanyakan karena perhatian, tetapi jawabannya tidak sederhana.

Setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap perubahan dalam keluarga. Ada yang cepat beradaptasi, ada yang membutuhkan waktu, dan ada pula yang membutuhkan ruang untuk memahami situasi.

Karena itu, keputusan memperkenalkan pasangan baru kepada anak bukan sesuatu yang perlu diputuskan berdasarkan tekanan orang sekitar.

Apalagi, hubungan baru bukan hanya soal dua orang dewasa yang saling menyukai. Ada dinamika keluarga yang lebih luas di dalamnya.

Jadi, biarkan single parent dan keluarganya menentukan ritmenya sendiri.

Tidak Semua Hal Perlu Ditanyakan

Kuncinya adalah memberikan ruang bagi orang tersebut untuk memilih apa yang ingin ia ceritakan. Menjadi teman atau keluarga yang suportif tidak selalu berarti harus mengetahui seluruh cerita di balik kehidupan seseorang.

Kadang, bentuk perhatian yang paling berarti justru sederhana: tidak memaksa mereka bercerita, tidak memberikan penilaian, dan tetap hadir ketika mereka membutuhkan teman.

Single parent tidak membutuhkan orang lain untuk terus mengingatkan bahwa hidupnya berbeda. Mereka juga tidak harus menjelaskan pilihan, kondisi keluarga, atau rencana masa depan hanya untuk membuat orang lain merasa penasaran mereka terjawab.

Jadi, kalau memang ingin menunjukkan perhatian, mungkin pertanyaan yang lebih baik bukan “Kenapa kamu jadi single parent?”, melainkan “Apa yang bisa aku bantu?”

Sebab, menghormati batasan seseorang juga merupakan bentuk kepedulian.

Cover: Photo by Marek Studzinski on Unsplash

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan