
Anak susah fokus apakah normal? Kenali penyebab, ciri-ciri, cara mengatasi anak susah fokus, dan kapan perlu mencari bantuan profesional.
Menghadapi anak yang sulit duduk tenang saat belajar, sering melamun, atau membiarkan tugasnya terbengkalai memang kerap menguji kesabaran. Di tengah era digital yang penuh distraksi, keluhan anak susah fokus menjadi salah satu topik yang paling sering jadi bahan obrolan di ruang tunggu sekolah.
Namun, sebelum berasumsi buruk tentang tumbuh kembang anak, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa kemampuan berkonsentrasi adalah keterampilan yang berkembang seiring bertambahnya usia. Lantas, apakah anak susah fokus itu normal? Apa saja penyebabnya dan kapan saatnya orang tua mencari bantuan profesional? Yuk, simak ulasan lengkapnya.
BACA JUGA: Anak Laki-Laki Makin Pendiam? Ini Cara Komunikasi yang Tepat
Secara medis dan psikologis, anak yang mengalami kesulitan fokus adalah anak yang memiliki kendala dalam mempertahankan perhatian, mengikuti petunjuk, atau menyelesaikan tugas yang sesuai dengan tahapan usianya. Mengutip penjelasan dari Dr. Roseann Capanna-Hodge, masalah fokus pada anak sebenarnya sangat umum terjadi dan penyebabnya bisa sangat beragam.
Satu hal penting yang perlu orang tua garisbawahi: tidak semua anak yang susah berkonsentrasi di sekolah pasti memiliki gangguan belajar atau neurodevelopmental seperti ADD/ADHD. Oxford Learning menegaskan bahwa kendala anak yang susah berkonsentrasi sering kali dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan kebiasaan sehari-hari yang sangat bisa diperbaiki.

Apakah Mommies dan Daddies tahu bahwa ekspektasi orang tua terhadap durasi fokus anak sering kali terlalu tinggi? Menurut penjelasan dari Dr. Christina Piron, seorang dokter anak, aturan umum (rule of thumb) perkiraan durasi perhatian anak durasi perhatian anak yang normal adalah 2 hingga 3 menit per tahun usia anak.
Artinya, rentang konsentrasi anak usia 2 tahun normalnya hanya bertahan sekitar 4–6 menit, sementara anak usia 8 tahun berkisar antara 16–24 menit. Untuk gambaran kasar, Ready Kids menyusun panduan acuan durasi fokus anak sesuai usia sebagai berikut:
Tentu saja, angka di atas berlaku pada kondisi optimal, yaitu saat anak sudah cukup makan, tidak mengantuk, dan berada di lingkungan yang kondusif. Mendengarkan guru berbicara di kelas membutuhkan daya konsentrasi yang jauh lebih besar daripada saat anak asyik bermain gim kesukaannya.
BACA JUGA: Tanpa Sadar! 8 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-Diam Membuat Anak Remaja Menjauh
Jika anak terlihat sangat mudah terdistraksi, jangan langsung memberi label “nakal” atau “pemalas”. Berdasarkan ulasan klinis dari Flywheel Centers, ada banyak penyebab anak susah fokus yang kerap tidak disadari orang tua:

Pertanyaan ini paling sering membuat orang tua cemas. Jawabannya: tidak selalu. Melansir artikel edukasi dari Child Mind Institute, ada beberapa kondisi medis, di antaranya:
Menurut Dr. Ken Schuster, kecemasan “mengunci” kemampuan kerja otak sehingga anak terlihat linglung.
Menurut Dr. Jerry Bubrick, anak dengan OCD sering sibuk dengan dorongan kompulsif di pikirannya, seperti harus menata pensil atau harus sering ke kamar mandi untuk mencuci tangan, sehingga melewatkan penjelasan guru.
Dr. Jamie Howard menjelaskan bahwa gejala PTSD seperti kewaspadaan berlebih (hypervigilance) dan mudah terkejut sangat mirip dengan kelakuan anak hiperaktif.
Prof. Nancy Rappaport dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa anak yang frustrasi karena kesulitan membaca sering berpura-pura tidak fokus untuk menutupi kekurangannya.
BACA JUGA: 7 Cara Menjadi Safe Place untuk Anak Remaja agar Mau Terbuka pada Orang Tua
Seperti dipaparkan oleh All Schools UK, orang tua perlu mencari bantuan ketika anak menunjukkan tanda-tanda masalah konsentrasi yang berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari mereka, seperti:
Anak bukan cuma sekadar malas, tetapi pikirannya terasa “macet” atau bingung harus mulai dari mana. Saat disuruh buka buku pelajaran atau merapikan mainan, mereka bisa berjam-jam cuma memandangi bukunya tanpa berbuat apa-apa.
Kalau Mommies memberi 2–3 perintah sekaligus, contohnya, “Taruh tas di kamar, cuci tangan, terus duduk di meja makan”, anak sering kali cuma melakukan perintah pertama, lalu kebingungan atau malah sibuk melakukan hal lain karena arahannya “terlepas” dari ingatan mereka.
Anak terus-menerus mengetuk meja, menggoyangkan kaki, atau bolak-balik berdiri dari kursi saat harus duduk tenang.
Tatapan mata anak sering terlihat “kosong” dan butuh dipanggil berulang kali sampai mereka sadar dari lamunannya.
Sesekali melamun tentu bisa normal, tetapi jika terjadi sangat sering dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, hal ini perlu diperhatikan.
Pengerjaan tugas sekolah selalu diwarnai drama berat, seperti menangis histeris, tantrum, atau meluapkan rasa frustrasi karena otaknya lelah.
Anak gampang terdistraksi atau risih berlebihan dengan hal-hal kecil, seperti label pakaian yang gatal, suara berisik yang tipis, atau lampu yang terlalu terang.
Masalah konsentrasi ini berdampak nyata pada merosotnya nilai sekolah, kesulitan bersosialisasi dengan teman, hingga sering menyebabkan konflik di rumah.
Kesulitan fokus bukan hanya muncul saat mengerjakan PR di rumah, tetapi juga terlihat di sekolah atau saat berinteraksi dengan orang lain.

Sebelum memutuskan untuk mengambil jalur medis, ada banyak langkah praktis yang bisa Mommies dan Daddies terapkan di rumah. Merujuk pada panduan kesehatan dari Mandaya Hospital Group, berikut adalah beberapa cara meningkatkan konsentrasi anak yang sangat efektif:
BACA JUGA: Jangan Anggap Sepele! Ini 10 Tanda Anak Remaja Kurang Percaya Diri
Jika berbagai cara di atas sudah dicoba, tetapi anak masih mengalami kendala signifikan yang mengganggu fungsi sosial dan akademisnya, ini saatnya mencari bantuan profesional.
Lantas, harus konsultasi ke dokter anak atau psikolog anak dulu? Menurut panduan dari Naples Child Psychology, orang tua bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan berikut:
Tepat untuk menjadi salah satu langkah awal, terutama jika orang tua ingin memastikan apakah ada faktor medis yang ikut memengaruhi kemampuan fokus anak, sekaligus mendapatkan arahan atau rujukan bila diperlukan.
Sangat tepat jika masalah utama anak berkaitan dengan perilaku, emosi, kecemasan, trauma, kesulitan fokus, dugaan gangguan belajar, dan neurodevelopmental seperti evaluasi mendalam untuk ADHD dan spektrum autisme.
Psikolog anak dapat membantu mengevaluasi aspek perilaku, emosi, kemampuan belajar, dan kondisi psikologis anak serta memberikan intervensi atau rekomendasi sesuai hasil pemeriksaan.