
Single parent bekerja? Ini 7 pertanyaan penting kepada HR sebelum menerima pekerjaan, mulai dari jam kerja, fleksibilitas, cuti, hingga childcare.
Menerima tawaran pekerjaan baru tentu bisa jadi kabar yang menyenangkan. Apalagi kalau sudah melewati proses interview, menunggu kabar dari HR, lalu akhirnya mendapat email atau telepon yang mengatakan, “Selamat, Mommies diterima.”
Tapi buat seorang single parent yang bekerja, menerima pekerjaan bukan cuma soal gaji, jabatan, atau apakah kantornya punya suasana kerja yang menyenangkan. Ada satu pertanyaan yang gak kalah penting: apakah pekerjaan ini bisa berjalan beriringan dengan tanggung jawab Mommies sebagai orang tua?
Sebab, ketika anak sakit, sekolah tiba-tiba mengadakan kegiatan, pengasuh berhalangan datang, atau ada situasi keluarga yang gak bisa ditunda, gak selalu ada pasangan yang bisa diajak bergantian mengambil alih.
Itulah kenapa sebelum mengatakan “yes” pada tawaran pekerjaan, ada baiknya Mommies menggali lebih banyak informasi kepada HR. Bukan untuk meminta perlakuan khusus, melainkan supaya sejak awal Mommies tahu seperti apa ekspektasi perusahaan dan apakah sistem kerjanya memang cocok dengan kehidupan yang sedang dijalani.
BACA JUGA: 7 Beasiswa Kuliah yang Bisa Dimanfaatkan Keluarga Single Parent

Kebutuhan akan fleksibilitas kerja sebenarnya bukan hanya persoalan single parent.
Laporan International Finance Corporation (IFC) tentang tempat kerja ramah keluarga di Indonesia yang terbit pada 2025 menemukan bahwa setengah orang tua yang bekerja mengatakan tanggung jawab pengasuhan anak memengaruhi kinerja mereka di tempat kerja. Kondisi tersebut juga dikaitkan dengan rata-rata kehilangan sekitar empat hari kerja per karyawan setiap tahun.
Euan Marshall, Country Manager IFC untuk Indonesia, menyebut, “Tanggung jawab pengasuhan sering kali menjadi hambatan yang tidak terlihat terhadap produktivitas.” Menurutnya, dukungan seperti fleksibilitas kerja dan dukungan pengasuhan anak bukan hanya membantu pekerja, tetapi juga dapat membantu perusahaan mempertahankan talenta dan meningkatkan kinerja.
Temuan ini sejalan dengan penelitian yang diterbitkan di Journal of Marriage and Family pada 2025. Studi terhadap 1.152 pasangan dengan anak di bawah usia 12 tahun di Inggris tersebut menemukan kaitan antara pengaturan kerja fleksibel dan cara orang tua menangani kebutuhan pengasuhan yang mengganggu pekerjaan.
Memang, penelitian tersebut bukan penelitian khusus single parent dan dilakukan di Inggris. Namun, temuan ini tetap memberi gambaran bahwa pengaturan kerja bisa berpengaruh terhadap bagaimana orang tua mengelola pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan.
Artinya, membicarakan fleksibilitas sebelum menerima pekerjaan bukan berarti Mommies kurang profesional. Justru ini bagian dari memastikan pekerjaan dan kehidupan keluarga bisa berjalan secara realistis.
Lalu, apa saja yang sebaiknya ditanyakan kepada HR?
Jangan hanya berhenti di jawaban “Senin sampai Jumat, pukul 09.00–18.00”.
Mommies bisa menggali lebih detail: apakah ada kemungkinan pulang lebih malam, meeting sebelum jam kerja, lembur, atau pekerjaan yang tetap harus dipantau setelah jam kantor? Kalau posisi tersebut menggunakan sistem shift, tanyakan juga seberapa jauh jadwal kerja biasanya sudah diberikan kepada karyawan.
Hal ini penting karena jam kerja di atas kertas belum tentu sama dengan ritme kerja sebenarnya.
Misalnya, kalau jam kantor selesai pukul 18.00 tetapi meeting rutin baru berakhir pukul 19.00, tentu informasinya akan sangat berbeda untuk Mommies yang harus menjemput anak.
Jadi, jangan cuma bertanya, “Jam kerjanya sampai jam berapa?” tetapi coba cari tahu seperti apa pola kerja sehari-harinya.
Kata “fleksibel” bisa punya arti yang berbeda di setiap perusahaan.
Jadi, jangan ragu bertanya secara spesifik apakah perusahaan menerapkan hybrid, work from home, flexible hours, atau kemungkinan menyesuaikan jam masuk dan pulang dalam kondisi tertentu.
Misalnya, apakah Mommies bisa mulai bekerja lebih pagi dan selesai lebih cepat? Apakah ada hari tertentu yang wajib masuk kantor? Kalau anak tiba-tiba sakit, apakah pekerjaan bisa dilanjutkan dari rumah?
Laporan IFC mengenai tempat kerja ramah keluarga di Indonesia juga merekomendasikan fleksibilitas dalam lokasi, jam, dan jadwal kerja, serta prosedur yang jelas untuk kebutuhan cuti atau ketidakhadiran karena tanggung jawab pengasuhan.
Jadi, jangan puas dengan jawaban, “Kita cukup fleksibel, kok.”
Tanyakan bentuk fleksibelnya seperti apa.
Karena “fleksibel” yang berarti bisa WFH dua hari seminggu tentu berbeda dengan “fleksibel” yang sebenarnya hanya berlaku kalau atasan sedang mengizinkan.
Ini salah satu pertanyaan yang mungkin terasa agak sensitif, tetapi justru penting untuk ditanyakan sebelum menerima pekerjaan.
Mommies bisa bertanya tentang kebijakan izin ketika anak sakit, emergency leave, penggunaan cuti, atau apakah ada mekanisme untuk mengganti jam kerja jika harus meninggalkan kantor dalam situasi tertentu.
Tanyakan juga kepada siapa Mommies harus melapor dan bagaimana prosedurnya.
Jangan sampai setelah mulai bekerja baru mengetahui bahwa “boleh izin” ternyata berarti harus melewati proses panjang atau sangat bergantung pada kebijakan atasan langsung.
Kebijakan setiap perusahaan tentu bisa berbeda. Jadi, pertanyaannya bukan apakah Mommies otomatis mendapatkan fasilitas khusus sebagai single parent, tetapi seperti apa aturan yang memang berlaku untuk karyawan ketika ada kebutuhan keluarga yang mendesak.
UNICEF juga memasukkan cuti berbayar, pengaturan kerja fleksibel, dan dukungan pengasuhan anak sebagai bagian dari praktik tempat kerja yang ramah keluarga.
Kadang informasi seperti ini gak terlalu terlihat saat proses interview.
Padahal, buat single parent, pekerjaan yang sering membutuhkan perjalanan dinas mendadak atau lembur sampai malam tentu membutuhkan pengaturan pengasuhan yang berbeda dibanding pekerjaan dengan jadwal lebih terprediksi.
Mommies bisa bertanya:
Bukan berarti Mommies harus mencari pekerjaan tanpa lembur sama sekali. Yang penting, Mommies tahu sejak awal apakah tuntutannya masih bisa dikelola dengan support system yang dimiliki.
Karena pekerjaan dengan lembur dua kali sebulan yang jadwalnya bisa diprediksi tentu berbeda dengan pekerjaan yang hampir setiap minggu membutuhkan Mommies stand by sampai malam.
BACA JUGA: Dampak Pola Asuh Single Parent pada Tumbuh Kembang Anak
Pertanyaan ini mungkin belum menjadi standar di banyak perusahaan Indonesia, tetapi gak ada salahnya ditanyakan.
Bentuknya juga gak selalu harus daycare di kantor. Mommies bisa mencari tahu apakah ada dukungan pengasuhan anak atau childcare support, reimbursement tertentu, daycare partner, backup care, atau benefit lain yang berkaitan dengan kebutuhan keluarga.
Hal ini relevan karena akses terhadap childcare memang berkaitan dengan kemampuan perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia kerja. Analisis World Bank mengenai Indonesia menunjukkan bahwa keterbatasan pengasuhan anak dapat menjadi salah satu kendala bagi perempuan untuk masuk atau bertahan di dunia kerja.
Laporan IFC di Indonesia juga memasukkan dukungan pengasuhan anak sebagai salah satu kebijakan tempat kerja ramah keluarga yang dapat membantu mengurangi ketidakhadiran dan mendukung pekerja tetap berada dalam dunia kerja.
Jadi, walaupun perusahaan gak punya daycare sendiri, tetap menarik untuk tahu apakah ada bentuk dukungan lain yang bisa membantu karyawan dengan tanggung jawab pengasuhan.
Ini pertanyaan yang sering terlupakan.
Mommies mungkin sudah tahu jam kerja, benefit, dan kebijakan cuti. Tapi bagaimana kalau sesekali harus izin karena anak sakit? Apakah yang dinilai hanya kehadiran fisik, atau berdasarkan target dan hasil pekerjaan?
Mommies bisa bertanya lebih spesifik:
“Untuk posisi ini, bagaimana perusahaan mengukur performa? Seberapa penting kehadiran fisik dibandingkan pencapaian target dan hasil pekerjaan?”
Tanyakan juga seperti apa ekspektasi selama masa probation.
Jawaban HR bisa memberi gambaran tentang budaya kerja perusahaan.
Kalau perusahaan mengatakan, misalnya, “Yang penting target selesai dan komunikasi jelas,” tentu konteksnya berbeda dengan perusahaan yang sangat menekankan kehadiran fisik bahkan ketika pekerjaan sebenarnya bisa dilakukan dari tempat lain.
Buat Mommies yang menjadi single parent, informasi seperti ini penting karena kebutuhan keluarga memang bisa muncul sesekali. Yang dicari bukan pekerjaan tanpa tantangan, tetapi lingkungan kerja yang punya ekspektasi jelas dan bisa dikomunikasikan.
Nah, ini pertanyaan terakhir yang menurutku wajib ditanyakan sebelum bilang yes.
Kalau selama interview HR mengatakan ada hybrid working, fleksibilitas jam kerja, cuti keluarga, atau benefit tertentu, tanyakan apakah kebijakan tersebut tertulis secara resmi.
Mommies juga bisa meminta waktu untuk membaca kontrak kerja, peraturan perusahaan, atau employee handbook sebelum memberikan keputusan final.
Karena pada akhirnya, yang Mommies butuhkan bukan sekadar janji bahwa perusahaan “family-friendly”, tetapi gambaran yang jelas tentang seperti apa aturan yang akan dijalani sehari-hari.
Kalau ada informasi penting yang hanya disampaikan secara lisan, jangan ragu meminta penjelasan lebih lanjut mengenai apakah kebijakan tersebut memang berlaku untuk posisi yang ditawarkan.

Mommies mungkin fokus menyiapkan tujuh pertanyaan di atas. Tapi sebenarnya, cara HR menjawab juga bisa memberikan informasi penting tentang calon tempat kerja.
Misalnya, Mommies perlu lebih berhati-hati kalau:
Tentu, satu jawaban kurang jelas belum tentu berarti perusahaan tersebut buruk. Mommies tetap perlu melihat keseluruhan konteks, termasuk posisi yang ditawarkan, calon atasan, sistem kerja tim, dan budaya perusahaan.
Tapi kalau sejak awal Mommies sudah merasa gak nyaman atau mendapatkan jawaban yang sangat berbeda dari informasi yang sebelumnya disampaikan, jangan abaikan perasaan tersebut.
BACA JUGA: 8 Film dan Drakor tentang Single Parent, dari Drama hingga Komedi
Sebelum menerima tawaran pekerjaan, coba pastikan Mommies sudah mendapatkan jawaban atas hal-hal berikut:
Kalau sebagian besar pertanyaan tersebut sudah terjawab dengan jelas, Mommies bisa membuat keputusan berdasarkan kondisi yang lebih realistis, bukan hanya berdasarkan kesan saat interview.
Menjadi single parent sambil membangun karier memang membutuhkan banyak pertimbangan. Ada kebutuhan anak, pekerjaan, finansial, kesehatan diri sendiri, sampai support system yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan.
Karena itu, memilih pekerjaan sebaiknya gak hanya berdasarkan nominal gaji atau nama besar perusahaan.
Tanyakan hal-hal yang memang penting untuk kehidupan Mommies.
Bukan berarti harus langsung menceritakan seluruh kondisi pribadi kepada HR. Mommies bisa tetap profesional dengan fokus pada kebutuhan pekerjaan yang konkret, seperti jadwal kerja, fleksibilitas, kebijakan cuti, dan ekspektasi posisi.
Dan satu hal lagi: jawaban HR juga bisa menjadi petunjuk tentang budaya perusahaan.
Kalau HR terbuka menjelaskan kebijakan dan ekspektasinya, itu bisa menjadi tanda bahwa perusahaan memang punya sistem yang jelas. Sebaliknya, kalau pertanyaan sederhana tentang jam kerja, cuti, atau fleksibilitas justru dianggap sebagai tanda Mommies “kurang berkomitmen”, mungkin ini waktunya mempertimbangkan lagi apakah pekerjaan tersebut benar-benar cocok.
Mencari pekerjaan yang cocok bukan berarti Mommies kurang ambisius. Mommies hanya sedang memastikan karier yang dipilih bisa hidup berdampingan dengan kehidupan keluarga.
Karena pekerjaan yang baik bukan hanya yang menerima kita sebagai karyawan, tetapi juga yang memungkinkan kita tetap menjalani kehidupan di luar pekerjaan dengan sehat dan realistis.
Mommies yang single parent, sebelum menerima pekerjaan biasanya paling mempertimbangkan hal apa?
BACA JUGA: 7 Film Inspiratif tentang Orang Tua Tunggal, Single Parent Wajib Nonton!
Cover: Magnific